
Di ruang perawatan Juna yang besar dan bagus, duduk Mama Juna di dekat tempat tidur selalu menjaga putranya. Papa Juna duduk di sofa, sedangkan Srikandi Kakak Juna sedang mengupas buah untuk Adiknya jika nanti sudah sadar.
" Mama," kata Juna memangil Mamanya duduk di sebelah tempat tidur.
" Juna, kamu sudah sadar Nak ?" tanya Mama Juna gembira," Papa, Juna sudah siuman".
Papa Juna segera mendekat dan menepuk tangan yang dipegang Mamanya.
" Selamat datang Nak, Kamu segera sembuh semua sudah menunggumu," kata Papa Juna.
" Apa yang terjadi, Ma ?" tanya Juna.
" Anakmu sudah lahir cantik sekali, hidung dan mulutnya mirip kamu," kata Mama Juna
" Bagaimana dengan Monica, Pa ?" tanya Juna kepada Papanya yang tersenyum melihat anaknya sudah siuman.
" Istrimu sedang dalam pemulihan," jawab Papa Juna menutupi keadaan yang sebenarnya.
" Apa boleh Juna melihat baby girl, Ma?" tanya Juna.
" Sebentar, Mama tanya dokter dulu," jawab Mama kemudian mencari dan setelah menemukan memencet tombol untuk meminta bantuan perawat.
Tidak berapa lama perawat datang.
" Ada yang bisa dibantu, Bu?" tanya perawat yang datang dengan sopan.
" Suster, pasien sudah siuman bolehkah menengok anaknya di ruang bayi ?" tanya Mama Juna.
" Boleh, Bu. Saya ambilkan kursi roda dulu," jawab perawat sopan.
Tak berapa lama perawat datang membawa kursi roda dan membantu Juna untuk duduk di kursi. Perawat mendorong ke luar menuju ruang bayi. Srikandi Kakak Juna menunggu di ruangan saja.
Sesampainya di ruang bayi suster berhenti lalu membuka pintu dan berbicara pada perawat jaga anak. Perawat tadi ke luar menggendong bayi mungil yang di pergelangan tangan ada kertas berwarna merah muda bertuliskan bayi Nyonya Monica.
Juna memangku baby girl nya. Diciuminya kedua pipi gembul dan hidung mancung bayi itu. Cantik, putih, dan hidungnya mancung. Juna teringat Monica.
" Ma, Juna ingin ketemu sama Monica," kata Juna melihat pada Mamanya.
" Baiklah, kita berikan bayi ini pada perawat terlebih dulu," kata Mama Juna mengambil baby girl dan memberikan pada perawat yang jaga.
" Terima kasih Suster," kata Mama Juna dan segera kembali ke luar.
Papa Juna mendorong kursi roda menuju ruang HRD tempat Monica dirawat. Juna terkejut melihat ruang rawat inap Monica.
" Ma, Apa yang terjadi dengan Monica ?" tanya Juna.
" Monica terpaksa dioperasi untuk mengeluarkan bayi karena kecelakaan yang dialaminya, bayi dapat diselamatkan walaupun harus dirawat di inkubator," kata Mama Juna.
" Bagaimana keadaan Bunda, Ma ? " tanya Juna menangis.
__ADS_1
" Monica mengalami koma dan dalam pengawasan dokter," kata Mama Juna mengelus punggung Juna untuk memberikan semangat.
Juna terdiam. Memori ingatan tentang semua kejadian kecelakaan yang dialami istrinya terpapar kembali.
Prov. Arjuna
Pagi itu Monica ingin makan bubur ayam di pertigaan gang dekat rumah.
" Ayah, Bunda ingin makan bubur ayam di warung Bang Mamad," kata Monica saat Juna selesai mandi.
" Ayah belikan sebentar, Bunda dan baby girl di rumah tunggu saja di meja makan," kata Juna sambil memakai kaos dengan rambut yang masih basah.
" Tidak, Ayah !" kata Monica ngambek dengan memanyunkan mulutnya," Bunda dan baby girl mau jalan-jalan dan istirahatnya makan di warung Bang Mamad".
" Ayo, kita berangkat!" kata Juna sudah menggandeng tangan istrinya.
Mereka ke luar rumah saling menggenggam tangan dan tersenyum simpul. Diselingi dengan candaan dan tawa yang lepas. Padi hari itu udara memang terasa segar dengan sedikit mendung.
Panjang perjalanan sekitar 500 meter membuat ibu hamil di sebelah Juna berkeringat. Berhenti untuk minum air mineral dan Juna menghapus peluh di wajah Monica dengan tisu.
" Masih kuat, Bun ?" tanya Juna," Itu warungnya sudah kelihatan".
" Masih kuat, Ayah," kata Monica mengibaskan tangannya untuk mencari udara.
Monica mulai bejalan pelan dan Juna berjalan di sampingnya. Ketika sudah sampai di warung Bang Mamad, Monica mencari tempat lesehan yang sepi. Kedua kakinya di selonjor kan biar otot-ototnya tidak kram. Juna sedang memesan dua porsi bubur ayam teh hangat.
Kedatangan Juna bersama pesanan membuat senyum Monica merekah.
Monica langsung menghabiskan setengah gelas teh hangat manis.
"Bunda, baby girl ingin makan disuapi Ayah ya ?" tanya Juna yang sudah membawa mangkok milik Monica.
" Iya, mau disuapi Ayah," kata Monica malu-malu.
Dengan waktu cepat satu porsi bubur ayam sudah habis dimakan Monica.
Juna tersenyum.
" Bunda mau tambah lagi bubur ayamnya?" tanya Juna membersihkan bibir Monica dengan tisu.
" Tidak, Ayah. Bunda dan baby girl sudah kenyang," jawab Monica yang sudah menguap.
" Sebentar ya, Ayah makan dulu," kata Juna dengan cepat menghabiskan makanan dan minumannya, karena melihat Monica yang mulai mengantuk.
Setelah selesai Juna menggandeng tangan Monica menuju gerobak Bang Mamad untuk membayar. Monica berdiri di tepi jalan dan Juna menghampiri Bang Mamad. Tiba-tiba terdengar suara rem mobil berhenti dengan mendadak dan braak !
Semua pembeli termasuk Juna menengok ke arah suara. Tampak sebuah tubuh sudah tergeletak dan berlumuran darah. Mobil yang menabrak sudah tidak terlihat. Juna segera berlari menghampiri tubuh istrinya.
" Bunda, Bunda," kata Juna memanggil istrinya.
__ADS_1
Monica sudah diam dan bajunya berlumuran darah. Dibantu dengan orang sekitar dan tetangga yang kebetulan di situ, Monica segera di bawa ke rumah sakit terdekat.
Kehadiran mereka bertiga disambut Rangga, Mama Martha, dan Delima.
" Kamu sudah baikan, Juna ?" tanya Rangga.
" Sudah, Kak," jawab Juna singkat.
" Juna, anakmu cantik sekali perpaduan dari Ayah dan Bundanya," kata Delima memberi sedikit hiburan.
" Terima kasih, Kak. Tadi Juna sudah melihat dan menggendongnya," kata Juna tersenyum.
Juna mendorong kursi roda sendiri mendekati Mama Martha. Sampai di depan Mama Martha dipegangnya tangannya dan dicium
" Mama, maafkan Juna. Juna tidak bisa menjadi suami dan menjaga Monica dengan baik," kata Juna meneteskan air mata.
" Sudahlah, Nak Juna. Semua itu musibah. Mama sudah tahu kejadian yang sebenarnya. Kamu harus kuat, karena ada anak yang ingin kamu sayangi. Juga Monica memerlukan kamu dalam kondisi seperti ini," kata Mama Martha menepuk-nepuk pundak Juna.
" Mama, Juna ingin bertemu Bunda boleh?" tanya Juna pada Mama Martha.
" Jangan dulu, Nak. Monica sedang mendapat penanganan dari team medis," jawab Mama Martha tidak menceritakan apa yang terjadi sebenarnya.
" Juna, sebaiknya kamu kembali ke kamar untuk istirahat ditemani Mama dan Papa. Biar kami yang menjaga Monica di sini," kata Rangga.
" Tidak, Kak. Juna akan menunggu Bunda di sini sampai dokter mengijinkan Juna untuk dapat menengoknya. Jika dokter mengijinkan Juna akan menemani Bunda di dalam, " kata Juna memelas.
Mereka yang mendengar keinginan Juna hanya terdiam dan saling memandang. Rangga tidak bisa membohongi dirinya, sebenarnya ia tidak sekuat Juna.
Pintu HRD terbuka. Seorang dokter laki-laki yang merawat Monica ke luar dan membetulkan letak kaca matanya.
" Dengan keluarga Nyonya Monica," kata dokter itu memanggil pelan, tapi sangat keras di ruangan yang sunyi.
Rangga menahan kursi roda Juna agar tidak mendekat ke arah dokter. Takut akan pingsan lagi. Mama Martha digandeng Delima maju mendekati dokter.
" Saya Mamanya, dokter," kata Mama Martha.
" Nyonya Monica sudah sadar dan segera dipindahkan di ruang rawat inap," kata dokter dengan senyum.
" Terima kasih dokter," kata Mama Martha memeluk senang Delima. Air mata bahagia ke luar dari kedua wanita yang sangat dicintai Rangga.
" Bisakah dirawat di ruang suaminya, Dok ?" tanya Rangga yang sudah maju meninggalkan Juna.
" Bisa. Di kamar apa?" kata dokter.
" VVIP atas nama Tuan Arjuna," kata Rangga menjelaskan.
" Baiklah, silahkan keluarga tunggu di sana saja," kata dokter lalu masuk kembali ke ruang HRD.
Sepeninggal dokter tadi, Juna turun dari kursi roda. Botol infus diambil dan diberikan ke tangan Rangga. Juna sujud syukur untuk anugerah yang diberikan padanya hari ini.
__ADS_1
" Terima kasih ya Allah, kau beri hamba Mu kesempatan untuk bersama kembali," kata Juna sambil menangis," Hamba berjanji akan bersama keluarga kecilku hingga ajal ku".
Dibangunkan Juna untuk duduk kembali di kursi rodanya. Mereka saling berpelukan sebagai ungkapan rasa bahagia. Mereka semua duduk di kursi sejenak. Kemudian berdiri melangkah bersama menuju ruang VVIP tempat Juna dirawat.