MUTIARA KEMBALI DALAM PELUKAN

MUTIARA KEMBALI DALAM PELUKAN
52. Mencoba Bertahan.


__ADS_3

Setelah mendapatkan alamat dan ruang rumah sakit tempat lahiran calon Kakak iparnya. Dewa langsung melesat. Pertama ia akan membeli bucket mawar merah untuk kekasih hatinya. Yang kedua membeli kursi bayi kembar untuk di mobil. Dewa pilih warna merah dengan list hitam dan biru dipadu list hitam. Memandang hadiah itu dewa tersenyum. Jika saja dirinya yang mendapat anugerah dua bayi sekaligus. Bucket bunga mawar diletakkan di kursi penumpang samping kemudi, sedangkan kado buat baby ada dalam bagasi.


Sepanjang lorong Dewa membawa bucket bunga mawar dengan elegan, bak pangeran yang menemui putri nan cantik jelita. Sedangkan Satpam rumah sakit membawa satu kado besar (dua kursi bayi mobil yang ada dalam kardus di jadikan satu dengan dibungkus kertas kado warna biru ).


"Pak, lorong depan belok kiri ada ruan VVIP nomor 8 A," kata Satpam memberi tahu tempat rawat inap Nyonya Delima.


"Kita segera ke sana," jawab Dewa menetralkan detak jantungnya. Dewa agak nervous akan bertemu Nani setelah kejadian tiga hari yang lalu. Saat berkunjung terakhir, ia tidak bertemu. Rangga yang melarang, karena Nani nampak sangat marah .


"Ini, Pak ruangannya!" kata Satpam hormat.


Dewa merogoh selembar uang warna merah dan diberikan pada Satpam yang telah membantunya.


"Terima kasih, permisi Pak," kata Satpam dengan hormat dan segera berlalu.


Tok tok tok


Dewa menunggu sesaat, ia mengira penghuni kamar sedang istirahat siang. Ketika hendak mengetuk pintu lagi tangannya berhenti di awang-awang. Agak ragu untuk mengulang lagi.


Nani yang duduk dekat pintu berdiri. Langkahnya pelan menuju pintu untuk membuka. Saat pintu terbuka dan melihat Dewa yang datang wajahnya menunduk. Sebenarnya ia tidak mengharapkan pertemuan ini.


Prov Nani


Setelah Dewa memberi kabar keinginan keluarganya untuk segera meminang dirinya pada Kak Rangga, Nani langsung dihubungi Dewa via VC.


Dewa


Halo sayang, sedang apa


Nani


Sedang istirahat siang, ini ada di mushola resto bersama teman-teman.


Ada perlu apa sayang


Dewa


Cie . .cie...yang sudah biasa panggil sayang.


Nani


Aku berani karena tidak ada orang.


Dewa


Temanmu


Nani


Sudah pada keluar untuk makan siang.


Dewa


Sayang, aku kangen


ketemu yuk


Nani


Kamu di Jakarta

__ADS_1


Dewa


Aku sudah duduk di depan pohon apel mu


Nani


Benarkah


Dewa


Kalau tidak percaya keluarlah


Nani


Aku tutup aku segera ke sana


Dewa


Tunggu


Nani


Ada apa


Dewa


Kiss dulu


Nani


(Segera mencium pipi Dewa dengan cepat)


VC diakhiri dan berlari menuju halaman belakang resto dekat gazebo. Dalam gazebo nampak seorang laki-laki yang sedang duduk.


"Will you married me ?" kata Dewa memandang serius pada Nani.


"I am willing married you," jawab Nani terharu dan menerima bucket.


Dewa menggenggam tangan kanan Nani kemudian mencium penuh cinta. Mata mereka saling memandang ada cahaya harapan untuk bersama. Akhirnya mereka duduk berdampingan dan tangan saling menggenggam. Mata mereka melihat pohon apel yang sedang berbuah. Pohon itu yang mempertemukan mereka hingga saat ini untuk berakhir ke pelaminan.


"Nani," kata Dewa menyadarkan dari lamunan Nani.


Nani tidak mau melihat dan segera melangkah pergi. Sebelum terjadi Dewa telah memegang tangan kanan Nani dengan memberikan buchet bunga sama persis saat di resto kemarin. Nani tetap menunduk.


"Pandang mata aku !" perintah Dewa.


Nani memandang dengan tetap membisu.


"Aku tidak akan pernah berbohong padamu, apalagi sampai menyakitimu. Jujur kau bukan yang pertama, tetapi kau telah membuatku jatuh cinta untuk yang kedua sekaligus yang terakhir," kata Dewa berdialog satu arah.


Nani meneteskan air mata. Saat Dewa akan menghapus, wajah Nani segera menghindar.


"Jika ada tamu dipersilahkan masuk Nak ! Pamali anak gadis menerima tamu di depan pintu takut ditolak perjaka," kata Ibu Nani sedikit bercanda. Semua mata memandang pada tamu yang baru saja datang


Akhirnya Nani mempersilahkan Dewa masuk. Nani mengikuti Dewa dari belakang.


Dewa membopong kado dan diberikan pada calon Kakak iparnya.


"Nyonya Delima ini buat Si Kembar, semoga bermanfaat," kata Dewa agak canggung.

__ADS_1


"Terima kasih, calon adik Ipar ku," jawab Delima tersenyum. Dewa yang dipanggil adik ipar menjadi canggung. Dengan wajah penuh senyum Dewa berkeliling menjabat tangan mereka yang ada di ruangan itu satu persatu dengan takzim.


Mereka saling berbisik dan memuji ketampanan pemuda tersebut.


"Bapak dan Ibu ini Dewa teman Nani. Dewa kedua orang ini adalah Bapak Ibu Kakak dan Nani dari Semarang dan yang berdiri memakai kaos biru itu Kakak Nani," kata Rangga memperkenalkan keluarganya.


"Sudah lama kalian berteman ?" tanya Bapak Rangga memulai pertanyaan.


"Kurang lebih tiga bulan, saya rekan bisnis Bapak Rangga dari Malang," jawab Dewa memperkenalkan diri.


"Nak, Dewa. Nani putri bungsu ibu . Ia dimanja Kakak -kakaknya. Ia akan berfikir seribu kali sebelum melaksanakan sesuatu. Jadi maafkan jika selalu merepotkan," kata Ibu Rangga ingin mengakrabkan dan menarik perhatian Nani.


Nani yang menjadi pembicaraan hanya diam duduk di bangku dekat tempat tidur Delima dengan memangku buchet bunga mawar.


"Iya, Bu. Saya mencoba memahami dan ingin menjadi yang terbaik bagi Nani," jawab Dewa sedikit terbuka tentang hubungan mereka.


"Bapak berdoa semoga tidak ada rintangan untuk menyatukan kalian," kata Bapak Rangga serius.


Dewa mengangguk atas perkenalan tersebut. Tidak ada hal banyak yang dibicarakan. Karena wajah Nani yang murung dan hanya menunduk.


"Nani, jaga Kakakmu sebentar," kata Rangga serius.


"Baik, Kak," jawab Nani singkat.


"Bapak dan Ibu serta adik-adik semua, mari kita makan sore, karena sebentar lagi akan malam.


Pak Agus, Ayo antar kami," kata Rangga memberi perintah.


"Baik, Tuan," jawab Pak Agus segera keluar.


"Pak, Rangga. Jika butuh mobil lagi pakai saja mobil saya. Letaknya di parkir VVIP ," kata Dewa menyerahkan kunci.


"Baiklah, permisi ," jawab Rangga keluar mengejar keluarga yang sudah keluar mendahului .Sesaat ruang inap Delima menjadi sunyi.


"Nani, Dewa. Bicaralah kalian baik- baik di sofa itu. Kakak mau istirahat," kata Delima menarik selimut dan memejamkan mata.


Nani meletakan bucket bunga yang dipegang di atas kursi. Melangkah menuju sofa meninggalkan Dewa yang segera menyusul dari belakang. Nani duduk diujung sofa dengan bersandar. Dewa sengaja duduk di sofa depan Nani agar bisa saling memandang.


"Nani, dengarkan penjelasan saya setelah itu kamu boleh pergi tidak mau bertemu saya lagi," kata Dewa mengawali pembicaraan.


Nani diam. Sebaiknya Ia memang harus mendengar penjelasan dari pihak Dewa.


"Miranda adalah mantan aku. Kami putus sebulan sebelum bertemu kamu. Dia pergi bersama pacarnya ke Luar Negeri dan kata keluarga mereka sudah menikah. Tapi satu bulan yang lalu Miranda dibawa pulang ke Indonesia untuk menjalani perawatan intensif di rumah sakit jiwa karena depresi. Suaminya meninggal dalam kecelakaan tunggal. Miranda mengalami lupa ingatan sebagian. Yang diingat hanya saya masih menjadi pacar. Dan ini adalah foto-foto pernikahan Miranda bersama suaminya," kata Dewa memberi penjelasan dan mengeluarkan beberapa lebar foto dari tas pinggang.


Nani menoleh tangannya mengambil foto di atas meja dan melihat sekilas lembar demi lembar, kemudian meletakkan kembali.


"Sebaiknya kita hanya partner bisnis saja," kata Nina yang akhirnya bersuara.


"Kau melupakan waktu kita selama tiga bulan ?" tanya Dewa serius.


"Aku sudah lupa," jawab Nani ketus.


"Bagus. Baru kemarin aku melamar mu di gazebo resto dan kamu menerimanya," kata Dewa mengambil kedua tangan Nani.


Wajah Nani menunduk. Diangkat dagu gadis pujaan hatinya. Mata mereka bertatapan. Masih ada cinta di antara mereka.


"Nani, Sayang. Aku akan melakukan tes DNA janin Miranda. Keluarganya juga sudah setuju dengan kompensasi aku sanggup membiayai semua pengobatan Miranda sampai sembuh. Setelah hasilnya keluar aku akan membawa ke kamu, jika memang bukan anakku terimalah keluarga besar ku untuk melamar mu dan kamu harus menerima. Kita akan menikah sesuai janji yang pernah kamu ucapkan padaku," kata Dewa panjang lebar diakhiri dengan ciuman mesra di dahi.


Setelah Dewa melepaskan ciumannya, Nani memeluk erat tubuh Dewa. Dewa membalas memeluk erat tubuh di hadapannya.

__ADS_1


Buchet Bunga Mawar



__ADS_2