
Persiapan untuk kembali ke Jakarta membuat rumah keluarga Bapak Brata sudah ramai sejak pagi. Persiapan kepulangan putri sulung yang sudah melepas masa lajang dan membina sebuah rumah tangga membuat Bapak Brata dan Ibu Sukma tidak bisa tidur semalaman.
Prov. Ibu Sukma
"Pak, bagaimana kita besok menyambut rombongan tamu besan yang akan datang?" tanya Ibu Sukma setelah mereka masuk kamar.
"Begini saja kita membagi tugas. Ibu urusan catering dan Bapak untuk dekor ruangan dan tamu undangan," jawab Bapak Brata.
"Bagaimana kalau kita mulai menghubunginya malam ini, jadi besok hanya menambahi yang kurang-kurang saja," kata Ibu Sukma memberi usul.
Ibu Sukma dan Bapak Brata sibuk dengan chatting masing-masing. Mereka bisa tidur setelah urusan ya selesai.
Mereka merencanakan sebuah pesta kecil untuk perpisahan. Bapak Brata menghubungi Bapak RT setempat dan para tetangga terdekat untuk hadir. Ibu Sukma menghubungi teman-teman arisan untuk membuat snack, aneka minuman jus buah, aneka lauk, dan puding. Semua sudah harus siap tersaji. Bapak Brata menelpon temannya yang mempunyai persewaan dekorasi untuk menyulap ruang tamu menjadi ruang pesta dan sudah siap pukul 08.00 WIB.
Pada pagi harinya Adik-adik Delima pun sudah rapi memakai baju sarimbit. Bapak Brata dan Ibu Sukma telah menunggu tamu. Ibu Sukma masih sibuk mengecek hidangan agar tidak mengecewakan.
Delima dan Rangga yang keluar kamar hendak sarapan terkejut melihat ramainya orang yang hilir mudik. Bau masakan yang menggugah selera membuat perut Delima dan Rangga terdengar irama keroncongan. Langkah mereka berhenti di ruang tamu. Mereka berkeliling sambil membaca tempat pondokan- pondokan yang berisi makanan yang telah siap untuk disantap. Ada sate, soto, tengkleng, dan syomay. Juga tersaji aneka jus buah dan Snack menggugah selera. Puding merupakan pilihan sebagai penutup.
"Sayang, apa ada pesta pagi ini?" tanya Rangga kepada istrinya.
"Tidak, Kak. Tadi malam kan tidak ada pembicaraan seperti yang kita lihat pagi ini," jawab Delima juga penuh tanya.
"Kamu sudah bangun, Nak ?" tanya Bapak Brata sudah ada di samping mereka.
"Iya, Pak," jawab Delima dan Rangga bersamaan.
"Ini ada acara apa ,Pak?" tanya Delima.
"Bapak dan Ibu membuat pesta kecil untuk kepulangan kalian ke Jakarta," kata Bapak Brata menjelaskan.
"Sebetulnya tidak usah memakai acara resmi seperti ini, Pak, " kata Rangga, " Akan merepotkan keluarga saja".
"Tidak masalah, Nak Rangga. Delima anak Ibu yang akan lama tidak bertemu," kata Ibu Sukma.
"Ibu, sewaktu-waktu keluarga menghendaki Delima pulang, kami akan mengusahakannya," kata Rangga meyakinkan.
"Ibu tahu itu, Nak Rangga. Tapi biarkan kami memberi kesan yang indah," jawab Ibu dengan senyum.
__ADS_1
"Keluargamu akan datang jam berapa Rangga?" tanya Bapak Brata.
"Sekitar pukul 09.00 WIB, Pak ," jawab Rangga.
"Kalian mau mandi dulu apa langsung sarapan? Maaf kami semua tadi sudah mendahului, karena yakin kamu bangunnya akan siang, " kata Ibu Sukma memberikan wacana.
"Kak, nanti Baby boy ya? Wendy biar ada temannya main bola dan sepedaan," kata Wendy dari belakang punggung Rangga dan Delima.
Yang ditanya hanya bingung mengartikan.
( Baby darimana? Main bola saja belum kata Rangga dalam hati.)
"Wendy, jangan ngawur kamu!" kata ibu Sukma, "Sana temani Bapak menerima tamu di depan pintu!"
"Nak Rangga, maafkan Ibu tidak bisa mendidik sopan santun," kata ibu Sukma memohon.
"Tidak apa-apa, Bu. Mungkin itu tadi hanya bercanda saja," jawab Rangga.
"Kakak mau mandi dulu apa Delima ambilkan sarapan?" tanya Delima.
"Yuk, kita mandi dulu saja!" kata Rangga menggandeng tangan Delima.
Delima mengambil bantal kursi di dekatnya.
"Awas kamu! Kakak tidak akan memberi uang saku!" kata Delima menggoda.
"Maaf Kakakku yang cantik, Wendy hanya bercanda. Kak Rangga, tolong bujuk Kak Delima ," kata Wendy menempelkan kedua tangannya .
"Boleh aku gendong Kakakmu Wendy?" tanya Rangga ikut menggoda.
"Boleh, Kak!" kata Wendy mengacungkan ibu jarinya.
Dengan cepat Rangga membopong Delima. Delima terkejut dengan tindakan tiba-tiba hingga mengalungkan kedua tangan di leher Rangga. Semua mata yang melihat aksi Rangga tersenyum. Dasar pengantin baru jaman sekarang tidak punya rasa malu. Dunia seakan hanya milik mereka berdua saja.
Satu jam Delima dan Rangga keluar dengan baju yang sama. Tampak cocok sekali. Senyum selalu terpancar dari wajah Meraka. Setelah sarapan Rangga keluar menemani Bapak Brata, Sudah banyak tamu. Semua para tetangga yang diundang Bapak Brata sedangkan Delima mendampingi Ibu Sukma ngobrol dengan tamu ibu-ibu.
Akhirnya rombongan tamu besan datang. mereka disambut oleh Bapak Brata dan Ibu Sukma beserta para tetangga. Keluarga dari Rangga yang datang adalah Bapak Ibu dari Rangga, Mama Martha, Monica, Nani, Angel, dan keluarga dari jauh juga ada.
__ADS_1
Acara pun dimulai dari sambutan Bapak Brata, besan, pengantin pria, dan diakhiri dengan doa. Rangkaian acara ditutup ramah tamah. Para tamu undangan dan keluarga dipersilahkan menikmati hidangan yang sudah disediakan.
Sekitar 1 jam bercengkrama serta menikmati makan dirasa sudah cukup, maka tamu undangan mohon diri untuk pulang. Di halaman tampak terparkir dua armada yang akan membawa rombongan pulang sudah siap.
Tas milik Rangga dan Delima sudah ada di ruang tengah hendak di masukan dalam bagasi mobil. Rombongan besan juga sudah pulang semua. Tinggal Mama Martha, Monica, Nani dan Angel terakhir yang bersalaman dengan Bapak Brata dan Ibu Sukma. Mereka menuju ke mobil masing-masing. Delima mendekati Ibu Sukma kemudian memberikan amplop besar putih yang b
"Ibu, ini ada rejeki sedikit untuk membantu Adik-adik ll, " kata Delima dengan suara bergetar.
"Terima kasih, Anakku. Sekarang kamu sudah mempunyai keluarga, utamakan dulu keluargamu. Di sini kami selalu mendoakan yang terbaik untukmu," jawab Ibu Sukma.
"Adik-adik mana ,Bu?" tanya Delima. Adik-adik yang mendengar namanya disebut berlarian mendekati Delima. Delima mengeluarkan uang untuk dibagi masing-masing Rp 200.000 untu ditabung.
Delima pamit mencium tangan Bapak Brata dan memeluknya erat.Rangga juga mengikuti Delima pamit Ibu Sukma mencium tangan dengan takzim. Mereka saling memeluk. Ketika semua sudah berada di dalam mobil. Rangga memberi perintah untuk berangkat.
"Mari ,Pak kita berangkat Pelan-pelan saja jalannya".
Mesin mobil dinyalakan. Di depan mobil yang di tumpangi Rangga dan Delima berhenti sebuah sepeda motor gedhe. Pengendara turun dan membuka helm. Seorang pemuda ganteng berpenampilan gagah sedang menghampiri mobil dengan senyum membungkuk sopan.
"Bolehkah saya mengganggu sebentar ?" tanya Ronald yang ditujukan kepada Rangga yang berada dekat jendela mobil depan untuk penumpang.
"Pak, matikan dulu mesinnya. Ayo Sayang, kita turun!" kata Rangga mengajak Delima.
Rangga membuka pintu mobil dan membantu Delima turun Mereka saling berhadapan.
"Maaf, saya mengganggu sebentar. Delima selamat menempuh hidup baru, semoga kalian berbahagia selalu. Aku akan menjadi orang sukses, seperti keinginan kamu. Aku akan bangun rumah penampungan untuk anak- anak Yatim Piatu seperti mimpi kamu. Selamat jalan aku harap jangan putuskan silahturahmi kita, " kata Ronald menatap manik mata Delima.
"Terima kasih Ronald, jaga kesehatanmu dan jangan terlalu sering begadang," kata Delima dengan senyum ramah.
"Selamat jalan dan selamat sampai tujuan," kata Ronald menjabat tangan Delima.
"Terima kasih," jawab Delima singkat.
"Selamat Rangga, buatlah mutiara ku bahagia. Jika kau tak sanggup kembalikan dia padaku," kata Ronald memberi pesan.
"Terima kasih, Dia sekarang kesayanganku dan akan selalu berbahagia bersama keluarga kecilku. Hapus mimpimu untuk mendapatkan mutiara yang telah kau buang," jawab Rangga mantap dan menjabat erat uluran tangan Ronald.
"Permisi, kami pergi dulu," kata Rangga dan membuka pintu mobil.
Rangga dan Delima masuk dalam mobil. Mesin mobil dinyalakan mobil pun melaju pelan meninggalkan halaman rumah Bapak Brata. Mobil kedua mengikuti dari belakang.
__ADS_1