
Banyaknya tugas resto yang ditinggalkan Rangga sejak beberapa hari yang lalu menjadikan Nani yang dipercaya oleh Rangga untuk mengurusi semuanya. Mulai di resto di mana ia bekerja dulu, sekarang ia dipercaya karena memang sekarang bidangnya.
Semua kebutuhan di dalam dan di luar resto dapat di handle. Pendapatan pun naik hingga 30%, Rangga mengetahui tentang hal tersebut, maka dari itu hari ini ia mendapat tugas lebih berat. Nani harus pergi ke luar kota untuk pengawasan bisnis kuliner Kakaknya diberbagai cabang. Rencananya Rangga yang berangkat, tetapi Kak Delima mengalami kelelahan dan anemia dan sempat pingsan dokter menyarankan untuk bed Reste. Sehingga tidak tega untuk meninggalkannya.
Kekhawatiran Rangga lebih besar, sehingga mempercayakan bisnis kulinernya pada Nani.
Pagi ini Nani menuju bandara Soekarno-Hatta pada penerbangan pertama di temani Pak Budi menuju Malang dengan naik pesawat, jika sudah sampai Pak Budi yang akan mengantar Nani ke semua tempat untuk urusan bisnis kulinernya.
Setibanya di bandara Abdul Rachman Saleh di Malang sudah terparkir mobil atas nama Tuan Rangga yang akan dikendarai Pak Budi mengantar Nani.
Mereka langsung menuju Taman Indie Resto Malang yaitu Restoran cabang milik Rangga di Malang. Restoran dengan makanan enak dan tradisi Malangnya.
Setelah beristirahat dan makan, Nani dan Pak Budi berkeliling resto ditemani orang kepercayaan Rangga yang mengelola sambil menjelaskan perkembangannya. Ada beberapa yang dalam catatan Nani perlu ditingkatkan lagi, salah satunya beberapa menu masakan dari daerah lain bisa sebagai menu andalan resto. Juga bisa disediakan musik tradisional sebagai penghibur saat menikmati hidangan. Setelah puas berkeliling Nani istirahat di resto sambil meneliti cara management serta dan keuangannya. Nani menjumpai beberapa keganjilan di antaranya pengeluaran dana untuk sarana dan prasarana resto melebihi budget yang semestinya.
Semua penemuan itu dibicarakan langsung dan dicari jalan keluarnya.
" Terima kasih Bu Nani, kami di sini akan melakukan yang Anda sarankan," kata Pak Suto orang kepercayaan Kak Rangga di restoran ini.
" Saya akan tinjau lagi tiga bulan ke depan," kata Nani.
" Baik, Bu," jawab Pak Suto.
" Pak Suto, besok di sini ada meeting dengan relasi javanine Restoran, Melati Restoran, dan China restoran pukul 09.00. Tolong siapkan untuk makanan pembukanya lumpia isi rebung dan daging, nasi dan lontong pecel dengan rempeyek kacang, serta penutupnya wedang jahe," kata Nani," Ingat jangan mengecewakan mereka.
" Baik, Bu. Kami menyediakan untuk berapa orang ?" tanya Pak Suto.
" Sekitar 10 orang dan tempatnya di taman saja agar tampak nyaman," jawab Nani, " Saya mohon ijin akan ke luar bersama Pak Budi".
" Baik, Bu. Hati-hati di jalan dan semoga Bu Nani nyaman singgah di sini," kata Pak Suto.
" Permisi, mari Pak Budi," kata Nani melangkah meninggalkan Pak Suto.
Mobil meluncur ke arah jalan raya. Tujuan mereka akan ke Kebun Apel Batu Malang. Nani belum pernah ke wisata kebun apel yang cukup terkenal ini.
Setelah sampai mobil diletakkan di tempat parkir.Nani turun melihat-lihat sekitar sangat asri dan pemandangannya sangat indah sekali. Sedangkan Pak Budi menuju loket membeli karcis masuk untuk dua orang.
" Mari Non, kita masuk sekarang," kata Pak Budi setelah mendapatkan tiketnya.
Nani mengikuti dari belakang, kekagumannya semakin besar ketika melihat langsung tumbuhan apel di sekelilingnya. Nani mengambil gambar pohon apel dengan buah yang bergelantungan dengan warna hijau kemerahan. Diambilnya tongsis dan dipasang. Beberapa gambar dengan berbagai gaya tak luput dari kamera ponselnya. Setelah puas dimatikan kamera ponsel di tangannya. Sudah banyak pengunjung yang berdatangan. Mereka memetik langsung buah ranum itu dari pohonnya. Ada yang dimasukkan plastik untuk di bawa pulang dan ada juga yang dimakan di tempat.
" Sayang !" kata Nani bergumam agak keras.
" Apanya yang sayang, Non ?" tanya pemuda bertopi rimba coklat dengan memakai kaos lengan panjang warna putih.
" Itu buah apelnya diambil," jawab Nani melihat asal suara.
" Buah apel di sini memang untuk diambil, Non," kata pemuda tersebut.
__ADS_1
" Anda pemilik kebun ini ? " tanya Nani serius.
" Bukan, Non. Saya hanya membantu saja, " jawab pemuda tersebut dengan menunduk.
" Jangan panggil Non, nama saya Nani," kata Nani mengulurkan tangan untuk menjabat tangan pemuda itu.
" Nama saya Dewa," jawab Dewa yang telah membersihkan kedua tangannya dengan cara membersihkan tangan di pantatnya.
" Dewa, kamu sudah lama membantu di kebun ini ?" tanya Nani.
" Sudah, sejak adanya kebun ini," jawab Dewa.
" Apakah dijual bibit pohon apel di sini," tanya Nani.
" Ada, satu pohonnya yang sudah siap berbunga seharga Rp 250.000,- ," jawab Dewa.
" Saya ambil satu beserta media tanamnya 5 sak," kata Nani, " Jadi semua berapa ?"
" Total Rp 300.000, . Baik, nanti saya akan antar ke mobil," kata Dewa menerima uangnya.
" Terima kasih, permisi," jawab Nani keluar kebun menuju tempat parkir.
Ditempat parkir sudah ada satu pohon apel dan 5 sak media tanam serta Dewa dengan sikap sopan menyapa.
" Di mana mobilnya ?" tanya Dewa.
" itu warna merah di bawah pohon?" jawab Nani.
" Terima kasih. Sudilah untuk mampir kembali lain kali dan hati-hati di jalan," kata Dewa.
Nani tidak menjawab hanya tersenyum dan menganggukkan kepala.
Mobil meninggalkan Taman Kebun Apel Malang dan hari sudah petang.
Pukul 20.00 Nani baru sampai di restoran kembali dan langsung makan malam kemudian istirahat.
Pagi hari setelah sarapan, Nani diantar Pak Suto menuju ruang metting. Di tempat Cottage Rose metting, Nani terpesona dengan keindahan alamnya.
" Ini tempatnya, Bu Nani. Saya tinggal dulu," kata Pak Suto.
" Baik, Pak Suto. Jika tamunya datang, tolong antar saja ke mari," kata Nani, " Untuk menunya sudah reddy, Pak ?"
" Sudah, Bu Nani. Permisi dulu," jawab Pak Suto.
Nani duduk di ujung meja memperhatikan ruangan metting, sungguh elegan.
Tampak empat orang tamu diantar Pak Suto, ternyata mereka perwakilan dari China Restoran dan Javanine Restoran. Ketika sedang berbincang seorang wanita cantik menghampiri Nina.
__ADS_1
" Maaf, Bu. Kami dari Melati Restoran terlambat datang," kata wanita dengan stelan jas .
" Belum terlambat mari silahkan duduk," kata Nani menjabat tangannya.
" Mari silahkan duduk, Pak," kata Nani terkejut saat melihat wajahnya.
" Maaf, apakah Anda Pak Dewa? Kita pernah bertemu di kebun apel," kata Nani.
" Benar, Bu. Saya Dewa Wibisono Gunawan pemilik Melati Restoran," jawab Dewa mengangguk.
" Mari silahkan duduk!" kata Nina canggung.
Nina memimpin rapat pagi ini, ia sangat bersemangat untuk memperkenalkan menu dan jajanan dari Jawa Tengah., serta beraneka minumannya. Sebaliknya China Restoran menawarkan aneka seafood nya, sedangkan Melati Restoran memberikan contoh berbagai cemilan baik kering atau kemasan dari bahan apel. Terjadi kesepakatan akan tukar menu makanan dari ketiga restoran tersebut.
Rapat telah selesai dengan penandatanganan perjanjian kuliner tiga resto.
Acara ramah tamah dimulai dengan hidangan lumpia khas Semarang.
Jajanan ini menuai pujian dari yang hadir. Saat dikeluarkan lontong dan nasi dengan sayuran serta bumbu pecel yang nikmat diberi peyek kacang, mereka banyak yang nambah. Senyum mengembang dibibir Nani. Hidangan penutup di keluarkan. Pas untuk udara yang dingin. Semangkuk wedang ronde hangat dengan bola-bola ketan yang manis, agar warna merah dan kacang goreng diberi kuah jahe yang harum membuat suasana semakin akrab.
Para kolega puas dengan pertemuan pagi sampai siang hari ini. Mereka mohon ijin untuk melakukan kegiatan selanjutnya. Kecuali Dewa, ia menyuruh sekretaris untuk pulang lebih dulu.
" Bolehkah tukang kebun apel ini menanam pohon apel yang dibeli kemarin untuk di tanam di resto Bu Nina ini ? " tanya Dewa menundukkan badan.
" Jangan merendahkan begitu, Pak Dewa. Maaf pohon apel itu akan saya tanam di Java Restoran cabang Jakarta milik Pak Rangga. Saya hanya wakilnya saja," kata Nani.
"Taman Indie Resto Malang ini juga cabangnya juga ?" tanya Dewa.
" Begitulah, Pak Rangga tidak bisa hadir karena urusan keluarga dan mewakilkan saya untuk menggantikannya" jawab Nani menjelaskan.
" Boleh saya memanggil Nani saja?" tanya Dewa.
" Silahkan Dewa," jawab Nani tersenyum manis.
" Kapan kembali ke Jakarta?" tanya Dewa.
" Besok pagi penerbangan pertama," jawab Nani.
" Ijinkan malam ini Dewa tuan rumah akan menjamu tamu dari Jakarta untuk menikmati indahnya malam tempat wisata di Malang ini," kata Dewa.
" Boleh, asal dengan Pak Budi yang menemani membawa mobilnya," kata Nani.
" Wah, ada anak Mama yang harus dijaga ya?" kata Dewa bergurau.
" Iya, ini perintah Kakak," jawab Nani tersipu malu.
" Baiklah, aku akan ke mari sehabis Magrib," kata Dewa, " Permisi Tuan Putri kesayangan Mama,"
__ADS_1
Nani hanya tersenyum dengan pipi yang merona merah seperti tomat.
Mereka melangkah beriringan di tempat parkir melepas kepergian Dewa dengan mobi sportnya.