MUTIARA KEMBALI DALAM PELUKAN

MUTIARA KEMBALI DALAM PELUKAN
Bab 38 Musibah


__ADS_3

Tubuh Monica segera dibawa menuju ruang UGD. Pakaian yang dikenakan banyak berlumuran darah. Pasien langsung mendapat pertolongan oleh dokter jaga, sedangkan pengantar dilarang untuk masuk meskipun sudah memohon.


Juna terduduk lemas di lantai dengan selalu menjambak rambutnya sendiri.


Menyesali yang telah terjadi. Ia tidak bisa menjaga Monica hingga tabrak lari itu terjadi menimpa istrinya.


Rangga yang berada di restoran baru mendapatkan kabar tentang kecelakaan yang menimpa Monica. Ia langsung menuju rumah sakit, sedangkan Mama Martha dan Delima akan menyusul. Sesampainya di rumah sakit ruang UGD tujuan pertamanya. Dari jauh Rangga melihat Juna duduk di lantai dengan muka lusuh dan baju yang terkena noda darah. Didekati Juna dan dipegang kedua pundaknya.


" Bangunlah, Juna. Kamu harus kuat agar Monica juga kuat di dalam sana," kata Rangga memeluk tubuh Juna dan mendudukkan di kursi.


" Kak, kami sudah saling mencintai. Mengapa ini harus terjadi?" tanya Juna.


" Sabar, Dik. Mungkin ini ujian buat cinta kalian," jawab Rangga memberi semangat.


Pintu ruang UGD terbuka.


" Dengan keluarga Nyonya Monica," kata dokter berbaju putih keluar .


" Saya suaminya dokter," kata Juna," Bagaimana keadaan istri dan anak saya dokter?"


" Nyonya Monica kondisinya sangat lemah dan mengeluarkan banyak darah. Sedangkan kondisi janin masih berdetak. Kami berusaha untuk menyelamatkan keduanya dengan jalan operasi. Silahkan bapak tanda tangani di sini agar tim dokter segera melaksanakan operasinya.


" Tolong selamatkan istri dan anak saya dokter," kata Juna setelah menandatangani kertas yang diberikan dokter tadi.


"Kami akan berusaha semaksimal mungkin, permisi Pak," kata dokter meninggalkan Juna.


" Terima kasih, dokter," jawab Juna.


Juna mendekati tempat duduk Rangga dan disambut dengan merangkul pundak Juna.


" Bagaimana keadaan mereka?" kata Rangga.


" Akan dilakukan operasi untuk menyelamatkan Bunda dan baby girl," jawab Juna," Doakan operasinya berhasil ya, Kak. Juna janji hidup dan nyawa hanya untuk mereka".


Rangga memeluk sekali lagi Juna, kasihan penyemangat hidupnya sedang di meja operasi untuk mempertaruhkan nyawa.


Mama Martha ditemani Delima datang menyusul di ruang UGD.


Mata Mama Martha sudah sembab, karena sudah menangis sejak mengetahui Monica mengalami kecelakaan. Delima dengan perut yang besar berjalan kesulitan, meskipun usia kandungannya belum genap 4 bulan.

__ADS_1


" Bagaimana keadaan Monica, Nak Juna ?" tanya Mama Martha yang sudah menangis lagi.


" Maafkan Juna, Ma. Tidak bisa menjaga mereka dengan baik," jawab Juna mencium tangan Mama Martha dengan takzim.


" Yang sabar, kita harus menjalani ini semua. Kamu harus kuat, istri dan anakmu masih masih di dalam?" tanya Mama Martha ingat kembali akan Monica.


" Iya, Ma. Dokter sedang mengoperasi untuk menyelamatkan mereka," jawab Juna, " Minta doanya , Ma untuk keberhasilan operasinya".


" Marilah kita duduk!" kata Mama Martha mengajak mereka yang berdiri untuk duduk di kursi yang ada di depan pintu UGD.


Sudah 1 jam operasi belum nampak selesai. Juna berdiri gelisah, berjalan mondar-mandir untuk mencoba menenangkan pikirannya. Rangga menghampiri dan menyodorkan botol berisi air mineral yang sudah dibuka, Juna menerima kemudian meminumnya beberapa teguk setelah itu dikembalikan lagi pada Rangga.


Papa, Mama, dan Kakak Juna datang tergopoh-gopoh menghampiri Juna yang sedang berdiri menempelkan dahinya di tembok.


Mama Juna memegang pundak Juna. Juna berbalik dan langsung menangis memeluk Mamanya.


" Sudah, kamu laki-laki harus kuat menghadapi ini semua. Berdoa saja supaya semuanya berjalan dengan baik," kata Mama Juna.


" Iya, Ma terima kasih," jawab Juna.


Papa dan Kakak Juna juga memeluk memberi kekuatan kepada Juna.


" Suami Ibu Monica," kata dokter memanggil.


" Saya, dokter," jawab Juna maju mendekat.


Dokter mengulurkan tangan untuk menjabat tangan Juna. Juna pun menerima jabatan tangan dokter.


" Selamat, Pak! Putri bapak lahir dengan selamat dan cantik sekali, tapi masih harus berada di inkubator soalnya memang belum waktunya untuk dilahirkan," kata dokter.


" Bagaimana dengan istri saya,Dok ?" tanya Juna tidak sabar.


" Istri bapak, Ibu Monica...," kata dokter belum menyelesaikan kalimatnya Juna sudah jatuh pingsan.


Perawat dibantu Rangga juga Papa Juna membawa tubuh Juna masuk ke ruang UGD untuk diberi pertolongan.


Rangga segera menghampiri dokter untuk mengetahui kondisi Monica sebenarnya.


" Dokter, saya Kakak Ibu Monica," kata Rangga," Bagaimana keadaannya sekarang?"

__ADS_1


" Kondisi Ibu Monica dalam keadaan koma dan masih perlu perawatan intensif," kata dokter menjelaskan," Dan bisa ditunggu untuk pemindahan pasien ke ruang HRD".


" Terima kasih, Dokter," kata Rangga mengangguk.


Keluarga besar senang dengan kabar bahwa bayi perempuan Juna dan Monica lahir dengan selamat meskipun harus dirawat di inkubator.


Sedangkan kabar tentang Monica, keluarga harus menerima dengan sabar dan perlu ikhtiar lagi.


Baby girl sudah bisa ditengok. Bayi kecil itu sangat cantik perpaduan antara Juna dan Monica. Hidung mancung dan bibir yang tipis milik Juna. Alis kecil tebal dan panjang serta bulu mata yang lentik milik Monica. Jika mata itu terbuka pasti akan selebar mata Monica yang berkesan galak. Kulitnya yang memerah menandakan bayi jika besar akan berkulit putih itu seperti Monica, karena Juna berkulit sawo matang.


Mama Martha yang pertama kali menengok Monica didampingi oleh Rangga. Mama menanyakan keadaan Monica saat ini. Hanya setetes air mata sebagai jawaban. Dihapusnya oleh tangan Rangga. Mama juga mengabarkan keadaan baby girl yang sehat dan cantik. Sekali lagi air mata menetes sebagai jawaban Monica mendengar perkataan Mama Martha.


Sebelum keluar Mama Martha mengatakan Juna belum bisa menjenguk, karena pingsan dan belum sadarkan diri. Reaksi Monica atas perkataan Mama Martha diluar dugaan. Tubuh yang penuh dengan alat itu meronta hingga semua bergetar. Rangga dan Mama Martha yang berdiri di samping tempat tidur sangat terkejut dan mereka segera memanggil dokter.


Beberapa dokter dan perawat segera datang mengelilingi pasien dan memeriksa kondisinya. Pemberian suntikan dan penambahan alat yang digantungkan di tiang infus membuat yang melihat menjadi miris. Mama Martha menangis melihat putrinya.


Seorang dokter berjalan ke arah


Mama Martha dan Rangga, dokter meminta mereka segera keluar terlebih dahulu, karena untuk sementara pasien tidak boleh ditengok dulu. Mama Martha menangis memeluk Rangga. Rangga membawanya ke luar di sambut keluarga yang lain. Delima memberikan minuman hangat kepada Mama Martha agar dapat tenang.


Papa, Mama, serta Kakak Juna yang setelah melihat baby girl menengok Juna yang sudah di pindahkan di ruang perawatan. Juna pingsan karena shock dan tidak ada asupan oksigen di otaknya. Hanya perlu penambahan oksigen dan menunggu pasien hingga sadar.


Prov. Juna


Cahaya putih menghalangi pandangan mata Juna yang sedang tiduran. Meski mengedipkan mata berkali-kali tidak bisa hilang. Hingga sosok bidadari cantik maju untuk menghampiri dan memangilnya.


" Ayah," panggilan sangat merdu dan sering di dengar Juna setiap hari .


" Bunda, Bunda cantik sekali !" kata Juna langsung berdiri hendak menghampiri bidadari cantik itu.


" Berhenti, Ayah. Bunda titip Eswa putri kita pada Ayah. Bunda akan pergi bersama Kak Cantika dan Papa," kata bidadari cantik itu melangkah mundur.


" Tunggu ! Ayah ikut Bunda ke mana Bunda pergi. Jangan tinggalkan Ayah sendiri. Meskipun Bunda belum mencintai Ayah seratus persen, tetapi Ayah yakin dengan berjalannya waktu Bunda akan mencintainya. Ijinkan Ayah ikut Bunda sebagai bukti akan cinta Ayah pada Bunda. Eswa anak kita pasti akan bahagia bersama mereka yang mengasihinya," kata Juna yang semakin melangkah mendekati cahaya putih berbentuk bidadari. Cahaya putih semakin mengerucut dan menjauh. Juna berlari sekuat mungkin dan dapat meraih tangan bidadari, diciumnya tangan itu dengan air mata yang berlinang.


Aku mencintaimu.


Aku mencintaimu.


Aku Mencintaimu.

__ADS_1


Setelah mendapat pertolongan dokter, Juna di letakkan di ruang VVIP ditunggu Mama dan Papa Juna.


__ADS_2