MUTIARA KEMBALI DALAM PELUKAN

MUTIARA KEMBALI DALAM PELUKAN
Bab 13 Delima Masuk Rumah Sakit


__ADS_3

Delima memberikan hati dengan sepenuhnya, namun yang didapat hanyalah goresan luka yang membuat enggan merasakan cinta lagi.


Kehadiran Rangga masih tetap di sini, itu membunuhnya. Delima akan menunjukkan bahwa tidak akan berbalik, tapi itu juga akan membunuh dirinya secara perlahan. Hari-harinya dilakukan dengan diam. Jika teringat keluarga bertambah giat pula ia bekerja.Ketika hatinya sedang sedih ataupun galau tidak berani menceritakan pada Nani. Takutnya Nani akan bercerita pada Rangga. Terlalu tinggi hati untuk mengakui kesedihan dan rasa kehilangan, karena salahnya untuk memutuskan. Mengapa ada cinta kalau harus terpisah juga.


Sudah sebulan lamanya Delima memutuskan untuk berpisah. Selama itu pula ia tidak pernah bertegur sapa dengan Pak Rangga. Bekerja! itu menu setiap harinya. Uang! satu kata yang dia butuhkan untuk biaya adik-adik. Tanpa memperhatikan kebutuhan dirinya sendiri. Pagi ini Delima sangat pusing, tapi dipaksa untuk berangkat. Sayang jika uang gajinya akan dipotong Rp 50.000/ harinya. Lagi pula di resto banyak pilihan menu yang bisa dinikmati tanpa harus mengeluarkan uang untuk membelinya.


Setelah makan siang, Delima minum obat sakit kepala dan melaksanakan sholat. Sakit kepalanya semakin menjadi dan tanpa disadarinya ia sudah tidak sadarkan


diri. Karyawan putri menolong Delima di mushola resto. Nani melaporkan pada Pak Rangga.


tok tok tok


Nani mengetuk pintu ruang kerja Pak Rangga.


Pintu dibuka, muncul Pak Rangga.


"Ada apa Nani?"


"Itu Delima, Kak! Delima pingsan," jawab Nani terbata.


"Di mana sekarang?" tanya Rangga panik.


"Ada di Mushola," jawab Nani.


Rangga langsung lari. Nani menutup pintu dan menyusul Pak Rangga dari belakang.


Pak Rangga segera membopong Delima dan dibawa ke mobil. Nani menemani untuk membawa ke rumah sakit terdekat.


Delima masuk ke ruang UGD. Dokter sudah datang untuk menanganinya.Melarang mereka masuk. Tinggal Rangga dan Nani di luar.


"Sebenarnya apa yang terjadi dengan Delima, Dik?" tanya Rangga.


"Beberapa hari ini mengeluh pusing," jawab Nani.


"Sudah periksa?" tanya Rangga.


"Belum Kak. Hanya minum obat warungan saja," jawab Nani.


"Apa Delima pernah mengeluh apapun ketika membatalkan rencana lamaran?" tanya Rangga penuh selidik.


"Tidak, Kak. Dia hanya banyak diam. Tambah khusuk ibadahnya. Delima juga sering puasa Senin dan Kamis, kata Nani menjelaskan.


Dokter keluar mencari keluarga pasien. Delima harus rawat inap karena mengalami dehidrasi dan tekanan darahnya rendah. Rangga menyuruh Nani pulang beristirahat di mes, karena besok masuk seperti biasa. Rangga yang akan menjaga di Rumah Sakit. Rangga menelpon Mama Martha.


"Assalamualaikum, Ma,"


"Wassalamu'alaikum, ada apa Nak?" tanya Mama Martha.


"Malam ini Rangga tidak pulang, Ma. Jaga Delima di Rumah Sakit," kata Rangga menjelaskan.


"Delima sakit apa, Nak ?" tanya Mama Martha.


"Tadi pingsan di resto, Ma," jawab Rangga.

__ADS_1


"Baiklah, besok Mama dan Angel akan nengok. Tolong kirim ruang rawat inapnya," kata Mama Martha melanjutkan.


"Iya, Ma Wassalamu'alaikum," kata Rangga menutup pembicaraan.


Rangga kembali ke ruang Delima. Delima nampak tidur dengan nyaman, meskipun tubuhnya agak kurusan Tulang pipinya menonjol. Tangan kiri Delima terpasang selang infus Digenggamnya tangan kanan Delima. Dan diciuminya.


"Sayang, bangun. Kamu salah mengartikan perkataan ku dulu. Aku mencintaimu bukan karena kemiripan kalian. Cintaku pada Cantika tersimpan di ruang kecil hati ku. Sisanya untukmu, Sayang,' kata Rangga seolah Delima mendengarkannya. Rasa kantuk dan lelah membuat Rangga tertidur di tempat tidur pasien.


Tangan Delima bergerak, Rangga terkejut. Ditatapnya wajah Delima. Mata membuka perlahan.


"Di mana saya?" kata Delima berbisik pelan hendak bangun dari tidurannya.


"Kamu ada di Rumah Sakit'," jelas Rangga, "Tiduran saja dulu".


"Kak Rangga, jangan beritahu keluarga Delima. Nanti mereka akan khawatir," kata Delima meminta.


"Baiklah, tapi kamu harus patuh pada anjuran dokter. Supaya cepat pulih kembali ," kata Rangga.


"Mama," teriak Angel.


"Angel, jangan berteriak! Mama sedang sakit," kata Rangga mengingatkan


Delima tersenyum. Sudah lama ia tidak melihat Angel. Ada rasa rindu.


"Angel mau duduk sini?" tanya Delima sambil menepuk-nepuk tepi ranjang.


"Angel boleh duduk sama Mama, Pa?" tanya Angel takut. Rangga yang ditanya tersenyum dan mengangguk. Diangkatnya tubuh mungil Angel dan didudukkan di atas kasur Delima.


"Mama sakit kepala, Sayang," kata Delima dengan suara lemah.


"Boleh peluk, Mama?" tanya Angel. Delima mengangguk. Angel memeluk erat.


Seorang pegawai Rumah Sakit masuk membawakan makan pagi. Meletakkan di atas meja. Rangga menaikkan tempat tidur Delima sehingga bisa duduk nyaman. Rangga mengambil piring dan ingin menyuapkan nasi.


"Saya makan sendiri," kata Delima.


"Tidak, Kak Rangga suapi!" kata Rangga tanpa ada bantahan. Beberapa suapan membuat Delima menjadi kenyang.


"Sudah, Kak," kata Delima pelan. Menerima gelas berisi air untuk di minumnya.


"Mama sudah makannya?" tanya Angel


"Sudah, Angel mau apa?" jawab Delima.


"Angel kangen Mama. Mama lagi marah sama Papa?" tanya Angel.


"Tidak, Mama lagi banyak pekerjaan. Jadi tidak ada waktu untuk bertemu," jawab Delima mengelak.


Mama Martha mendekat.


"Rangga ajak Angel ke kantin Rumah Sakit katanya ingin es krim," kata Mama Marta dengan memberi kode untuk pergi dari ruangan Delima.


"Ayo, Angel Papa belikan es krim," ajak Rangga.

__ADS_1


"Angel tinggal dulu ya, Mama istirahat biar lekas sembuh,".kata Angel .


Mama Martha mendekati Delima, setelah kepergian Rangga dan Angel.


"Bagaimana keadaanmu, Delima?" tanya Rangga.


"Sudah baikan, Nyonya," jawab Delima.


"Panggil Mama, Delima," kata Mama Martha.


"Iya, Ma," jawab Delima.


"Delima, Mama boleh bicara tentang Rangga?" kata Mama Martha.


"Boleh, Ma," jawab Delima.


"Rangga memang mencintai Cantika, anak Mama. Waktu lima tahun tidak pendek untuk membuktikan cintanya, meskipun Mama sering mengenalkan Rangga pada gadis-gadis anak teman Mama. Rangga selalu menolak, alasannya masih sibuk dengan bisnis kulinernya hingga membuka cabang di setiap kota propinsi di Jawa Tengah. Ketika Rangga bertemu kamu, hari-harinya penuh dengan senyum. Ada kebahagiaan dalam hidupnya. Kemiripan wajah kalian jangan kamu buat alasan untuk menolak cinta Rangga. Rangga orangnya setia kalau sudah menjatuhkan pilihan. Rangga sifatnya tidak mau memaksakan kehendak pada orang lain. Apalagi orang yang di sayanginya.Jadi Delima, Mama minta kembalikan rasa cintanya. Mama yakin Rangga tulus mencintaimu, " kata Mama Martha menjelaskan.


"Iya, Ma. Maafkan Delima salah dengan pemikiran diri sendiri," jawab Delima.


"Bolehkah Mama melanjutkan lamaran yang kemarin tertunda?" tanya Mama Martha.


"Bagaimana dengan Kak Rangga sendiri, Ma?" tanya Delima.


"Ada apa dengan saya?" tanya Rangga yang sudah berada di sebelah Mama Martha.


"Angel mana?" tanya Mama Martha.


"Bersama Nani di kantin," jawab Rangga.


Mama Martha memegang tangan Rangga menyatukannya dengan tangan Delima.


"Mama merestui kalian untuk menjadi sepasang suami istri. Berbahagialah hingga anak cucu. Rangga maukah kau mengulang kembali lamaran kamu ke Delima?" kata Mama Martha.


Rangga memegang kedua tangan Delima. Matanya tajam menatap mata Delima. Dengan suara bergetar dia berucap


"Delima, cintanya Kakak maukah menjadi istriku dan ibu dari anak-anakku?"


"Delima mau menjadi istri Kakak, maafkan jika Delima sering ngambek dan belum bisa berfikir secara dewasa' " jawab Delima pelan dan menundukkan kepala.


Diraihnya dagu Delima, ada kabut di mata keduanya. Rasa rindu yang disimpan tidak bisa mereka sembunyikan. Pelan bibir mereka bertemu hanya sebentar, karena pundak Rangga dipukul dari belakang


"Lupa ada Mama di sini?" kata Mama Martha pura-pura ketus.


"Maafkan Rangga, Ma," jawab Rangga malu.


"Percepat lamaran kalian dan langsung menikah. Mama, Monica, dan Angel akan ikut serta untuk menyaksikannya!" kata Mama Martha memerintah.


"Mengapa tergesa, Ma ?" tanya Delima.


"Mama lihat ada yang sudah tidak tahan, jadi tidak ingin cucu Mama produk sebelum nikah," kata Mama menyindir Rangga.


Muka Rangga dan Delima merah padam. Untuk menutupi rasa malu Rangga mengambil segelas air putih untuk diminum.

__ADS_1


__ADS_2