Mr Cool Falling In Love.

Mr Cool Falling In Love.
Bab 80


__ADS_3

"Siapa Ksatria yang Ayah maksud itu?" tanya Kiano dalam nada memaksa.


Ferdy hanya bisa menggeleng, dahinya penuh titik keringat membasahi pelipisnya.


"Tidak mungkin Ayah tidak tau?" rasa emosi yang dalam membuat Kiano menarik ujung kerah baju Ferdy.


Dalam pandangan yang tak kasat mata, Kiano ternyata bisa melihat dua kornea mata Ferdy yang mulai memancarkan cahaya kecil kemerahan, sontak membuat pemuda tanggung itu menjadi takut dan merasa khawatir.


Kiano menolak keras tubuh Ferdy dan mengambil pisau tajam dengan gugup di atas meja, lalu mengarahkan kepada Ferdy.


"Siapa kau! Anj*****Ng, keluar dari tubuh Ayahku!" makian keras Kiano.


"Ini Ayah Nak!" jawab Ferdy mendekati Kiano dalam langkah perlahan.


"Bukan, pergi kau!"


Reflek Ferdy menangis sesenggukan di hadapan Anaknya, sambil meratapi dirinya.


"Ini memang semua salahku, harusnya aku tidak menikahkan Vania dengan Romi kemarin!"


Kiano memperhatikan sungguh-sungguh dua bola kornea mata sang Ayah yang kembali normal.


"Ayah!" panggil lembut Kiano, langsung memeluk Ferdy dengan airmata.


"Ya Tuhan apakah Ayahku juga sudah terjerat menjadi budak iblis itu, tapi tidak mungkin, dia adalah pria yang kuat, dia bukan pria yang berputus asa" batin Kiano.


"Ayah benar-benar tidak tau Kiano, siapa ksatria kuat itu...Hiks...hiks...benar-benar tidak tau siapa dia dalam raga manusianya, tapi Ayah yakin, ia akan membantu kita, ia akan perduli kepadamu, pergilah kau ke rumah lama Paman mu dulu, rumah Vania yang lama, di rumah itu ada sejumlah buku tua yang masih terjaga, kau bisa membongkarnya dan mencari informasi disana!"


"Bukankah Ayah sudah menjual rumah itu?"


"Benar, tapi pemiliknya seorang guru, ia menyukai barang-barang antik, Ayah yakin, ia akan tetap memelihara dan merawatnya dengan baik!"


"Ayah, katakan pada Kiano, apa lagi yang kau ketahui tentang Romi, Benarkah ia menyembah sosok Iblis?"


Ferdy mengangguk.


"Jadi Ayah sudah tau tentang hal ini, tapi masih tega menikahkan kak Vania dengan lelaki seperti itu?" bentak keras Kiano.


"Ayah terpaksa Ki, hutang kita terlalu banyak, saat itu Romi sangat ingin menikahi Vania, jadi Ayah merasa tidak ada pilihan, maafkan Ayah!" Ferdy menangis penuh penyesalan.


Sontak sekujur tubuh Kiano melemas, terduduk seperti seseorang yang tidak tau arah jalan pulang.


"Ayah minta maaf Kiano...Ta...ta...ta...tapi kamu jangan putus asa Nak! kau harus mencari pemuda yang di juluki Ksatria kuat itu, menurut ramalannya di adalah jodoh Vania, kau harus membantu Vania, ketika dia jatuh cinta dengan Vania, maka kita akan terbebas dari budak Iblis Romi yang menjerat kita selama ini, masih ada harapan kita untuk tetap hidup, begitu juga dengan kesembuhan ibumu dan kita akan menjadi kaya. Karena Ksatria yang di maksud dalam ramalan itu, selain kuat dan hebat dia juga kaya!" jawab Ferdy dalam mata kepanikannya.


"Ayah masih memikirkan tentang harta?" tanya Kiano tidak habis pikir.


"Bu...bukan maksud Ayah, setidaknya kalian bisa mendapatkan kehidupan yang lebih baik!" jawab gugup Ferdy.

__ADS_1


Pemuda tanggung itu hanya bisa tertunduk.


"Kiano jangan berputus asa Nak!"


Ferdy langsung menarik tangan Kiano agar segera keluar dari ruangan itu.


"Ayo kita pergi!"


*


Sesampai di area Lobi, ponsel Kiano berdering.


"Tlililit" Panggilan dari Sarinah adik kandung ibunya.


"Halo Tante! Ini Kiano dan Ayah, sebentar lagi akan menuju pulang ke rumah?"


"Maaf yah Kiano, kalau hanya kamu saja, mungkin Tante dan yang lain tidak keberatan, tapi jika Ayahmu juga ikut menumpang tinggal di rumah Tante, sepertinya banyak yang keberatan."


"Ouh! Baiklah Tante, Kiano mengerti!"


"Ta...Tapi kamu jangan berkecil hati, untuk biaya sekolah kamu, Tante yang akan bayar!"


"Terima kasih banyak Tante, Maaf sudah merepotkan kalian selama ini!"


"Tidak apa-apa, masalah ibumu, Tante akan tetap mengurusnya!"


"Iyah Kiano!"


"Trup!"


Kepala Kiano tertunduk lesu. Harapannya untuk menumpang hidup di rumah sang Bibi bersama Ayah ternyata di tolak, sementara rumah Vania yang baru dalam sitaan perusahaan Oscar99.


(Hanya Kak Vania lah saudara sepupu tetapi rasa kakak kandung sendiri, ketulusan dan kebaikannya tidak terbatas, ia rela memberikan semua hartanya kepada kami, padahal yang ia inginkan hanyalah pelukan dan kasih sayang keluarga, tetapi Ayah dan Ibu tidak pernah bersyukur, selalu ingin memanfaatkannya. Ia tidak pernah mengeluh kepadaku bahkan tidak ingin bercerita.


Kenapa hatiku sakit sekali setelah aku memahami semua ini dan aku sangat kecewa, inilah hukuman bagi orang yang tamak seperti kami, karena kakak adalah seorang anak yatim piatu, kami telah memakan harta anak yatim piatu. Sekarang kakak benar-benar meninggalkan kami, aku hanya berharap ia baik-baik saja dan bahagia bertemu dengan jodoh yang sangat mencintainya!" gumam Kiano dalam mata berkaca-kaca)


"Bagaimana?" tanya Ferdy baru saja periksa kesehatan sejenak sebelum kembali pulang.


Kiano hanya menggeleng penuh kepasrahan.


"Tante Sarinah tidak mengizinkan Ayah untuk tinggal di rumahnya!" jawab lesu Kiano.


"Ouh, begitu yah!"


Ferdy mencoba bertanya kepada staf informasi rumah sakit.


"Mba, Apakah ada utusan Niko Oscar, Direktur utama Perusahaan Oscar99 yang datang untuk menjemput kami?" tanya Ferdy.

__ADS_1


Sang staf sejenak memeriksa data mereka.


"Maaf Bapak, semua tagihan rumah sakit memang sudah lunas dibayarkan oleh pihak Perusahaan Oscar99, kami juga sudah mencoba untuk menghubungi Bapak Bagas selaku orang kepercayaan Bapak Niko Oscar, tetapi sampai saat ini, kami belum menerima balasannya!"


"Begitu yah, Terima kasih!"


Ferdy kembali tertunduk dengan wajah lesu.


"Bagaimana Ayah!" tanya cepat Kiano.


Ferdy menggeleng pertanda tidak ada jawaban.


"Coba kamu telpon Vania?" pinta Ferdy.


"Tidak aktif, sepertinya kartunya sudah ganti?" jawab Kiano.


"Mengapa Vania bisa melupakan kita seperti ini?" omel Ferdy.


"Ayah masih menyalahkan kakak? Setelah biang masalah ini adalah kalian!" bentak tertahan Kiano merasa geram dengan orang tuanya.


Tiba-tiba seseorang menyapa mereka dari belakang.


"Halo everybody!" Frans dengan kaca mata hitamnya merangkul dua bahu Ferdy dan Kiano, terlihat sangat akrab bagai sahabat kepompong.


"Frans?" batin Ferdy dan Kiano cukup kaget.


"Kalian tidak perlu cemas, siapa yang akan menjemput pulang dan dimana kalian akan tinggal, karena aku sudah mempersiapkan segalanya."


Keduanya terlihat diam dengan bengong.


"Aku bukan Niko yang meski di awal terlihat baik, penolong namun ujung-ujungnya menelantarkan kalian seperti ini, karena tujuanku bukan hanya Vania saja tetapi keluarganya juga!"


("Entah mengapa hatiku terus berkata jika Niko jauh lebih baik daripada kamu!" gumam Kiano dalam dahi berkerut)


"Ayo ikut aku!"


"Tapi Ayah?"


"Untuk sementara ini, kita ikut saja dengannya!" jawab tenang Ferdy.


Tidak ada pilihan lagi akhirnya mereka mengikuti langkah Frans.


Dua bola mata Kiano melirik tepat ke arah toilet yang tidak asing baginya, dimana ia pernah bertemu dengan Iblis bernama Arnold dalam raga Frans.


("Toilet ini seperti tidak asing bagiku, tetapi aku tidak bisa mengingatnya apa yang terjadi saat itu!" batin Kiano)


*

__ADS_1


__ADS_2