MUTIARA KEMBALI DALAM PELUKAN

MUTIARA KEMBALI DALAM PELUKAN
11. Monica Adik Ipar yang Manja


__ADS_3

Kesibukan masing-masing membuat Pak Rangga dan Delima melupakan sepenggal kisah manis di antara mereka. Pak Rangga sering luar kota sehingga jarang bertemu Delima. Delima sendiri semakin menyenangi pekerjaannya. Selain ramah dan sopan dalam melayani pelanggan-pelanggan, Delima merupakan idola. Pelanggan yang datang selalu menanyakan Delima. Melihat wajahnya merupakan impian mereka.


Seperti biasa, hari itu ibu Monica berkunjung ke resto, tetapi tidak bersama Pak Rangga. Melainkan bersama Mama Martha dan Angel. Mereka telah memesan hidangannya. Ketika pelayan datang membawa hidangan penutup berupa mochi es krim. Angel menanyakan Delima


"Mbak apa Mama Delima masuk kerja? Angel kangen sudah lama tidak bertemu Mama,"


"Mbak Delima hari ini masuk, Nona Angel. Sedang sibuk melayani pelanggan, " kata pelayan sopan.


"Bisa disampaikan kami ingin bertemu?" tanya Mama Martha mengharap.


"Iya, Nyonya segera kami sampaikan. Permisi Nyonya," kata pelayan mohon diri.


Delima datang dengan tergesa-gesa. Ketika mendapat pesan dari teman dicari Mama Martha, mertua Pak. Rangga. Dengan nafas tersengal Delima menghadap.


"Apakah Nyonya memanggil saya?" tanya Delima.


"Iya, Delima silahkan duduk sini," kata Mama Martha menunjuk kursi di dekatnya.


"Mama, Angel kangen, " kata Angel tersenyum bahagia.


"Tante Delima juga kangen," jawab Delima


"Delima, Mama kenalkan ini Monica adik Cantika, mamanya Angel," kata Mama Martha mengenalkan.


"Selamat siang Nyonya, saya Delima salam kenal," kata Delima memperkenalkan


"Iya, saya sudah tahu," jawab Monica ketus.


"Maafkan Monica, Delima. Dia selalu dimanja oleh Cantika dan Rangga. Tingkahnya seperti ABG saja belum bisa dewasa," kata Mama Martha. Mendengarkan penjelasan itu Delima hanya mengangguk.


"Delima, Mama tahu kamu dan Rangga sedang ada masalah. Mama mengharap segera baik kembali. Jangan karena kedekatan dengan Monica yang membuatnya renggang. Mereka tidak ada apa-apa. Hanya sebagai ipar, Mama tahu itu. Maafkan Rangga jika dia mempunyai salah padamu," kata Mama Martha membela Rangga menantunya.


"Iya, Ma," jawab Delima.


"Mama, Angel sedang menunggu Papa di sini. Bosan kalau hanya duduk. Maukah menemani berkeliling resto?" tanya Angel.


"Iya mau, ingin jalan-jalan sekarang?" kata Delima menyetujui.

__ADS_1


Angel berdiri, menarik tangan Delima mengajak keliling taman. Di tempat ayunan Angel bermain di sana. Delima mengambil gambar menggunakan ponselnya. Beberapa hasil bidikan kamera sangat indah. Ada gambar kebersamaan Delima dan Angel saat selfi berdua, bermain petak umpet, atau pun berlarian mengejar kupu-kupu yang terbang rendah. Pemandangan seperti Mama dan anaknya itu tak luput dari perhatian sosok Rangga Papa Angel. Angel terlihat kelelahan. Mereka beristirahat di gazebo kecil berada di tengah taman Angel tertidur dipangkuan Delima. Betapa nyamannya gadis ini.Batin Delima menyaksikan wajahnya yang lucu. Tanpa disadari Rangga sudah duduk di samping Delima. Nafas hangat menyapu lembut kepala Delima. Delima menolah dan kaget. Tak ada jarak. Tangan Rangga ingin menyentuh bibir Delima, tapi Delima menengok ke arah lain.


"Aku kangen,"bisik Rangga di telinga Delima Pipi Delima bersemu merah. Wajahnya menunduk memperhatikan Angel takut kalau terbangun. Diamnya Delima membuat Rangga memberanikan diri mencium pipi Delima.


"Kamu cantik sekali hari ini," kata Rangga memuji. Tangan Rangga memegang tengkuk Delima. Ditempelkannya perlahan bibirnya ke bibir Delima. Delima mulai terbiasa. Rasa rindu pada Rangga membuat Delima menikmatinya. Lama-lama penyatuan itu saling menuntut. Melupakan sosok mungil yang mulai merasa terusik tidurnya.


"Papa, jangan gigit bibir Mama. Nanti bibir Mama luka dan berdarah!" teriak Angel menghentikan aktifitas dewasa mereka.


"Maafkan Papa sayang. Mama nakal membawa Angel bermain lama sekali hingga Papa sulit mencarinya," kata Rangga berkilah mencari pembenaran.


"Mama tidak bersalah, Pa. Angel yang mengajak bermain. Angel lelah dan tertidur di sini," kata Angel menjelaskan.


"Apa bibir Mama sakit digigit Papa?" tanya Angel.


"Sedikit," jawab Delima sekenanya karena tak siap mendapat pertanyaan seperti itu.


"Ayo Angel Papa antar pulang!" Ajak Rangga segera.


"Ayo, Pa. Papa dan Mama kejar Angel ya kita lomba lari sampai tempat Oma," kata Angel.


"Oke, tapi larinya pelan saja nanti jatuh," kata Rangga memberi nasehat.


"Kak, Ibu Monica ipar Kakak ya"" tanya Delima.


"Iya, memangnya kenapa?" Jawab tangga kaget.


"Mengapa seperti seorang kekasih?" tanya Delima.


"Kamu memperhatikannya Delima," tanya Rangga penasaran.


"Setiap orang yang melihat akan mengatakan seperti itu," kata Delima menunjukan fakta.


"Kamu juga berfikir seperti itu?" tanya Rangga tersenyum.


"Iya," jawab Delima singkat, " Apakah Ibu Monica juga pacar Kakak ?"


Rangga berhenti dan memandang Delima.

__ADS_1


"Apakah aku mirip James Bond"," tanya Rangga.


" Iya, Kakak tampan, mapan, dan juga


pandai merayu," jawab Delima sebel.


"Terima kasih, kamu salah satu dari sekian wanita yang mengatakan aku tampan, tapi salah pada kenyataannya aku bukan pacar Monica, " jawab Rangga sambil menyisir rambutnya dengan jari-jari tangannya.


"Kakak pulang jam berapa malam itu?" tanya Delima serius.


"Kapan?" tanya Rangga menoleh memandang wajah Delima.


"Ketika pulang dari luar kota selama seminggu, Datang ke resto bersama Ibu monica dan masuk ruang kerja Kak Rangga. Belum pulang ketika resto tutup, karena Delima lihat mobil Kakak ada di tempat Parkir," kata Delima dengan nada jengkel mengingat peristiwa itu.


" Waktu itu Monica mabuk darat dan tidur di kamar.. Sedangkan Kakak sangat capek sekali dan tertidur di sofa Kami pulang setelah subuh. Jadi kamu marah dan minta putus gara-gara itu?" tanya Rangga tidak percaya.


Rangga berhenti dan memeluk erat tubuh Delima, " Maafkan Kakak Delima, belum bisa memahami perasaanmu. Beri kesempatan sekali untuk memperbaikinya. Jika ada rasa tidak suka pada Kakak ucapkan saja. Kita balikan lagi ya sayang?"


Delima diam ketika Rangga memeluknya. Mereka melangkah menuju meja Mama Martha.


"Rangga kalian sudah balikan? Mama senang melihatnya," kata Mama Martha tersenyum sumringah.


"Oma, tadi Papa marah dan gigit bibir Mama sampai sakit. Jewer saja telinganya biar putus!" lapor Angel yang sedang asik memasukkan es krim ke mulut mungilnya. Monica yang mendengar itu langsung mendelik matanya memandang tajam ke arah Rangga dengan wajah marah.


Delima sendiri wajahnya menjadi merona merah. Kedua tangan menutupi wajahnya yang malu.


Mama Martha berdiri benar-benar menjewer telinga Rangga.


"Cepat pergi ke Semarang dan adakan lamaran secara resmi. Kemudian segera halalkan hubungan kalian. Biar tidak melakukan adegan secara fulgar di depan anak kecil!" perintah Mama Martha melepaskan tangan yang menjewer telinga Rangga. Rangga mengusap-usap telinganya yang panas. Benar-benar sakit.


"Iya, Ma. Dalam Minggu ini aku akan ke Semarang. Rangga minta doa restu Mama agar semua lancar dan dapat membina keluarga yang sakinah, mawadah, dan warohmah," kata Rangga serius.


"Amin, Mama mendoakan kamu bahagia selalu. Berilah Mama cucu yang banyak agar Mama tidak kesepian di rumah," kata Mama Martha.


Rangga memandang wajah polos anaknya yang telah menghabiskan satu cup es krim. Karena ucapannya seorang Rangga berani mengambil sebuah keputusan penting untuk masa depannya. Diraihnya tangan Delima yang berada di bawah meja.


"Delima sayangnya Kakak Rangga, maukah menjadi kekasih, teman hidup dalam suka dan duka, dan Mama untuk anak-anakku kelak ? " tanya Rangga melihat mata indah Delima. Mendapat pinangan yang serba mendadak membuat Delima salah tingkah. Hanya diam membisu. Kepalanya mengangguk menyetujuinya.

__ADS_1


"Rangga, pakaikan cincin ini. Nanti kamu belikan cincin yang baru saat lamaran, " kata Mama Martha sambil mengulurkan cincin permata yang dipakainya. Secara tidak resmi mereka sudah tunangan meskipun belum ada saksi dari pihak keluarga Delima dan Rangga.


__ADS_2