MUTIARA KEMBALI DALAM PELUKAN

MUTIARA KEMBALI DALAM PELUKAN
Bab 5 Terlambat Pulang ke Mes


__ADS_3

Tepat pukul 23.00 mobil yang dikendarai Rangga memasuki pekarangan mes. Mesin mobil di matikan. Tapi dua orang berlainan jenis itu belum mau turun. Rasanya enggan untuk berpisah. Waktu sehari yang dilalui bersama terasa belum cukup mengungkapkan rasa. Walau masih malu, pandangan mata bisa mewakili segalanya.


"Mas Rangga, Adik turun dulu," kata Delima memecah keheningan malam.


"Tunggu Dik, Kakak ingin bicara sebentar," pinta Rangga.


Tapi tidak ada suara yang terdengar. Rangga bingung untuk mengatakan yang ada di hatinya. Ia takut terlalu dini bila mengungkapkan yang sebenarnya.Sedangkan Delima menunggu dengan resah. Hati Delima tidak ingin mengetahui kenyataan sebenarnya, yang akan membuat hatinya semakin sakit. Tangan kanan sudah membuka pintu mobil, tiba-tiba.


"Dik Delima, terima kasih telah menemani Kakak malam ini. Kakak bahagia sekali setelah waktu 5 tahun yang Kakak sia-siakan. Jangan bertanya apa-apa dulu. Biarkan semua seperti air yang mengalir. Yang penting adik bahagia dan senang, Kakak akan mengusahakan. Kakak berharap keputusan ini tidak salah. Selamat tidur, jika Nani bertanya ceritakan semua. Dia juga sama seperti kamu adikku yang sangat ku sayangi, " kata Rangga memberi penjelasan.


Delima mencerna kalimat per kalimat. Tidak berhak bertanya tentang peristiwa dalam kurun waktu 5 tahun. Jika dirinya senang dan bahagia, sedangkan orang lain tidak bagaimana? itu egois namanya. Jika keputusan ini salah bagaimana? Siapa yang dirugikan? Selamat tidur? Bisakah dia tidur setelah peristiwa yang dialami seharian bersama Kak Rangga? Satu hal Kak Rangga hanya menganggap ku sebagai Adik yang sangat disayanginya. Delima berbicara pada dirinya sendiri. Problem dihadapinya saat ini. Pertentangan antara iya dan tidak.


Rangga telah membuka pintu mobil. Delima terkejut. Terpaksa turun walau pikirannya belum penuh. Tinggi tubuhnya hanya sebatas bahu laki-laki di hadapannya. Delima sadar ketika tubuhnya saling menempel. Kedua tangannya telah menahan dada bidang Kak Rangga.


"Dik Delima, ijinkan aku memelukmu," pinta Rangga menghamba.


Delima di depannya hanya mengangguk pasrah, karena tubuhnya serasa tak bertulang.


Setelah sesaat saling memeluk. Ada suara yang mengganggu keintiman itu.


"Sudah malam, besok bisa dilanjutkan lagi," kata Nani membuat jarak di antara mereka.


"Kalian masuklah, Kakak pulang dulu. Jangan lupa besok jam 8 Kakak jemput," kata Rangga memberi perintah.


"Baiklah, Kakak hati-hati di jalan," kata Nani.


" Dik Delima...," kata Rangga menggantung.


"Terima kasih, Kak Rangga untuk hari ini, " jawab Delima.


Rangga masuk ke dalam mobil. Kedua wanita yang sangat disayanginya sudah menutup pintu. Mobil dinyalakan dan berjalan membelah malam.


Delima membersihkan diri dan berganti dengan baju tidur, kemudian naik ke tempat tidur. Diraihnya 2 tas dan dibuka. Nani yang di sampingnya hanya diam. Dia tadi melihat Kak Rangga tersenyum bahagia membuat hatinya bungah.


"Nan, ini untuk kamu," kata Delima langsung menyerahkan 3 bungkus plastik.


"Terima kasih Delima, tanpa hadiah inipun aku sebenarnya sudah sangat senang," jawab Nani.


"Kamu tidak marah, aku pergi dengan Kak Rangga hingga larut dan meninggalkan sendiri di mes ?" tanya Delima.


"Delima kamu bahagia hari ini?" tanya Nani .


"Aku bahagia sekali, tapi semua merupakan kenangan masa kecil kami. Aku seperti menemukan kembali masa di mana saat itu bersama. Kakak yang melindungi. Kakak yang menuruti kemauan adiknya. Kakak yang penuh kasih dan selalu ingin memanjakan," kata Delima menerawang.


"Pergi ke mana saja kalian ? Kelihatannya waktu sehari tidak cukup," tanya Nani tersenyum menggoda.


"Kak Rangga mengajakku ke pantai," jawab Delima "Aku melihat sunset , indah sekali !" lanjutnya.


"Kamu juga memanggil Kak Rangga?" tanya Nani.


"Pak Rangga yang meminta demikian saat di luar resto," jawab Delima sambil menunduk


Nani mengangguk, kemudian meraih guling, menarik selimut sebatas perut. Delima mengikuti jejak Nani. Tapi apa, ada notifikasi masuk. Terpaksa diraihnya HP di atas nakas tempat tidur.


Prov. Rangga


Tadi Nani tanya-tanya


Prov. Delima


Iya Kak


Prov. Rangga


Sekarang Nani


Prov. Delima


Sudah tidur

__ADS_1


Prov. Rangga


Kok tidak ada panggilan Kakak


Prov. Rangga


Maaf Kak Rangga


Prov. Rangga


😀😀😀


Prov. Delima


Kenapa Kak Rangga tertawa


Prov. Rangga


Senang kamu panggil Kakak. Jadi ingat waktu kecil, kamu minta peluk kalau nangis


Prov. Delima


Ah Kak Rangga, Delima jadi malu


Prov. Rangga


😀😀😀


Prov. Delima


Kenapa tersenyum lagi


Prov. Rangga


Senang, tadi bisa peluk kamu, tapi belum bisa gendong kamu. Dulu kamu kalau ada anjing pasti minta gendong alasannya capek 😀😀😀


....


Prov. Rangga


Prov. Delima


Sekarang Delima sudah besar Kak. Pasti Kakak tidak kuat lagi


Prov. Rangga


Kamu meremehkan ku Dik


Prov. Delima


Kak sudah malam, Delima tidur dulu


Prov. Rangga


Iya


Selamat tidur semoga bertemu dalam mimpi


Delima meratakan punggungnya dengan tempat tidur empuknya. Matanya rapat terpejam. Tiba-tiba tampak gadis kecil rambut dikuncir kuda berpita dengan membawa setangkai mawar merah. Bunga kesukaannya.


Anak kecil itu berkata dengan menyerahkan bunga di tangannya.


"Mama,"


"Kamu memanggil Tante?" tanya Delima.


"Iya Tante. Boleh main sama Mama?"


Gadis itu menggandeng tangan Delima. Berceloteh riang. Delima mengambilkan boneka beruang di masa kecilnya. Ada perasaan hangat.

__ADS_1


Delima dengan gadis itu berlarian di taman yang penuh dengan bunga yang bermekaran.


*Datang cahaya putih berkilau. Mata Delima sampai menyipit. Cahaya itu berubah menjadi asap putih dan lama-kelamaan hilang. Seorang gadis cantik dengan baju putih panjang tersenyum.


"Salam Delima," sapa gadis cantik berbaju putih.


"Salam Kakak," kata Delima*.


"Jadilah Mama untuk anakku, aku titip sayangi dan rawatlah dia seperti anakmu sendiri," jelas gadis cantik berbaju putih.


Delima terkejut.Ia tidak mengenal keduanya. Baik anak kecil atau gadis berbaju putih.


Belum sempat Delima menjawab, tiba-tiba ada sebuah bom yang meledak. BOOMMM.


Anak kecil terkena ledakan bom dan hilang. Hanya ceceran darah merah yang membasahi tanah. Delima tidak percaya tidak percaya dengan apa yang dilihatnya.


"Tidaaakkkkkkkj!!!!"


Delima menangis tersedu-sedu. Keringat dingin membasahi dahinya. Tubuhnya sampai berguncang keras.


"Delima bangun, bangun Delima," teriak Nani ketakutan dan ikut menangis.


"Hiks....hiks...hiks....., " Delima terisak keras.


Nani menenangkan Delima. Disodorkannya segelas berisi air putih kepada Delima.


"Minumlah...".


"Kamu bermimpi apa sampai histeris seperti itu?" tanya Nani kemudian.


" Kasihan Nan, gadis itu meninggal terkena bom. Dan tubuhnya hancur. Darah berceceran ke mana-mana," kata Delima masih terisak.


Nani memenangkan Delima dengan memeluk dan menepuk-nepuk punggungnya.


"Sudahlah itu mimpi. Mimpi itu hanya bunga tidur dan jangan selalu dipercaya".


" Baiklah Nin, aku mau mandi dan sholat subuh karena waktu sudah menunjukkan pukul 05.00," kata Delima setelah melihat jam dinding.


Sarapan telah tersedia di meja. Nasi goreng dengan sosis dan telur dadar serta jus jeruk.


Tengar suara bel.


Ting Tong Ting Tong


"Biar aku aku yang buka," kata Nina berlari menuju pintu. Setelah membuka pintu Nina masuk bersama tamu di pagi harinya.


"Siapa Nin ? " tanya Delima dengan teriak.


Tanpa diketahui oleh Delima, dibelakangnya sudah berdiri Rangga Kakak Nina.


kata"Aku. Mau jemput kalian".


" O Kakak, mari sarapan bersama," kata Delima sambil memberikan piring dan sendok.


" Maaf Kak hanya nasi goreng," kata Delima," Kakak mau minum apa ?," lanjut Delima.


"Boleh minta kopi ?" tanya Rangga.


"Sebentar Kak, Nina buatkan," kata Nina berjalan menuju dapur.


Kopi terhidang dan mereka sarapan tanpa bersuara. Tampak kekakuan di meja makan. Setelah selesai Delima membersihkan gelas dan piring kotor.


Mereka bersiap-siap untuk berangkat. Tiba-tiba tubuh Delima melayang. Di saat terkejut tak sengaja kedua tangannya melingkar di leher Rangga. Rangga berbisik di telinga Delima.


"Kan ku buktikan aku kuat menggendong kamu!"


Muka Delima memerah dan ditelusupkan di dada Rangga. Malu. Yang dilakukan hanya diam. Hingga sampai di samping mobil.


"Turun sudah sampai!" kata Rangga berbisik.

__ADS_1


Delima turun dengan muka sangat memerah. Sepasang mata memperhatikan aktifitas dua insan berlainan ini. Mereka bak sejoli yang sedang dilanda cinta. Bagai Romi dan Yuli. Dunia indah bagi milik berdua.


__ADS_2