MUTIARA KEMBALI DALAM PELUKAN

MUTIARA KEMBALI DALAM PELUKAN
Bab 37 Malam Wasiat Monica


__ADS_3

Setelah acara selesai dan tamu undangan yang tidak ada lagi, Angel mendekati Tante Monica.


" Tan, kapan kado untuk baby girl akan dibuka?" tanya Angel.


" Tunggu baby girl lahir, agar bisa lihat kado-kado yang cantik ini," jawab Monica menggoda.


" Kapan itu, Ma?" tanya Angel.


" Kira-kira 2 bulan lagi," kata Delima yang ditanya Angel.


" Tidak boleh dibuka sekarang, Tante Monica Angel ingin lihat isinya?" tanya Angel.


" Boleh, dengan syarat Angel harus cium pipi Om Juna dan Tante Monica," kata Juna merasa melas melihat wajah Angel.


Angel berdiri dari duduk di depan kado-kado, didekati Tante Monica diciumnya kedua pipinya. Kemudian Om Juna diciumnya juga kedua pipinya.


" Sudah, boleh buka kadonya sekarang?" tanya Angel.


" Boleh, tapi hati-hati. Jika ada kertas ucapan harus dibaca yang keras dan berikan pada Tante," kata Monica.


" Iya, Tante. Angel sudah bisa membaca," kata Angel mengacungkan kedua jempol tanda setuju.


Saat Angel sibuk membuka kado, Delima dan Rangga mendekati duduk Monica dan Juna. Delima mengulurkan kotak warna pink ke arah Monica dan Monica menerimanya.


" Buat keponakanku, makin cantik seperti Bundanya," kata Delima.


Monica membuka kotak itu, tampak perhiasan baby girl komplet. Mata Monica berkaca-kaca.


" Terima kasih, Kak," kata Monica berdiri dan memeluk Delima.


Setetes air mata jatuh dari mata Monica.


" Kakak lebih pantas menjadi istri Kak Rangga," kata Monica berbisik.


" Terima kasih, semoga baby girl lahir sehat dan selamat," jawab Delima.


" Selamat ya, Dik. Semoga lahirannya lancar," kata Rangga memeluk Monica.


" Terima kasih, Kak. Kakak Rangga tambah ganteng saja, " jawab Monica ingin membuat cair suasana," Resepnya apa, Kak?"


" Semalam tiga kali kadang sampai subuh," jawab Rangga dengan serius.


" Pantas langsung dua," kata Juna tertawa terbahak-bahak.


" Jangan didengarkan, Kak Rangga suka membesar-besarkan," kata Delima dengan wajah memerah.

__ADS_1


"Bunda juga ingin dua,Ayah," kata Monica manja pada Juna.


" Iya, tapi baby girl biar lahir dulu. Setelah itu kita kejar tayang untuk menciptakan baby kembar," jawab Juna mengelus perut Monica.


Semua tersenyum mendengar percakapan Juna dan Monica.


" Tante Monica, kadonya sudah dibuka semua," kata Angel," Semua bagus pasti nanti baby girl akan cantik sekali bila memakainya".


" Terima kasih Angel, sekarang sana bobok sudah malam," jawab Monica yang melihat jam sudah pukul 10 malam.


"Ayo, Nak. Mama dan Papa temani sampai kamar," kata Delima mengajak Angel.


" Tidak, Mama. Angel sudah besar tidak perlu diantar, kasihan baby twins bila naik turun tangga," jawab Angel mengelus perut Delima dan menciumnya.Tiba-tiba ada gerakan halus kanan dan kiri perut Delima.


Delima terpejam menahan sakit.


"Adik, jangan main bola terus ya itu Mamanya kesakitan," kata Rangga mengelus perut istrinya.


"Mama sakit ?" kata Angel


khawatir, " Adik jangan sakiti Mama ya, kasihan Mama".


"Tidak, Nak. Mama sedang menikmati gerakan baby twins," jawab Delima.


" Dada Papa. Dada Mama. Dada Adik twins, " kata Angel melambaikan tangan melangkah menuju lantai dua.


" Bunda kita ke kamar yuk, Ayah gerah mau mandi," kata Juna berdiri.


Monica berdiri dan menggenggam tangan Juna untuk masuk ke kamar mereka yang ada di lantai dua.


Monica tidak ikut mandi, hanya menyiapkan baju tidur Juna untuk dipakai di kamar mandi. Monica sendiri hanya mencuci wajah dan membersihkan make up kemudian memakai lingerie warna hitam yang kurang bahan. Di lihatnya pantulan badannya dari cermin. Biasanya badannya sangat seksi jika memakai lingerie warna hitam kesukaannya.


Sekarang tubuhnya tidak seksi lagi.


Kedua gunung kembar kebanggan nya


sekarang terlalu menonjol dan keras. Pinggangnya yang ramping, juga terlalu membengkak dan tidak berbentuk lagi. Perutnya yang datar yang dulu selau dipamerkan saat memakai bikini, kini tampak tak berbentuk membuncit dan bundar. Tidak ada bagus-bagusnya jika dipertontonkan.


Ada dua tangan yang memegang pinggang Monica pelan, meletakkan kepala pada pundak sebelah kanan,


meniup pelan leher di depannya.


" Bunda malam ini sedang menggoda Ayah ya? Kalau iya, Ayah sudah tergoda hanya dengan melihat, memegang pinggang, dan mencium harum leher Bunda, " kata Juna memberikan pujian.


" Bunda tidak sedang menggoda Ayah. Bunda hanya membandingkan dulu dan sekarang. Sekarang tubuh Bunda jelek, tidak menarik lagi jika di lihat," jawab Monica lirih.

__ADS_1


" Malam ini Bunda sangat cantik, mau Ayah gendong ke tempat tidur?" tanya Juna membuat tanda kepemilikan di leher Monica yang putih


" Ayah masih kuat gendong Bunda ?" tanya Monica membalik badan.


Mereka saling memandang dan Monica sudah mengalungkan kedua lengannya di leher Juna.


" Kita coba, Bunda pegang leher Ayah yang kuat ya!" jawab Juna.


Juna menggendong Monica dan di letakkan dengan pelan di atas tempat tidur. Tangan Monica belum terlepas dan makin erat Juna sudah tidak bisa menahan. Disambarnya bibir Monica dan saling memberi balasan, tapi hanya sebentar.


" Mengapa sebentar dan dilepas? Bunda ada yang sakit ?" tanya Juna.


" Bunda ingin tidur dipeluk Ayah," jawab Monica.


Juna naik ke tempat tidur dan tidur di samping Monica, dinaikkan selimut sampai batas dada.


" Ayah, Bunda besok lahirannya normal saja, karena pingin ngerasain jadi wanita seutuhnya," kata Monica.


" Kalau memang memungkinkan untuk normal tidak apa-apa, tetapi seandainya harus operasi jalan yang terbaik maka kita harus ikuti anjuran dokter," jawab Juna.


" Ayah, Bunda minta maaf jika selama ini selalu membuat marah," kata Monica.


" Mengapa Bunda bilang begitu? Ayah sangat sayang pada Bunda dan baby girl. Ayah akan selalu berada di samping menjaga kalian hingga nanti adik-adik baby girl lahir," kata Juna.


" Bunda juga sayang Ayah, Bunda ingin kita punya keluarga yang besar, agar tidak sepi jika Ayah berangkat kerja. Bunda juga ingin punya anak cowok supaya bisa jaga Bunda dan Kakak beserta adik-adiknya nanti," kata Monica yang telah menghadap Juna serta mengelus wajahnya.


" Bunda ingin punya anak berapa?" tanya Juna sudah memeluk tubuh Monica.


" Lima, pertama baby girl terus tiga adiknya cowok dan terakhir cewek lagi," jawab Monica menghitung dengan jari tangannya," Ayah jika nanti baby girl lahir boleh ya diberi nama Prameswari Cantika Putri Arjuna?"


" Apa artinya Bunda?" tanya Juna.


" Prameswari artinya wanita tertinggi,


Cantika artinya terampil, ulet, dan tangguh, Putri artinya wanita cantik anak Arjuna. Jadi Prameswari Cantika Putri Arjuna artinya Wanita tertinggi sangat terampil, ulet, dan tangguh yang cantik anak dari Ayah Arjuna," jawab Monica.


" Nama yang sangat indah, kita panggilnya apa Bunda?" tanya Juna mencium kedua kelopak mata Monica.


" Kita panggil Eswa, " jawab Monica.


" Baiklah Ayah setuju sekali," jawab Juna yang sudah melepas lingerie yang menempel di tubuh Monica.


Ruangan dengan AC yang dingin tidak terasa karena panas badan Mereka belum dituntaskan. Perut buncit bukan penghalang lagi, dari cara mudah hingga yang tersulit pun dicoba untuk sebuah penyatuan.


Cukup dua kali pelepasan mereka lakukan, takut baby girl bereaksi ingin segera melihat dunia.

__ADS_1


" Ayah, terima kasih telah sayang pada Bunda dan baby girl," kata Monica.


Juna tidak menjawab hanya menambah tanda kepemilikan di tubuh Monica yang tertutup meski sudah tidak ada tempat lagi. Monica akan marah jika tanda kepemilikan yang dibuat Juna terlihat oleh orang lain, apalagi sampai membuat bahan gunjingan.


__ADS_2