
Sepekan setelah acara lamaran, pernikahan antara Nani dan Dewa dilangsungkan hari ini di kediaman Mama Martha. Semua dipercepat karena hari baik jangan ditunda pepatah Jawa mengatakan demikian. Mumpung keluarga masih berkumpul dan KTP Nani sudah pindah menjadi warga Jakarta, maka lebih mudah dalam pengurusan surat menyurat.
Pagi ini nampak semua orang sudah siap menanti keluarga sang pengantin pria datang. Bapak dan Ibu Nani sudah duduk bersama anak tertua mereka yaitu Rangga. Sedangkan juru rias masih di kamar calon pengantin wanita.
"Nan, kamu cantik sekali," kata Delima yang bahagia melihat sahabat kecilnya mau menikah.
" Terima kasih, Kak. Tapi aku agak nervous mengapa mereka belum datang ?" tanya Nani mengelap setitik keringat di dahinya.
" Sudah tidak sabar ya ? Kangen sama Dewa ?" tanya Delima menggoda adik iparnya.
"Mereka akan datang Khan ? " tanya Nani kembali.
Delima akan menjawab, namun hp Nani telah berbunyi ternyata notifikasi bertuliskan My Dedy.
Nani dengan cepat menggeser tombol hijau. Dewa yang ditunggu kedatangannya menelpon.
"Sayang, kamu sedang apa ?" tanya seorang di seberang sana.
"Aku sedang dirias, Sayang mengapa kamu belum sampai ?"
tanya Nani penuh tanya.
" Sabar, Sayang. Aku sudah di ujung perumahan. Kamu sudah tidak sabar ya?" tanya Dewa menggoda.
"Bukan begitu, My Dedy . Kamu tidak nervous ?" tanya Nani balik.
"Tidak sama sekali. Aku sudah menunggu hari ini sejak lama. Hari dimana kamu akan jadi milik aku sepenuhnya," jawab Dewa dengan nada pasti.
"Ya sudah, aku menunggumu," kata Nani malu lalu menutup hp nya .
"Cie ..cie ..My Dedy nya mau datang," kata Delima menggoda Nani. Dua orang perias menunduk minta ijin untuk keluar.
"Kak, setelah menikah nanti kami belum mempersiapkan diri untuk tempat tinggal. Bolehkah jika untuk beberapa hari tinggal bersama kalian dulu ?" tanya Nani menatap wajah Kakak ipar juga teman nya sejak kecil . Sebelum menjawab Delima tersenyum . Ia ingat kejutan yang akan diberikan suaminya untuk pengantin baru.
POV. Delima
Malam itu Rangga yang baru saja selesai mandi duduk mendekati istrinya. Dengan lembut dibelai anak rambut yang menutupi sebelah wajah imut kesayangannya .
"Ma, Papa ingin bicara sesuatu pada Mama. Belum ngantuk Khan " tanya Rangga serius.
"Ada apa, Pa. Ada masalah serius di Resto ?" tanya Delima mengelus rahang suaminya yang selalu halus tanpa jambang.
"Sebenarnya Mama Martha menghendaki Nani setelah menikah tinggal bersama kita di rumah ini, alasannya sebagai ganti Monica . Selain itu suasananya biar ramai, karena memang Mama Martha tidak ingin kesepian di masa tuanya," kata Rangga menjelaskan.
__ADS_1
"Kalau memang keinginan Mama Martha demikian sampaikan saja nanti pada mereka," kata Delima memberi saran.
"Walaupun Nani setuju, Papa yakin Dewa tidak akan mau. Mereka pasti akan ke luar untuk belajar mandiri," jawab Rangga mengubah duduknya bersila menghadap Delima.
"Itu juga bagus. Agar mereka bisa mengatur rumah tangganya sendiri tanpa ada campur tangan orang lain," jawab Delima menatap manik mata Rangga.
"Ma, bolehkah Papa memberikan hadiah perkawinan bagi mereka ?" tanya Rangga ragu-ragu.
"Boleh sekali,Pa. Apa hadiah yang akan Papa berikan kalau boleh Mama tahu ?" tanya Delima lagi.
"Papa tidak ingin jauh dari Nani, meskipun sudah ada Dewa yang akan selalu menjaganya. Papa belum sanggup jika harus berjauhan, rasanya baru kemarin kalian datang menemui Kakak untuk bekerja di resto dan sekarang harus dipisahkan lagi," kata Rangga ucapannya terhenti . Setetes air mata jatuh dan Delima menghapus dengan ibu jarinya.
Dengan lembut Delima mencium bibir Rangga sekilas, kemudian senyum mengembang menunggu dengan sabar apa yang akan diucapkan suaminya selanjutnya.
"Rumah baru bercat hijau muda di sebelah kanan rumah kita itu hadiah Papa untuk mereka," kata Rangga memegang kedua tangan Delima," Mama tidak marah Khan?"
Senyum Delima semakin lebar mendengar hadiah dari Rangga untuk adik tercinta.
" Mama tidak marah ,Pa. Mama malah senang masih bisa bersama Nani meskipun kita sudah mempunyai keluarga masing-masing," jawab Delima mengangguk pasti.
" Kakak tidak setuju ya jika kita tinggal di sini sementara ?" tanya Nani menyadarkan Delima dari lamunannya.
"Lebih baik nanti tanya Kak Rangga langsung," jawab Delima.
Pintu kamar diketuk tiga kali. Delima membukanya ternyata ibu Nani.
"Silahkan masuk, Bu," kata Delima memberi jalan mertuanya.
Wanita tersebut maju menuju tempat duduk putrinya.
"Rombongan pengantin pria sudah datang lebih baik kamu bersiap untuk segera ke luar," kata Ibu Nani.
" Baik, Bu. Kak Delima nanti yang akan menemani Nani," jawab Nani.
"Ibu tinggal dulu ya? "kata Ibu Nani segera ke luar meninggalkan kamar.
Delima dan Nani bersiap -siap untuk keluar. Nani meneliti kembali riasan di wajahnya, sedangkan Delima membetulkan baju hingga kain yang dikenakan Nani.
Delima menggandeng tangan Nani . Menuruni beberapa anak tangga dengan pelan. Bak bidadari turun dari langit. Keduanya sangat cantik seperti pinang dibelah dua, karena memang mereka seumuran. Di depan kedua keluarga yang duduk saling berhadapan, Delima melepaskan tangan yang menggandeng tangan adik iparnya.
"Jalan pelan-pelan saja dan tetap tersenyum!" kata Delima berbisik di telinga Nani.
Nani yang mendengar hanya mengangguk. Delima melangkah mendekati tempat duduk keluarga dan tepat di depan Rangga Ia berhenti menempati tempat duduk yang telah disediakan.
__ADS_1
Semua perhatian tamu undangan tertuju pada Nani yang berjalan dengan anggun. Kebaya putih melekat di tubuh tinggi semampai memakai hijab putih serta hiasan tipis natural menambah aura kecantikan ke luar maksimal. Semua yang melihat terkagum-kagum dengan pesona pengantin.
Tepat di depan meja penghulu, Dewa berdiri menarik kursi yang akan diduduki Nani. Setelah duduk seorang MC dari IO memulai acara dengan pembacaan ayat suci Al Qur'an, sebelum pengucapan ijab Qobul wejangan diberikan penghulu bagi pengantin.
Di acara inti, Bapak Nani lah yang menikahkan. Dengan satu kali tarikan nafas Dewa mengucapkan ijab Qobul tersebut.
" Syah,"
"Syah,"
Suara tepuk tangan mengiringi setelahnya.
Acara selesai dan diisi acara ramah tamah keluarga. Senyum Nani dan Dewa tidak pernah lepas dari kedua bibir mereka. Rangga menggandeng mesra tangan Delima mengajaknya maju menuju mic yang disediakan.
" Bapak Ibu tamu undangan yang kami hormati, ijinkan untuk mengganggu acara ramah tamah ini. Di sini kami, saya dan istri ingin memberikan sedikit kado bagi kedua mempelai. Jangan dilihat dari harga, tapi ini sebuah bentuk kasih sayang kami. Ini ada sebuah sertifikat rumah letaknya di sebelah kanan rumah ini warna hijau muda. Semoga kalian berbahagia selamanya dan jangan tunda momongan, karena itu adalah rejeki dari yang kuasa," kata Rangga mengakhiri dan maju menuju pelaminan dengan tetap menggandeng tangan istrinya. Maju perlahan mendekati kedua mempelai. Menyerahkan sebuah stop map kertas warna biru telur asin kepada Dewa
" Terima kasih, Kak . Saya akan selalu menjaga amanah Kakak," kata Dewa dengan mata berkaca-kaca. Tanpa ada kata Rangga langsung memeluk erat Dewa dan melepaskan pelukan itu setelah pinggangnya mendapat cubitan dari Delima . Rangga bergeser di depan Nani. Nani langsung memeluk Kakak tertuanya.
"Terima kasih, Kak. Nani belum bisa membalas semua kasih sayang dan kebaikan Kakak. Doakan Nani selalu bahagia bersama Dewa," kata Nani tanpa bisa membendung air mata yang selalu keluar di matanya.
"Datanglah kapan pun jika kau mau, kami selalu ada untukmu," jawab Rangga menepuk -tepuk punggung Nani dan melepaskan dengan segera sebelum mendapat cubitan yang kedua.
"Selamat semoga kalian bahagia selalu," kata Delima pada Dewa.
"Terima kasih, Kak," jawab Dewa singkat.
"Selamat semoga kalian bahagia," kata Delima pada Nani dengan senyum merekah.
"Terima kasih, aku tidak akan tanya pada Kakak untuk tinggal di rumah ini sementara waktu," kata Nani tersenyum .
"Aku sudah tahu," jawab Delima dengan senyum menggoda.
"Terima kasih sudah menjadi Kakak ku. Segera saja baby twins diberi adik agar Kak Rangga tidak diambil gadis cantik di luar sana!" kata Nani berkelakar.
"Awas kalau dia berani, akan aku potong burung nya nanti!" kata Delima dengan nada mengancam.
Nani tertawa terbahak-bahak disusul dengan Delima yang terpingkal-pingkal.
Ke dua pria beda generasi di hadapan mereka hanya diam menggidikan punggung tanda tak paham.
Pengantin Wanita
__ADS_1