MUTIARA KEMBALI DALAM PELUKAN

MUTIARA KEMBALI DALAM PELUKAN
Bab 30 Kabar Bahagia


__ADS_3

Kehamilan Monica membuat Arjuna yang menyandang status tunangan sangat bahagia sekali. Segera mengabari orang tuanya untuk meminta restu menuju jenjang pernikahan. Orang tua Arjuna pun turut berbahagia jika memang Monica sudah hamil. Pikiran mereka, anak zaman sekarang sulit diberi kepercayaan. Kata tunangan dianggap bisa melakukan apa saja termasuk terjadinya kehamilan.


Arjuna hanya tersenyum saja


menanggapi pemikiran mereka. Yang penting bisa menikahi Monica. Walaupun belum mencintai, tetapi ia akan sabar dan memahaminya.


Waktu dan tanggal pernikahan sudah ditetapkan. Mereka menikah di Kantor Urusan Agama ( K U A ) setempat disaksikan keluarga Rangga dan Keluarga Arjuna tanpa ada pesta atau acara resmi. Alasan Monica tidak masuk akal. Pernikahan ini hanya tertulis di kertas saja. Setelah anak mereka lahir, maka akan ada perceraian dari orang tuanya. Keluarga Arjuna dan keluarga Monica mengikuti keinginan calon mempelai wanita yang penting terjadi pernikahan resmi antara Arjuna dan Monica.


Sepulang dari KUA semua kembali ke rumah besar Mama Martha. Hidangan pesta ala resto Rangga terhidang di meja. Semua menikmati dengan kebahagiaan yang tidak terkira. Tak terkecuali kedua mempelai. Arjuna selalu tersenyum dan menggenggam erat tangan Monica, sedangkan mempelai wanita hanya tersenyum malu-malu setiap ada candaan dari para anggota keluarga.


Keluarga Arjuna langsung pulang. Tinggal Arjuna yang menginap di rumah Mama Martha sebagai menantu keduanya. Kamar Monica dan Juna pindah di lantai dua.


Makan malam tiba. Meja makan nampak ramai, karena kursi penuh terisi anggota keluarga baru.


" Mama malam ini bahagia sekali. Tugas Mama sudah selesai, Monica sudah ada yang menjaga, " kata Mama Martha di meja makan.


" Sebentar lagi cucu Mama yang kedua juga akan meramaikan rumah ini," kata Rangga menimpali.


" Iya, Mama senang sekali," kata Mama Martha tulus.


" Doakan Delima juga ya , Ma. Delima juga pingin cepat dapat momongan," kata Delima penuh harap.


"Iya, Nak, " kata Mama Martha.


"Rangga, bawa istrimu berbulan madu lagi. Tapi hanya berdua saja, kami di rumah menjaga Angel, " kata Mama Martha memberi perintah.


" Angel di rumah saja, Pa. Angel mau jaga baby girl Tante Monica," jawab Angel gembira.


" Kok baby girl, My Queen biar jadi Bunda yang paling cantik. Nanti baby boy biar ganteng seperti Ayahnya," jawab Juna menimpali Angel.


" Nanti adik Angel juga baby boy, jadi bisa main bola bersama ya , Oma ?" tanya Angel.


" Iya, mereka nanti cucunya Oma yang paling ganteng," jawab Mama Martha.


" Juna, Minggu depan kamu urus kepindahan mu dari resto Lembang ke resto Kakak. Biar kamu tetap menjadi suami siaga untuk selalu berada di dekat Monica," kata Rangga.


" Terima kasih, Kak. My Queen boleh ikut sekalian untuk bulan madu?" kata Juna sambil senyum-senyum malu.


" Bulan madu kalian yang ke


berapa ? " tanya Rangga menggoda Juna.


" Ke berapa My Queen ? keempat ya ?"

__ADS_1


tanya Juna menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


Monica mencubit pinggang Juna dan yang dicubit pura-pura kesakitan.


Semua yang berada di meja makan tertawa, termasuk Angel yang ikut tertawa meski tidak tahu maksudnya.


Sejak Juna berada di sisi Monica, kehamilannya di trimester pertama tidak begitu mengganggu. Normal jika pagi hari mual dan muntah, tapi nafsu makannya bertambah. Walaupun belum sepenuhnya menerima Juna, Monica tidak lagi uring-uringan bila didekati, bahkan sebaliknya Monica kadang ngidam minta dibelikan sesuatu harus Juna yang membelikan. Seperti hari ini Monica ingin bakso beranak di tempat Mas Gayeng . Tempatnya yang jauh membuat Juna tidak merespon dengan segera. Membuat Monica menangis tidak berhenti sampai matanya sembab.


" Kenapa kamu tidak turuti, Juna ? Orang ngidam itu bawaan bayi," kata Rangga mengingatkan.


" Maafkan Juna, Kak. Hanya untuk menggoda saja, baksonya sudah ada di depan, Juna ambil dulu, " kata Juna berdiri dan keluar rumah.


Setelah membayar Juna masuk menuju dapur. Menata bakso pesanan di mangkok dengan teh panas manis kesukaan Monica ditaruh di atas nampan. Juna menaiki tangga menuju kamarnya dan My Queen. Dibukanya pelan pintu kamar. Nampan ditaruh di meja. Juna menghampiri Monica yang tidur membelakangi, diraihnya pinggang untuk dipeluk. Monica membalikkan badan, sisa air mata masih tampak. Diciumnya kedua mata dan kening Monica dengan senyuman. Mata mereka bertemu.


" Bibir belum," kata Monica manja.


Juna menggelengkan kepala dan menunjuk bakso yang dibawa tadi.


Monica turun dari tempat tidur menuju meja.


" Bakso beranak Mas Gayeng ?" tanya Monica.


Juna mengangguk sambil mengacungkan ibu jari tangan kanannya. Tanpa diduga Monica lari menghampiri Juna yang duduk di tepi tempat tidur, mengalungkan tangannya ke leher Juna.


" Bunda, itu baksonya dimakan dulu nanti dingin tidak enak lho," kata Juna.


" Iya, Ayah," jawab Monica menuju meja untuk makan. Menghabiskan bakso dengan waktu singkat.


Juna terheran-heran melihat istrinya


makan dengan tergesa-gesa.


"My Queen, pelan-pelan," kata Juna mengelus punggung Monica. Diambilkan teh hangat dan diminum dengan cepat.


" Ayah, sudah habis," kata Monica menunjuk ke mangkok yang telah kosong.


" Pinter ! Sekarang My Queen mau apa ?" tanya Juna.


" Sudah malam, Queen mau bobok dipeluk Ayah, " kata Monica.


" Ayo," kata Juna menggandeng lengan Monica.


Mereka berbaring berdampingan dan saling memeluk. Juna merasa tidak terbebani dengan sikap manja dari istrinya.

__ADS_1


Pagi hari mereka berkumpul di meja makan untuk sarapan bersama. Tinggal menunggu pengantin baru yang tidak kunjung turun. Yang ditunggu datang juga, Monica sangat manja kepada suaminya. Tangan tidak mau terlepas memeluk pinggang Juna.


" Sayang, apa tadi malam turun hujan ?" tanya Rangga pada Delima.


" Kelihatannya tidak, Kak. Tadi malam itu ada bulan purnama," jawab Delima tanpa tahu maksud pertanyaan Rangga.


" Berarti ada hujan setempat, kamar Juna yang kebocoran," kata Rangga mengulum senyum.


" Ah, Kakak jangan menggoda," jawab Delima memukul lengan Rangga.


" Iya Kak Rangga, kalau iri sama Monica hujan-hujanan saja di kamar mandi kan ada shower," kata Monica membalas candaan Rangga.


" Siap! Akan dilaksanakan dengan segera," kata Rangga menimpali candaan Monica.


" Nanti Panggil tukang saja untuk membetulkan gentingnya, Tante Monica," kata Angel.


" Sudah dibetulkan tadi malam, jadi tidak usah memanggil tukang," jawab Juna mengelus kepala Angel.


Mama Martha tersenyum melihat anak, menantu, dan cucunya saling bercanda. Bahagia di masa tuanya tergambar jelas.


Setelah sarapan, Angel dan Nani berangkat diantar Pak Agus.


Hari ini Juna dan Monica bersiap-siap ke Lembang mengurus pekerjaan. mereka berangkat sendiri tanpa sopir menggunakan mobil Monica. Mama Martha, Rangga, dan Delima hanya mengantar sampai teras rumah.


Mama Martha berjalan ke teras samping untuk mengurus bunga anggrek kesayangannya.


Rangga menggandeng tangan Delima untuk naik ke kamar.


" Tidak usah menyiapkan pakaian kerjaku," kata Rangga memeluk pinggang Delima dari belakang.


Dilihatnya pantulan gambar mereka di cermin meja rias.


" Mengapa Kakak tidak berangkat ? Kakak sakit ?" tanya Delima cemas.


" Mau menemani Kakak bermain hujan dengan shower?" jawab Rangga yang kedua tangannya sudah menemukan mainan squishy yang sudah diremas-remas dengan berirama. Mulut Delima sengaja dibungkam dengan tangan agar tak mengeluarkan suara. Permainan pertama membuat mereka bagai bayi baru lahir, tanpa sehelai benang menghiasi tubuh. Rangga menggendong Delima bagai koala dibawa ke bawah shower


tanpa melepas penyatuan.


Dingin air mengguyur tubuh polos bagai patung porselin semakin membuat panasnya bara asmara yang dirasakan dua mahkluk Adam dan Hawa. Tubuh yang saling menempel seperti lintah menghisap semua tenaga tanpa tersisa. Hentakan tak berirama membuncah melepaskan akhir permainan.


Air beraroma terapi telah memenuhi bathub untuk berendam. Hangatnya


menghilangkan rasa lelah dan mengembalikan tenaga kuda Rangga.

__ADS_1


Mereka kembali bertempur tanpa ada yang bisa menghentikan. Babak demi babak dilalui dengan kenikmatan.


__ADS_2