MUTIARA KEMBALI DALAM PELUKAN

MUTIARA KEMBALI DALAM PELUKAN
Bab 12 Rencana Lamaran Tertunda


__ADS_3

Lampu hijau dari Mama Martha membuat hati Delima mantap memilih Rangga untuk menjadi suaminya. Walau Delima pernah berucap mengungkapkan keraguannya kepada Rangga .


Prov. Delima


Sepulang dari Resto, Rangga mengajak Nani dan Delima untuk berjalan-jalan di taman kota.


Rangga berencana hari Minggu besok akan membelikan cincin pertunangan mereka. Hati Delima ragu. Takut tidak mampu menjadi ibu sambung bagi Angel. Meskipun dia sendiri mempunyai tiga orang adik, tapi tidak pernah mengurus langsung mereka. Selain itu usianya terpaut jauh dari Kak Rangga. Kak Rangga akan terbebani dengannya yang belum bisa berpikir dewasa.


"Sayang, semua memerlukan proses tidak instan," kata Kak Rangga meyakinkan tentang keraguan Delima.


"Jalani saja dulu Delima, aku tahu kamu mampu karena kita sudah bersama sekian tahun lamanya. Kepribadian yang kamu miliki, kelembutan, dan kesabaran seperti Mama yang akan menjadi modal untuk mengarungi mahligai rumah tangga bersama Kak Rangga," kata Nani sahabatnya sejak kecil.


"Sayang, aku akan berusaha mengerti dan percaya padamu, beri juga kepercayaan pada Kakak bahwa keluarga di atas segalanya. Insyallah Kakak tidak akan menduakan Delima sayangnya Kakak," kata Kak Rangga sekali lagi.


Malam itu terlewati hanya untuk meyakinkan Delima. Mereka pulang ketika hari sudah larut.


Bismilah. Delima mulai yakin akan menerima lamaran Kak Rangga secara resmi di hadapan keluarganya dan keluarga Kak Rangga.


Minggu pagi sekitar jam 10.00 Kak Rangga datang bersama Angel. Kak Rangga berpenampilan cool banget. Dengan kaos polo warna biru telur asin dipadukan celana kain biru dongker. Wajahnya tampak halus jambang, kumis, dan jenggotnya tidak nampak mungkin baru dibersihkan beberapa jam yang lalu. Sedangkan Angel, hari ini ia ceria sekali. Baju yang di pakai bergambar Mini dan Micky senada dengan sepatu Ket mungilnya. Kelincahannya membuat Delima dan Nani menjadi gemes.


Delima sudah siap untuk berangkat. Nani tidak bisa ikut karena ada janji dengan teman.


Sampai di hadapan Kak Rangga Delima meminta pendapat tentang penampilannya.


" Kak Rangga, Delima cocok tidak pakai baju ini?"


"Cocok dan cantik sekali sayang,, Kakak lebih suka kamu tidak pakai apa-apa, " kata Rangga memberi komentar sedikit menjurus.


"Kakak, ada anak kecil!" kata Delima mengingatkan Tangga.


Rangga melihat Angel yang sedang asik melihat-lihat gambar di majalah wanita milik Nani adiknya


"Mama tidak pakai apa Pa ?" tanya Angel tanpa memindahkan pandangannya dari dari gambar yang dilihat ke wajah Delima


"Tidak memakai bulu mata, maskara, ataupun eyeliner," kata Rangga memberi penjelasan.


Angel memperhatikan wajah Delima dengan seksama. Dari wajah ke bawah badan dan kaki.


"Wajah Mama Delima Cantik sekali, Angel suka dan sayang banget," kata Angel memujinya.


Akhirnya mereka berangkat. Menuju mall sesampainya di toko perhiasan Rangga meminta pelayan menunjukkan sepasang cincin pernikahan. Di ambilnya sekotak yang terdiri dari beberapa pasang cincin pernikahan.


Angel tak kalah eksis. Ia meminta Rangga untuk mendudukkan di kursi yang tinggi.


"Ini bagus, Ma," kata Angel menunjuk sepasang cincin silver polos.


__ADS_1


"Iya, pilih ini saja ya Kak, boleh?" tanya Delima.


"Mbak, coba yang ini!" tunjuk Rangga.


Sepasang cincin diambil dan dicoba di tangan Delima dan tangan Rangga. Pas.


"Saya ambil ini !" kata Rangga sambil


menyerahkan Black Card. Setelah transaksi. Pelayan mengembalikan Black Card. Cincin dan tempat cincin dari bahan beludru berwarna merah berbentuk love diberikan kepada Rangga.


Setelah membeli cincin, mereka mampir di KFC untuk makan siang. Delima memesan tiga nasi,


dua ayam goreng pedas, dan satu ayam goreng original. Dengan tiga lemon tea . Ketika sedang menikmati makan siang suara menyapa Rangga.


"Hai, benarkah kamu Rangga?" sapa Nancy dengan suara manja.


Yang disapa mendongakkan kepala. Matanya menyipit menandakan ia sedang berfikir. Ketika ingat senyum mengembang di bibirnya.


"Kamu Nancy ? Ayo duduk!" kata Rangga ramah


"Halo Cantika, kamu lupa padaku? Aku Nancy kamu tampak lebih muda dan cantik," puji Nancy terpana. Yang disapa hanya diam. Delima memandang Rangga untuk meminta penjelasan. Wajah Rangga tampak memucat bingung untuk menjelaskan. Dipandangnya Angel. batal untuk bertanya karena Angel berbicara dulu.


"Tante, ini bukan Mama tapi Tante Delima!" kata Angel.


"Maaf, saya Nancy sahabat Cantika," kata Nancy.


" Di mana Cantika Rangga, mengapa tidak ikut?" tanya Nancy berikutnya. Dengan pelan Rangga menjelaskan.


"Cantika meninggal dua bulan setelah melahirkan Angel," kata Rangga dengan suara serak.


"Maaf, saya tidak tahu," kata Nancy ," Saya permisi dulu ".


Kepergian Nancy menyisakan kecanggungan.


"Sayang, mohon beri kesempatan pada Kakak menjelaskan semuanya," pinta Rangga dengan memegang tangan Delima.


"Iya, Kak. Mari kita lanjutkan makannya," kata Delima sangat tenang.


Rangga belum melepaskan tangan yang memegang tangan Delima. Semakin erat pegangannya. Mata Rangga lekat memandang mata Delima. Hendak berbicara banyak.


"Ayo, Kak kita lanjutkan makannya," kata Delima mengajak Rangga makan kembali. Rangga mengangguk pelan.


Ketika sudah selesai, mereka langsung pulang. Tangan kanan Delima menggandeng Angel, sedangkan tangan kirinya tidak lepas dari genggaman Rangga.Seakan takut Delima lari meninggalkannya. Angel minta duduk di depan dan dipangku Delima. Tidak sampai lima menit Angel tertidur, karena memang sudah waktunya istirahat siang. Di dalam mobil pun, tangan Rangga tidak mau melepaskan genggaman tangannya. Pandangan Delima tertuju pada luar jendela. Meskipun diam, sebenarnya banyak yang ingin ia tanyakan. Mencoba memahami situasi. Mobil yang dikendarai berjalan pelan, karena Rangga mengemudikannya dengan satu tangan. Arah mobil berlainan arah, tidak menuju mes tempat Delima


"Kak, mengapa ke mari? " tanya Delima.


"Kita tidurkan Angel dulu di rumah, setelah itu Kakak antar kamu pulang. Kamu tidak keberatan kan?" kata Rangga menyampaikan pemikirannya.

__ADS_1


"Terserah Kakak saja, Delima ikut," jawab Delima.


Sesekali Rangga menoleh menatap Delima. Yang diperhatikan memejamkan mata. Entah tertidur atau enggan diajak bicara oleh Rangga.


Fokus pada jalan agar segera sampai rumah.



Mobil memasuki gerbang yang menjulang. Sebuah rumah bercat putih gaya Eropa berdiri kokoh. Delima sangat mengaguminya. Rangga membuka pintu kemudi pelan. Berlari memutari mobil dari depan. Dibukanya pintu penumpang depan. Tangan Rangga meraih tubuh mungil Angel. Wajah Rangga hampir menempel muka Delima sebelah kiri.


"Sayang, aku mencintaimu," kata Rangga.


Sebuah kecupan lembut mendarat di pipi kiri Delima. Angel sudah berada di gendongan Rangga. Delima keluar dengan perasan jengkel yang dipendamnya. Rangga mengunci mobil dan Delima mengikuti dari belakang. Andai kata-kata dari Rangga yang baru saja ia dengar sebelum tahu bahwa wajahnya mirip Mbak Cantika, mungkin membuatnya melambung tinggi. Tapi Delima sekarang sudah tahu bahwa kemiripan itu membuatnya marah pada keadaan.


Duk


Tubuh Delima membentur sosok tinggi besar dihadapannya. Rangga menoleh.


"Kalau jalan jangan melamun," kata Rangga mengingatkan. Delima malas menjawab. Hanya mengangguk saja. Pintu dibuka. Ruangan di dalamnya membuat Delima terkesima.


"Ikut Kakak ke kamar Angel," kata Rangga.


Delima mengikuti dari belakang. Kamar Angel berada di lantai dua. Pintu bercat merah muda dengan gambar princess serta tulisan Angel di hadapannya. Rangga memberi isyarat kepada Delima untuk membuka. Rangga masuk meletakkan tubuh putrinya. Pandangan mata Delima menyapu ruangan bernuansa merah muda dengan pernak-pernik seorang princess.


...CANTIKA...



Matanya berhenti pada foto berukuran besar Kakinya melangkah mendekat hanya berjarak satu meter di hadapannya. Seperti cermin. Pantulan pada foto itu mirip wajahnya, Dengan memakai gaun putih. Rambut dibiarkan tergerai dengan memakai mahkota. Cantik sama seperti namanya CANTIKA. Delima terkejut ketika tubuhnya ada yang memeluk dari belakang..


"Sayang, dia Cantika istri yang sangat aku cintai. Sosok istri yang lembut dan baik hati, mau menemaniku berjuang dari aku tidak mempunyai apa-apa. Cantika seorang Mama tapi belum pernah merasakan menjadi Mama. Tuhan lebih menyayanginya. Mengambil dari kami orang-orang yang mengasihinya," kata Rangga sendu. Setetes air mata jatuh di pundak Delima. Kepala Rangga bersandar nyaman di situ. Delima hanya diam sebagai pendengar.


"Maaf Ma, Papa bawa Delima ke rumah ini untuk menemani Papa dan Angel. Semoga Mama suka akan pilihan Papa. Papa minta restu Mama Minggu depan akan melamar Delima untuk segera menjadi istri Papa," kata Rangga dan berhenti karena isak tangis dan air


mata jatuh membasahi baju Delima.


"Kak Rangga, di depan foto Mbak Cantika saya mohon batalkan rencana lamaran Kakak. Delima tidak mau menjadi bayangan Mbak Cantika. Semua ini akan jadi beban Delima seumur hidup," tidak ada suara tangis tapi sebutir air mata jatuh menimpa tangan Rangga.


Rangga segera membalik tubuh Delima hingga mereka bertatapan.


"Sayang, Kakak mohon jangan pernah meninggalkan Kakak lagi. Wajah kalian memang mirip. Tapi cinta Kakak pada kalian tidak sama. Kamu cinta pertama Kakak. Cinta yang Kakak bawa hingga dewasa. Kakak terlalu pengecut hingga tidak berani mengambil sikap


memintamu menjadi istri pada waktu itu. Pada Cantika cinta Kakak tumbuh seiring berjalannya waktu. Ketika kami merasa cocok memutuskan untuk bersama. Delima sayangnya Kakak, temani kakak dalam sisa umur ini, " kata Rangga putus asa. Pelukan Rangga semakin erat. Delima terdiam lama. Dengan pelan Delima melepaskan pelukan tubuhnya.


"Keputusan Delima sudah bulat ,Kak. Tolong antar delima pulang ke mes lagi," kata Delima sudah mantap.


Langkah Delima menuju pintu hendak keluar kamar. Rangga mengekor dari belakang. Untuk mengantar Delima pulang.

__ADS_1


__ADS_2