
Libur hari besar dimanfaatkan Delima dan Nani bermalas-malasan saja di rumah, karena memang resto tutup jika hari Minggu dan hari besar. Setelah sholat Subuh mereka kembali menarik selimut hingga pukul 08.00 Delima terjaga. Rasa malas masih menggelayuti mata. Dipaksakan tubuhnya menuju kamar mandi untuk membersihkan diri. Kurang lebih 30 menit Delima keluar. Rambutnya Masi dililit dengan handuk agar cepat kering tanpa alat pengering rambut. Delima menuju dapur. Hanya ada sosis, telur, dan sayuran. Untuk sarapan pagi ini akan membuat nasi goreng sosis dengan Telur ceplok saja. Beberapa menit kemudian sudah tersaji dua piring nasi goreng di meja makan ditemani dengan dua gelas susu coklat. Delima segera membangunkan Nani untuk sarapan. Nani hanya mencuci muka dan gosok gigi. Delima telah kembali dari menyisir rambutnya dan memoles sedikit bedak serta memberikan lipstick merah muda di bibirnya. Delima duduk di depan Nani. Segera menyantap sepiring nasi goreng yang telah tersaji. Nani pun mengikuti kegiatan Delima. Habislah nasi goreng dan segelas susu coklat.
Delima berdiri mengambil piring dan gelas kotor kemudian mencuci hingga bersih dan menaruhnya di rak piring. Dengan penuh kekaguman Nani memandangi Delima, sedangkan yang dipandang jadi risih.
"Apa aku ada yang salah?" tanya Delima.
"Kamu sudah pantas jadi seorang istri dan aku jadi anak pertama," jawab Nani sambil tersenyum imut seperti balita.
Delima pura-pura jemberut. Kemudian tersenyum sambil mencubit kedua pipi Nani.
"Istri? Calon suami saja tidak punya," jawab Delima sambil mendorong Nani ke kamar mandi.
"Cepat Adik cantik, sana mandi tubuhnya bau asem!" perintah Delima
"Oke, Kakak bawel," jawab Nani dengan wajah lucu.
Sepeninggal Nani, Delima mengambil hp dan duduk di ruang tamu. Dibukanya wa satu per satu tanpa membalasnya, karena tidak begitu penting. Saat dilihat ada beberapa wa dari Bapak, Delima segera membuka dengan wajah serius.
Bapak
Bagaimana kabarmu Delima
Bapak
Kabar kami sekeluarga sehat
Bapak
Dua hari lagi adikmu akan ujian dan tes. Kalau kamu mau bantu bapak sangat berterima kasih sekali. Tapi kalau tidak, jangan dipaksakan.
Bapak
Maaf, bapak belum bisa membahagiakanmu
Bapak
Ini no rekening bapak 10.40.xx.x di bank xxxx
Segera Delima membalas wa bapaknya masih dengan pandangan buram, Karena air mata yang telah mengalir tanpa disuruh.
Delima
Delima sehat bapak
Tak berapa lama ada notifikasi masuk.
Bapak
Alhamdullilah, Bapak senang
Delima segera membalas wa dengan senyum yang mengembang
Delima
Delima akan transfer sedikit uang untuk biaya sekolah Adik-adik
Bapak
Terima kasih,Nak
Delima
Iya, Pak. Bapak jaga kesehatan
Delima meletakkan hp di atas meja. Dihapusnya air mata dengan kedua tangannya.
Ketukan dari arah pintu membuat Delima berdiri dan melangkah ingin membukanya. Pintu terbuka. Suara kecil melengking membuat Delima terkejut
"Mama...,"
"Angel. Bersama siapa kamu ke sini ?" tanya. Delima.
"Bersamaku dan Mama Martha," jawab Rangga.
" Selamat siang Pak Rangga! Selamat siang Nyonya," jawab Delima cepat.
"Silahkan masuk Pak Rangga, Silahkan masuk Nyonya, Ayo Angel kita masuk," ajak Delima sambil menggandeng tangan mungilnya.
"Ada tamu siapa, Delima ?" tanya Nani dengan berteriak keluar menuju ruang tamu.
Nani sangat malu ketika dilihat ada Pak Rangga, Nyonya Martha, dan Angel sudah duduk di kursi tamu.
"Maaf Kak..Nyonya...," kaAdikku malas sekali. Jam segini baru bangun," kata Rangga.
"Delima juga Kak, barusan bagun," jawab Nani membela diri.
"Mama sudah cantik!" kata Angel membela Delima, ,"Tante baru saja mandi ".
"Tante Delima, Angel,"kata Mama Martha menjelaskan.
"Iya Oma, Tante Delima," kata Angel dengan suara pelan dan kepala menunduk.
"Angel mau minum apa ? Panas atau dingin ? ," tanya Delima memecahkan keheningan.
__ADS_1
"Angel yang dingin, Tante," kata Angel menjawab pelan.
"Mau es teh apa es jeruk ?" tanya Angel.
"Angel mau es jeruk, Tante," kata Angel dengan wajah ceria.
" Baiklah," jawab Delima," Pak Rangga dan Nyonya mau minum apa?"
"Mama es jeruk saja," jawab Mama Martha.
"Aku minta kopi ya, jangan manis-manis,"kata Rangga.
"Baiklah, tunggu sebentar saya masuk ke dalam ," kata Delima sambil berdiri membungkukkan badan dan segera masuk ke dapur
Beberapa menit kemudian Nani ke luar membawa minuman yang dipesan, sedangkan Delima membawa kue kering sebagai cemilan. Minuman dan cemilan sudah tersaji di atas meja. Delima mempersilahkan untuk menikmatinya.
"Mari Nyonya, Pak Rangga dan Angel dinikmati".
"Terima kasih," jawab Pak Rangga.
Mereka menikmati suguhan yang ada sambil bercanda ria. Hp Nani bergetar. Nani melihat hp ada notifikasi masuk.
Kakakku comel
Bawa Mama Martha dan Angel bermain di halaman depan atau apa saja. Aku ada perlu sama Delima
Nani
Siap, ditunggu uang tutup mulutnya
Kakakku comel
👍 Satu jam ya
Nani
Kakak, lama banget
Kakakku comel
2 X lipat
Nani
SIAP BOSSS
" Nyonya, mari kita melihat-lihat halaman depan!" kata Angel sambil memberikan kode pada Mama Martha. Mama Martha yang mengerti arti kedipan mata Nani menyetujuinya dan mengajak Angel untuk mengikuti.
"Iya Oma, nanti kalau dapat Angel bawa pulang ya ," kata Angel meminta.
"Baiklah, tapi jangan lupa kupu-kupu nya diberi makan," jawab Oma Martha.
"Nak Delima, kamu temani Rangga di sini saja!" kata Oma Martha memberi perintah.
"Baik,Nyonya," jawab Delima singkat.
Suasana menjadi hening. Rangga menatap Delima di depannya. Sebaliknya Delima tidak berani mengangkat wajahnya. Tangannya hanya memainkan kuku-kuku di jarinya
Rangga memecahkan keheningan dengan bertanya.
"Kami mengganggu kegiatan kalian siang ini?"
"Tidak, Pak Rangga," jawab Delima.
"Kamu lupa memanggil ku kalau di luar resto?" tanya Rangga.
"Tidak, Kak," jawab Delima.
"Tidak apa?" tanya Rangga lagi.
"Tidak lupa memanggil dan tidak mengganggu," jawab Delima agak kesal.
"Delima kamu sudah mendapat nomor rekening bapak Brata ?" kata Rangga mengalihkan pembicaraan.
"Sudah," jawab Delima.
"Sudah jadi Transfer?" tanya Rangga.
"Belum," jawab Delima.
"Baiklah sekarang aku bantu," jawab Rangga sambil mengeluarkan hp dari saku celananya.
"Tidak usah ,Kak. Nanti tidak Nani saja yang bantu," jawab Delima menolak bantuan Rangga.
"Keluargamu telah menunggu, jadi sekarang saja lebih baik," jawab Rangga menjelaskan.
"Baiklah ini nomor rekening bank saya," kata Delima menunjukkan tulisan di kertas.
"Berapa nomor rekening Bapak Brata?" kata Rangga kemudian.
"Ini nomor rekening Bapak," kata Delima menunjukkan nomor di kertas.
"Berapa jumlah uang yang akan kau transfer?" tanya Rangga.
__ADS_1
"Lima juta," jawab Delima singkat.
"Kamu masih ada sisa untuk keperluan mu sehari-hari?" tanya Rangga.
"Ada, Kak," jawab Delima.
Delima memperhatikan tangan Rangga yang menari lincah di atas hp mahalnya. Rangga berdiri dari tempat duduknya dan duduk di kursi samping Delima.
"Ini bukti transfer kamu!" kata Rangga sambil menunjukkan layar di hp miliknya,," Beri tahu Bapak sekarang dan besok bisa diambil untuk keperluan adikmu".
Delima seperti kerbau yang dicocok hidungnya. Diambilnya hp di atas meja dan mencari salah satu nomor kemudian ditekannya tombol gambar telpon warna hijau.
"Assalamualaikum, Pak," kata Delima ketika ada suara di seberang sana.
"Waallaikum salam, Nak ," jawab Bapak Brata.
"Delima sudah tranfer ke rekening Bapak sebesar lima juta semoga cukup untuk keperluan adik sekolah," kata Delima.
" Iya, Nak terima kasih," kata Bapak Brata.
"Sama-sama, Pak salam buat Ibu dan adik-adik.Assalamualaikum," jawab Delima.
"Waallaikum salam," jawab Bapak Brata.
Setelah menutup pembicaraan, Delima memandang hp di tangannya Terbayang wajah Bapak dan Ibu serta adik-adik. Sebutir air mata jatuh pelan di pipinya. Tangan kiri Rangga mengusap air mata itu, sedangkan tangan kanan menarik pundak Delima. Delima terhanyut dalam suasana. Direbahkan kepala di dada bidang Rangga. Perasaan nyaman membuatnya terpejam. Ada yang memegang dagu, kemudian ibu jari pelan mengusap bibirnya. Sebuah Kecupan singkat menyadarkan rasa nyaman tersebut. Delima membuka mata. Tidak ada jarak di wajah keduanya. Tatapan Rangga yang mendamba menimbulkan getar-getar halus di relung hatinya. Rangga tersenyum menyaksikan Delima yang masih diam. Delima semakin terpana menyaksikan senyuman itu. Sebelum sadar penuh dari rasa nyaman, Rangga menempelkan lagi bibirnya. Penyatuan itu cukup lama. Mereka saling mendamba dan merasakan. Rangga cepat mengakhiri sebelum berlanjut ke nafsunya untuk meminta suatu pelepasan.
"Kau sangat cantik," kata Rangga berbisik di telinga Delima.
"Kakak, Apa yang kita lakukan tadi," tanya Delima malu dengan pipi merah seperti tomat matang.
"Apa ini pertama kali untuk kamu?" tanya Rangga dengan menyembunyikan senyum bangga.
"Iya, Kak. Kakak yang mengambilnya," jawab Delima malu.
"Terima kasih, mulai hari ini jaga hati kamu untukku. Sekarang pergilah, ambilkan aku segelas air es !" perintah Rangga.
Delima langsung berdiri menuju kulkas untuk mengambil air dingin di botol. Dituangkan dalam gelas dan dibawanya ke luar. Rangga menerima air es tersebut lalu meminumnya sampai habis.
"Terima kasih,sayang," kata Rangga.
"Kak, nanti ada yang dengar," kata Delima dengan suara pelan.
"Mengapa tidak duduk di sini?" kata Rangga sambil menepuk sofa di sebelahnya.
"Takut!" jawab Delima singkat.
"Mengapa takut?" tanya Rangga penuh selidik.
"Kakak seperti harimau yang siap menerkam," kata Delima.
"Karena kamu daging kelinci yang pasti enak kalau segera dinikmati," jawab Rangga tak kalah memberikan perumpamaan.
Pembicaraan intim tersebut terpotong dengan teriakan senang suara Angel.
"Papa..., Angel dapat kupu-kupu cantik!" seru Angel.
"Mau dibawa pulang ya?" tanya Rangga.
"Iya, boleh Pa ?" tanya Angel.
"Boleh," jawab Rangga singkat.
Angel melangkah pelan mendekati tempat duduk Delima. Sorot matanya tajam ingin menyampaikan sesuatu tapi ragu.
"Tante Delima, bolehkah Angel memanggil Tante Mama ? Angel tidak punya Mama seperti teman-teman".
Delima tidak segera menjawab. Pandangannya tertuju Pada Mama Martha. Wajah renta yang menyimpan rasa lelah itu tersenyum. Dialihkan pandangan Delima ke Rangga. Laki-laki dewasa penuh kharisma itu mengangguk. Masih setengah ragu Delima hanya mengangguk.
"Mama," kata Angel memeluk leher Delima.l
Tiga orang dewasa yang melihat pemandangan itu menjadi terharu. Mereka tidak bisa berkata apa-apa. Rangga memutus keharuan itu
"Angel, ayo pulang kamu harus tidur siang!" kata Rangga penuh perintah.
"Mama, Angel pulang dulu ya?" kata Angel dengan nada riang
"Iya sayang, hati-hati di jalan," jawab Delima sambil mencubit pipi Angel.
Mereka pamit pulang. Delima dan Nani mengantar sampai mobil. Di dalam mobil Nani belum mau melepaskan keponakannya yang lucu. Tiba-tiba Rangga berucap di luar pemikiran orang dewasa.
"Tunggu ya, Papa mau ke belakang sebentar. Delima kamu bisa mengantarnya?" tanya Rangga.
"Baik Kak, mari, " kata Delima mengajak Rangga masuk ke dalam rumah. Sesampainya di kamar mandi Delima membuka pintu mempersilakan Rangga masuk. Tak disangka tangan Delima ditarik dan pintu ditutup. Tubuh Delima dikunci hingga mengikis jarak di antara keduanya. Bibir Rangga dengan rakus menyambar bibir Delima. Lidahnya liar mengabsen setiap celah gigi. Keluar ******* Delima. Rangga semakin menggila. Kaos Delima sudah terlepas dari tubuhnya. Ketukan pintu menyadarkan posisi mereka. Delima sudah menggantung seperti koala di leher Rangga. Delima segera memakai kaos. Saling membenahi tubuh mereka masing-masing
"Kak, Angel sudah lama menunggu!" teriak Nani.
Pintu kamar mandi terbuka. Mereka keluar seperti pencuri yang tertangkap basah.
Degan senyum penuh percaya diri Rangga berucap pada Nani.
"Sekarang kamu harus patuh pada Delima, karena dia Kakak kamu. Laporkan ke Kakak jika ada laki-laki yang ingin mendekatinya".
Rangga menarik pergelangan tangan Delima untuk keluar menuju mobil. Delima menunggu di teras. Rangga menuju pintu kemudi membuka dan duduk dengan senyum tetap mengembang. Mesin dinyalakan Angel melambaikan tangan Pada Delima. Delima membalas. Mobil pun hilang dari pandangan Delima.
__ADS_1