
Pertemuan Rangga dengan Aipda Syamsudin sejak pagi hingga siang membuat lelah dan kantuk. Apalagi semalam begadang. Rangga tertidur di ruang kerja. Untung OB resto membangunkannya pukul 18.00 WIB. Segera Rangga mengambil kunci dan menghampiri Nani.
"Nani kau pulang bersama Kakak," kata Rangga.
"Iya, Kak. Nani mengambil tas dulu," jawab Nani.
Ketika sampai di mobil Rangga menceritakan pertemuannya dengan Aipda Syamsudin. Rumah Mes sudah di lepas garis polis line. Malam ini Rangga mengajak Nani untuk membersihkan rumah dan mengambil barang- barang. Delima sudah diberitahu dan akan di antar oleh Pak Budi.
Sesampainya di rumah Mes. Tampak Delima sedang duduk di bangku teras. Hanya memakai kaos putih street dipadukan dengan jean warna biru tua membuat tubuh ramping kelihatan nyata lekuk-lekuknya.
"Sudah lama sayang?" tanya Rangga mencium bibir Delima sekilas.
"Kak, malu ada Nani dan Pak Budi!" kata Delima protes.
"Sayang, ini kebiasaan yang tidak boleh kamu tolak," jawab Rangga.
"Jangan, Kak. Delima malu, cium kening saja ya?" kata Delima memberi tawaran.
"Baiklah, mari kita masuk rumah!" kata Rangga mengajak Delima.
Rangga membantu Delima memberesi barang milik Delima. Ada pakaian, tas, sepatu, dan alat make up. Semua dimasukkan dalam dua tas besar. Sedang barang Nani yang berada di almari yang berbeda tidak begitu di usik. Jadi lebih mudah menatanya. Barang-barang Nani sudah di masukkan dalam satu kardus dan dua tas tanggung. Pak Budi sendiri disuruh Rangga membersihkan ruang tamu. Sekitar satu jam semua sudah selesai di pak, kecuali alat masak tidak di bawa. Semua barang Nani di masukkan di mobil Pak Budi, karena pulangnya Rangga ingin berduaan dengan Delima. Milik Delima sudah di masukkan semua oleh Pak Budi ke mobil Rangga. Mereka sebelum pulang mampir di warung bakso langganan Delima dan Nani kalau habis gajian.
Mobil Rangga menepi di pinggir jalan dekat warung bakso diikuti mobil Pak Budi, mereka masuk dan memesan 4 mie bakso pangsit dan minumnya 4 jeruk hangat. Menunggu pesanan Rangga membuka pembicaraan.
"Tadi Kakak mencabut laporan tentang masuknya pencuri di rumah Mes. Tidak ada maksud tertentu, cuma kita wajib waspada dengan lingkungan sekitar. Jangan membuat dendam pada seseorang, lebih baik kita yang memaafkan," kata Rangga menghentikan pembicaraan karena pesanan minum datang.
"Tujuan orang tersebut untuk mengambil cincin permata milik Delima yang diberikan oleh Mama Martha. Orang itu tidak suka, karena saya lebih memilih Delima daripada orang tersebut, " kata Rangga menjelaskan, " Kita pura-pura saja tidak tahu. Tetap bersikap biasa saja terutama kamu, Sayang. Dekati dengan penuh rasa kasih seorang Kakak kepada Adik. Dia Adik kita," kata Rangga memegang tangan Delima dan diciumnya mesra.
Pesanan datang, Delima dengan semangat memasukkan saos, kecap, dan sambal. Dengan cepat menyantap semangkok mie bakso pangsit di depannya. Rangga menawarkan untuk menambah lagi. Delima dan Nani langsung senang. Semangkok mie bakso pangsit sudah ada dihadapan mereka. Siap untuk disantap. Rangga dan Pak Budi hanya menggeleng melihat kerakusan dua wanita itu.
Setelah membayar Rangga mengajak mereka pulang. Delima bersama Rangga sedangkan Pak Budi semobil dengan Nani.
"Kak, Mbak Monica kuliah apa kerja?"tanya Delima.
__ADS_1
" Monica mengurusi resto di anak cabang," jawab Rangga.
"Tinggalnya juga di rumah Mama Martha?" tanya Delima lagi.
"Kalau ada di Jakarta, tapi sering menetap di luar kota," jawab Rangga yang fokus pada jalan.
"Kata Mama Martha, Mbak Monica selalu manja pada Kakak dan Mbak Cantika?" tanya Delima mengingat kata Mama Martha.
"Monica adik kesayangan Cantika yang selalu manja, tapi ketika Cantika meninggal Monica ingin mengambil alih semua yang dilakukan
Kakaknya padaku. Ia sangat mandiri, selalu melakukan apa saja untukku," jawab Rangga mengingat semua.
" Itu semua karena Mbak Monica mencintai Kakak. Kakak juga mencintainya?" tanya Delima penasaran.
"Tidak, sejak dulu perasaan Kakak hanya sebagai Kakak ipar. Mama Martha tahu itu," kata Rangga.
"Mama Martha juga menjodohkan Kakak dengan anak-anak teman kenalannya?" tanya Delima serius.
"Iya, Kakak menolak dengan halus. Kakak ingin serius bekerja dan menjaga Angel," kata Rangga.
"Waktu itu jujur iya, Kakak sangat mencintai Cantika," jawab Rangga mengenang Cantika.
"Sampai sekarang?" tanya Delima ada rasa cemburu.
"Sayang, kau sudah tahu jawabannya apa ?" tanya balik Rangga.
"Di hati kecil Kakak masih ada Mbak Cantika, tapi sisanya yang besar hanya untuk Delima," jawab Delima menirukan ucapan Rangga.
Tangan Rangga menggenggam jari-jari tangan Delima.
"Ingat Sayang, Kakak tidak bisa melupakan Cantika, karena ada Angel buah dari cinta kami.
Sekarang ada kamu Sayangnya Kakak, ingin Kakak buktikan rasa sayang Kakak ke kamu dengan buah dari cinta kita, " kata Rangga jujur .
__ADS_1
Mobil memasuki gerbang rumah Rangga dan mesin di matikan. Rangga membuka safety belt nya. Kemudian safety belt Delima. Rangga tidak segera membuka pintu mobil. Diraihnya pinggang ramping Delima dan diangkat dengan kedua tangannya untuk di dudukkan di atas paha menghadap Rangga. Kedua tangan Delima telah mengalungi di leher Rangga. Mereka saling menatap. Rangga mengelus punggung Delima. Delima hanya diam mengikuti permainan Rangga tanpa bisa menolak
"Sayang, cium Kakak!" perintah Rangga.
Delima mendekatkan bibirnya mencari bibir Rangga. Saling menempel dan *******. Rangga menggigit bibir bawah Delima hingga terbuka. Mengabsen satu persatu gigi hingga lidah mereka saling melilit. Rangga melepas kaos street Delima, menjelajahi leher jenjang Delima dengan bibirnya. Dibuatnya tanda kepemilikan di sana. Suara halus Delima keluar ketika Rangga telah mempermainkan gunung kembar miliknya, meremas, memelintir, hingga menghisap dengan rakus seperti bayi yang kehausan. Tanpa disadari Delima, tubuh mereka telah menyatu. Penyatuan cinta mereka. Rangga memimpin permainan. Delima sadar.
"Kak, kita ada di mobil," kata Delima protes.
"Sayang, teruskan. Bergerak lebih cepat dan nikmati!" perintah Rangga. Delima patuh.
Penyatuan mereka berakhir ketika sama-sama mencapai puncak.
Mereka memakai kembali semua yang terlepas dari tubuh. Ketika sudah rapi mata mereka saling menatap tersenyum bahagia. Rangga cepat membuka pintu mobil dan ke luar. Kemudian membukakan pintu untuk Delima dan menguncinya. Berjalan saling memeluk hingga memasuki rumah besar kediaman mereka.
"Baru pulang, Kak," kata Monica yang menyapa secara tiba-tiba.
"Kamu belum tidur ? " tanya Rangga.
"Belum, bisa tidak besok Kakak mengantar Monica ke Lembang ? Ada investor baru yang berminat menanamkan modal di resto kita. Mereka Ingan bertemu langsung dengan Kakak. Lumayan Kak, mereka berani 60:40," kata Monica bersemangat.
"Berarti kita harus menginap?" tanya Rangga.
"Iya, Kak. Paling lama satu Minggu, " kara Monica memperkirakan.
" Kakak lihat dulu jadwal di resto nanti Kakak hubungi kembali, " jawab Rangga sambil berjalan meninggalkan Monica.
Sesampainya di kamar Rangga mengajak Delima mandi bersama. Memasukkan badan yang lelah pada Beth up dengan air hangat harum aroma terapi dan saling menggosok punggung.
"Sayang, bagaimana kalau Kakak tinggal selama seminggu di Lembang ?" tanya Rangga menggosok punggung Delima.
"Apa tidak ada jadwal di resto?" tanya Delima berbalik badan
"Tidak ada sayang, aku cuma mau minta ijin kamu saja," jawab Rangga berbisik di telinga Delima.
__ADS_1
" Boleh , tapi tidak boleh lirik cewek!" jawab Delima memberi ultimatum.
Rangga tersenyum di gigit gemas telinga Delima, tangan yang sejak tadi menggosok bergerilya menuju tempat sensitif kemudian mempermainkan dua jari dengan tempo cepat. Mulut Delima mengeluarkan suara bersamaan dengan pelepasannya pertama. Emosi Rangga sudah tidak bisa di kontrol. Beth up jadi saksi permainan keras kedua Rangga malam ini setelah di mobil.