
HP Nani berbunyi tanda ada notifikasi masuk.
di bukanya HP dan terpampang nama Sang Kakak.
Kakak.
Biarkan saja
Nani melihat ke arah Sang Kakak. Mata mereka saling menatap. Nani mengangguk.
Kakak.
Sampai di resto temui Kakak di ruang kantor.
Nani kembali melihat Sang Kakak. mengangguk lagi tanda menyetujui.
Lima belas menit perjalanan. Membuat mereka sampai di tempat parkir Resto. Rangga ke luar mobil lebih dulu. Baru Nani membangunkan Delima. Tangan yang digoyangkan membuat yang empunya tersadar. Masih enggan hanya mengerjakan mata pulihkan kesadaran Delima.
"Sudah sampai," kata Delima.
"Sudah, ayo turun," ajak Nani.
Mereka turun. Menutup pintu, mengangguk pada Pak Rangga dan tidak lupa mengucapkan terima kasih.
Setelah masuk mereka langsung mengerjakan tugas rutin hingga menunggu para pelanggan yang akan datang.
HP Nani berbunyi.
Kakak.
Kakak tunggu sekarang.
Nani.
Ya Kak.
Nani yang bersama Delima sedang menata kursi minta ijin.
"Delima saya ke belakang dulu ya?"pinta Nani.
"Ada apa ? Panggilan jiwa ?" tanya Delima tersenyum.
"Iya, tadi pagi belum sempat," jawab Nani berbohong.
Nani melangkah cepat. Takut Kak Rangga terlalu lama menunggu.
Sesampainya di ruang kerja Kak Rangga. Diketuknya pintu tiga kali
"Masuk," jawab Kak Rangga.
Nani masuk dan menutup pintu kembali. Melihat Kakaknya tersenyum membuat hatinya bahagia.
"Bagaimana keadaanmu sehat? Senang ? Betah di sini ?" tanya Rangga tak sabar.
"Tanyanya satu-satu Kak," jawab Nina.
"Baiklah, sekarang jawab satu-satu,' kata Rangga.
"Nani sehat Kak. Nani juga senang bisa bersama Kakak setiap hari. Dan betah bekerja di resto Kakak ini," jawab Nani mantap.
"Bagaimana dengan kabar Delima?" tanya Rangga.
"Maksud Kak Rangga?" tanya Nana.
"Apakah Delima sehat ? Senang ? Dan betah di sini?" tanya Rangga penuh selidik.
"Delima senang dan betah di sini Kak," jawab Nani pendek.
"Bagaimana dengan kesehatan Delima," tanya Rangga kembali.
"Mungkin hari ini kurang istirahat saja, pagi-pagi Delima sudah bagun membuat susu coklat dan roti isi," jawab Nani kemudian.
"Apakah ada yang lain tentang Delima yang ingin kamu katakan?" lanjut Rangga.
__ADS_1
"Tadi pagi Delima tanya tentang Kak Rangga,"kata Nina membuka pembicaraan
"Tanya tentang Kak ?" tanya Rangga penasaran.
"Iya," jawab Nani singkat.
"Tanya apa saja,' kata Rangga.
"Semuanya Kak Rangga,". jawab Nani.
"Semuanya itu apa, Nani," jawab Rangga setengah jengkel.
"Yang pertama Delima tanya apa hubungan Kak Rangga dengan Nani, kedua mengapa selama ini tidak pernah pulang, dan Delima juga tahu Kak Rangga sudah mempunyai istri serta anak, " jawab Nani penuh penjelasan.
"Apakah Delima juga tahu tentang Cantika?" tanya Rangga.
"Iya, Nani menceritakan semuanya. Maafkan Nani Kak Rangga," jawab Nani penuh penyesalan.
"Mengapa tadi pagi Delima menangis?" tanya Rangga kemudian.
"Kak Rangga tahu Delima menangis?" kata Nani bertanya balik.
"Tahu, ceritakan semuanya!" perintah Rangga.
"Delima teringat mantan pacarnya. Namanya Ronald, ia kuliah di Bandung . Waktu berangkat bersama Lisa sahabat kami yang kuliah di sana juga. Delima menitipkan Ronald pada Lisa. Mereka saling memberi kabar sampai akhirnya hubungan mereka berakhir, ternyata Ronald pacaran sama Lisa," jawab Nani memberi penjelasan.
"Sudah berapa lama mereka pacaran?" tanya Rangga kembali.
"Tiga tahunan," jawab Nani singkat.
"Baiklah sekarang bilang ke Delima untuk mengambil tasnya dan ditunggu Kakak di parkiran. Kakak mau antar pulang ke mes biar dapat istirahat," kata Rangga memberi perintah.
"Kak Rangga, Delima gadis baik. Anak yang berbakti pada kedua orang tua. Juga membantu perekonomian keluarga," kata Nani memberi penjelasan.
"Iya, Kakak tahu," jawab Rangga sambil berdiri mengambil kunci mobil yang diletakkan di atas lemari. Kemudian menghampiri Nani memeluk dan mencium keningnya.
"Segera Kakak tunggu!" perintah Rangga.
"Ada yang sudah kangen ya ?" tanya Nani menggoda.
Nani membuka pintu, keluar menghampiri Delima yang sedang membersihkan pintu kaca.
"Delima, Kak Rangga menyuruh kamu mengambil tas untuk diantar ke mes biar dapat istirahat," kata Nani setelah dekat dengan Delima.
"Tapi Nan, aku tidak apa-apa," jawab Delima kaget.
"Ini perintah pemilik resto. Cepat sudah di tunggu di tempat parkir!" kata Nani kembali.
"Baik. Ijinkan pada teman-teman ya?" kata Delima sambil keluar pintu resto.
Setelah di tempat parkir mencari mobil Pak Rangga. Ternyata pak Rangga sudah berdiri membuka pintu depan bagian penumpang.
Setelah Delima mendekat.
"Silahkan masuk," kata Rangga
"Maaf Pak Rangga saya duduk di belakang saja," jawab Delima menunduk.
"Delima saya bukan sopir kamu, maka duduk di depan. Ini perintah," kata Rangga tegas.
"Ba..baik Pak maaf," jawab Delima.
Rangga menutup pintu dan berlari di depan mobil menuju pintu kemudi. Membuka pintu dengan senyum yang disembunyikan. Entahlah hari ini hatinya sangat gembira. Mobil berjalan keluar resto menuju jalan raya.
"Delima, kamu lupa pada saya?" tanya Rangga membuka pertanyaan.
"I iya, Pak," jawab Delima terbata.
"Sedikitpun kamu tidak ingat?" tanya Rangga lagi.
"Iya, Pak," jawab Delima singkat.
"Panggilan kamu ke aku juga lupa?" tanya Rangga menoleh sebentar dan fokus pada jalanan.
__ADS_1
"Tidak Pak," jawab Delima menunduk mempermainkan tangannya.
"Coba lihat aku!" perintah Rangga.
Ketika Delima sudah melihat ke arah Rangga. Rangga bertanya kembali.
"Apa panggilan kamu ke aku waktu kecil?" tanya Rangga menuntut jawab.
"Ka..kakak,"" jawab Delima ragu-ragu.
"Hm..., kamu harus panggil aku Kakak kalau di luar resto," kata Rangga.
"Tapi Pak, Bapak atasan saya, " jawab Delima tidak setuju.
"Tidak ada bantahan ini adalah perintah!" jawab Rangga tegas.
"Iya Pak, eh... Kakak," jawab Delima.
"Kok jalannya lewat sini?" tanya Delima.
"Aku mau ajak kamu ke suatu tempat," jawab Rangga masih fokus pada jalanan.
"Aku kan harus istirahat?" tanya Delima protes.
"Kamu sudah sembuh, wajahmu memerah sejak tadi," jawab Rangga melihat Delima dengan senyuman
"Kakak jangan begitu aku malu," jawab Delima menunduk.
"Kita sudah sampai ayo turun," ajak Rangga sambil membuka pintu mobil.
Delima mengikuti membuka pintu mobil dan mensejajarkan langkah mengejar Rangga. Ternyata mereka ada di tepi pantai. Menuju penjual degan lesehan dan duduk di sana.
"Delima kamu senang ?" tanya Rangga ketika degan pesanan sudah disodorkan.
"Senang Kakak, " jawab Delima singkat.
""Kamu ingat namaku ? Coba panggil sekarang!"kata Rangga kemudian.
"Kakak Rangga," jawab Delima.
Rangga tersenyum ketika Delima memanggil namanya. Delima malu melihat senyum Rangga kemudian menundukkan wajahnya .
"Delima boleh aku panggil kamu Adik?" tanya Delima memohon.
"Boleh Kak Rangga," jawab Delima singkat.
Hening. Hanya terdengar suara deburan ombak yang besar dan suara riuh orang-orang yang bermain di tepi pantai. Tampak bahagia. Bermain lempar bola, membuat istana dari pasir, dan berlarian masuk ke air.
"Dek, kamu punya pacar ?" tanya Rangga memandangi wajah Delima intens.
Mendengar pertanyaan itu Delima jadi teringat Ronald. Dia bukan pacar tapi mantan.
"Tidak," jawab Delima malas .
"Mantan ?" selidik Rangga.
Delima hanya menggeleng dan memandang laut lepas. Tidak tahu kalau Nani sudah menceritakan semuanya.
"Siapa Ronald?" tanya Rangga ketus.
Mendengar nama Ronald, ada yang perih menggores. Luka itu belum kering betul. Masih ada darah menimbulkan rasa sakit. Sakit sekali.
"Tidak tahu," jawab Delima menunduk menahan air mata yang akan jatuh.
"Dia telah menyakitimu? Dia berlaku jahat padamu ?" tanya Rangga pelan.
Terdengar isak tangis Delima yang semakin keras. Rangga merengkuh pundak Delima untuk memeluk agar bisa menumpahkan rasa sakitnya. Di luar dugaan Delima menggeser posisi duduknya lalu menjauh.
"Dek, mengapa tidak menangis di dadaku dan memeluk leherku seperti dulu ?" tanya Rangga penuh selidik.
"Malu Kak Rangga, Delima sudah besar," jawab Delima menggeleng.
"Benar, sekarang Adik sudah besar dan cantik," puji Rangga sambil mengelus rambut panjang Delima.
__ADS_1
Yang dipuji hanya diam dan menunduk terus.
Di luar dugaan kedua tangan Delima digenggam tangan Rangga. Kedua mata mereka saling memandang. Pada masing-ma sing manik mengguratkan suatu kesedihan. Kesedihan ditinggal pasangan. Akankah berganti dengan kebahagiaan? Sedangkan saat ini Delima merasa nyaman berada di dekat Rangga. Kakak di masa lalunya. Dan Rangga teringat adik kecilnya yang selalu manja. Dengan wajah lucunya ia akan selalu meminta, meminta sesuatu yang diinginkan Rangga. Bahagia rasanya bisa memenuhi kebutuhan adik kecilnya.