
Sepulang dari restoran Rangga sudah ditunggu istri dan anak-anak tercintanya. Mereka bermain di taman samping rumah, Delima duduk di kursi bandul taman. Majalah Ibunda ada di tangannya, Angel naik sepeda ditemani suster.
" Selamat sore, Mama," kata Rangga menyapa.
" Sore, Pa. Sudah pulang ?" tanya Delima berdiri dan menyambut tangan Rangga dan menciumnya dengan takzim.
" Bagaimana kabar baby Papa ?" tanya Rangga mengelus perut Delima.
" Baby twins baik, Pa. Tidak rewel seharian, makannya banyak dan minum susu habis dua gelas, " kata Delima dengan senyum.
" Pintar anak Papa, yuk masuk
kamar, " kata Rangga sudah melingkarkan tangan di pinggang Delima yang sudah lebar.
" Mama dan Papa ke kamar, Angel dengan suster ya ?" kata Delima pada Angel.
" Iya, Ma ," jawab Angel.
Di kamar Delima menyiapkan baju ganti untuk Rangga, sedangkan Rangga sudah masuk kamar mandi.
Rangga keluar hanya dengan handuk putih yang melilit pinggang, air masih menetes dari rambutnya menambah kegantengannya. Ia mengambil baju ganti yang sudah disiapkan untuk dipakai.
Delima mengambil hairdryer sebagai pengering rambut Rangga, sedangkan
Rangga duduk di kursi rias menghadap ke Delima yang sedang mengeringkan rambutnya, tangannya melingkar di pinggang Delima. Tak henti-hentinya menciumi gemas pada perut Delima seolah ada baby twins di hadapannya.
" Papa, sedang di keringkan rambutnya jangan banyak gerak dulu, " kata Delima.
" Iya, Ma ," jawab Rangga menurut.
Setelah selesai mereka ke luar menemui Angel yang sudah di meja makan.
" Malam, Princess Papa, " kata Rangga duduk di depan Angel.
" Malam juga, Pa," jawab Angel.
" Ayo kita makan, " kata Rangga.
Delima mengambilkan nasi beserta lauknya begitu juga dengan piring Angel diisi nasi dan lauk yang tidak pedas, kemudian untuk dirinya sendiri. Mama Martha masih menemani Monica. Mereka makan dengan diam, sehingga cepat selesai.
" Papa, Angel duluan ke kamar. Tugas dari Bu Guru belum selesai, ' kata Angel.
" Mari Mama temani mengerjakan tugasnya, " kata Delima berdiri.
" Terima kasih, Mama. Angel mau mengerjakan di temani Suster saja. Kasihan baby twins jika naik turun tangga, " kata Angel berjalan menuju kamar diikuti Susternya.
" Angel semakin mandiri," kata Delima.
" Ia akan jadi Kakak dari dua adik laki-laki, " kata Rangga menambahi pendapat Delima.
" Sayang, Nani sekarang sudah punya teman laki-laki, " kata Rangga.
" Oya, siapa dia ,Kak ?" tanya Delima terkejut.
" Namanya Dewa, Dia teman relasi dari Malang, " jawab Rangga.
" Mereka berpacaran ?" tanya Delima.
__ADS_1
" Belum, baru pendekatan itu saja Nani selalu me ricek telpon dan tidak membalas WA Dewa ," jawab Rangga.
" Kak, Nani sudah dewasa. Tolong beri dia sedikit kebebasan untuk berteman. Kasihan Dia waktunya habis di restoran dan kuliah, belum lagi jika Kakak menunjuk Nani bertemu relasi di luar kota ," kata Delima membela sahabat kecilnya.
Jam dinding berdentang sembilan kali.
" Ayo kita lanjutkan di kamar, karena sebentar lagi Nani pasti datang," kata Rangga meraih tangan Delima. Mereka bergandengan tangan menuju kamar tidur.
Prov. Rangga
Tiga hari dari kedatangan Nani ke Malang, Rangga yang datang langsung meneliti ulang management dari Taman Indie Resto Malang. Sehari berikutnya Ia mengunjungi Javanine Restoran, China Restoran, dan Melati Restoran untuk melihat perkembangan tukar kuliner yang dilakukan Nani adiknya.
Setelah pagi bertemu Javanine Restoran dan siang hari dengan China Restoran, malam nanti Rangga sudah membuat janji dengan Dewa Wibisono Gunawan pemilik Melati Restoran.
Malam ini Rangga berjanji berkunjung di Melati Restoran. Baru sampai di tempat parkir, Rangga sudah melihat ada seorang pria muda berdiri di pintu. Di depan resto Rangga sudah disambut Dewa dengan stelan warna biru dipadu dengan baju putih tidak ketinggalan kaca hitam sebagai settle anak anak muda sekarang.
" Selamat datang di Melati Restoran, Pak Rangga, " kata Dewa Menundukkan kepala dengan dengan menempelkan tangan kanan di dada kiri sebagai tanda hormat.
" Terima kasih, Perkenalkan saya Rangga dari Java Restoran. Maafkan saya tidak bisa datang hari itu dan mewakilkan Nona Nani, " kata Rangga santun.
" Tidak mengapa, Pak Rangga. Inilah Melati Restoran, kami menyediakan aneka jajanan dari buah apel. Kemarin kami mencoba jajanan yang ditawarkan Nona Nani, teryata peminatnya sangat banyak," kata Dewa menjelaskan.
" Baguslah kalau begitu, " jawab Rangga.
" Silahkan duduk, Pak Rangga," kata Dewa menggeser sebuah kursi untuk duduk Rangga.
" Terima kasih," jawab Dewa.
" Usia Anda berapa kalau boleh tahu ?" tanya Rangga.
" Usia saya 25 tahun, Pak Rangga," jawab Dewa.
" Ini hanya memanfaatkan dari hasil kebun milik Bapak. Industri rumahan dilatih oleh para ahlinya membuat jajanan dari buah apel, kemudian saya hanya menjualnya saja, " jawab Dewa.
"Apakah Taman Kebun Apel Malang itu milik Bapak Anda ? " tanya Rangga kembali.
" Dulu iya, karena Bapak sudah tua mempercayakan Saya dan Kakak perempuan untuk meneruskan. Kakak menikah kemudian tinggal di Bandung ikut suaminya, jadi sayalah yang harus mengelolanya, " jawab Dewa menjelaskan.
" Anda sudah mapan dalam pekerjaan, pasti istri dan anak Anda
hidup bahagia, " kata Rangga menutupi jati dirinya.
" Saya belum berkeluarga, " jawab Dewa malu.
" Belum ada yang cocok ?" tanya Rangga.
" Sebenarnya sudah, tapi gadis itu masih mengejar cita-citanya. Ia tidak ingin mengecewakan keluarga terutama Kakaknya, " jawab Dewa.
" Sabar, Pak Dewa Pepet terus jangan sampai lepas ," kata Rangga.
DEWA
" Papa malah melamun, katanya mau cerita tentang Dewa, " kata Delima mengagetkan Rangga.
Rangga membawa tubuh istrinya ke tempat tidur dan melanjutkan lagi.
__ADS_1
" Hari Minggu besok kita tidak ada kegiatan di luar, sebab Dewa sengaja datang untuk berkenalan dengan kita.
Tolong jangan beritahu Nani dulu kita beri kejutan, " kata Rangga menceritakan sebenarnya.
" Bagaimana dengan perasaan Nani sendiri?" tanya Delima.
" Sebenarnya kagum pada Dewa, Kakak tahu saat melihat Vidio Dewa membawakan lagu untuk Nani, " kata Rangga, " Dewa juga memberi sebuah cincin saat Nani Papa tugaskan ke Malang satu Minggu yang lalu ".
" Pantesan waktu itu Nani bertanya arti seorang pria memberikan cincin kepada wanita yang dikenalnya, "kata Delima .
" Apa jawabanmu, Sayang ?" tanya Rangga.
" Tandanya cowok itu akan serius pada hubungannya hingga ke pelaminan, " jawab Delima, " Tapi dulu Mama tidak pernah diberi cincin oleh Papa, berarti Papa tidak serius atas hubungan kita dulu ?"
" Beda ,Sayang. Papa bukan seorang perjaka melainkan seorang Duda
dengan satu anak perempuan. Waktu itu ada perasaan takut Mama menolak cinta Papa, " kata Rangga malu telah mengatakan
rahasianya, " Mama Martha mempunyai ide memberikan cincin permata itu sebagai tanda keseriusan".
" Tapi Kakak serius mencintai
Mama ? " tanya Delima.
" Ini bukti cinta Papa, tidak hanya satu melainkan langsung dua. Jagoan penerus bisnis kuliner Papa Rangga, " jawab Rangga bangga.
" Kak, beri sedikit kepercayaan pada Nani. Dia sudah dewasa perlu orang lain untuk tempat berbagi keluh kesah
dan bertukar pendapat, karena kalau dengan keluarga sendiri ia akan tetap setuju. Ia anak yang patuh pada orang yang dianggap tua.
" Kakak berharap Nani jadi orang sukses dahulu setelah itu baru memikirkan kekasih, " kata Rangga.
" Sukses kalau diraih secara bersama akan ada kesan tersendiri, " jawab Delima.
" Sama seperti aku dan Cantika, Dia menemani Kakak saat belum mempunyai apa-apa, tapi tidak pernah mengeluh sedikitpun. Banyak kenangan di antara kami. Sampai saat ini masih terasa dan luar biasa, "
kata Rangga.
" Tidak seperti Aku, ketemu dengan Kakak semua sudah ada dan tinggal menikmati dan menghabiskan saja, " kata Delima menggeser tubuhnya menjauhi Rangga.
Rangga baru sadar jika perkataan yang baru diucapkan tidak seharusnya dikatakan di depan Delima. Sekarang wajah istrinya jadi murung tidak seperti tadi. Dengan cepat tangan Rangga merengkuh pinggang Delima memeluknya erat kemudian mengelus perut Buncit perempuan di sampingnya.
" Baby twins, bilang sama Mama Papa minta maaf. Mama adalah istri yang sangat luar biasa, mencintai Papa dengan status seorang duda. Juga Kakak Angel yang bukan putrinya. Mama juga orang hebat, tidak pernah mengeluh dan selalu menggendong kamu berdua ke manapun perginya, " kata Rangga menciumi perut Delima lembut.
Ada pergerakan pelan dari perut sebelah kanan dan kiri. Rangga melihat Delima meringis menahan sakit.
" Anak Papa yang ganteng-ganteng,
Jangan buat Mama sakit ya! Mama dan Papa sangat menyayangi kalian, " kata Rangga mengelus bagian perut yang menonjol.
" Maafkan Kakak , Sayang. Mama dan anak-anak sekarang adalah nafas dan jiwa Papa. Tanpa kalian hidup Papa akan hancur, I love you, " kata Rangga memberi tanda kepemilikan di leher belakang Delima.
Delima tidak menjawab karena bibirnya sibuk menyambut penyatuan yang di buat oleh Rangga.
Hingga denting jam sebanyak 2 kali mereka baru menghentikan kegiatan panas mereka.
" I love you, Sayang, " kata Rangga setelah mengakhiri semuanya.
__ADS_1
" I love you, too, " jawab Delima kelelahan dan memejamkan mata hingga pagi menjelang.