
Rencana berbulan madu ke Bali tinggal menunggu waktu. Setelah mengantar Angel ke sekolah, Delima mampir ke resto tempat Nani bekerja. Selain ingin melepaskan kangen dengan teman-teman di resto, Delima ingin minta ijin Rangga membeli kebutuhan bulanan. Memasuki pintu resto, Delima disambut teman-teman lama berbincang sebentar dan ketemu Nani.
" Nan, bisa ketemu Kak Rangga ?" tanya Delima.
" Kak Rangga sedang ada tamu Klein. Ada perlu Delima ?" tanya Nani.
" Cowok apa cewek ?" tanya Delima lagi.
" Cewek tunggu sebentar, Aku membantu di luar ya sudah ada pengunjung," kata Nani mohon ijin.
"Iya," jawab Delima.
Tiga puluh menit menanti membuat Delima tidak sabar, diketuknya pintu tapi tidak terdengar suara di dalam mempersilahkan. Dibukanya pelan, ketika pintu terbuka Delima tidak pernah melihat suaminya seperti ini.
Di bawah kukungan seorang cewek yang tiga buah kancing bajunya dari atas telah terbuka dan menyembul lah dua buah benda bundar montok.
Dasi Rangga terlepas dengan rambut yang sudah berantakan.
" Apa yang kalian lakukan !" kata Delima berteriak.
Gadis cantik turun dari pangkuan Rangga. Nampak pusaka telah mengeras di dalam sana. Si cewek segera membenahi baju dan rambut. Rangga sendiri membetulkan dasi yang terlepas dan menyembunyikan bagian menonjol.
Delima menunggu reaksi kedua manusia yang sudah tertangkap basah.
" Saya tidak ingin membawa masalah ini ke rumah. Saya menyadari tidak secantik wanita ini dan juga tidak berpendidikan. Apalagi selama menikah tidak ada tanda- tanda akan punya momongan. Kak Rangga saya permisi," kata Delima membalikkan badan dan telah keluar.
Rangga yang terkejut akan datangnya Delima hanya diam, terduduk lemas di kursi kebesarannya. Diteguknya habis air putih di hadapannya. Disambarnya kunci mobil dan berlari. Di luar berpapasan dengan Nani.
" Dik, Delima sudah lama di resto ?"
tanya Rangga.
" Hampir dua jam, Kak" jawab Nani tak memahami apa yang terjadi.
" Kakak keluar dulu," kata Rangga pada Adiknya.
Rangga melihat cip yang ditempel di
ponsel Delima. Mengarah ke terminal bus. Rangga menebak Delima akan ke luar Jakarta. Dipacunya mobil sport menuju terminal. Mobil mengikuti angkot kota. Mobil Rangga diberhentikan ke tepi, sedangkan di depannya turun wanita cantik .
Rangga ke luar mobil dan cepat meraih tangan Delima.
" Sayang, kamu mau ke mana ?" tanya Rangga.
Di luar dugaan Delima tidak berontak dan hanya diam. Tatapan matanya kosong. Rangga menarik untuk segera masuk ke dalam mobil. Delima sudah duduk di kursi penumpang depan. Rangga memasang scbelt. Setelah jauh dari terminal, mobil diberhentikan di tepi jalan yang sepi.
__ADS_1
" Sayang, aku tahu kamu marah. Tapi sebenarnya tidak seperti yang kamu lihat. Aku bisa menjelaskan yang sebenarnya, " kata Rangga dengan sungguh-sungguh.
Delima tetap diam. Memandangi wajah suaminya yang terlihat kacau.
". Sayang, bicaralah kamu boleh marah,' kata Rangga putus asa.
" Siapa wanita tadi?" tanya Delima tetap memandangi wajah suaminya.
" Dia Siska, Klein resto dari Malang," jawab Rangga.
" Pacar ?" tanya Delima memandang arah luar jendela.
" Iya, tapi dulu sewaktu belum menikah dengan Cantika," jawab Rangga.
" Jadi kalian CLBK ?" tanya Delima.
" Apa itu CLBK ?" tanya Rangga balik.
"Cinta Lama Bersemi Kembali," jawab Delima.
" Tidak. Dia datang dari Malang untuk mengabari kalau akan menikah. Sebenarnya tadi Siska ingin pulang, salam perpisahan hanya pelukan. Tiba-tiba saja mendorongku dan aku jatuh di sofa kemudian menciumi wajahku dengan kalap. Dia sendiri yang melepaskan kancing bajunya,"" kata Rangga menjelaskan.
" Kakak menikmatinya dan semua akan terjadi jika saja saya tidak segera masuk," kata Delima lirih.
Air mata yang sudah ditahan sejak tadi menetes juga meski tanpa suara isak tangis.
" Kakak saja yang pulang, Delima ingin ketemu Bapak, Ibu, dan Adik-adik," jawab Delima memandang mata Rangga memohon.
" Baik, Kakak antar kamu menemui mereka," jawab Rangga lembut.
" Tidak usah, Delima bisa pulang sendiri," kata Delima merajuk.
" Kakak berjanji itu yang terakhir kali," kata Rangga mengangkat jari tangannya membentuk huruf V.
" Delima tetap ingin pulang, Kak!" kata Delima
" Tapi pulangnya setelah makan siang dulu," jawab Rangga.
Delima pun mengangguk, mengusap mata yang masih berair.
Dibetulkan anak rambut Delima di belakang telinga. Ditariknya dagu kemudian diciumnya dahi, kedua mata, hidung, dan terakhir bibir basah Delima dengan pelan tapi menuntut. Delima tidak bisa menolak malah mengimbangi permainan Rangga. Mereka saling memberi sentuhan dalam posisi nyaman. Semakin panas meski AC mobil sudah dingin. Setiap hentakan yang Rangga lakukan memberikan kenikmatan bagi Delima.
Ritme permainan semakin cepat dan keras, akhirnya pelepasan pertama mereka rasakan bersama.
" I love you," kata Rangga belum melepaskan penyatuan mereka.
__ADS_1
Delima diam tidak menjawab perkataan Rangga. Rangga mulai menggerakkan pinggul Delima dengan cepat.
" Sudah,Kak. Nanti dilihat orang," kata Delima pelan.
" Jawab dulu, kalau tidak ...," kata Rangga tidak meneruskan ucapannya malah menaik turunkan pinggul Delima dengan cepat.
" I love you too," jawab Delima.
Jawaban Delima terlambat, sudah separo jalan dan perlu dilanjutkan. Semakin cepat berlari hingga nafas mereka memburu. Dua bukit pijakan Rangga untuk dimainkan, sedangkan Delima berpegangan kuat pada leher agar tidak jatuh. Saling berpacu untuk mencapai finis kedua.
" Terima kasih, Sayang. I love you too," jawab Rangga mengijinkan Delima berpindah tempat.
Mobil pun melaju dengan kecepatan sedang menuju sebuah restoran kecil lesehan di pinggir danau buatan dengan suasana asri di sekitarnya.
Sambil menunggu pesanan, Rangga mengambil ponselnya dan menelpon seseorang.
" Halo, Ma. Rangga ijin mau mengantar Delima ke Semarang katanya kangen keluarganya," kata Rangga pada Mama Martha.
" Kok mendadak, Apa Delima marahan sama kamu ?" tanya Mama Martha curiga.
" Tadi iya Ma, tapi sekarang sudah tidak lagi," jawab Rangga sekilas memandang wajah Delima.
" Rangga, kamu harus peka pada perasaan perempuan. Istrimu tidak banyak menuntut kurangi kerja dan berikan perhatian yang cukup. Sesekali boleh kamu beri kejutan dengan memberikannya hadiah," kata Mama Martha memberikan wejangan pada Rangga," Mama mau bicara sama Delima".
" Halo, Ma ini Delima, " kata Delima.
" Halo Delima, anak Mama yang cantik. Sabar ya menghadapi suamimu, Maafkan Rangga Mama tahu Dia sangat mencintaimu, biarkan mengantar menemui orang tuamu," kata Mama Martha memberi pengertian Delima.
" Iya, Ma," jawab Delima.
" Rangga, Mama minta oleh-oleh cucu !" kata Mama Martha.
" Iya, Ma. Sudah dulu Rangga akan tutup, " jawab Rangga.
" Hati-hati, nikmati perjalanan kamu.
Kami akan baik-baik saja di rumah," kata Mama Martha.
Rangga menutup ponsel dan dipandanginya wajah istrinya.
" Maaf, jika selama ini Kakak sibuk kerja," kata Rangga.
Delima tersenyum. Tidak menjawab karena pesanan telah disajikan untuk segera disantap.
Perjalanan darat mereka lakukan dengan pelan. Sopir sudah digantikan Pak Agus yang datang setelah ditelpon Rangga dengan membawa satu koper besar pakaian Rangga dan Delima serta satu koper kecil pakaian pak Agus.
__ADS_1
Rangga duduk di kursi paling belakang bersama Delima. Delima telah terlelap dalam pangkuannya. Dibelainya rambut istri tercintanya, tidak akan disakiti hati dan perasaannya. Akan dijaga seumur hidup dan jiwa raganya.