
Sejak semalam Kak Rangga tidur dengan nyenyak hingga pagi menjelang. Tanpa ada ucapan sayang yang sering diucapkan sebelum dan sesudah bangun tidur. Tidak ada pelukan hangat di pinggang selama tidur bersama. Bisikan-bisikan kecil pun tidak didengarnya. Mungkin sekarang pikirannya lebih tenang setelah pertunangan Monica dan Arjuna.
Pagi hari saat bangun Kak Rangga sudah tidak ada. Kata penjaga keamanan resto, Kak Rangga beserta Mama Martha, Angel, dan Nani bejalan- jalan mengelilingi resto. Mengapa Delima tidak diajak ? Apa mungkin tidur Delima terlalu nyenyak, sehingga tidak tega untuk segera membangunkannya..
Tok Tok Tok
"Itu Kak Rangga sudah datang," kata Delima segera membuka pintu.
" Selamat pagi, Nyonya, kami mengantar makanan pagi pesanan Tuan Rangga. Nyonya sarapan terlebih dulu, Karena Tuan Rangga pulangnya siang nanti," kata pelayan yang paling depan.
Makanan sudah tertata rapi di meja. Ada juz alpokat dan teh manis panas, nasi putih dengan sayur bayam dan lauk ayam goreng, tidak ketinggalan sambal terasi. Hidangan penutup puding coklat dan buah pisang.
Delima hanya memandang semua yang tersaji. Begitu banyak, mungkin sampai makan siang masih bisa di makan lagi. Delima mengambil ponselnya untuk menghubungi Rangga, tapi diurungkan niatnya.
Apa nanti pikiran Kak Rangga, istri tidak bisa mandiri, baru ditinggal beberapa menit sudah mencari.
Malas untuk sarapan pagi, Delima naik ke tempat tidur lagi. Dia benar-benar sendirian hari ini. Ada yang hilang. Dari Nani sahabat kecilnya, Mama Martha ibu mertua pendukung semangat hidup dalam mengurangi rumah tangga barunya, suami cinta keduanya setelah Ronald, dan Angel buah hati kesayangan meskipun bukan lahir dari rahimnya.
Tak terasa air mata jatuh membasahi bantal. Baru kali ini setelah dua bulan dia merasakan kebahagiaan. Dihapusnya air mata. Turun dari tempat tidur dan mandi.Delima sengaja berlama-lama berendam air hangat di bathtub dengan aroma terapi. Setelah hampir satu jam Delima membersihkan diri kemudian memakai baju rumah. Terdengar suara keroncongan perutnya. Dengan malas dihampirinya sarapan pagi yang sudah dingin.
Pukul 12.30 Kak Rangga pulang dengan wajah kusut dan berantakan.
" Kak, makan siang dulu," kata Delima menyiapkan piring di meja.
" Maaf, Delima. Kakak ada rapat penting, hanya pulang untuk ganti baju," jawab Rangga mengambil baju dari almari.
Delima memperhatikan penampilan Kak Rangga, kaos Polo biru telur asin dipadu dengan jin biru tua. Kaca mata hitam bertengger di dada bidangnya. Rambut tersisir rapi seperti baru dipotong. Wajahnya bersih tanpa jambang dan kumis.
" Kakak rapat kenapa tidak pakai jas? Mau ketemu Klein di tempat terbuka ya ?" tanya Delima memandang curiga.
"Iya, Kakak pulang nanti malam dan akan ada makan besama investor di Manten Ballroom jam 19.00 kamu temani Kakak dengan baju di bag itu," kata Rangga sambil membuka pintu.
__ADS_1
Dipandangi kepergian suaminya yang sibuk mencari nafkah untuk keluarga.
Delima merasa kasihan dan menutup pintu
Delima mengambil bag warna coklat di atas tempat tidur.
Gaun malam warna merah panjang. Pasti ada pesta kalangan atas hingga Kak Rangga harus memberikannya gaun. Pasti harganya mahal. Ditempelkan pada tubuhnya dan memperhatikan pantulan kaca. Ukuran pas sesuai tubuhnya. Tidak sabar Delima ingin memakainya. Dilihatnya jam dinding, baru pukul 14.00. Ingin mengunjungi Nani dan Angel, mungkin sedang tidur siang juga Mama Martha. Delima mencoba memejamkan mata, seperti dirinya diayunkan dalam gendongan terlelap dalam mimpi.
Pukul 16.00 pintu bilik diketuk, teryata pengirim bunga yang datang. Rangkaian bunga yang indah dan cantik. Dibaca kartu ucapan seperti tulisan cewek.
untuk yang terkasih
Hanya itu tidak ada nama pengirim. Diciumnya bunga itu sangat wangi.
Delima tidak berpikiran negatif. Pasti hanya pengemar Kak Rangga saja. Banyak yang menyukai dan mengagumi. Selain tampan juga beruang.
Ponsel Delima berbunyi. Muncul wajah Kak Rangga yang sudah rapi dengan stelan jas warna merah. Seperti warna gaunnya.
"Halo Delima kamu belum bersiap-siap ? " tanya Rangga.
" Nanti Kakak langsung ke tempat kita ketemu klien jadi tidak bisa pulang jemput kamu. Ada pegawai resto yang akan mengantarkan," kata Rangga sambil menutup pembicaraan.
Delima hanya diam memandang ponsel yang mati. Hati Delima jadi sakit. Hanya karena uang ia hilang kasih sayang dan menangis. Kepala menjadi berdenyut pusing. Gaun sudah dipakai nampak pas, di riasnya sedikit make up di wajah agar tidak pucat. Sekali lagi Dipandanginya wajah di cermin. Cantik. Jangan-jangan Kak Rangga tidak bisa menjemput, karena cewek pengirim bunga sudah ada di sana. Lebih mengutamakan cewek itu daripada istrinya sendiri. Pintu bilik diketuk, ternyata pegawai resto yang menjemput. Delima kecewa.
" Selamat malam ,Nyonya. Saya akan mengantar ke Manten Ballroom, " kata pegawai resto.
" Maaf, tolong bilang ke Tuan Rangga saya tidak bisa datang, karena sakit kepala," kata Delima yang segera menutup pintu. Tak berapa lama ponselnya berbunyi dan dibuka tombol hijau.
"Halo Delima, kenapa belum berangkat? ini sudah ditunggu dan acaranya akan dimulai," kata Rangga di layar telponnya.
" Maafkan Delima,Kak. Tidak ikut dalam makan malam dengan para investor Kakak. Kepala Delima sakit sekali," kata Delima langsung menutup ponsel.
__ADS_1
Delima tak tahan untuk menangis. Maka ponselnya segera ditutup agar Kak Rangga tidak bisa melihatnya.
Di rebahkan tubuh di atas tempat tidur tanpa melepas gaunnya. Ia akan tidur saja. Kak Rangga pasti pulangnya tengah malam nanti atau bahkan dini hari. Jika ia tertidur akan membuka pintu dengan kunci cadangan.
Setengah tidak sadar Delima mendengar pintu diketuk. Dibiarkan saja. Matanya sudah berat untuk membuka. Diteruskannya tidur badan dan jiwanya sangat lelah.
"Selamat ulang tahun, Sayang," bisik Rangga di telinga Delima. Delima telah lelap dalam mimpinya.
"Sayang, bangunlah maafkan aku," kata Rangga mencium kening, kedua mata, hidung, dan terakhir bibirnya.
Delima menikmatinya. Dia tidak akan bangun. Biarkan bersama mimpi indahnya.
" Delima, sayangnya Kakak. Bangunlah maafkan Kakak, " kata Rangga sambil memeluk erat tubuh Delima dan menangis tepat di telinga Delima.
Delima merasakan pelukan erat seseorang. Ada suara tangis yang semakin keras.
Dibukanya matanya secara perlahan. Wajah suaminya sudah ada di depan matanya. Ada air mata.
" Sayang, kamu sudah bangun?" tanya Rangga. Delima hanya mengangguk.
" Selamat ulang tahun, Sayang, " kata Rangga mencium lembut bibir istrinya. Delima tidak menolak bahkan membalasnya hingga suara gaduh membuat kamarnya bergetar.
" Happy Birthday..... Happy Birthday..." suara mereka serempak bersuara.
Delima terbangun dan duduk. Mata Masih buram. Rangga menghapus sisa air mata yang menempel.
" Maafkan Kakak telah membuat kamu menangis," kata Rangga menyesal. Dipeluknya sekali lagi tubuh istrinya. Tidak akan pernah iya lepaskan lagi.
" Kak, lepaskan malu banyak orang, " kata Delima.
"Maafkan, Kakak dulu. Baru dilepaskan pelukannya,' kata Rangga.
__ADS_1
" Iya, Kakak. Delima sudah memaafkan," jawab Delima.
Lagu selamat ulang tahun dinyanyikan bersama-sama. Kemudian meniup lilin dengan angka 20 tahun. Selamat diucapkan oleh semua yang hadir. Semua tamu undangan dan keluarga dipersilahkan menikmati hidangan di Manten Ballroom. Delima ingin ke sana, maka Ia bangun dan membetulkan gaun indahnya. Rangga menyisir rambut panjang Delima. setelah rapi mereka menuju Manten Ballroom saling bergandengan tangan.