MUTIARA KEMBALI DALAM PELUKAN

MUTIARA KEMBALI DALAM PELUKAN
49. Gara-gara Mantan


__ADS_3

Prov. Rangga


"Halo, selamat siang, Pak Rangga," kata Dewa mengawali pembicaraan.


"Selamat siang, panggil aku Kakak saja! Ada perlu apa?" tanya Rangga tegas.


" Begini Kak Rangga, Bapak dan Ibu ingin berkunjung ke Semarang menyampaikan niat baik melamar Nani untuk Dewa," jelas Dewa.


"Baik nanti akan saya sampaikan dan tunggu kabar dari kami, "jawab Rangga.


"Kak Rangga, boleh menyampaikan pesan dari Bapak?" tanya Dewa.


"Apa itu?" tanya Rangga balik


" Maaf Kak, jika diijinkan setelah lamaran langsung menikah," jawab Dewa ragu-ragu.


" Mengapa ? Apa terjadi sesuatu?" tanya Rangga selidik.


"Bukan...bukan begitu Kak, usia Bapak dan Ibu sudah lanjut kasihan jika harus bolak-balik Semarang," jawab Dewa menjelaskan.


" Baik, tetapi kalian harus saling menjaga jangan lakukan yang belum menjadi hak kalian," jelas Rangga.


"Saya tahu Kak, sampai saat ini masih kuat menahan hingga waktu itu tiba," jawab Dewa sedikit berseloroh.


"Terima kasih, kirim data kamu beserta orang tua dan surat-surat yang dibutuhkan segera," ungkap Rangga berikutnya.


"Baik Kak, terima kasih. Salam hormat saya dan keluarga buat Bapak dan ibu di Semarang," kata Dewa berikutnya.


"Ya...nanti akan saya sampaikan," jawab Rangga langsung menutup pembicaraan.


Siang ini Nani sengaja pulang awal, karena ia mendapat telpon dari Kak Delima. Katanya ada hal yang sangat penting yang dibicarakan dengannya.


Perasaan menjadi was-was, masalah kandungan ? Tidak ! Kandungan Kak Delima baru berusia 8 bulan HPL baru bulan depan tanggal 20. Tadi Nani tanya juga aman. Tak terasa mobil sudah memasuki gerbang dan berhenti tepat pintu masuk.


"Non, sudah sampai," kata Pak Agus.


" Ya..ya Pak, terima kasih ,"jawab Nani tergagap.


Nani turun dan menutup pintu mobil. Menapaki setiap anak tangga yang menurutnya begitu banyak sehingga tidak sampai -sampai di pintu utama.


Tok Tok Tok


Nani mengetok pintu soalnya pintu terkunci kemudian terbuka teryata Kak Rangga yang membukanya.


Nani meraih tangan Rangga untuk dicium dengan takzim.


"Selamat siang,Kak," kata Nani tersenyum.


" Dik, Kakak ingin bicara sebentar," kata Rangga sambil merangkul pundak adiknya.

__ADS_1


"Baik ,Kak," jawab Nani menurut.


Ternyata di ruang tamu sudah ada Kak Delima yang sedang mengelus-elus perut buncitnya.


"Nani, duduk sini !" kata Kak Delima menepuk-nepuk sofa di samping tempat duduknya.


Nani melangkah mendekati Delima dan meraih tangannya untuk dicium.


"Capek kamu ,Nan ?" tanya Delima.


"Sedikit, Kak," jawab Nani sambil menghapus keringat di dahinya.


"Nan, Dewa ingin serius melamar mu," kata Rangga membuka pembicaraan.


Nani hanya diam dan menunduk.


"Kamu tidak senang, Nan ? tanya Delima penuh selidik.


"Kak Rangga, sebaiknya dibatalkan saja!" jawab Nani dengan muka ketus, kemudian berdiri dan naik tangga menuju kamar.


Rangga dan Delima hanya saling pandang dengan kelakuan adiknya yang di luar sangkaan mereka.


Nani yang kalem dan selalu patuh, hari ini telah membantah., pergi tiba-tiba sebelum pembicaraan selesai.


"Kak, bagaimana jika menghubungi Dewa saja untuk mencari tahu hal sebenarnya," kata Delima memberi usul .


"Halo, Dewa bisa bicara?" tanya Rangga serius.


"Bisa, Kak. Kebetulan saya menuju Jakarta. Satu jam akan sampai ke rumah Kakak," jawab Dewa.


"Aku tunggu," jawab Rangga singkat.


Rangga menutup telpon dan berdiri di hadapan Delima.


"Mari kita istirahat, satu jam lagi Dewa akan datang," kata Rangga sambil meraih pinggang Delima menuju kamar mereka. Delima hanya diam dan menurut saja, karena memang lelah yang dirasakannya.


Di kamar Nani terbayang kembali kejadian tadi pagi.


Prov. Nani


Pagi ini Nani melayani ibu hamil yang masih muda dan sangat cantik. Dress bunga kecil- kecil warna pink menambah kecantikannya. Pasti baby nya cewek batin Nani. Iya memesan cumi lada hitam , air mineral dan puding coklat keju.


"Silahkan di nikmati pesannya Kak, semoga senang," kata Nani sopan.


"Terima kasih. Kamu yang bernama Nani ya ?" kata pemesan itu ketika melihat nama yang terpasang di dada sebelah kanan Nani.


"Benar, Kak. Ada yang bisa saya bantu ?" tanya Nani.


"Tolong temani saya sarapan!" kata pemesan itu sedikit memaksa.

__ADS_1


Nani melihat sekeliling restoran. Tidak begitu ramai, karena memang masih pagi. Tidak ada salahnya jika Ia mengabulkan permintaan pelanggan.


" Kenalkan Dik Nina, nama saya Miranda," kata pelanggan tersebut mengulurkan tangan.


" Saya, Nani Kak. Pramusaji di sini," jawab Nina menyambut tangan Miranda.


Miranda memasukan suapan pertama. Wajahnya nampak senang.


"Dik, Nina, perkenalkan saya kekasih Mas Dewa. Kami akan segera menikah, karena kamu lihat sendiri kan saya telah hamil 4 bulan ," kata Miranda menjelaskan.


Nina hanya diam. Iya terkejut dengan berita mendadak seperti ini. Tidak disangka hubungan singkat harus berakhir dengan pernikahan, tetapi tidak dengan dirinya. Dewa akan menikah dengan kekasihnya bernama Miranda. Apalagi mereka sebentar lagi akan menjadi orang tua dari seorang bayi.


"Saya berterima kasih kamu telah menjadi sahabat Dewa selama saya pergi ke Luar Negeri," lanjut Miranda yang tidak mendapat jawaban dari Nina.


" Kak Miranda, boleh minta tolong?" tanya Nina.


"Boleh, apa Dik?" jawab Miranda.


"Tolong telpon calon suami Kakak dan beritahu kepadanya Kakak berada di sini dan sedang bersama saya," kata Nani.


"Baiklah," jawab Miranda mengeluarkan hp dan menghubungi Dewa.


" Halo, ini Miranda ?" tanya suara di seberang


"Halo, Mas Dewa. Ini saya sedang sarapan di Java Resto dan sedang ditemani dengan pramusajinya yang bernama Nina.


" Java Resto di Jakarta?" tanya Dewa tak percaya.


"Benar, ternyata Nina gadis yang cantik juga," kata Miranda sedikit tak percaya.


"Miranda, berikan hp mu pada Nina aku mau ngomong!" kata Dewa memberi perintah. Miranda mengulurkan hp ke Nina dan Nina menerima dengan enggan.


" Halo,Kak. Selamat ya Nina doakan semoga menjadi keluarga yang sakinah mawadah dan warohmah," kata Nina sekuat hati menahan air matanya tidak jatuh.


"Nina, dengarkan penjelasan ku dulu," kata Dewa menyela.


"Semua sudah jelas, terima kasih sudah menjadi partner kami. Semoga Bapak puas," kata Nina sambil menyerahkan hp pada pemiliknya .


"Permisi, Kak," kata Nina berlari meninggalkan Miranda.


Miranda tersenyum penuh kemenangan.


"Miranda pulang kamu sekarang! Kalau tidak akan ku telpon pihak rumah sakit jiwa untuk menangkap mu," kata Dewa mengancam.


"Iya, Miranda balik sekarang, "jawab Miranda jengkel.


Delima membuka pintu kamar Nani, ternyata pemiliknya sedang tidur pulas. Dilepaskan sepatu yang masih terpakai dengan sangat pelan. Selimut ditarik sebatas dada. Wajah polos itu tampak lelah dan masih ada sisa air mata diujung kedua matanya. Delima merasa kasihan melihat keadaanya.


Dewa sudah bercerita panjang lebar tadi. Kak Rangga sudah memutuskan agar Dewa tidak menemui Nani saat ini. Lusa Ia diijinkan menemui Nani untuk menjelaskan tentang Miranda. Miranda mantan Dewa 3 bulan yang lalu.

__ADS_1


__ADS_2