
Dengan empat karyawan yang lain, Delima dan Nina memulai membersihkan restoran. Dua koki sudah menyiapkan semua kebutuhan di
dapur. Satu kasir dan tiga waiters siap menerima pelanggan.
Tepat pukul 09.00 resto dibuka. Nyonya Genit langganan resto masuk menuju meja di pojok dekat taman. Delima datang menghampiri.
"Selamat pagi Nyonya, Apa yang bisa saya bantu,"tanya Delima sambil menyodorkan menu di meja.
"Kamu pegawai baru?" tanya Nyonya Genit.
"Iya Nyonya, nama saya Delima,"jawab Delima penuh hormat.
"Siapkan saja pesanan sarapan untuk saya,"jawab Nyonya Genit tanpa melihat.
"Apa Nyonya ?" tanya Delima lagi.
Sebelum Nyonya Genit itu menjawab, tiba-tiba ada suara menegurnya.
"Hai kamu, ini Nyonya pesan nasi goreng sea food dengan satu cabe dan minumnya orange jus tanpa gula," kata suara laki-laki yang sudah ada di sisi kanan Delima.
Sekilas Delima melihat. Seorang laki-laki memakai setelan jas lengkap warna maroon, tinggi sekitar 170-an, wajah dengan rahang yang menonjol, bersih tanpa kumis dan jambang serta rambut cepak tebal dengan warna hitam mengkilat. Kesan dingin dan cuek sekilas nampak pada pemikiran Delima
"Baik Pak, pesanan segera diantar. Permisi Pak.Permisi Nyonya," kata Delima melangkah mundur dan sedikit lari menuju pantry.
Selang beberapa menit Delima kembali mengantar pesanan. Nyonya Genit dan lelaki itu tampak tertawa tergelak. Diam ketika mendengar suara menyela.
"Permisi Nyonya, maaf Pak ini pesanan Nyonya,"kata Delima dan menata pesanan di meja dengan rapi. Laki-laki itu menatap dengan intens. Ia tidak percaya wanita di depannya sungguh berbeda. Saat kecil dulu ia sangat cengeng, selalu menangis jika ada teman sekolah yang menggoda, dan selalu minta gendong padanya saat bertemu anjing dengan alasan yang selalu sama. Capek jika berjalan kaki sampai rumah.
Prov. Rangga
"Delima mengapa menangis di situ?" tanya Rangga iba melihat Delima kecil dengan baju paud yang memeluk tas beserta bekal sekolah.
Saat itu Rangga sudah duduk di bangku SMA.
"Delima takut Kak, teman-teman mengejek Delima jelek mereka sangat jahat. Di depan juga ada anjing yang menggonggong," jelas Delima sambil terisak
"Terus sekarang mau pulang ?"tanya Rangga.
__ADS_1
"Iya Kak Rangga, tapi Delima minta gendong ya capek jika harus jalan," jelas Delima dengan wajah lucu.
Dengan sigap Rangga langsung jongkok, Delima meloncat dipunggung, lalu Rangga berdiri. Sepanjang perjalanan Delima selalu menceritakan kegiatannya saat di sekolah. Mulai dari pelajaran menulis, berhitung, dan menyanyi. Delima paling suka menyanyi. Sepanjang jalan menuju rumah ada empat sampai lima lagu yang dinyanyikan. Kegembiraan selalu terpancar di wajah Rangga dan Delima.
Tak terasa waktu yang menentukan. Rangga harus kuliah ke luar kota. Setelah menempuh gelar sarjana mencoba mengembang bisnis kuliner. Dari gerobak dorong, angkringan, hingga bisa menyewa sebuah kios kecil. Restoran yang sekarang dimiliki adalah usaha bersama keluarga istrinya.
"Bagaimana Nak dengan usul Mami?" tanya Nyonya Genit membuyarkan lamunan Rangga.
"Maafkan Rangga Mi, belum ketemu jodoh. Rangga masih fokus pada Resto dan Angel,"kata Rangga.
"Resto kita sudah mapan, bahkan kamu sudah membuka cabang baru lagi. Angel sekarang sudah besar. Tinggal kamu memikirkan kehidupan masa depan kamu," jawab Nyonya Genit.
"Rangga belum bisa melupakan Cantika Mi, cinta Rangga hanya untuknya. Tidak ada yang bisa menggantikan di hati Rangga," jawab Rangga sendu.
"Mami tahu, Cantika sudah bahagia di surga. Anak Mami pasti sedih jika melihat kamu dan Angel tidak bahagia. Angel perlu ibu yang selalu memberikan kasih sayang. Kamu, Rangga . Perlu pendamping yang selalu men sport dan mengasihi dengan tulus," kata Nyonya Genit yang ternyata mertua Rangga.
"Baik Mi, doakan saja segera ketemu sama calon mama pengganti untuk Angel," kata Rangga menjelaskan.
Pelanggan banyak berdatangan. Jam istirahat banyak kursi sudah terpenuhi untuk makan siang. Ketika lewat dhuhur Delima baru saja melaksanakan sholat. Karena tergesa-gesa takut terlambat ke resto, Delima lari tanpa memperhatikan arah depan.
Duk.
Resto kembali ramai ketika jam pulang kerja. Banyak para pegawai baik bapak-bapak atau ibu-ibu kelihatan mereka pelanggan tetap yang pulang singgah mampir membeli makanan untuk dibawa pulang. Berganti dengan beda usia. Menjelang malam banyak muda-mudi dinner menghabiskan waktu berdua. Hingga pukul 22.00 Resto akhirnya harus ditutup. Setelah membersihkan meja kursi, mengepel lantai, dan merapikan peralatan mereka pulang. Dua koki pulang ke rumah masing-masing, karena memang sudah berkeluarga. Kasir Resto dijemput suaminya. Tinggal kami bertiga menunggu angkot kota untuk membawa kembali ke mes. Sepeda motor berhenti, ternyata kekasih Ratih, teman sesama waiters.
"Saya duluan,"kata Ratih.
"Iya, silahkan, " jawab Delima dan Ratih bersamaan.
Sepuluh menit kemudian datang mobil mewah mendekati kami, kaca mobil depan terbuka. Wajah dingin yang belum hilang dari ingatan Delima melongok.
"Mari saya antar ke mes," pinta laki-laki itu dengan senyum ramahnya.
Tanpa kata penolakan Nani langsung menarik tangan Delima dan membuka pintu belakang. Kesadaran Delima belum penuh, tapi pantat sudah menempel pada kursi belakang penumpang.
"Sudah?"kata laki-laki itu datar.
"Sudah, Kak Rangga," jawab Nani singkat.
__ADS_1
Kak Rangga!
Ingatan Delima tergambar 15 tahun yang silam, berarti laki-laki di belakang sopir adalah kakak Nani. Malaikat pelindungnya saat kecil dulu. Kakak yang baik, selalu menuruti keinginan adik yang selalu minta gendong dengan alasan capek.
"lni Delima, Nan ?" tanya Rangga
"Iya Kak, ini Delima teman Nani,"" jawab Nani
"Hai, Delima," sapa Rangga.
"H hai..., Kak Rangga," jawab Delima terbata-bata.
Mobil berhenti di lampu lalu lintas.
Meski sudah malam, banyak juga mobil di kanan kiri mobil yang ditumpanginya.
""Capek hari ini, Delima ?" tanya Rangga.
"Iya ..eh , tidak Kak Rangga," jawab Delima malu.
"Aku tidak ditanya, Kak ?"tanya Nina dengan muka cemberut dan mulut memonyongkan ke depan.
Rangga diam. Pandangannya fokus pada jalan. Sesekali melirik sekilas pada Delima lewat spion di atasnya. Rasa sayang yang pernah ada di hati Rangga tiba-tiba muncul menjadi getar aneh sulit untuk di ungkapkan. Adik kecilnya sudah besar. Berubah menjadi gadis cantik. Bisakah menggendong lagi? Jangankan menggendong, memegang tangan saja Rangga takut. Takut rasa sayang itu akan berganti....
"Kak, sudah kelewat!" seru Nina.
"Maaf," jawab Rangga sambil memundurkan mobilnya tepat di bangunan bercat putih berpagar besi.
"Silahkan turun! Hari sudah malam," kata Rangga ketus menutupi rasa malunya karena ketahuan melamun.
"Terima kasih Kak Rangga," kata Nina dengan senyum.
"Terima kasih Kak," kata Delima dengan suara pelan.
Pintu mobil di tutup Delima. Tiba-tiba kaca jendela terbuka.
"Besok pukul 08.00 saya jemput, on time," kata Rangga sambil menghidupkan mesin mobil.
__ADS_1
Tanpa menunggu jawaban kaca mobil ditutup dan menjalankannya.
Delima mengambil kunci, membuka pagar dan pintu mes yang ditempati berdua.