
Rencana menginap di Putri Duyung Restoran dan Cottage diperpanjang Rangga hingga waktu tak terhingga menjadi liburan keluarga yang menyenangkan. Monica dan Arjuna ingin menikmati keindahan laut waktu malam dan jalan-jalan di pantai Ancol. Rencana Rangga memberi kejutan yang kedua buat Delima menjadi alasan utama. Memberikan kebahagian orang-orang tercintanya menjadi pemikiran dari sekian pendapatnya.
Pukul 08.00 Rangga dan Delima baru datang untuk sarapan. Mereka telah berkumpul menunggu dengan makanan kecil sebagai pembuka dan beraneka macam minuman dengan warna yang menggugah selera.
Pagi ini wajah Delima sangat cerah dan ceria. Rambut panjangnya yang basah dibiarkan tergerai agar lekas kering, Make up tipis digoreskan untuk menutupi dari wajah lelah yang kurang istirahat. Delima juga mengoleskan krim konselor sesuai warna kulitnya dan ditutupi bedak untuk memudarkan beberapa tanda kepemilikan yang telah diciptakan Rangga di lehernya. Tempat itu bisa di ekspos umum dan akan membuat bahan candaan bagi orang-orang dewasa suka usil.
Ia sengaja memakai dress hamil selutut warna hijau muda berlengan payung tiga perempat dengan bunga kecil-kecil warna merah menghiasi bawahnya. Tampak segar meski setelah subuh mereka baru tidur, pelayanan yang diberikan Rangga untuk istri tercinta membuat Delima ketagihan hingga meminta lagi dan lagi tanpa rasa lelah sedikitpun. Mungkin bawaan dari baby twins, dua calon penerus cowok cool, Maco, dan ganteng seperti Papanya. Rangga terpaksa menghentikan takut baby twins bereaksi kembali. Meski cara meredakannya hanya dielus-elus dan diajak bicara penuh rasa sayang seorang Papa.
" Cantik sekali anak Mama pagi ini," kata Mama Martha.
" Terima kasih, Ma," kata Delima dengan suara agak serak.
"Rangga, apa yang terjadi dengan suara Delima ? Apakah kalian show semalaman ?" tanya Mama Martha penuh curiga.
" Hanya sampai subuh kok, Ma. Itu saja terpaksa Rangga hentikan takutnya baby twins cepat-cepat pingin lihat Mamanya yang cantik sekali," kata Rangga yang tahu akan kena marah.
" Dasar kamu menantu Mama yang suka bikin malu," jawab Mama Martha jengkel.
" Iya, Mama Delima memang cantik sekali, kalau baby twins keluar pasti suka. Angel jika sudah besar mau cantik seperti Mama. Boleh kan Pa ?" tanya Angel.
" Boleh. Sekarang saja Angel juga sudah cantik," jawab Rangga tertawa.
" Kak, ada tamu istimewa," kata Nani yang baru masuk ke ruang makan.
Rangga dan Delima menoleh ke belakang. Tampak kedua orang tua Rangga, kedua orang tua Delima, beserta adik-adik mereka .
Rangga tersenyum mereka telah datang dengan selamat sampai tujuan. Delima hanya terpukau, karena terkejut keinginan menelpon mereka pagi ini belum dilaksanakan, terlambat bangun disebabkan aktivitas semalam. Sekarang mereka sudah ada di hadapannya.
" Mama senang mereka datang ke sini ?" tanya Rangga yang telah memeluk pinggang Delima dalam posisi berdiri.
"Iya, Pa. Terima kasih mengabulkan keinginan Mama. I love you," jawab Delima mencium bibir Rangga sekilas, terdengar ada teriakan keras dari Juna.
" Hai, adegan dewasa jangan dipertontonkan di sini ada anak kecil!" kata Juna menutup mata Angel.
" I love you too," jawab Rangga mencium bibir Delima dan menyesap lembutnya tidak lupa mengabsen setiap deret gigi tanpa celah ditakutkan ada kecemburuan di antara mereka.
" Honey, mau dong !" kata Monica memukul-mukul lengan Juna dengan manja.
" Nanti malam My Queen, di sini banyak orang malu ah," jawab Juna bergidik geli .
Mama Martha sudah berdiri di samping Rangga dan Delima. Tangan kanannya menjewer telinga Rangga.
" Dasar anak bandel, dilarang untuk melakukan hal tak senonoh di depan umum masih saja melakukannya. Mama jewer telinganya sampai putus!" kata Mama Martha menjewer telinga Rangga pura-pura marah.
__ADS_1
" Ampun, Ma," jawab Rangga melepaskan ciumannya. Kemudian dengan langkah pelan Rangga menuntun Delima menghampiri mereka yang sudah tersenyum.
" Selamat datang Bapak dan Ibu, " kata Rangga memeluk Bapak dan Ibu mereka bergantian diikuti oleh Delima di belakangnya. Adik-adik juga menjabat takzim tangan kakak-kakanya. Delima masih memeluk Ibu Sukma dan menangis.
" Silahkan duduk Bapak dan Ibu !" kata Rangga mempersilahkan.
" Ayo, Ma. Ibu Sukma di persilahkan duduk. Kasihan masih capek setelah perjalanan," kata Rangga merangkul pundak Delima.
" Ayo, Nak kita duduk," kata Ibu Sukma menghapus air mata Delima.
" Baik, Ma," kata Delima.
Mereka menikmati makan pagi tanpa suara. Tangan kanan Delima masih menggenggam erat tangan kiri Ibu Sukma. Rangga sengaja menyuapi istrinya agar ada nutrisi untuk baby twins dan tidak mengganggu kehangatan anak dan ibu.
" Pa, baby twins sudah kenyang, mau minum jus jeruk saja," kata Delima.
Rangga mengambilkan segelas jus jeruk dan segera dihabiskan istrinya dengan sekali teguk.
Prov Rangga
Setelah olahraga yang dilakukan dari malam hingga subuh membuat Delima langsung tepar. Berbeda dengan Rangga, ia teringat keinginan istrinya yang membuat menangis. Kangen sama keluarga katanya, apabila pulang sangat riskan sekali. Baik untuk kandungan Delima karena rawan untuk penerbangan apalagi ada baby twins.
Sebaiknya mereka saja yang datang, sekaligus bisa refreshing. Diputuskan untuk menghubungi adiknya di Semarang.
" Ada acara apa, Kak?" tanya Rizky lagi.
" Selain kami kangen, kami ingin memberitahukan bahwa calon baby kami kembar dan cowok semua," jawab Rangga.
" Selamat akan baby nya. Siapa saja, Kak? tanya Rizky.
" Bapak, Ibu, dan Adik-adik. Juga keluarga Delima semua," jawab Rangga.
" Penerbangan yang pertama setelah sampai di bandara Soekarno-Hatta sudah Kakak siapkan 2 taksi yang akan mengantar langsung menuju Putri Duyung Restoran dan Cottage. Alamat akan Kakak kirim, " jawab Rangga.
" Baik, Kak," jawab Rizky.
"Untuk semua biaya akan Kakak transfer sekarang. Jangan menghubungi Delima dahulu ini sebuah kejutan," kata Rangga menjelaskan.
Pesawat mendarat di bandara Soekarno-Hatta, Rizky menghubungi Rangga, saat itu Delima sedang berganti baju. Dua taksi sudah menunggu atas pesanan Rangga dan membawa rombongan ke tempat tujuan. Kira-kira perjalanan memakan waktu 1 jam, Nani mendapat tugas menjemput mereka di depan restoran.
Rangga sudah menduga kejutan kali ini akan membuat Delima terharu. Tidak hanya terharu, ia mendapat ciuman dari Delima sebagai tanda terima kasih serta ucapan cinta.
Setelah sarapan, mereka langsung berkeliling di Ancol, Delima dan Rangga ikut serta. Delima tak lepas menggandeng Ibu Sukma, sedangkan Rangga selalu berada di sisinya siap siaga apabila dibutuhkan.
Adik-adik mereka juga sangat gembira, tampak pada wajah mereka senyum selalu merekah. Untuk makan siang mencari tempat lesehan di tepi pantai. Tempat yang dipilih oleh Rangga adalah Komplek Jajanan Seafood dan Ikan bakar PLTU Ancol .
__ADS_1
Aneka Bakaran ikan segar, cumi goreng, udang goreng dan tidak lupa sambal serta lalapan sudah terhidang
untuk di santap.
Tampak Delima kelelahan, kaki dipijat pelan Rangga hingga membuat Ibu Sukma khawatir.
" Nak, tiduran di sini!" kata Ibu Sukma menepuk pahanya.
Delima menurut, mata yang sudah ditahannya sejak tadi terpejam perlahan. Suara dengkuran halus terdengar, tidak tega rasanya melihat tubuh istrinya harus membawa baby twins ke sana- ke mari sendiri.
" Nak Rangga, terima kasih telah menjaga dan menyayangi anak Ibu," kata Ibu Sukma tulus.
" Sama-sama, Ibu. Delima adalah istri Rangga yang baik. Menjadi Mama bagi Angel dan selalu menjaga baby twins ke mana pun, " kata Rangga dengan tulus pula.
Delima bangun keadaan sudah sepi, hanya ada Rangga yang pahanya buat tiduran.
" Sayang, kamu kelelahan ? " tanya Rangga.
" Tidak, hanya kurang tidur saja kan tidurnya hanya sebentar," jawab Delima.
" Maaf Sayang, Kakak jahat ya ?" kata Rangga mengelus rambut Delima sayang.
" Kakak tidak salah, baby twins yang minta terus," jawab Delima tersenyum malu.
" Ayo, sekarang kamu makan dulu. Baby twins pasti sudah lapar, " kata Rangga sudah menaruh nasi dan lauk di atas piring.
" Sayang, Kakak suapi ya?" kata Rangga.
" Iya, Kak," jawab Delima yang sudah membuka mulutnya.
" Terima kasih ya, Kak atas semua kebahagian Delima hari ini," kata Delima.
" Sama-sama Sayangnya Kakak, kebahagiaanmu adalah kebahagiaan Kakak juga," jawab Rangga.
Kepala Rangga mendekat ke Delima.
" Jangan di sini, Kak. Nanti telinganya
di jewer Mama Martha sampai
putus, " kata Delima mengingatkan.
" Berarti kalau di kamar dan hanya berdua boleh ?" kata Rangga menaik turunkan alis matanya menggoda.
Delima tersenyum mengingat kejadian semalam.
__ADS_1