
Mobil Rangga memasuki pintu gerbang dan sampai di parkiran. Angel ke luar mobil diikuti Nani yang sudah menggandeng tangannya.
Rangga membukakan pintu untuk Delima, tetapi Delima tidak segera turun.
" Mama tidak apa-apa?" tanya Rangga.
" Pa, badan Mama lemas dan kepala pusing," jawab Delima.
Rangga memapah tubuh istrinya untuk keluar dari pintu mobil. Setelah menutup pintu dan menguncinya, Rangga menuntun istrinya. Baru beberapa langkah berjalan, tubuh Delima oleng dan pingsan. Rangga menggendong untuk masuk rumah. Diletakkan tubuh istrinya di tempat tidur kemudian menelpon dokter pribadi untuk segera datang.
Dokter tadi berpesan untuk melonggarkan seluruh pakaian Delima dan itu sudah dilaksanakan. Memberi bau minyak kayu putih di depan hidung juga sudah dilakukan, tetapi belum sadar juga. Untung dokter cepat sampai dan segera memeriksa Delima.
" Bagaimana keadaan istri saya dokter?" tanya Rangga khawatir.
" Nyonya Delima mengalami kelelahan, tekanan darahnya rendah dan anemia. Ini ada resep untuk segera dibelikan. Untuk sementara sebaiknya istirahat total berada di tempat tidur, ditakutkan akan jatuh karena sakit kepala yang
dialami," kata dokter memberi saran.
" Mengapa belum sadar dokter?" tanya Rangga.
" Tolong diberikan bau-bauan yang menyengat di depan hidungnya, jika seperempat jam belum sadar di bawa ke rumah sakit saja," jawab dokter.
" Saya permisi dulu Tuan Rangga, semoga Nyonya Delima lekas sembuh," kata dokter pergi setelah memberi resep dan nasehat.
" Terima kasih dokter, mari saya antar," jawab Rangga menunjukkan jalan ke luar.
Rangga kembali ke kamar, sudah ada bibi menunggui. Di atas meja sudah tersedia semangkok bubur ayam yang terpisah lauknya serta dua gelas air teh dan air putih.
" Mama sudah siuman ?" tanya Rangga tersenyum," Terima kasih, Bibi sudah menjaga saat saya pergi. Biar saya yang menunggu dan menyuapi buburnya".
Bibi keluar kamar dan menutup pintunya.
" Bagaimana badannya Ma, sudah enakan ?" tanya Rangga duduk di tepi tempat tidur.
" Sudah Pa, maaf Mama merepotkan saja," jawab Delima tersenyum yang dipaksakan.
__ADS_1
" Sekarang baby twins makan bubur dulu, terus minum vitamin dari dokter," kata Rangga hendak mengambil mangkok bubur.
" Pa, baby twins mau ke kamar mandi," kata Delima yang duduk.
" Tunggu, Ma! " kata Rangga.
Rangga mengambil pis pot untuk kencing Delima.
" Pa, Mama tidak bisa memakai itu!" kata Delima.
" Kata dokter, Mama harus bed Reste di tempat tidur dulu tanpa banyak kegiatan," jawab Rangga, " Papa gendong saja saja ya?"
" Jalan saja Pa, nanti kalau pusing berhenti, " jawab Delima.
Rangga memapah hingga kamar mandi, setelah selesai memapah kembali hingga tempat tidur. Delima ingin duduk dan bersandar pada kepala ranjang.
Rangga mengambil mangkok bubur beserta lauknya menyuapi sendok sesendok hingga bubur habis tanpa sisa. Kemudian air putih diminum setengah gelas.
" Baby twins lapar ya," tanya Rangga tersenyum.
" Buburnya enak," jawab Delima singkat.
Delima hanya mengangguk saja tanpa banyak protes.
Tok tok tok
" Masuk pintunya tidak dikunci," jawab Rangga.
Pintu dibuka muncul Angel sambil mengendong boneka kesayangan di tangan kanan.
" Papa, Mama sakit ya?" tanya Angel mendekati Delima.
" Tidak sayang, Mama harus banyak istirahat dulu," jawab Rangga.
" Mama, baby twins main bola terus ya?" tanya Angel mengelus perut Delima dan menciumi dengan penuh kasi sayang.
__ADS_1
" Baby twins bobok Sayang, habis makan bubur disuapi Papa," jawab Delima tersenyum.
" Papa temani Angel mau makan malam ya," kata Angel manja di pangkuan Rangga.
Rangga meninggalkan Delima sendiri sebelumnya sudah mencium kening Mamanya dan perut untuk baby twins.
Di meja makan keluarga sudah berkumpul, mereka menikmati makan malam dengan diam, karena tidak ada satu keluarga yaitu Delima terasa tidak lengkap.
" Bagaimana kondisi istrimu, Nak?" tanya Mama Martha penuh kekhawatiran.
" Delima mengalami bed Reste sehingga harus tetap di tempat tidur jika tidak mau rawat inap di rumah sakit," jawab Rangga.
" Dijaga baik-baik karena ada baby twins, berbeda lho hamil anak kembar itu," kata Mama Martha memberi nasehat pada Rangga.
" Siap, Ma. Bagi Rangga Delima dan baby twins nomor satu," jawab Rangga.
Pukul delapan malam Angel naik ke kamar ditemani suster untuk tidur dan Rangga masuk ke kamar menemui istrinya.
" Mama belum tidur?" tanya Rangga setelah mengunci pintu.
" Mama tunggu Papa," jawab Delima meletakkan kepala di bantal untuk rebahan.
" Perlu diambilkan sesuatu sebelum tidur?" tanya Rangga.
" Tolong pijitin kaki Mama saja rasanya sakit sekali," kata Delima mengangkat kakinya ke pangkuan Rangga.
" Kabar baby twins hari ini bergerak tidak Ma, " tanya Rangga.
" Baru saja bergerak katanya kangen mau ketemu sama Papanya," kata Delima dengan manja.
" Besok saja Mama sedang sakit, sekarang matanya ditutup Papa akan pijit sampai sakitnya hilang dan baby twins tidur nyenyak jangan nakal," jawab Rangga," Papa akan menemani kalian di sini".
Delima memejamkan mata walaupun dengan bibir yang sedikit manyun.
Rangga bersyukur Delima tidak banyak rewel pada kehamilannya ini. Meskipun ada rasa was-was karena kehamilan kembar, bed Reste merupakan satu-satunya jalan untuk istirahat. Terpaksa Rangga membatalkan pergi ia mewakilkan Nina untuk menemui Klein di luar kota.
__ADS_1
Rangga mempercayakan bisnis kuliner ini pada adiknya. Juna tidak mungkin, Monica baru melahirkan.
Monica sendiri sejak kandungan berusia tujuh bulan risain sementara dari pekerjaan sebagai wakil dari restoran yang ada di Jakarta.