
Bekas pesta semalam masih tersisa. Ucapan selamat datang, bunga-bunga sebagai hiasan, kursi pelaminan dan kursi tamu masih tertata di tempat semula. Penghuni rumah pun masih terlelap kecuali para bibi yang menyiapkan untuk sarapan.
Sepasang pengantin baru saja selesai mereguk surga dunia mereka, kemudian langsung melaksanakan ritual mandi nujum, karena suara adzan sudah berkumandang. Takut jika terlelap akan kehilangan sholat subuh . Dirasa masih pagi, keduanya menarik selimut untuk istirahat. Rasa capek baru dirasa sekarang. Ternyata sejak malam Midodareni mereka sudah menjadi seorang pengantin yang dipajang untuk dirias.
***************************
Anggota keluarga sudah berkumpul di meja makan. Baby Keiko dan baby Kenzo sudah berada di twins stroller di temani baby sister mereka.
" Mari kita sarapan lebih dulu tidak usah menunggu pengantin baru," kata Mama Martha membuka pembicaraan di meja makan pagi itu.
Tanpa banyak pertanyaan merekapun sarapan tanpa bersuara. Diam menikmati hidangan Seba lezat di hadapan mereka. Untung saja Angel tidak ada di meja makan. Akan panjang ceritanya jika ada bocil satu itu. Anak yang suka bertanya tentang yang belum diketahui . Sekarang Angel selalu mengikuti kemana sang adik berada. Pagi-pagi Angel yang sudah mandi langsung masuk ke kamar adik-adiknya. Hingga turun untuk sarapan harus berada di dekat mereka. Angel disuapi Si Mbak mengikuti baby twins di taman samping rumah.
Setelah selesai sarapan keluarga besar bercengkrama kumpul di ruang keluarga. Saling berebut untuk menggendong baby twins menjadi suatu keributan kecil yang menyenangkan. Angel selalu yang menang. Kakak pelindung bagi kedua adik-adik tampannya.
"Delima, Bapak dan Ibu besok mau pulang ke Semarang. Kasihan adik-adik mu sudah lama meninggalkan bangku sekolah," kata Bapak Brata membuka pembicaraan .
"Bapak,Ibu, dan Adikmu juga ya Rangga kami ingin pamit pulang," kata Bapak Rangga menimpali .
"Sebaiknya kalian pulang menunggu Dewa dan Nani pindah rumah dulu. Apa tidak ingin melihat rumah baru mereka?" kata Rangga ingin berlama-lama dengan kehadiran mereka.
"Kapan -kapan saja kami ke sini lagi, Nak," jawab Bapak Brata.
"Bolehkah jika kami pindah hari ini, Kak?" kata Dewa yang sudah ada di ruang keluarga tersebut meminta pendapat Rangga.
Semua mata memandang padanya seperti menyelidik. Mereka tersenyum bahagia.
"Di mana Adikku ?" tanya Rangga mengultimatum .
"Maaf, Kak. Nani tidur lagi setelah menunaikan sholat subuh tadi," jawab Dewa sedikit membela istrinya.
"Ya, sudah. Dewa kamu sarapan lebih dulu kami semua sudah, maaf jika tidak menunggu kamu," kata Mama Martha menengahi pembicaraan.
"Nanti saja ,Ma. Menunggu Nani bangun dan kami akan sarapan bersama," jawab Dewa malu karena bangun kesiangan.
__ADS_1
Dewa duduk mendekati kedua orang tuanya.
"Nak, kami dan keluarga juga akan minta ijin pulang, kebun tidak ada yang mengurus," kata Bapak Dewa yang sudah lanjut usianya.
Dewa melihat Rangga untuk menjawab pertanyaan tadi yang disampaikan .
"Kalian boleh pindah sekarang, bangunkan Nani segera membawa barang seperlunya saja, karena rumah itu sudah berisikan perabotannya," kata Rangga menjelaskan.
"Permisi, Kak. Terima kasih sekarang saya akan membangunkan Nani," jawab Dewa segera berdiri dan masuk menuju kamar yang ditempatinya semalam.
Setelah kepergian Dewa. Rangga menelpon Restoran untuk menyiapkan makanan dan minuman diantar ke rumah baru Dewa. Kemudian menelpon Rumah Batik "Benang Raja" membeli beberapa potong batik sebagai oleh-oleh dan satu jam pesanan harus sudah terkirim .
************
Di kamar Dewa segera memeluk Nani lagi. Mengendus lagi dan lagi leher jenjangnya. Wangi sampo membuat Dewa betah lama-lama di sana. Nani belum terusik oleh tingkah Dewa. Dengan gemas digigitnya leher Nani dan sang empunya menjerit manja.
"Mommy, bangun yuk. Kita pindah rumah hari ini, karena Bapak dan Ibu akan pulang sekarang. Sebelum mereka pulang ingin mengantar kita pindah ke rumah baru," kata Dewa masih memeluk erat pinggang Nani.
"Tapi Dedy, tolong gendong ke kamar mandi masih sakit untuk berjalan," jawab Nani malu-malu.
"Siap! Bayarannya Dedy minta nanti malam di rumah baru,"kata Dewa menggerakkan kedua alis matanya.
Dengan sekali gerakan tubuh Nani sudah terangkat kemudian digendong menuju kamar mandi. Sambil mengisi bad up dilepaskan satu persatu baju yang menutupi tubuh Nani, serasa cukup Nani merendam tubuhnya dengan air hangat-hangat kuku. Dengan telaten Dewa memandikan tubuh istrinya. Tiga puluh menit ritual mandi selesai. Dewa menggendong kembali hingga ke kamar dengan masih memakai jubah mandi Dewa mengeringkan rambut dengan hair dryer. Nani memoles dengan make up tipis di wajah agar tidak terlihat pucat. Baju ganti sudah diambilkan Dewa. Pas baju mereka couple sangat serasi.Tidak lupa Dewa memasang syal senada menutupi leher Nani . Takut mereka akan lihat banyak tanda kepemilikan di sana.
Mereka turun melewati Delima yang sedang menata makanan di meja makan.
"Selamat kesiangan pengantin baru, sini kalian makan dulu," kata Delima mengulurkan piring ke arah Nani.
Nani mendekat dan menerima uluran piring tersebut.
"Terima kasih, Kak, " jawab Nani.
Disusul Dewa yang sudah duduk di samping Nani. Nani mengambil nasi serta lauknya dan diberikan pada Dewa. Tidak lupa mengisi piringnya sendiri dengan nasi beserta lauk.
__ADS_1
Mereka makan dengan diam, tanpa mereka sadari Delima sudah pergi menuju halaman tempat anggota keluarga berkumpul. Lima belas menit kemudian Dewa yang menjinjing tas tangan sedang sambil menggandeng tangan Nani keluar. Rangga mengulurkan kunci rumah ke Dewa.
"Kalian berjalan di depan terlebih dulu, kami akan mengikuti dari belakang," kata Rangga menjelaskan," Pak Agus, tolong bawakan tas yang dibawa Dewa!"
" Baik, Tuan," jawab Pak Agus segera menghampiri Dewa yang sudah menyerahkan tas dari tangannya.
"Terima kasih, Pak Agus, " kata Dewa santun.
"Sama-sama, Tuan," jawab Pak Agus .
Rombongan bergerak perlahan, mereka hanya berjalan kaki saja. Jarak rumah yang dituju kurang lebih hanya 500 meter saja.
Rumah tanpa pagar dengan dua lantai itu tampak luas. Melewati garasi menuju pintu utama Dewa membuka pintu. Pintu dengan warna putih dibuka lebar . Mereka di ruang tamu disambut sofa putih yang elegan. Nani membalikan badan mencari keberadaan Rangga. Rangga sedang menerima pesanan makanan dan minuman dari restoran. Nani berlari langsung memeluk tubuh Kakaknya dari belakang. Diam sejenak menikmati parfum yang menguar keluar dari tubuhnya.
"Hai, apa-apaan ini main peluk dari belakang!" kata Rangga agak keras.
"Terima kasih, Kak. Ini hadiah yang sangat istimewa buat Nani dan Mas Dewa, " jawab Nani sambil menempelkan pipinya nyaman di punggung Rangga.
"Itu belum seberapa, ada tiket bulan madu ke Bali selama satu minggu dan berangkat besok pagi," kata Delima yang sudah berada di hadapan mereka. Nani semakin mengeratkan pelukannya, mulai terdengar suara isakan pelan.
"Dik, lepaskan !" kata Rangga mengurai pelukan Nani, tetapi Adiknya tidak mau melepaskan.
"Kamu sudah bersuami, manja lah pada suamimu!" kata Rangga lagi.
"Kakakmu sudah menjadi milikku dengan tiga putra, maka akan aku pertahankan selamanya," kata Delima penuh canda.
Nani perlahan melepaskan pelukannya. Diseka sisa air mata dan tersenyum.
Delima menyerahkan amplop besar warna putih. Amplop itu dibuka ternyata tiket ke Bali serta denah perjalanan yang akan di tempuh. Nani memeluk Delima. Rangga melihat dua wanita dewasa yang sangat dicintai dan dijaga kehormatannya ikut memeluk keduanya. Mereka saling berpelukan.
Rumah Baru
__ADS_1