MUTIARA KEMBALI DALAM PELUKAN

MUTIARA KEMBALI DALAM PELUKAN
Bab 3 Berhutang Jawaban


__ADS_3

Setelah mandi pagi dan menjalankan sholat subuh, Delima enggan kembali ke tempat tidur. Ia membuat 2 gelas susu coklat dan 4 tangkap roti yang sudah diolesi selai kacang. Terus terang hari ini ia malas membuat sarapan. Kemudian membawa dan meletakkan di meja depan TV, duduk diambilnya remote memilih chanel menikmati acara berita pagi hari ini . Sejak semalam Delima tidak bisa tidur . Banyak sekali pertanyaan yang ingin diketahui jawabannya. Sebenarnya ingin menanyakan langsung kepada Nani, tapi tampak capek. Setelah mengganti dengan baju rumah. Nina langsung naik ke tempat tidur dan terlelap tanpa sepatah katapun. Tinggal Delima yang sibuk dengan pikirannya sendiri. Hingga pukul 2 baru terlelap. Dan menjelang subuh sudah terjaga kembali.


Tak berapa lama Nina datang dengan muka boboknya masih memakai baju semalam.


"Kelihatannya enak nih, boleh gabung Del ?" tanya Nani dengan muka manis.


"Silahkan Nan, duduk sini !" jawab Delima sambil menepuk sofa di sampingnya.


"Terima kasih, " kata Nani sambil mengambil satu tangkap roti dan langsung memasukkan dalam mulut


Hening.


Hanya suara televisi yang mendominasi ruangan yang berukuran 3 x 3 meter persegi.


Delima menatap Nani Ada keraguan . Tapi rasa ingin tahu itu cukup besar.


"Nan, boleh aku bertanya sesuatu padamu ?" tanya Delima pelan sambil memperhatikan gelas berisi susu coklat yang sedang dipegang dan diputar-putar sejak tadi.


"Boleh Del, silahkan!" jawab Nani dengan memperhatikan Delima.


"Apakah benar Pak Rangga itu kakakmu ?" tanya Delima ragu-ragu.


"Benar," jawab Nani singkat .


Delima teringat kemarin pagi Pak Rangga ingat betul menu pesanan makanan dan minuman Nyonya Centil. Sedangkan siang harinya ia menabrak Pak Rangga, Karena tergesa-gesa setelah melaksanakan sholat dhuhur.


"Apa hubungan Pak Rangga dengan resto tempat kita kerja ?" tanya Delima lagi .


"Resto tempat bekerja kita adalah usaha keluarga yang dirintis bersama istri Kak Rangga," Kata Nani lagi.


"Pak Rangga sudah beristri?" tanya Delima ada perasaan tak terima dan rasa kehilangan.


"Sudah, bahkan sudah memiliki anak," jelas Nani.


"Selama ini saya tidak pernah melihat Pak Rangga pulang ke rumah?" tanya Delima serius sambil melipat kedua kaki di atas sofa.


"Sejak kuliah, Kak Rangga hanya pulang sekali itu saja hanya dua hari," kata Nani sambil memasukan roti yang kedua.


"Mengapa aku tidak melihatnya?" tanya Delima serius.


"Apalagi kamu, aku yang adik Kak Rangga saja tidak bertemu," jawab Nani dengan ketus dan nada jengkel.


"Kamu ada di mana?" tanya Delima tidak percaya


"Pada waktu kita ada acara Tour Jakarta-- Bandung selama 3 hari," kata Nani menjelaskan.


"Apa setelah itu Pak Rangga juga tidak pulang lagi ?" tanya Delima penasaran.


"Tidak. Kami keluarga yang mengunjungi.Kak Rangga," kata Nani datar


"Apa alasannya malah kalian yang mengunjungi ?" tanya Delima tidak sabar.


"Tidak tahu itu keputusan bapak dan ibu," jawab Nina sambil menghabis susu satu gelasnya.


"Kapan kalian datang lagi mengunjungi Pak Rangga?" tanya Delima.


"Pertama saat Kak Rangga menikah. kedua saat baby girl lahir. Dan ketiga saat....," jelas Nani tak sanggup meneruskan kalimatnya.


"Dan ketiga saat apa Nina ?"" tanya Delima memegang tangan Nina.


"Saat istri Kak Rangga meninggal," jawab Nina dengan mata berkaca-kaca.

__ADS_1


"Istri Pak Rangga meninggal?" tanya Delima kaget.


"Iya, setelah melahirkan, Kakak Cantika mengalami koma. Keluarga sudah berusaha semaksimal mungkin. Dua tahun bertahan, tapi Allah lebih sayang, " kata Nani sambil menarik nafas dalam-dalam.


"Sudah berapa lama peristiwa itu terjadi?""tanya Delima serius.


"Lima tahun yang lalu," jawab Nani.


"Benarkah ?" tanya Delima tidak percaya.


"iya, kasihan Kak Rangga," kata Nani sedih.


Kepala Delima terasa berdenyut. Pelipis kanan dipijit pelan. Terngiang kembali dalam pikirannya semua cerita Nina tentang Pak Rangga. Kakak Nina. Sungguh tidak percaya.


"Ada apa Del, apa kamu sakit?" tanya Nani kemudian.


"Tidak, ayo kita bersiap sudah pukul tujuh," jawab Delima asal saja.


"Sebentar masih ada waktu," jawan Nina malas.


"Jangan begitu Nina, nanti Pak Rangga akan menjemput pukul delapan tidak sopan kalau beliau yang menunggu," kata Delima menjelaskan.


"Cie...cie.. cie... ada yang ingin dijemput cowok ganteng," goda Nina mencubit hidung Delima.


"Nina... Pak Rangga atasan saya, sudah bersusah payah menjemput hendaknya kita sudah siap ketika pak Rangga datang jangan malah beliau yang menunggu,"jawab Delima mengelak.


"Pacar juga tidak apa-apa, aku mau kok jadi adik ipar," ledek Nina


Dengan bersemu merah Delima berjalan cepat menuju kamar. Nani hanya tersenyum membayangkan jika suatu saat nanti Delima jadi kakaknya.


Delima yang duduk di depan meja rias fokus memandangi wajah tanpa make up. Alhasil yang nampak wajah Ronald. Mantan kekasihnya.


...N A N I...



Dua bulan setelah keberangkatan Ronald- pacarnya dan Lisa - sahabat kecilnya. Delima mendapat pesan singkat lewat WA.


Ronald.


Delima bagaimana kabarmu


Delima.


Aku baik. Keadaan kamu bagaimana


Ronald.


Baik kok


Delima .


Ronald kamu kangen aku


Ronald.


Delima. Maafkan aku


Delima.


Ada apa

__ADS_1


Ronald.


Aku masih sayang kamu. Tapi mungkin kita tidak jodoh. Kita sebaiknya bersahabat saja. Maaf🙏


Delima.


Kau sudah melupakan aku Ronald.


Ronald.


Aku tidak bisa melupakan kamu. Kamu cinta pertamaku. Kamu yang membuat aku merasa dimiliki.


Delima.


Ada orang lain Ronald


Ronald.


Maafkan aku Delima. Lisa sangat baik, perhatian, dan membantu saat ada tugas-tugas. Lisa mengerti yang aku inginkan.


Delima.


L I S A


Ronald.


Iya Delima, maaf. Bukan salah Lisa. ini salah aku.


Ronald.


Delima ( sengaja tidak dibaca delima )


Ronald.


Delima kamu sudah tidur ( sengaja tidak dibuka delima )


Delima membuang hp di samping tidurnya. Iya tidak percaya, apa yang ditakutkan selama ini menjadi kenyataan. Cinta Jarak Jauh alias LDR membuat dirinya kehilangan Ronald. Ada yang hilang disalah satu sisi hatinya. Kenangan saat bersama. Di sekolah, di rumah, selalu pulang dan berangkat sekolah bersama. Ronald paling senang ketika makan selalu minta disuapi. Suatu saat ketika di salah satu lesehan, Ronald minta disuapi. Belum setengah makanan habis, terdengar celetuk anak kecil.


"Kakak, mengapa sudah besar makan minta disuapi sih," tanya Adik kecil yang melihat tidak percaya.


"Maaf Adik, Kakak ini tangannya sedang sakit jadi tidak bisa makan sendiri," jawab Delima sekenanya.


Adik yang mendengar jawaban Delima hanya mengangguk dan pergi. Ronald cemberut dan mencubit pipi Delima. Semua itu tidak membuat dirinya tersenyum, malah menangis terisak.


Pundak Delima ada yang menyentuh, membuat menoleh memandang yang empunya.


"Mengapa menangis lagi ?" tanya Nani cemberut.


Delima hanya menggeleng malas untuk menjawab. Kemudian berdiri berganti seragam resto. Pas banget. Rambut panjang yang diikat ekor kuda serta polesan bedak tipis dan lipstik merah muda cocok dengan baju seragam.


"Ayo berangkat Kak Rangga sudah menunggu di teras !" kata Nani sambil mengambil tasnya.


"Apa, Pak Rangga sudah menjemput? ," tanya Delima terkejut. "Belum ada jam 8," lanjut Delima sambil melihat jam di tangan.


"Kak Rangga sudah tidak sabar bertemu dengan kekasih kecilnya yang sekarang sudah berubah menjadi bidadari cantik tanpa sayap," goda Nani.


"Nani, jangan bercanda. Jika ada yang tidak suka jadi bermasalah dengan pekerjaan kita," jawab Delima serius.


"Maaf, saya hanya bercanda," jawab Nani sambil merapatkan kedua tangannya di depan dada.


Delima tersenyum kemudian menggandeng tangan Nani mengajak berangkat. Sampai di teras Rangga berdiri memandang sekilas kedua gadis di depannya, lalu melangkah menuju mobil. Delima dan Nani mengekor di belakang Rangga.

__ADS_1


Duduk di bangku mobil bagus membuat nyaman Delima. Dirinya semalam sulit tidur. Paginya teringat Ronald membuat lelah jiwa dan raga. Lelap. Berada di awan putih yang lembut dengan angin semilir.


__ADS_2