MUTIARA KEMBALI DALAM PELUKAN

MUTIARA KEMBALI DALAM PELUKAN
50. Lahir Prematur


__ADS_3

Tiba-tiba perut Delima kram. Sudah dielus tapi tidak hilang juga rasa sakitnya. Semakin ditahan rasanya sakit sampai di ubun-ubun. Keringat sudah membasahi dahi hingga punggungnya. Dirasa tidak kuat diraihnya selimut yang membungkus tubuh adik iparnya.


" Nani, bangun tolong Kakak!" teriak Delima yang masih memegangi perutnya.


Nani yang mendengar teriakan segera bangun dan dilihatnya Sang Kakak sudah kesakitan di lantai kamar.


"Kakak ada apa ?" tanya Nani khawatir.


"Bilang Kak Rangga mungkin Kakak akan lahiran," kata Delima sambil menggigit bibir menahan rasa sakit.


" Baik, Kak," jawab Nani sambil berlari menuju kamar Kakak nya di bawah. Setelah mengetuk pintu, Nani segera membukanya. Tampak Rangga di depan laptop mengerjakan laporan.


"Kak, tolong Kak Delima mau lahiran," kata Nani segera.


"Di mana sekarang," kata Rangga sambil berdiri dan menutup laptop.


"Di kamarku , Kak" jawab Nani singkat .


"Bawa tas ini ke mobil dan kuncinya ada di meja rias itu!" kata Rangga memberi perintah," Kakak akan segera ke atas!"


Nani berlari cepat, di pintu bertemu Bibi.


"Ada apa,Non ?" tanya Bibi.


"Kak Delima mau lahiran, tolong bilang Mama Martha Bu," kata Nani menuju mobil dan memasukan tas yang dibawa ke dalam bagasi. Pintu belakang sudah dibuka dan Pak Agus sudah siap di depan kemudi.


Mama Martha sudah duduk di samping Pak Agus sedangkan Rangga dan Delima di belakang.


"Nani, kamu di rumah temani Angel!" perintah Rangga.


"Baik Kak, semoga lahirannya lancar," jawab Nani.


"Cepat sedikit Pak Agus," kata Rangga sedikit cemas. Dipandangnya istri tercinta menahan rasa sakit dengan mengeratkan gigi-giginya. Rahang tampak mengeras.Butiran keringat dihapus Rangga penuh sayang.


"Mama yang kuat ya? sebentar lagi baby twins akan kita gendong sama-sama," kata Rangga penuh cinta kemudian mencium dahi Delima.


" Iya, Papa. Papa harus temani Mama terus, Mama sangat takut," jawab Delima dengan mata berkaca-kaca.


Tangan Rangga mengelus perut dan tangan bergantian. Sedangkan tangannya sendiri dicengkeram kuat hingga kukunya menancap. Sakit memang, tapi tidak dirasakannya. Perhatiannya fokus pada kondisi sang istri.


Mobil memasuki area UGD Rumah sakit. Dua orang perawat mendatangi pintu mobil yang terbuka dengan mendorong brankar.


Rangga keluar dengan memapah tubuh Delima dan dibantu perawat untuk naik . Mama Martha mengikuti dari belakang bersama seorang perawat laki-laki yang mendorong.


Sedangkan Rangga selalu memegang perut Delima. Di pintu Seorang dokter telah menyambut.


"Maaf, untuk sementara keluarga pasien di luar dahulu dan segera mengurus administrasi," kata dokter menjelaskan.


"Baik dokter, tolong segera tangani istri saya," jawab Rangga.


Delima masuk diikuti dokter, sedangkan Rangga mengurus administrasi.


Mama Martha duduk di bangku, tampak Pak Agus yang selalu waspada duduk memegang hp nya.


Lima belas menit kemudian. Pintu ruang UGD terbuka dan keluar dokter tadi.


"Keluarga Nyonya Delima ?" kata dokter dengan suaranya yang terdengar keras di telinga Rangga.

__ADS_1


Rangga segera berdiri dan setengah berlari menghampirinya.


"Iya dokter, saya suaminya ," jawab Rangga.


" Dengan Bapak?" tanya dokter.


"Nama saya Rangga, dokter," jawab Rangga.


"Pak Rangga, istri bapak harus segera dioperasi untuk menyelamatkan ibu dan bayinya. Jika Bapak setuju segera tanda tangani kertas ini!" kata dokter menjelaskan.


"Baik dokter, saya setuju," jawab Rangga segera mengambil kertas kemudian menandatangani.


Setelah selesai mengembalikan pada dokter yang bertugas.


"Tolong Selamatkan istri dan anak saya, dokter," kata Rangga setengah khawatir.


"Baik, Pak. Setengah jam lagi operasi akan di mulai. Siapa yang akan menemani Nyonya Delima?" tanya dokter kemudian.


"Saya dokter," jawab Rangga cepat.


"Baik, pasien akan segera ke luar menuju ruang operasi," kata dokter langsung masuk membawa kertas yang di tandatangani Rangga.


"Bagaimana dengan Delima?" tanya Mama Martha memegangi tangan Rangga.


" Akan segera di operasi,Ma," jawab Rangga memberi tahu keadaan istrinya.


"Yang tenang, berdoa saja semua akan berjalan dengan lancar," kata Mama Martha menenangkan hati dan memberikan semangat pada menantu yang sudah dianggap anak baginya.


"Baik, Ma. Rangga akan menelpon Bapak dan ibu di Semarang," kata Rangga sambil mengeluarkan hp dari saku celana.


"Pak, tolong telpon Nani, beritahu tidak usah masuk kerja dahulu dan segera bawa Angel ke rumah sakit karena Delima akan segara dioperasi," kata Mama Martha menjelaskan.


"Baik, Nyonya," jawab Pak Agus mengangguk patuh.


Pintu ruang UGD terbuka perawat mendorong brankar. Ada Delima yang sudah dipasang infus dan memakai selang oksigen.


Mama Martha mendekati dan memegang tangan Delima.


"Yang kuat ya, Nak. Mama doakan semua berjalan lancar," kata Mama Martha.


"Iya, Ma terima kasih. Bagaimana dengan Bapak dan Ibu di Semarang?" tanya Delima menengok ke arah suaminya.


"Bapak dan Ibu serta keluarga akan segera datang. Ibu pesan kamu harus kuat, karena sebentar lagi akan menjadi Mama dari satu putri dan dua putra," jawab Rangga yang selalu mengelus dahi Delima.


Mata Delima berkaca-kaca mengingat mereka.


Akhirnya sampai di ruang operasi. Rangga menemani masuk sedangkan Mama Martha dan Pak Agus menunggu di luar.


Setelah berganti baju, Rangga duduk di dekat kepala Delima. Sambil mengelus dahi dan selalu mencium tangan Delima, tak lupa berdoa untuk keselamatan orang-orang yang dicintainya. Selang setengah jam tangis bayi dengan suara lantang mengagetkan Rangga.


" Oek.....oek.....oek....," suara tangis bayi pertama.


Rangga tetap mengelus dan menciumi tangan istrinya.


"Mama, itu satu baby twins telah lahir," kata Rangga dengan senyum bahagia.


Delima hanya mengangguk dan matanya berkedip dua kali. Butir air mata jatuh dan segera dihapus oleh tangan Rangga.

__ADS_1


Rangga terus berdoa dan Tek pernah lepas tatapannya dari sang istri.


"Ayo, kenapa kamu tidak menangis ganteng!" kata dokter mengagetkan Rangga.


Rangga segera berdiri. Ia melihat bayi yang masih berlumuran darah diangkat dan dibalik tubuhnya. Dipukulnya pantat sang bayi tiga kali.


"Oek....oek.....oek..," suara bayi yang kedua tak sekeras yang pertama.


Rangga menangis dan diciuminya wajah sang istri.


"Terima kasih, Ma. Yang kedua juga sudah lahir," kata Rangga sambil menghapus air matanya.


"Sama-sama,Pa. Mama bahagia sekali," jawab Delima.


Dokter menghampiri Rangga.


"Selamat ,Pak!" kata dokter sambil menjabat tangan Rangga.


"Terima kasih, dokter. Boleh melihat kedua bayi saya?" tanya Rangga kemudian.


"Silahkan, Pak," jawab dokter ramah.


Rangga meninggalkan Delima yang sedang ditangani menuju kedua bayinya. Mereka berdua dimasukan pada inkubator. Walaupun sehat berat badannya sangat kurang sehingga perlu penghangat untuk menyesuaikan di lingkungan luar.


"Bayinya boleh di adzan i , Suster?" tanya Rangga meminta ijin.


"Boleh, Bapak. Silahkan," jawab suster bergeser memberi tempat pada Rangga. Setelah selesai Rangga memegang wajah kedua bayi tersebut. Meski kecil tampak sangat tampan. Hidung keduanya sangat mancung. Kedua mata masih terpejam dan tangan itu sangat lentik.


"Bapak, silahkan tunggu di ruang VVIP Ibu Delima akan segera kami antar," kata suster saat selesai merawat Delima.


"Baik Sus, kami akan menunggu di sana, " jawab Rangga kemudian menghampiri Delima.


"Ma, Papa ke luar dulu," kata Rangga sambil mencium dahi, kedua mata, hidung, dan terakhir mengecup bibir tipis itu sekilas.


"I love you," kata Rangga lirih.


"I love you, to," jawab Delima dengan gerakan bibir dan tersenyum.


Rangga keluar dengan senyum merekah.


Di luar sudah menunggu keluarga. Pertama yang menghampiri Mama Martha.


"Bagaimana keadaan mereka?" tanya Mama Martha memegang kedua tangan Rangga.


"Alhamdulilah, Mereka sehat Ma," jawab Rangga dengan wajah ceria.


"Alhamdulillah...," kata mereka penunggu di luar kamar operasi bersamaan.


"Papa, baby twins mana?" tanya Angel yang sudah ada di hadapan Rangga.


Rangga berjongkok mensejajarkan tubuhnya.


"Baby twins ada di dalam, mari kita tunggu di kamar Mama," kata Rangga sambil meraih putri kecilnya untuk di gendong.


"Angel jalan saja Papa, kan sudah besar," jawab Angel sambil meraih tangan Rangga untuk digandeng.


Mereka akhirnya bersama menuju kamar VVIP tempat Delima akan dirawat pasca melahirkan.

__ADS_1


__ADS_2