MUTIARA KEMBALI DALAM PELUKAN

MUTIARA KEMBALI DALAM PELUKAN
24. Buah Dari Perbuatan Monica


__ADS_3

BRAKKK


Suara pintu ditendang dengan kekuatan penuh menimbulkan suara keras di malam yang sunyi.


Semua yang mendengar pasti akan terkejut, apalagi orang yang sedang tertidur lelap.


Rangga naik pitam.


"Bangun kalian!" kata Rangga berteriak keras.


Dua orang yang berada di atas tempat tidur terkejut. Segera mencari selimut untuk menutupi tubuhnya.


"Saya tunggu lima belas menit, bersihkan tubuh kalian berdua saya di depan, " kata Rangga menahan emosi dan keluar di ruang tamu.


Lima belas menit kemudian kedua insan yang berlainan jenis itu sudah keluar dalam keadaan rapi. Bapak yang mengantar Rangga sudah kembali.


"Monica, jelaskan semua yang terjadi pada Kakak!" tanya Rangga membentak.


Monica hanya diam dan menangis terisak-isak.


"Maafkan saya Tuan," jawab Cheff memandang wajah Rangga.


"Diam kamu! Saya bertanya pada Monica," jawab Rangga keras.


Monica semakin terisak keras. Wajahnya memandang Rangga penuh kebencian.


"Semua salah Kakak. Enam tahun Monica menunggu untuk menjadi istri Kakak, tapi apa yang Monica dapat Kakak malah menikahi cabe-cabean yang hanya memanfaatkan kemiripan wajahnya dengan Kakak Cantika," jawab Monica memandang marah pada Rangga.


Plak !


Tamparan keras mendarat di pipi Monica.


"Jangan ucapkan itu lagi ! " jawab Rangga mengepalkan tangannya.


"Chef Juna ini belum selesai. Temui saya besok pukul 09.00 di resto. Pukul 10.00 s.d 12.00 bantu membagikan sembako untuk penduduk di sekitar, " kata Rangga sambil berdiri, " Saya pergi dulu. Saya ijinkan kamu menemani Monica".


"Baik,Tuan. Besok pukul 09.00 saya akan datang. Saya juga akan membantu memberikan sembako untuk penduduk sekitar, " jawab Cheff Juna meski Rangga sudah tidak ada.


Kemarahan Rangga sebenarnya tidak hanya untuk Monica saja. Termasuk Cheff Juna. Rangga belum tahu bagaimana pribadi dan keluarganya.


Sesampainya di kamar Rangga menelpon penanggung jawab resto.


" Ya,Tuan," jawab Pak Rudi dari seberang.


" Tolong cari tahu siapa Cheff Juna, kirim ke email, Saya tunggu malam ini juga!" kata Rangga memberi perintah.


" Baik, Tuan," jawab Pak Rudi .


Rangga menutup telpon ke Pak Rudi. Ada telpon dari Delima yang masuk.


" Malam, Kak . Apa ada masalah ?" tanya Delima khawatir melihat wajah lusuh Suaminya.

__ADS_1


" Tidak ada besok Sabtu setelah Angel pulang sekolah, kalian langsung ke Lembang. Tolong bawa perlengkapan selama dua Minggu. Nanti Mama Martha akan Kakak hubungi," kata Rangga tanpa basa-basi.


" Kakak lupa kalau Delima istrinya Kakak ?" tanya Delima mengingatkan.


"Sayang, Kakak di sini sedang ada masalah. Besok siang akan kita bicarakan bersama ," kata Rangga.


"Kak, I love you," kata Delima mesra.


" I love you too, Sayang," kata Rangga menutup ponselnya.


Dicari no ponsel Mama Martha. Rangga mengirim wa.


Rangga


Mama, Rangga berencana akan bulan madu di Lembang selama dua Minggu. Berangkatnya setelah Angel pulang sekolah saja.


Jaga kesehatan Mama.


Kumandang adzan subuh sudah terdengar dari Masjid setempat. Rangga mencoba memejamkan mata. Dirasakan baru beberapa menit, sudah dibangunkan oleh alarm pukul 07.00. Rangga segera bangun dan mandi. Pagi ini ada pembicaraan serius. Tapi dia perlu sarapan terlebih dahulu.


Selesai sarapan muncul Cheff Juna di hadapannya.


"Selamat pagi, Tuan," kata Cheff Juna sopan.


"Selamat pagi silahkan duduk," kata Rangga.


"Terima kasih, Tuan," kata Cheff Juna.


"Mau minum apa?" tanya Rangga .


" Cheff, Juna. Tolong kamu ceritakan kejadian setelah saya meninggalkan meja untuk maju ke depan panggung. Semua tanpa ada satupun yang kamu tutupi !" kata Rangga menuntut penjelasan.


Prov Cheff Juna


Melihat Pak Rangga menukar minumannya dengan minuman Nona Monica menimbulkan suatu pertanyaan di benak Cheff Juna.


Ketika saling menyulang minuman, Nona Monica tersenyum dengan tipis. Seperti ada rasa bahagia. Senyum mengembang lebar ketika Pak Rangga menghabiskan minumannya sebelum maju ke depan panggung. Nona Monica pun bersulang dengan Cheff Juna dan Saras menghabiskan minumannya juga.


Ditengah acara penandatanganan surat perjanjian Nona Monica mengeluh kepala terasa berat.


" Maaf, Saya tinggal sebentar mau mencari minuman hangat," kata Monica.


Tubuh nya terhuyung, dengan sigap Cheff Juna membantu.


Setelah habis satu gelas tubuh Monica merasa gerah. Mereka duduk di bangku taman.Monica selalu menempel membuat Cheff Juna risih.


" Nona, mari saya antar ke bilik," kata Cheff Juna.


Cheff Juna mengantar hingga depan bilik serta membuka pintu. Tubuh Monica limbung dan terjatuh. Diangkatnya kemudian diletakkan di atas tempat tidur. Keinginan untuk meninggalkan sendiri dalam posisi pingsan membuat perasaan Cheff Juna tidak tega. Ditunggu di ruang tamu hingga terlelap dalam tidur.


Pagi harinya Monica telah sadar. Tahu dirinya diantar oleh Cheff Juna bukan Rangga, emosinya memuncak. Sangat marah menyebut Cheff Juna mengambil kesempatan saat tidak sadarkan diri, tangan Monica sudah melayang ingin menampar. Dengan sigap ditahan oleh tangan Chef Juna. Tubuh Monica terdorong hingga terbentur tembok. Tidak diam malah semakin marah. Rambut Cheff Juna ditarik keras. Kedua tangan Monica dikunci di atas dengan satu tangan, tangan yang lain menarik dagu. Tanpa disangka mukanya diludahi. Cheff Juna hilang kesabaran diciumnya bibir Monica dengan beringas dan kasar. Tanpa kelembutan. Monica tetap marah dan melampiaskannya hingga satu tendangan mengenai senjata pusaka Cheff Juna. Diangkatnya tubuh tinggi dan ramping Monica, dijatuhkan di atas tempat tidur. Kemudian di tindihnya. Pergulatan di atas ranjang terjadi. Emosi yang memuncak dan pesona tubuh Monica membuat gairah untuk segera melakukan penyatuan. Tidak hanya sekali. Dari pagi hingga malam berganti, membuat tubuh mereka lunglai.

__ADS_1


Tubuh Cheff Juna ambruk di sebelah Monica. Tanpa sempat menutupi dengan selimut, tubuh Monica ditarik Cheff Juna dipeluk erat tidak mau melepaskan. Dari suara gaduh pintu di tendang hingga gebrakan di pintu serta suara marah dan keras dari Rangga membangunkan mereka yang kelelahan.


"Cheff Juna, kamu melihat saya menukar gelas saya dengan milik Monica ?" tanya Rangga memperhatikan penampilannya.


" Melihat, Tuan," jawab Cheff Juna singkat.


" Kamu tahu mengapa ?" tanya Rangga lagi.


" Mungkin. Tuan waspada jika ada orang yang memasukan sesuatu pada minuman Anda," jawab Rangga mengangguk.


" Saya tukar dengan Monika, karena sudah mengenal dia, Saya diam karena menghormati Dia sebagai Adik Ipar," jawab Rangga," Apalagi sekarang sudah punya istri. Ada hati yang harus saya jaga perasaaan agar nyaman".


"Tuan sangat bijaksana," kata Cheff Juna memuji.


" Kamu mau bertanggung jawab apa yang telah kamu lakukan ?" tanya Rangga meminta kepastian.


" Iya, Tuan. Meski saya tahu Nona Monica sangat mencintai Tuan, bukannya saya," jawab Cheff Juna lirih dan menundukkan kepala.


"Batu yang keras lama-lama bisa hancur karena tetesan air hujan, apalagi hati. Berikan perhatian dengan sabar dan ikhlas, " kata Rangga memberi nasihat.


" Saya paham maksud Tuan, semoga saya bisa seperti yang tuan maksud, " jawab Cheff Juna.


" Nanti siang Mamanya Monica, istri, anak, dan adikku akan ke sini. Kita akan bicarakan masalah ini. Saya minta temani Monica. Buatlah nyaman ketika berada di dekatmu," kata Rangga berpesan.


" Baik, Tuan'" jawab Cheff Juna.


Seorang laki-laki datang dan berbisik ditelinga Rangga. Dibalasnya dengan senyuman.


"Cheff Juna, temani aku memberi santunan bagi warga sekitar," kata Rangga sambil berdiri.


"Baik, Tuan," jawab Cheff Juna mengikuti dari belakang.


Sekitar 100 bungkus sembako telah dibagikan. Kegiatan ini sering dilakukan saat Rangga berkunjung di resto. Acara berakhir hingga pukul 12.00. Semua yang terlibat di acara tersebut dijamu makan siang di resto milik Rangga.


" Tuan, saya langsung pulang. Monica pasti sudah menunggu," kata Cheff Juna pamit.


" Bawa ini untuk makan siang kalian berdua," kata Rangga sambil menyerahkan 4 bungkus tas plastik.


Cheff Juna mohon diri meninggalkan Rangga sendirian.


Ponsel di saku celana panjangnya berbunyi, dibukanya nada panggilan.


Muncul wajah cantik istrinya.


"Halo, Sayang. Sudah sampai mana ?" tanya Rangga.


" Kami sudah sampai di tempat parkir resto Kakak. Kakak keluar ya jemput kami, soalnya Angel tertidur," jawab Delima memberitahukan keadaannya.


" Iya, Sayang, Aku akan keluar," jawab Rangga berdiri menuju tempat parkir.


Tampak mobilnya. Pak Agus sudah di luar. Disambutnya Mama Martha dan mencium tangannya. Membuka pintu mobil tampak wajah Delima terlihat lelah memangku Angel, anaknya yang selalu manja kepada Mama sambungnya.

__ADS_1


Digendong putri kecilnya.


" Kita langsung istirahat saja, nanti pelayan akan mengantar makan siang ke kamar," kata Rangga. Mereka hanya mengikuti dari belakang membawa tas troli masing-masing. Tiga orang pelayan wanita sudah berada di depan rombongan sebagai penunjuk arah.


__ADS_2