MUTIARA KEMBALI DALAM PELUKAN

MUTIARA KEMBALI DALAM PELUKAN
Bab 43 Malam Terakhir di Malang


__ADS_3

Tugas Nani dari Kak Rangga sudah dijalankan dengan baik. Para kolega dari tiga restoran sudah menyetujui kesepakatan di atas kertas.


Sebelum Nani melaporkan semuanya Rangga sudah Video Call sore harinya.


" Halo, Nan. Bagaimana kabarmu?" tanya Rangga di seberang sana.


" Nani baik ,Kak. Bagaimana keadaan Delima dan baby twins ?" tanya balik Nani pada Kakaknya.


" Delima masih menjalani Bad Raste sedangkan baby twins sehat, " kata Rangga.


" Jaga mereka ya Kak," kata Nani.


" Oke, Adik manis," jawab Rangga, Bagaimana misi mu di Malang ?"


" Untuk Taman Indie Resto Malang, Nani membuat sedikit perubahan dalam hal menu dan penampilan musik daerah. Sedang management dalam resto akan Nani teliti ulang 3 bulan ke depan," kata Nani.


" Kakak percaya kamu pasti bisa," kata Rangga.


" Terima kasih, Kak," kata Nani.


" Kamu tidak pergi kemanapun ?" tanya Rangga.


" Kemarin Nani ditemani oleh Pak Budi pergi ke Taman Apel Batu Malang, " kata Nani.


" Membeli sesuatu di sana?" tanya Rangga lagi.


" Nani membeli pohon apel, Kak. Untuk di tanam di restoran. Nani ingin melihat pohon itu dengan buahnya yang banyak saat Nani istirahat di taman," kata Nani.


" Pertemuan dengan tiga restoran bagaimana?" tanya Rangga penuh selidik.


" Mereka semua setuju, Kak ," jawab Nani.


" Bagus!" kata Rangga.


" Bisa Kakak pesankan tiket pesawat pulang ke Jakarta ?" tanya Rangga.


" Kak, malam ini Nani ingin jalan-jalan menikmati malam di Malang," kata Nani.


" Bersama seorang laki-laki ?" tanya Rangga.


" Iya Kak, namanya Dewa klein dari Melati Restoran," kata Nani.


" Boleh, tapi Pak Budi harus ikut kalian," jawab Rangga.


" Terima kasih, Kak," kata Nani.


" Untuk tiket pesawatnya penerbangan pertama pagi hari, hati-hati di jalan," kata Rangga.


" Iya, Kak terima kasih, " kata Nani.


Rangga menutup ponselnya.


Dewa menepati janji. Setelah Magrib sudah menemui Nani untuk jalan menikmati malam di Malang.


Pak Budi sudah siap di belakang kemudi.


Sambil menunggu Nani, Dewa duduk memandangi ikan-ikan dalam aquarium di depannya.

__ADS_1


Prov. Dewa


Sepulang dari metting Dewa ingin berendam di air hangat. Baru menyiapkan baju ganti, ponselnya berbunyi. Nomor yang tidak diketahui, tapi tetap di angkat.


" Halo, bisa bicara dengan Dewa Wibisono Gunawan?" tanya Rangga.


" Iya, saya sendiri. Anda siapa ?" tanya Dewa.


" Saya Kakak Nani. Nanti malam Anda akan jalan besama Adik kesayangan kami dan keluarga, jaga dia seperti kami menjaganya," kata Rangga.


" Iya, Kak. Saya akan menjaganya baik-baik. Dan akan kembali utuh seperti sediakala," kata Dewa.


" Terima kasih saya percaya padamu," kata Rangga menutup ponselnya.


Setelah ponselnya terputus Dewa menarik napas dalam. Nani ibarat sebuah porselin yang tidak boleh lecet. Jika ia ingin terus serius mendekatinya, maka keluarga dulu yang harus ia ambil hatinya. Ijin keluarga adalah lampu hijau untuk mengabulkan keinginannya.


" Hai, sudah lama ?" tanya Nani tiba-tiba membuat Dewa terkejut dari lamunannya.


Nani ke luar resto mengenakan kaos lengan panjang warna merah dan celana jins biru. Syal putih melilit lehernya.


" Putri, malam ini cantik paripurna ! Apakah sudah dapat ijin dari Ibu Suri?" kata Dewa memuji Nani.


" Dewa, jangan menghina saya. Aku tidak bisa berdandan modis seperti gadis-gadis lain," jawab Nani menunduk malu.


" Ayo kita jalan," kata Dewa menggandeng tangan Nani.


Nani terkejut dan berjalan mengikuti langkah Dewa memasuki mobil.


Tanpa sadar tangan mereka masih berpegangan. Suara batuk Pak Budi membuat tangan mereka terlepas.


" Kita akan jalan ke mana, Non ?" tanya Pak Budi.


Di dalam mobil Dewa menceritakan ingin mengajak Nani ke Infinity World.


Dewa mengajak Nani mengunjungi Kampung Lampion.Kampung Lampion merupakan lokasi yang banyak diserbu wisatawan untuk mengabadikan momen dengan ber swafoto atau sekadar menghabiskan waktu.


Setiap perjalanan mereka saling bercerita, sedangkan Pak Budi hanya menyaksikan dari spion atas mobil.


Mobil diletakkan di tempat parkir mobil yang telah disediakan.


Berjalan kaki adalah salah satu yang harus dilakukan.


" Pak Budi, kami ingin duduk di bangku itu. Bapak ambil ini untuk membeli makanan," kata Dewa menyerahkan uang selembar warna merah pada Pak Budi.


" Terima kasih, Mas Dewa," jawab Pak Budi.


Di bangku duduk Nani dan Dewa menikmati indahnya lampion-lampion yang beraneka warna dengan menikmati jagung serut di tangan masing-masing.


" Nani, kamu sudah punya pacar?" tanya Dewa.


" Aku belum memikirkan sampai hal itu," kata Nani.


" Meski hanya sebagai sahabat ?" kata Dewa.


" Aku tidak mudah mencari sahabat, kecuali Delima sahabatku sejak kecil, Ia sekarang menjadi istri Kakakku, " kata Nani.


" Bagaimana jika kita awali dengan berpacaran ?" kata Dewa.

__ADS_1


" Aku harus sukses dulu, baru punya pacar. Aku ke Jakarta ikut Kakak kerja di Java Restoran. Beberapa tahun yang lalu Kakak ingin aku kuliah, maka aku kerja paruh waktu dan kuliah pada waktu malam hari," jawab Nani.


" Sekarang semester berapa?" tanya Dewa mencuri pandang pada Nani.


" Semester lima," jawab Nina.


" Nani, aku menghormati keputusan mu untuk serius menuntut ilmu dan bekerja paruh waktu. Aku juga akan membanggakan kamu di hadapan Kakakmu. Tapi tolong ijinkan aku untuk selalu ada mendampingi setiap langkah kakimu," kata Dewa.


" Maksud Dewa apa Nani tidak paham," jawab Nani polos.


" Nani aku ingin menjadi kekasihmu dan akan setia menunggu sampai kamu sukses dan bisa membanggakan Kakak serta keluarga mu," kata Dewa telah menggenggam kedua tangan Nani.


" Dewa aku tidak bisa menjawab sekarang. Aku sangat menghormati Kakakku," kata Nani.


" Nani, biarlah kita seperti ini. Aku sayang kamu. Kamu tahu itu. Aku akan selalu menunggu jawaban cintamu," kata Dewa mencium tangan Nani.


" Maafkan aku, Dewa," kata Nani.


" Tiket penerbangan untuk besok pagi sudah dipesan ?" tanya Dewa.


" Sudah dipesankan Kakakku dari Jakarta," jawab Nani.


" Boleh saya berkunjung ke Jakarta?" tanya Dewa.


" Sebaiknya jangan dulu, restoran sedang sibuk. Sementara ini aku selalu menggantikan pekerjaan Kakakku," kata Nani.


Ponsel Nani berbunyi nama kakaknya muncul dan digesernya tombol hijau.


" Halo, Kak ini Nani," kata Nani.


" Kamu belum pulang ?" tanya Rangga.


" Belum, Kak sebentar lagi ," jawab Nani.


" Setelah sampai resto segera istirahat, besok kalian kembali ke Jakarta ," kata Rangga menutup ponselnya.


" Kita pulang sekarang ?" tanya Dewa.


" Iya, sudah malam besok harus kembali ke Jakarta, " jawab Nani.


" Nani, tolong pakai ini !" kata Dewa mengeluarkan kotak bludru warna biru.


" Sebuah cincin ?" tanya Nani.


" Mohon terima sebagai tanda saya menitipkan perasaanku padamu ," kata Dewa.


" Aku takut Kakak marah, " kata Nani.


" Aku akan bertanggung jawab atas marahnya Kakakmu," kata Dewa yang sudah memegang tangan kiri Nani dan memasang cincin di jari manisnya kemudian menciumnya.


" Maafkan saya jika nanti mengecewakan mu Dewa, " kata Nani.


" Aku akan memperjuangkan cintaku. Suatu saat nanti aku akan datang ke Jakarta untuk meminta restu kakakmu, " kata Dewa.


Dewa berdiri dan saling berhadapan dengan Nani. Saling menggenggam tanpa ada kata yang terucap. Sebuah pemandangan yang romantis.


Nani tidak akan berharap banyak, ada keinginan yang belum terwujud.

__ADS_1


Dewa dengan tekatnya ingin memperjuangkan cinta dengan jarak yang jauh


__ADS_2