
Rangkaian acara pernikahan sejak tiga hari yang lalu hingga sore ini membuat luluh lantak badan Delima. Setelah baju pengantin dan riasan wajah dibersihkan Delima berniat mandi dengan air hangat. Sedangkan Kak Rangga sedang temu kangen dengan teman-teman sepermainannya. Tiga puluh menit kemudian Delima keluar dari kamar mandi menuju kamar tidurnya. Kamar yang sudah diubah menjadi kamar pengantin berhias aneka rangkaian bunga. Tampak tempat tidur beralas sprei warna kuning gading dan bantal-bantal tertata rapi. Di atas kepala ranjang rangkaian bunga berbentuk hati dengan bunga dominan berwarna merah memberi kesan romantis. Gorden putih menghias dasar dinding kamar membuat teduh kamar. Pencahayaan dari bawah ranjang menjadikan temaram remang-remang kamar jika lampu besar dimatikan. Delima tiba-tiba dikejutkan dengan tangan yang memeluknya dari belakang. Reflek membalik tubuhnya cepat. Wajah membentur dada bidang di depannya.
"Kakak mengagetkan saja," kata Delima menghilangkan rasa canggungnya.
"Sejak tadi memandangi tempat tidur itu, apa mau mencoba sekarang?" tanya Rangga mencium kening Delima.
"Mencoba apa, Kak?" tanya Delima,".Delima mengagumi tatanan dan hiasannya.saja".
Pandangan mata terbentur pada tumpukan kado yang diletakkan di lantai pojok kamarnya.
"Kak, kadonya banyak sekali. Bagaimana kalau dibuka sekarang ?" kata Delima mengalihkan pembicaraan.
"Baik, kita akan buka kado- kado itu," jawab Rangga menahan senyum mengetahui pengalihan pembicaraan Delima.
Delima mendekati tumpukan kado dan duduk di lantai. Matanya mengabsen satu-persatu kado tersebut. Banyak sekali. Lebih dari 50-an
Kado dibuka satu persatu, membaca setiap tulisan dan nama pemberinya. Dari sekian kado itu tidak ditemukan kado dari Ronald.
" Dari tamu yang datang mengapa Kakak tidak melihat wajah Ronald?" tanya Rangga penuh selidik.
"Mengapa Kakak mengharap kedatangannya?" tanya Delima.
"Ingin tahu saja reaksi Dia ketika melihat kamu sudah jadi milik Kakak," kata Rangga menjawab sekenanya.
"Ronald sudah datang dua hari setelah Kakak melamar Delima," kata Delima menceritakan hal sebenarnya.
"Apa tujuan kedatangannya?" tanya Rangga curiga.
"Ronald datang bersama Lisa. Hanya silahturahmi saja dan minta maaf tidak bisa datang di hari H, karena ada kegiatan kampus yang tidak di bisa tinggalkan," jelas Delima menutupi sebagian cerita sebenarnya.
"Cerita Angel, kamu menolak untuk balikan lagi dengan Ronald?" kata Rangga menggenggam tangan Delima
" Kakak mengetahuinya?" tanya Delima yang dijawab dengan anggukan kepala Rangga.
"Maaf, Kak. Delima tidak ingin Kakak berpikiran lain tentang Delima dan Ronald," kata Delima ingin meluruskan.
__ADS_1
Rangga tersenyum dan menarik bahu Delima hingga Rangga dapat memeluknya di depan dada.
"Terima kasih, Kakak senang Delima mengambil keputusan memilih Kakak. Kakak janji membuat keluarga kecil kita bahagia selamanya, " bisik Rangga di telinga Delima.
Delima menyambut pelukan hangat Rangga dengan kemanjaannya. Tangan mereka saling menyatukan jari jemari.
"Maaf, Kak. Setelah sholat Maghrib bapak dan Ibu menunggu di meja makan untuk makan malam," kata Wendy yang sudah ada di depan pintu.
Rangga melepaskan pelukan dan Delima menjauh dari sisi Rangga kemudian berdiri.
" Baiklah, nanti Kakak setelah sholat Maghrib akan ke meja makan," jawabnya sambil menghampiri Wendy.
"Wendy permisi dulu, Kak. Pintunya ditutup dan dikunci kalau sedang bersama Kak Rangga. Ada yang jomblo jadi tambah ngenes saja," kata Wendy menggoda Kakaknya .
"Terima kasih ya! Kamu masih kecil sekolah dulu yang benar kemudian mencari pekerjaan biar dapat bantu adik-adik baru pikir cari pasangan," kata Delima memberi nasehat.
"Ya, Kak. Permisi," kata Wendy berbalik arah.
Delima mengambilkan sarung baru untuk Kak Rangga dari Almari pakaian dan menyerahkannya. Akan tetapi Rangga menerima pemberian itu dengan memeluk pinggang ramping Delima.
"Kita sudah resmi suami istri jangan malu seperti tadi kelihatan banget," kata Rangga menggoda Delima istri kecilnya yang masih polos.
"Akan aku kunci, supaya tidak ada yang melihat jika kita melakukannya sekarang," kata Rangga pura-pura menuju pintu untuk mengunci
"Kak, kita sudah ditunggu di meja makan, " kata Delima berbisik dengan menempelkan pipi di punggung Rangga.
"Baiklah, Sayang. Kita lakukan nanti masih banyak waktu hingga Subuh," kata Rangga dengan senyum menggoda.
Wajah Delima mejadi merah padam, pergi meninggalkan Rangga untuk mengambil air wudhu.
Di meja makan semua diam menikmati hidangan yang di masak Ibu Sukma. Setelah selesai Delima dibantu Puput membersihkan piring kotor. Bapak Brata dan Rangga berbincang akrab di ruang tamu. Kesederhanaan masih terpancar di wajah mertuanya. Sejak kecil sebenarnya Rangga sudah mengenal Bapak Brata.
"Nak Rangga, Bapak titip Delima. Bimbinglah dan ingatkan jika berbuat salah. Anak perempuan adalah kesayangan seorang ayah. Begitu pula cinta pertama anak perempuan adalah sosok ayahnya," kata Brata memberi wejangan pada Rangga.
" Baik , Pak. Rangga akan mengingatnya, " jawab Rangga mengiyakan.
Delima dan Puput membawa empat cangkir teh panas dan roti brownis coklat. Meletakkan di atas meja. Ibu Sukma duduk di sebelah Bapak Brata, sedangkan Delima mendekati Rangga untuk duduk di sampingnya. Puput masuk membawa dua nampan untuk baki minuman dan roti brownis tadi.
"Bapak dan Ibu besok siang Rangga dan Delima serta keluarga yang lain mohon ijin untuk bisa kembali ke Jakarta. Jika ada kesalahan Rangga dan keluarga, saya pribadi meminta maaf yang sebesar-besarnya," kata Rangga menjelaskan maksudnya.
__ADS_1
Bapak Brata dan Ibu Sukma saling menatap dan berpandangan. Mereka belum ikhlas untuk melepaskan anak dan menantunya.
Ibu Sukma masuk ke kamar dan keluar membawa tempat perhiasan berbentuk hati dengan lapisan bludru merah yang diserahkan kepada suaminya. Kemudian duduk di sebelahnya lagi. Bapak Brata memandangi kotak. Dengan mengambil nafas diberikannya kotak tersebut kepada Delima.
"Delima, simpan baik-baik ini dari Bapak dan Ibu. Maaf jika kami hanya bisa memberikan ini.
Pergunakan ini untuk kelanggengan rumah tangga kalian, karena ini sudah mejadi milik kamu," kata Bapak Brata.
Delima berdiri menerima kotak tersebut. Dipeluknya erat tubuh Bapak Brata air mata Delima tak kuasa sudah membasahi pipinya.
Tidak ada yang diucapkan Delima Delima memeluk Ibu Sukma, meskipun Ibu sambung Ibu Sukma sosok Ibu Number One. Menomor satukan keluarga.
"Terima kasih, Bu," kata singkat Delima untuk sejuta kasih sayang Ibu Sukma.
Setelah duduk kembali Delima membuka kotak itu . Isinya diperlihatkan kepada Rangga.
Sebuah kalung dengan liontin berbentuk hati , gelang dengan motif hati sebagai hiasannya, sepasang anting, sebuah cincin besar, dan gelang dengan berlian sebagai hiasannya.
"Apakah ini perhiasan milik Ibu, Pak?" tanya Delima melihat ke arah Bapak Brata.
"Iya, Nak sengaja kami simpan untuk kamu. Itu kenangan dari almarhumah Ibumu, " jawab Bapak Brata.
"Terima kasih telah mempercayakan Delima untuk menyimpannya, semoga Delima sanggup menjalankan amanah ini," ungkap Delima sungguh-sungguh.
"Bapak dan Ibu, doakan kami pula untuk cepat mendapatkan momongan. Agar lengkap keluarga kecil kita," kata Rangga memeluk Delima.
Bapak Brata dan Ibu Sukma saling berpandangan dan mata yang berkaca-kaca. Senyum menghias di wajah masing- masing.
"Bapak berdoa kalian cepat diberi momongan, karena anak adalah rejeki dari Allah," kata Bapak Brata.
"Jadikan anak-anak kalian soleh dan Solehah," kata Ibu Sukma menambahkan.
Jam dinding berdentang sebelas kali.
"Sudah malam, mari kita tidur. Jangan lupa sholat Isyak, kalian belum melaksanakannya," kata Bapak Brata melangkahkan kaki diikuti Ibu Sukma.
Rangga dan Delima pun melaksanakan pesan Bapak Brata.
__ADS_1
Delima naik ke tempat tidur dengan membawa kotak perhiasan mendiang Ibunya. Dipegang erat di samping bantal dengan tangan kanan.
Mata terpejam, bagai diayunkan ia tertidur lelap. Dalam mimpinya Delima sedang dipeluk oleh Ibunya dalam damai. Rangga yang melihat itu membatalkan niatnya untuk segera menghabiskan malam ini berdua. Rangga naik ke tempat tidur. Dengan pelan menggeser tubuh agar dapat memeluk erat Delima. Menyusul ikut lelap bersama mimpi sebagai suami siaga.