MUTIARA KEMBALI DALAM PELUKAN

MUTIARA KEMBALI DALAM PELUKAN
Bab 46 Kedatangan Calon Adik Ipar


__ADS_3

Pagi itu ketika ingin mengambil air putih di almari es Delima melihat Bibi memasak berbagai masakan di dapur dan sebagian sudah tertata di meja makan.


" Bibi sibuk sekali sedang memasak


untuk acara apa?" tanya Delima.


" Nanti ada tamu relasi Bapak dari Malang, " jawab Bibi.


" Mau saya bantu, Bibi ?" tanya Delima mendekati Bibi.


" Tidak usah, Bu. Ini sudah selesai tinggal menata di meja dan siap untuk disantap, " jawab Bibi menunduk sopan.


Delima masuk kamar sambil membawa segelas air putih di tangannya. Di depan pintu kamar Delima melihat suaminya sudah siap dan tampak menawan. Rambutnya yang masih basah di sisir rapi dan diambilnya minyak wangi kemudian disemprotkan di seluruh kaos yang dipakai. Ganteng ! Pasti banyak wanita cantik di luar sana yang mau diajak jalan bareng untuk bersenang-senang saja batin Delima.


" Kalau ingin memuji ketampanan seorang Rangga jangan malu-malu," kata Rangga meniup wajah Delima, sehingga menjadi kaget dan malu.


" Pasti banyak wanita-wanita cantik mau di ajak Papa untuk bersenang-senang, " kata Delima dengan wajah sedih dan berjalan menuju meja untuk meletakkan gelas yang dibawanya tadi.


Rangga memeluk dari belakang dan membalikkan badan Delima.


" Sayang, Papa sudah punya istri tercantik dan ia akan menjadi seorang ibu dari tiga penerus dari Rangga Family ," kata Rangga memeluk erat tubuh istrinya yang terhalang perut buncitnya. Rangga dapat merasakan perut sebelah kiri dan kanan Delima bergerak pelan. Delima meringis menahan sakit dengan mencengkeram kedua lengan Rangga.


" Sakit, Sayang ?" tanya Rangga pelan sambil mengelus perut yang bergerak.


" Sedikit ," jawab Delima dengan senyum dipaksakan.


" Kuat ya, Ma. Papa titip cinta untuk baby twins. I love you, " kata Rangga membasuh peluh di dahi Delima.


" Mama akan kuat untuk baby twins. Terima kasih telah mencintai Mama.


Maaf jika sering cemburu pada Papa, karena memang ketampanan Papa kelebihan sih," jawab Delima mencium pipi Rangga.


" Pagi ini Papa tidak akan tergoda dengan rayuan Mama, karena sebentar lagi ada tamu yang akan datang untuk ikut sarapan, " kata Rangga.


" Dewa, Pa ?" tanya Delima.


" Iya, sekarang Mama ganti baju santai saja. Setelah sarapan kita jalan-jalan ke Ancol, " kata Rangga melepaskan pelukan dan duduk di sofa.


Prov. Rangga


Malam hari ketika Rangga hendak menutup laptopnya, ponsel berbunyi muncul nama Dewa, notice warna hijau di geser


" Halo, Ada apa Dewa, " tanya Rangga.


" Maaf, saya sudah sampai di Jakarta dan akan menginap di hotel. Bisa meminta alamat tempat tinggal dan lokasi agar besok pagi langsung dapat berkunjung ? " kata Dewa.


" Kamu tidak memberi tahu ke Nani kalau mau datang kan ?" tanya Rangga.


" Tidak, lagi pula Nani tidak bisa dihubungi, " jawab Dewa menjelaskan.


" Baik, tunggu saja, " kata Dewa mematikan sambungan telepon.


Rangga mengirim alamat rumah serta lokasinya.


Pipi Rangga dicium seseorang sehingga menyadarkan dari lamunannya.


" Papa sedang melamun ketemuan sama cewek cantik mana ?" tanya Delima.


" Maaf, Ma. Papa sedang membayangkan cewek cantik di hadapan Papa sedang memakai gaun tidur dengan perut yang menonjol pasti kelihatan seksi, " jawab Rangga sekenanya.


" Sudah, sekarang kita ke meja makan saja menunggu kedatangan Dewa, "


kata Delima.

__ADS_1


" Mari Sayang, " kata Rangga Berdiri dan menggandeng tangan Delima keluar kamar menuju meja makan.


Rangga melihat jam di tangannya, menunjukkan pukul 07.00 masih terlalu pagi .


" Mama bikinkan kopi ya, Pa ?" tanya Delima.


" Baik, tapi jangan manis- manis, karena minum kopi sambil melihat Mama pasti jadi manis sekali, " jawab Rangga menggombali Delima.


" Bukan waktunya merayu, ini kopi buat Papa, " kata Delima.


" Papa dan Mama sudah rapi mau week end ya ? " tanya Angel mencium kedua pipi Rangga.


" Tanya Mama, kita mau ke mana, " kata Rangga dengan senyum.


" Mama, kita mau jalan-jalan ke


mana ?" tanya Angel.


" Kita mau ke pantai Ancol, Angel senang ?" tanya Delima mengelus rambut Angel.


" Senang, Ma ," kata Angel, " Tante Nani ikut, Ma ? "


" Iya, Tante Nani ikut nemani Angel jika nanti ingin bermain ke pantai, " jawab Delima.


" Adik baby twins juga ikut berenang?" tanya Angel.


" Baby twins lihat saja, nanti kedinginan jadi masuk angin ," jawab


Rangga mengelus perut Delima.


Angel mengangguk tanda mengerti.


Nani duduk di kursi dekat Angel.


" Tante, hari ini kita mau jalan-jalan ke pantai Ancol. Nanti temani Angel berenang ya ? " tanya Angel.


Ting tong ting tong.


Bel rumah berbunyi, sengaja Rangga dan Delima diam dan tidak menyuruh Bibi untuk membuka pintu. Pemikiran mereka itu pasti Dewa yang datang.


Ting tong ting tong.


" Nani, tolong buka pintunya ! " kata Rangga.


" Baik, Kak, " jawab Nani.


Nani berjalan menuju pintu utama, kemudian gagang pintu dibuka.


" Non, Ada tamu mencari Nona


Nani," kata Pak Satpam," Permisi,


Non ".


" Terima kasih , Pak," kata Nani.


Setelah Pak Satpam pergi Nani terkejut melihat orang yang bertamu mencarinya pagi ini. Rambutnya tersisir rapi mengenakan jas sewarna celana kain dipadukan kaos putih. Kaca mata hitam bertengger indah di tengah kaos.


" Selamat pagi, Nani, " kata Dewa.


" Dewa kamu ke mari ? " tanya Nani terkejut dan menengok ke dalam rumah seolah takut jika Kakaknya mengetahui kedatangan Dewa


" Iya, maaf jika mengejutkanmu, karena beberapa hari yang lalu aku WA tidak kamu balas dan jika aku telpon selalu kamu ricek ," kata Dewa.

__ADS_1


" Maaf Dewa, Aku sibuk, ' jawab Nani.


" Ini rumah kamu ?" tanya Dewa.


" Tidak, Aku tinggal bersama


Kakakku, " jawab Nani.


" Silahkan masuk ! " kata Nani,


" Duduk dulu".


" Terima kasih, " jawab Dewa terbengong-bengong melihat perabot di ruangan tersebut.


Nani meninggalkan Dewa di ruang tamu, pergi menuju ruang makan.


" Kak Rangga, ada tamu relasi Kakak dari Melati Restoran Malang, ".kata Nani pelan dan agak gugup.


" Suruh masuk saja bergabung dengan kita, kebetulan saatnya untuk sarapan, " jawab Rangga santai tanpa rasa terkejut.


Nani kembali ke luar menemui Dewa yang sedang memperhatikan ruangan dengan rasa kagum.


" Dewa, Kakak menyuruh kamu masuk ke ruang makan, kebetulan kita sedang sarapan, " kata Nani.


" Tidak merepotkan jika saya ikut bergabung ?" tanya Dewa serius.


" Tidak, mari silahkan !" jawab Nani.


Nani berjalan lebih dulu di ikuti Dewa di belakangnya. Setelah di ruang makan Dewa sangatlah terkejut.


" Silahkan duduk, Pak Dewa kita sarapan bersama, " kata Rangga mempersilahkan Dewa duduk.


" Terima kasih, Pak Rangga. Maaf saya sudah lancang datang ke


mari," jawab Dewa menunduk sopan.


" Tidak mengapa, Pak Dewa. Silahkan duduk dan nikmati sarapannya, " kata Rangga.


Dewa mengambil tempat duduk di samping Nani. Delima mengawali menyendok nasi dan memberi beberapa lauk untuk suaminya, serta si buah hati Angel. Untuk dirinya sendiri hanya dua tangkap roti selai kacang beserta segelas susu hamil sudah ada di sebelahnya.


" Nani, tolong Pak Dewa di ambilkan nasi beserta lauknya !" kata Delima member perintah pada adik iparnya.


" Baik, Kak, " jawab Nani pelan dengan perasaan kikuk.


Tanpa menunggu lama, Nani mengambilkan nasi dan lauk sesuai keinginan tamu Kakaknya.


Mereka makan dengan diam dan lahap sekali, karena menu pagi ini memang enak dan luar biasa. Setelah selesai makan, Rangga mengajak Dewa menuju teras samping. Menunggu ketiga perempuan untuk berkemas-kemas persiapan ke Pantai Ancol.


Bibi menghidangkan lumpia isi rebung dan daging serta teh hangat.


" Sekali lagi saya minta maaf,. Pak Rangga. Saya tidak menyangka bahwa Nona Nani adik Anda, " kata Dewa.


" Memang kalau Nani Adik saya apa ada yang salah ?" tanya Rangga.


" Tidak ada yang salah Nona Nani sangat mengagumi Anda, pantaslah kalau patuh dan taat pada suatu komitmen, " jawab Dewa.


" Anda jangan membesar- besarkan kenyataan. Kami hanya manusia biasa dan jadilah jati diri yang sebenarnya tanpa dibuat-buat ," kata Rangga.


" Baik, Pak, " kata Dewa mengangguk.


" Jangan panggil Pak kita tidak sedang bicara bisnis, " kata


Rangga, " Kamu ragu mendekati adik saya ? "

__ADS_1


" Tidak !" jawab Dewa, " Saya akan memperjuangkan cinta saya sampai mendapatkan restu dan Nani percaya pada rasa cinta untuknya".


" Bagus ! Itu tandanya keseriusan hati perlu melewati ujian dan rintangan untuk membuktikannya, " kata Rangga.


__ADS_2