
Namaku Angel Putri Wibisono putri dari Rangga Dirgantara Wibisono dan Cantika Aurora. Sejak kecil aku diasuh serta tinggal dengan Oma Martha dan Opa Fandy. Papa sangat sibuk mengelola bisnis kuliner milik keluarga sehingga membuatnya sangat sibuk sehingga jarak antara Papa Rangga dan aku sangat jauh. Akan tetapi apabila punya waktu untuk bersama menjadikan Papa sebagai Dady idaman. Waktunya hanya untuk aku. Dari tidur selalu bersama, mengajakku jalan-jalan, mendengarkan semua keluhanku, atau mengabulkan jika aku menginginkan sesuatu. Mama Cantika adalah Mamaku. Aku selalu tanya tentang Mama. Cerita Oma Martha, Mama sangat cantik, halus, dan baik budi. Karena aku hanya bisa melihat foto berukuran besar di kamar Papa. Jika aku tidur dengan Papa selalu diceritakan tentang Mama. Wajahnya seperti aku. Ketika Papa memelukku terasa seperti memeluk Mama. Papa tidak suka bila melihatku menangis. Papa tidak ingin Mama menangis di surga sana. Mama dan Papa saling mencintai. Kehidupan dimulai dari nol hingga mencapai kesuksesan. Oleh karena itu ketika Mama meninggal saat melahirkan aku. Papa tidak menikah sampai saat ini. Meski aku selalu merengek ingin ketemu Mama. Pada akhirnya Oma Martha dan Papa mengajakku ke makam Mama. Di Makam Mama Papa selalu menangis. Menceritakan tentang Angel putri Wibisono, putrinya yang cantik seperti Mama. Yang lincah seperti kelinci putih yang kecil, binatang kesukaan Mama. Pokoknya semua mirip Mama. Sebelum pulang Papa pasti mencium nisan Mama.
Usiaku kini sudah 5 tahun. Aku akan masuk Sekolah Taman Kanak-kanak atau TK. Hari ini Papa berjanji akan mengantarkan aku untuk mendaftarkan sekolah. Tepat pukul 08.00 aku dan Oma Martha sudah sampai di Resto di antar oleh sopir, tapi mobil Papa Rangga tidak kelihatan. Aku dan Oma Martha jalan berkeliling resto. Ada kolam ikan di sana. Aku berlari menuju taman. Sebuah ayunan memanggilku untuk menaikinya. Setelah puas aku berlari ke sangkar burung. Ada burung besar berwarna putih. Burung itu bisa meniru semua ucapan ku. Capek berkeliling Oma Martha mengajakku kembali ke depan. Menunggu Papa datang. Tak berapa lama terdengar suara mobil berhenti. Kulihat seperti mobil Papa. Aku melihat Papa Rangga turun dari mobil. Sambil berlari aku dengan keras memanggilnya.
...Angel ...
"Papa".
"Angel, kamu sudah datang ?" tanya Rangga
menyambut Angel dengan pelukan dan langsung di gendong. Angel mencium pipi kanan dan kiri Rangga dengan senyum.
"Papa dari mana?" tanya Angel sambil memeluk leher Rangga.
"Papa tadi menjemput Tante Nani dan Tante Delima dulu," jawab Rangga. "Ayo Papa kenalkan".
"Angel ini Tante Nani, Tante Nani ini adik Papa,"" kata Rangga. "Nani, ini Angel anak Kakak juga keponakanmu".
"Halo Angel," sapa Nani.
"Salam kenal Tante Nani," kata Angel sambil mencium tangan Nani.
"Angel ini Tante Delima, teman Tante Nani," kata Rangga mengenalkan juga pada Delima.
Angel minta turun dari gendongan Rangga. Berjalan pelan sambil melihat ke arah Delima, kemudian memeluk kaki Delima sambil berbisik.
"Mama".
Delima langsung terbengong. Delima melihat reaksi Kak Rangga. Rangga tersenyum haru.
__ADS_1
Delima jongkok mensejajarkan tinggi dengan Angel.
"Angel sayang, ini Tante Delima ," kata Delima mengenalkan diri. Tapi hatinya ikut bergetar setelah melihat wajah Angel. Seperti tidak asing baginya. Kelihatannya ia perah bertemu. Tapi saat di mana ? Wajah itu. Rambut di kuncir kuda. tapi ia tidak membawa bunga mawar. Delima ingat sekarang. Sama seperti di mimpinya. Di luar dari kesadarannya. Delima langsung berdiri dan mundur ke belakang. Ia jadi ketakutan dan berkeringat dingin. Di dahinya keluar bulir-bulir keringat membuat wajahnya menjadi pucat.
Rangga terkejut mengetahui keadaan itu.Untuk menghindari hal yang tidak memungkinkan, Rangga mengenalkan pada Oma Martha.
"Ma, ini Nani adik Rangga dan itu Delima teman Nani dari Semarang. Mereka bekerja di Resto ini," kata Rangga mengenalkan diri.
"Salam kenal Oma Martha," jawab Nani dan Delima bersamaan.
"Salam kenal juga," jawab Oma Martha.
Delima dan Nani tampak canggung dengan Oma Martha, mata mereka saling memandang.
"Permisi Pak Rangga kami masuk dulu ke Resto," kata Nani dan Delima menunduk hormat. Rangga hanya tersenyum dan mengangguk.
"Ayo Ma , Angel , kita berangkat," kata Rangga sambil menggandeng tangan Angel menuju mobil. Rangga membuka pintu belakang penumpang. Angel langsung duduk dengan manisnya. Kemudian membuka pintu depan untuk Mama Martha.
"Iya , nanti kita kesiangan," jawab Mama Martha masuk dalam mobil.
" Pa, Mama tadi namanya siapa ?"
"Namanya Tante Delima, " kata Rangga "Dia bukan Mama, " lanjut Rangga.
"Cantik ya Pa!" kata Angel memuji.
"Dia pegawai barumu, Nak?" tanya Mama Martha.
"Iya Ma, teman Nani baru beberapa hari di sini" lanjut Rangga.
" Tante Nani itu adik Papa ? Apa tinggalnya dengan Mama ?" tanya Angel.
__ADS_1
"Tante Nani adik Papa dan Tante Nani tinggal dengan Tante Delima," jawab Rangga.
"Asik..., Pa nanti main ke rumah Tante Nani ya?" tanya Angel.
"Kapan-kapan saja Papa sedang sibuk," jawab Rangga menutupi rasa kegugupannya.
"Kalau kamu ke sana, Mama ikut ya Nak ? " kata Mama Martha tidak dapat menutupi rasa ingin tahunya.
Perbincangan terpotong ketika mobil Rangga memasuki halaman parkir sebuah sekolah.
Mereka ke luar hingga disambut ibu guru. Dibawa ke sebuah ruangan dan bertemu dengan pimpinan Yayasan. Setelah mendaftar mereka pamit pulang dan mulai masuk Minggu depan. Rangga mengantar Mama Martha dan Angel pulang, Rangga minta ijin pada Mama Martha.
"Ma, setelah ini Rangga mau meeting di luar kota dan pulangnya Malam hari".
"Hati-hati di jalan. Mama dan Angel menunggu di rumah," Kata Mama Martha.
Setelah sampai di rumah, Rangga menurunkan Mama Martha dan Angel. Angel melambaikan tangan dan lambaian tangan dibalas oleh Rangga. Jendela mobil ditutup. Mobil kemudian meninggalkan rumah menuju jalan raya.
Prov. Rangga
Di perjalanan Rangga teringat peristiwa saat Delima menatap Angel. Wajahnya nampak terkejut, kemudian berubah menjadi pucat. Keringat muncul di dahinya. Saking terkejutnya langsung berdiri hingga mundur beberapa langkah ke belakang. Kalau dilihat dari reaksi Delima, Rangga tahu itu dengan jelas.
Mengapa ?
Pertanyaan itu sejak tadi terus menari-nari dalam pikirannya. Delima baru pertama bertemu dengan Angel sama sepertinya, mungkinkah Delima pernah berjumpa juga dengan Angel tanpa sepengetahuannya. Tapi di mana ? Angel tidak pernah ke luar rumah tanpa Mama Martha. Apalagi tadi Mama Martha juga kelihatan baru bertemu pagi ini . Rangga akan menanyakan kepada Delima, tapi tidak hari ini. Pekerjaan yang harus didahulukan membuat Rangga mengurungkan niatnya.
Tin. Tin. Tin.
Rangga kembali pada kesadaran diri dari lamunannya. Lampu lalu lintas sudah berwarna hijau. Di depan hotel berbintang lima sudah nampak. Mobil di arahkan ke kiri dan masuk area parkir. Masih ada waktu satu jam. Rangga akan cek in untuk istirahat sebentar. Setelah dari meja resepsionis naik melalui lift menuju kamar. Sampai di depan pintu 1507 pelayan hotel memberikan kunci.
" Mas, tolong satu jam lagi saya dibangunkan. Ada meeting dengan klien di meeting room," kata Rangga memberitahukan niatnya.
__ADS_1
" Baik Tuan," kata pelayan hotel sambil menunduk.
Rangga meletakkan tas di tempat tidur, duduk dan membuka sepatu serta kaos kaki kemudian mandi. Setelah mandi direbahkan tubuhnya yang lelah hingga hitungan menit lelap dalam mimpi.