
Kepindahan Nani dan Dewa ke rumah baru mereka membuat lenggang suasana rumah Mama Martha. Sepi menemani setiap harinya, karena Rangga pun ikut mandiri dengan tinggal di rumah baru bersama keluarga kecil yang sebentar lagi akan menjadi ramai seiring pertumbuhan ketiga buah hati mereka.
Kabar mengejutkan datang dengan kepulangan putri tercinta Monica. Setelah sekian tahun mencari jati diri bersama suami serta anak semata wayang. Mereka akan kembali ke pelukan Mama Martha. Membuat seorang ibu yang pernah mengalami kehilangan separuh jiwanya menjadi suka cita yang amat sangat. Ibarat bulan dapat di raih dan bintang dapat dipetik akan dibuat hiasan kala malam tiba.
Jauh hari sebelum kedatangan mereka, sebuah kamar besar dengan spring bed king size dan aksesoris menanti penghuni baru . Di sebelah meja rias tempat tidur mungil serba warna pink menemani dengan setianya.
Cucu tercinta kan tiba. Menantu tersayang hendak datang. Jiwa mana yang tidak senang berkumpul dengan yang di cinta.
Deru suara mobil dihentikan, pintu dibuka dengan suara yang menggelitik telinga. Langkah dengan
lari-lari kecil sepatu beradu dengan lantai terdengar merdu saat bersentuhan. Irama yang tak pernah terdengar.
"Grandma !" teriak gadis kecil manja menuju ruang utama setelah pintu dibuka orang tua nya.
"Cucu Grandma sudah datang," jawab Mama Martha terharu kala menahan rasa bahagia.
Keduanya saling memeluk tubuh dengan erat, menumpahkan rasa rindu dua wanita beda generasi. Ciuman kasih diberikan di pipi chubby dengan wangi parfum baby.
"Selamat siang,Mama," kata Monica dengan suara pelan.
Mama Martha pelan membuat jarak dengan cucu. Mata keriput menatap syahdu asal suara. Berdiri pelan seakan takut jika halusinasi saja. Setelah pandangannya sejajar, sejurus tak berkedip . Senyum menghiasi bibir sedikit berkeriput.
" Monica, anak ku. Sini peluk Mama," kata Mama Marta membentangkan kedua tangannya.
Yang dipanggil dengan mata berkaca-kaca berlari kecil membaur ke pelukan asal suara.
__ADS_1
"Mama, Monica kangen ," jawab Monica lirih.
"Mama juga kangen sama kamu," kata Mama Marta.
Setetes air mata jatuh. Dengan cepat ada tangan yang menghapusnya. Pandangan mata Mama Martha beralih.
"Arjuna, mantu Mama," kata Mama Martha melepas pelukan.
Arjuna pelan maju dan mengambil tangan mertuanya untuk dicium dengan takzim.
" Kalian bertiga bahagia kan ?" tanya Mama Martha penuh selidik.
" Kami sekarang berlima Grendma ," jawab Eswa sang cucu.
" Berlima ? Jelaskan pada Mama, Juna ! " kata Mama Martha tak sabar.
"Alhamdulillah, sudah berapa bulan?" tanya Mama Martha mengelus pelan perut yang masih datar.
" Baru jalan dua bulan , Ma. Kami ke sini selain kangen Mama juga ingin ada yang menemani saat Juna pergi luar kota," kata Monica tersenyum manis.
"Mama senang sekali, sekarang kalian mau istirahat dulu atau makan siang ?" tanya Mama Martha sambil melihat benda pipih di tangan kanannya yang menunjukkan pukul 11.00.
"Kami istirahat dulu Ma, punggung Monica sedikit pegal," jawab Monica halus.
"Kamar kalian ada di atas menempati kamar mu dulu. Kalau Eswa mau bobok sendiri tempati saja kamar kakak mu," kata Mama Martha menjelaskan.
__ADS_1
" Baik, Ma terima kasih," jawab Monica langsung menuju kamar diikuti Juna di belakang membawa dua tas besar.
"Grandma, Eswa ganti baju dulu. Nanti mau main sama Grandma boleh ?" tanya Eswa dengan bahasa lancar, meski usianya baru 3 tahun.
"Boleh cantik, Grendma tunggu di taman samping ya ," jawab Mama Martha mengangguk.
Gadis kecil itupun berlari menyusul Ayah Bundanya menaiki tangga demi tangga dengan lincah. Senyum Mama Martha hilang berganti sedih.
POV Mama Martha
Beberapa tahun silam ketika mereka baru pindah ke rumah baru ini.
Cantika sangat suka sekali dengan rumah nya. Apalagi dengan kamar yang di tempati. Katanya Ia tidak akan meninggalkan rumah kesayangannya. Ia berjanji akan selalu bersama Mama, walaupun nanti sudah berkeluarga. Cantika memang sangat manja dengan Mama Martha. Apalagi sejak kepergian Papa nya, tempat berkasih sayang.Merenung dan mencari inspirasi menulis selalu berada di kamar. Menyendiri. Jiwanya sangat tertutup.
Berbeda dengan Monica gadis keduanya. Masih kecil ketika Papa meninggal. Belum paham betul akan rasa kehilangan. Sikap manjanya pada laki-laki sering disalah artikan.
Manjanya ke Rangga sebagai kakak ipar keterusan menjadi rasa nyaman. Untung semua berubah dengan kehadiran Delima.
Sampai datangnya Arjuna. Walaupun pertemuan mereka diawali dari sebuah kecelakaan kecil sebuah hubungan dan berakhir ke pelaminan. Akan tetapi mereka sekarang bahagia. Kebahagian mereka bertambah dengan datangnya di kembar calon adik Eswa.
Rangga, meski menantu, ia sudah dianggap sebagai anak laki-lakinya. Pengganti Cantika, putri pertamanya yang sudah meninggal. Hidup tampak bahagia dengan cinta masa kecilnya dengan Delima. Delima yang usianya terpaut jauh, membuat hati menantunya itu terasa muda dan bergairah kembali. Delima bisa menjadi Mama yang luar biasa bagi Angel, anak Rangga dan Cantika.
Sekarang kedua putrinya sudah kembali bersama dalam rumah ini lagi. Cantika yang ada dalam diri Eswa cucu dari anak Monica.
Anak kedua. Monica dan Arjuna bersama anak-anaknya nanti yang akan menemani di masa tuanya.
__ADS_1
Rumah ini yang dulu sepi karena penghuninya pergi satu demi satu akan tergantikan dengan ramainya cucu - cucu baru.