Mr Cool Falling In Love.

Mr Cool Falling In Love.
Bab 45


__ADS_3

Vania masih berdiri kaku, ragu untuk masuk ke dalam mobil Niko.


"Hais, momen ini sudah mirip dengan film Bollywood-bollywood kesukaan si Luna, paling males kalau harus bujuk perempuan!" gerutu Niko si pria dingin.


"Lagian, ngapain juga aku harus mengkhawatirkan dia dan sampai bela-belain keluar untuk menjemputnya!" Niko yang merasa bingung dengan tindakan spontanitas itu, sesungguhnya cinta tidak bisa membuat ia mengatur dirinya.


Demi bisa lepas dari hutang dan tidak berhubungan lagi dengan Niko, Vania akhirnya menerima ajakan pria itu untuk masuk ke dalam mobilnya.


"Maaf pakaianku basah!" kata Vania dengan suara lembutnya, tapi Niko diam saja, tidak merespon bahkan tidak menatap Vania, ia masih dalam tampang wajah kesal lalu langsung bergegas melajukan mobil kemudian putar arah, balik menuju rumahnya.


*


Sesampai di rumah, Niko melemparkan


handuk dan pakaian begitu saja di atas sofa.


sebuah ruangan santai terbuka di depan taman minimalis area samping, untuk memperbincangkan misi mereka selanjutnya. Disain rumah Niko yang mewah, lebih modern dari yang lama, sehat dan cukup canggih.


"Ganti pakaian kamu!" perintah pria itu menunjuk ke arah posisi letak kamar mandi yang tidak jauh darinya. Kemudian Niko menghempaskan bokongnya, duduk santai dan mulai menghidupkan sebatang rokok sebagai penghangat tubuh juga sembari menunggu kedatangan Vania.


Setelah selesai berganti pakaian, Vania mendatangi Niko, berjalan perlahan dengan raut wajah yang tegang, pasrah, jantungnya sedikit berdetak lebih cepat dalam perasaan campur aduk, bingung dan sedikit ketakutan. Vania tau Niko adalah sosok pria yang tidak main-main jika menangani suatu perkara.


"Jujur, aku sudah tidak ingin bermasalah lagi dengan pria, tapi ini memang salahku, aku benar-benar tidak bisa lari!" gumam Vania. semakin gugup.


Sontak Niko terpana dengan penampilan Vania yang anggun dan sederhana, tampilan yang sedikit mengguncang dadanya, pakaian rumahan itu sangat pas di tubuh perempuan itu namun rasa kecewa dan benci, membuat kekaguman Niko itu tidak terlihat. Vania adalah sosok wanita yang berhasil mengalihkan Niko dari bayangan almarhum Isabella serta kembalinya rasa tertarik dirinya kepada wanita.


"Duduk!" perintah Niko dengan wajah juteknya.


"Apa ini milik Alm Nona Isabella, saya akan mencucinya bersih dan mengembalikannya," kata Vania memecah suasana yang mencekam.

__ADS_1


"Itu pakaian milik pacarku, baru saja aku membelikannya, jika ia menginap di rumah ini! Tapi ia tidak menyukainya, jadi setelah dipakai buang saja!" ucap sombong Niko.


Sebenarnya Niko sudah menyiapkan beberapa potong pakaian rumahan untuk Vania jika nanti keduanya sudah menikah dan tinggal di rumahnya yang baru.


"Jadi dia sudah punya pacar, sudah benar-benar bisa move on dari Isabella Syukurlah!" batin Vania yang sudah lama tidak mendapat kabar lagi tentang Niko setelah ia memilih kembali dengan Romi.


"Em, Jangan di buang, buat aku saja!" kata Vania.


"Heh (tawa sinis Niko), selain perempuan labil, lemah, ternyata kamu tempat menerima barang tampungan juga!" Wajah seram Niko yang tidak pernah menatap Vania seperti itu membuat Vania terkejut lalu sedikit merasa takut, masih ada rasa trauma yang tertinggal di jiwa Vania dari kekasaran masa lalu mantan suaminya,


"Maaf ( Vania memilih menunduk karena takut) Mas Niko, Vania minta maaf, aku tau mas kecewa kepada ku, tapi aku...!"


"Jangan minta maaf, aku tidak suka mendengar kata maaf!" Niko memotong perkataan Vania.


Susana semakin tegang, Vania tidak berani menatap Niko lagi.


"Pernahkah kau memikirkan perasaanku, keluarga ku, betapa malunya aku di depan semua orang, seakan-akan aku ni seperti lajang lapuk yang tak laku-laku, sehingga harus mengemis cinta dari perempuan labil, istri orang, yang katanya ingin bercerai dengan suaminya yang suka menyiksa, sampai memohon meminta bantuan, lalu seenaknya balik lagi kepada suaminya, drama macam apa ini?"


Vania semakin terlihat takut, kakinya mula gemetaran ia berusaha menyembunyikannya, matanya mulai memerah.


"A...aku minta maaf...hiks...hiks...hanya itu yang bisa aku katakan!" ucap gugup Vania tak mampu membendung airmatanya, antara sedih dan takut.


"Yah, kata maaf dan menangis, memang hanya itu yang bisa kau berikan kepadaku dan itu terdengar sangat menyakitkan!" ucap Niko.


Vania semakin menunduk sama sekali tidak berani menatap Niko.


Vania tetap menunduk.


"Hei, aku ada di depan kamu, bukan di bawah kaki mu!" tegur Niko dengan sok galaknya menatap fokus Vania.

__ADS_1


"Iyah!" Vania berusaha menegakkan kepalanya menatap Niko.


"Aku tidak habis pikir, kau mengatakan cinta kepada ku tapi masih berhubungan badan dengan suami kamu, kapan kalian melakukannya kenapa aku sampai kecolongan dan yang lebih bodohnya lagi, aku masih mau memperjuangkan kamu, kau pikir aku ini lelaki apa... Aaargh, asal kau tau, malam ini juga aku bisa mencari yang jauh lebih baik dari kamu, Vania!"


"Aku sudah tidak melakukan hubungan itu lagi dengan Romi, bahkan jauh sebelum bertemu dengan Mas Niko, kehamilanku sudah dua bulan lebih, aku juga tidak tau jika aku hamil, Romi juga tidak menyentuhku lagi sampai ia meninggal, itu hanya terjadi di awal pernikahan kami dan aku benar-benar tidak menginginkannya, sangat terpaksa!" ucap sedih Vania.


Sejenak Niko terdiam sambil berpikir.


"Benar juga, kehamilan diketahui setelah paling tidak satu bulan berhubungan!" gumam Niko.


"Haruskah aku mempercayainya???" tanya Niko.


"Itu terserah Mas Niko, kedatanganku kesini bukan ingin membahas tentang hubungan kita yang lalu, melainkan ingin berniat membayar kerugian uang yang Mas Niko keluarkan karena kesalahanku. Lagian saat ini aku hanya ingin fokus kepada anakku saja, aku tidak terpikir lagi untuk menjalin hubungan dengan pria mana pun. Aku tidak pantas bersanding dengan mas Niko, menggantikan posisi Alm Nona Isabella," jawab tegas Vania dengan suara lembutnya.


Vania benar-benar pasrah dan mengakui kesalahannya membuat Niko terdiam dan perasaannya semakin amburadul.


"Aku mohon, kasih kesempatan dan keringanan untuk mencicilnya, jangan sita usaha kami yang baru saja berjalan. Vania juga banyak keperluan untuk anak!" raut sedih Vania yang benar-benar memohon membuat kemarahan Niko meredam.


"Ini sangat menyebalkan! kenapa aku tidak bisa benar-benar marah dan super tega dengan perempuan ini!" gumam Niko.


"Jadi cinta yang kau katakan padaku itu hanyalah busyet dan kebohongan belaka!"


Vania terdiam merasa sia-sia jika harus memaksa Niko untuk mempercayainya.


"karena cinta itu seharusnya berpihak bukan mengkhianati!" kata Niko.


"Ada banyak hal yang tidak bisa aku ungkapkan kepada kamu Mas, posisi dimana aku harus benar-benar berkorban dan seharusnya aku tidak melibatkan orang lain dalam masalahku, aku menyesal!"


"Artinya kau menyesal bertemu denganku, aku juga sama, kau membawa kesialan dalam hidupku dan merusak semuanya!" Ego Niko yang tidak terbantahkan.

__ADS_1


Tidak lama kemudian, Ponsel Vania berbunyi. Tante Vania menelpon.


__ADS_2