
Senyum menghiasi wajah-wajah kami. Siswa kelas 3 SMA TUNAS HARAPAN BANGSA. Hari ini kami menerima pengumuman kelulusan. Bertiga berpelukan meluapkan kegembiraan yang tak terhingga. Delima, Nina, dan Lisa merupakan sahabat sejak kecil. Memang mereka teman sepermainan.
"Delima,"panggil Ronald. Suara berat khasnya membuat ketiga gadis berhenti dan menoleh asal suara.
"Ya, Ronald. Ada apa ?"tanya Delima nota bane kekasih Ronald.
"Selamat ya," kata Ronald sambil menjabat tangan Delima.
"Terima kasih,"jawab Delima sambil memberi kode Nina dan Lisa sahabatnya.
Nina dan Lisa yang mengerti langsung mohon ijin untuk pulang terlebih dahulu.
"Maaf Delima, saya dan Lisa pulang dulu ya," kata Nina menggandeng tangan Lisa.
"Iya Delima, Ibu telah menunggu di rumah," timpal Lisa .
"Nanti sore kalian ke rumah ya. Aku tunggu," pinta Delima pada kedua sahabat kecilnya itu.
"Da.. da...,"kata Mereka.
"Da...da...juga," jawabku singkat.
Delima melihat tangan Ronald yang masih memegang tangannya. Melihat Delima, Ronald melepaskan.
"Mari kita pulang,"ajak Ronald. Berjalan pulang menuju tempat parkir sepeda motor.
Di boncengan Delima hanya diam. Teringat pertengkaran dengan Ronald kemarin malam.
"Aku mau melanjutkan ke Bandung," kata Ronald singkat.
"Mengapa harus ke sana ? Apakah di kota ini tidak ada tempat kuliah yang bagus ?" tanya Delima.
"Delima, aku ingin meraih cita-citaku. Dengan menuntut ilmu di Universitas tersebut ku harap dapat terwujud," jelas Ronald.
"Bagaimana dengan hubungan kita ?" tanya Delima.
"Untuk sementara kita LDR-an dulu,"jawab Ronald memegang kedua tangan Delima untuk meyakinkan.
"Aku takut," jawab Delima lirih menundukkan muka. Tak terasa satu bulir bening jatuh di tangan Ronald.
Tapi keputusan Ronald sudah bulat. Tetap akan melanjutkan pendidikannya, tanpa peduli menghiraukan perasaan Delima.
"Delima," panggil Ronald. "Sudah sampai," lanjut Ronald.
"Maaf, terima kasih sudah mengantar," jawab Delima langsung masuk ke rumah tanpa melihat Ronald lagi.
__ADS_1
...DELIMA...
******************
Akhirnya hari perpisahan itu tiba. Ronald berangkat untuk melanjutkan kuliah nun jauh dari Delima. Ronald tidak berangkat sendiri, Lisa ikut untuk belajar di sana. Ada perasaan sedikit lega di hati Delima. Lisa bisa ditanya-tanya tentang keadaan Ronald. Delima menitipkan hatinya pada Lisa. Ronald adalah bagian dari separuh jiwa raganya.
"Delima masuk sudah sore!"tegur ibu Sukma.
Ibu sambung Delima.
Ayah Brata, ayah Delima menikah lagi dengan ibu Sukma setelah ibu Delima meninggal karena sakit. Delima anak tunggal. tetapi ibu Sukma membawa 3 orang anak. Adik sambung Delima masih kecil-kecil. Wendy adik pertama sekarang baru di kelas 3 SMP, Tutut adik kedua baru kelas 1 SMP, dan Isabela adik paling kecil baru berusia 5 tahun.
"Maafkan Ibu dan Bapak Delima." kata ibu Sukma membuka pembicaraan setelah Delima dan ibu Sukma duduk di ruang tamu.
Delima hanya terdiam dan memandang ibu Sukma.
"Kamu tidak bisa melanjutkan kuliah, karena adik-adik mu masih membutuhkan banyak biaya. Kebutuhan hidup sehari-hari juga perlu dipikirkan," jelas ibu Sukma yang sudah berdiri di samping Delima sambil mengelus rambut panjangnya.
"Iya, Bu. Delima tahu dan akan mencoba untuk melamar pekerjaan," kata delima dengan lirih.
"Apa kamu jadi berangkat ke Jakarta bersama Nani," tanya ibu Sukma.
"Benar, Bu,"" jawab Delima singkat.
"Belum tahu Bu, menunggu kabar dari kakak Nani yang memilik restoran di Jakarta," jelas Nani. "Sambil menunggu kabar, Delima ingin membantu Abah Muin di warung kelontongnya dikarenakan istrinya sedang sakit dan di rawat di rumah sakit," jelas Delima.
"Terserah padamu. Terima kasih semoga bermanfaat dan doa ibu selalu yang terbaik," kata tulus ibu Sukma.
Delima memahami keadaan keluarganya. Ia tidak boleh patah semangat. Harus bisa membantu sedikit biaya untuk meringankan beban hidup. Walaupun harus mengubur dalam-dalam keinginannya untuk melanjutkan pendidikan.
Setiap pukul 06.00 Delima sudah menuju warung Kelontong Abah Muin yang berjarak kurang lebih 500 meter dari rumahnya. Membuka warung dan menata barang-barang agar tampak rapi. Membersihkan dan mengepel lantainya. Warung akan ramai pembeli satu jam kemudian. Istirahat siang warung akan ditutup untuk makan siang dan sholat. Kemudian dibuka lagi hingga pukul 18.00. Upah yang diberikan Abah Muin untuk Delima cukup lumayan. Delima akan menerima Rp 1.500.000,- setiap bulannya. Uang tersebut akan sisihkan sebagian untuk disimpan dan lebihnya diberikan ibu Sukma untuk membantu kebutuhan keluarga.
Tak terasa sudah lima bulan Delima membantu Abah Muin. Meski istri Abah Muin sudah pulang dari rumah sakit, tapi Delima masih dipercaya untuk menunggu warung kelontongnya. Selain ramah, tekun, dan sabar. Delima mempunyai sifat yang jujur. Hal itulah yang membuat Delima bekerja lama di warung Abah Muin. Warung semakin banyak pelanggan. Sehingga membuat banyak keuntungan yang didapat. Abah Muin juga berjanji untuk memberi bonus untuk akhir tahunnya.
Malam hari setelah sholat isya'. Delima mendapat WA dari Nani.
Nani : "Malam Del....".
Delima : "Ada apa nih.....baru nongol,"
Nani. : "Jadi ikut ke Jakarta ?".
Delima:"Iya, aku ikut".
__ADS_1
Nani. : " Siap-siap saja. Besok hari Minggu pegawai kakakku akan menjemput dengan mobil resto nya".
Delima :"Baiklah, aku akan mempersiapkan segalanya,""
Nani. :" Del...,"
Delima :" Ya....,"
Nani. : "Tetap semangat ya, Meski tidak untuk kuliah, ini jalan yang terbaik untuk kita".
Delima : "Terima kasih, Nan, telah menjadi sahabat juga membantu keluargaku selama ini".
Nani :"Sama-sama Del, udah ya .... istirahat malam nih ".
Delima. :" Bye".
Delima menutup hp dan melihat jam dinding di kamarnya. Pukul 23.00, ia harus tidur agar tidak kesiangan ke warung kelontong Abah Muin.
Pagi itu Delima menemui Abah Muin. Tujuannya ingin pamit. Kemudian akan mempersiapkan kebutuhan dirinya sendiri untuk keberangkatan mencari pekerjaan.
"Begitulah Abah, jika ada kesalahan Delima mohon maaf. Delima juga didoakan agar di Jakarta segera mendapat pekerjaan," kata Delima berikut.
"Iya Nak Delima, terima kasih telah membantu Abah di sini. Semoga kerasan. Dan ini sedikit untuk bekal di perjalanan," kata Abah Muin dengan memberikan amplop putih ke tangan Delima.
"Terima kasih Abah, saya mohon pamit untuk persiapan, " kata Delima meraih tangan Abah dan mencium tangannya.
Sepulang dari rumah Abah Muin. Nani sudah menunggu di rumah sedang berbincang dengan bapak dan ibu. Mereka tampak serius.
"Assalamualaikum," kata Delima sampai di depan pintu rumah.
"Waalaikum salam," jawab serempak Bapak, Ibu, dan Nani.
"Duduk sini, Delima," kata Bapak Brata.
"Nak Nani datang ke sini untuk mengajak kamu bekerja di Jakarta, Minggu besok kamu berangkat. Apakah itu benar?" kata Bapak Brata meminta penjelasan.
"Benar, Pak. Rencana ini sebenarnya sudah lama, sambil menunggu Delima membantu Abah Muin. Kemarin malam Nani wa Delima katanya Minggu besok kita jadi berangkat untuk bekerja di Restoran milik kakaknya," jelas Delima meyakinkan Bapak Brata.
"Apakah itu benar Nak Nani ?"tanya Bapak Brata .
"Iya, Pak. Nanti di sana akan tinggal di mes khusus karyawan Resto. Jadi tidak usah memikirkan tempat tinggal termasuk untuk makan juga telah disediakan," jelas Nina.
"Bapak mengijinkan Delima untuk berangkat bersama Nina ?" tanya Delima.
"Bapak dan Ibu mengijinkan dan mendoakan kamu supaya berhasil," kata Pak Brata.
__ADS_1
"Terima kasih," jawab Delima singkat
Pada hari Minggu Delima dan Nina berangkat ke Jakarta dengan dijemput mobil bertuliskan Restoran BUNGA JAVA RESTO. Dalam hati Delima mengharap bisa membantu kedua orang tuanya dan dapat mendapat pengalaman berharga.