MUTIARA KEMBALI DALAM PELUKAN

MUTIARA KEMBALI DALAM PELUKAN
18. Pencuri


__ADS_3

Sesampainya di Jakarta, Delima dan Nani pindah ke mobil Pak Budi untuk kembali ke Mes. Bukan untuk pulangl, tetapi mengambil barang-barang milik mereka. Sedangkan Kak Rangga, Mama Martha, Monica, dan Angel bersama mobil Pak Agus. Rencana Rangga Nani juga akan tinggal bersama di rumah Mama Martha. Biar ramai dan teman ngobrol untuk Mama Martha.


Setelah membuka pintu dan menyalakan lampu. Tampak ruangan yang terang benderang. Mereka sangat terkejut, karena ruang tamu sudah dalam kondisi berantakan. Dengan cepat berdua berlari ke kamar. Delima membuka pintu kamar dan menyalakan lampunya. Matanya melotot dan berteriak memanggil Nani.


"Nani lihat!"


" Bagaimana bisa terjadi? Padahal pintu semua terkunci ," kata Nani bingung.


"Kita beritahu Pak Budi bagaimana baiknya," kata Delima memberi usul.


Akhirnya keluar memberitahu Pak Budi yang sedang duduk sambil merokok di teras.


"Maaf, Pak Budi mengganggu. Rumah kami di masuki pencuri lihatlah !" kata Nani menunggu reaksi Pak Budi.


"Jangan ada yang di pegang dahulu, Non. Kita lapor ke Pak Rangga saja," kata Pak Budi memberi usul.


Nani masuk mengambil ponselnya di dalam tas. Delima hanya berdiri menyaksikan semua ini. Diam tak berkata apapun. Setelah menemukan ponsel Nani mencari no wa Kak Rangga, setelah ketemu di pencet tombol hijau. Panggilan masuk dan dibuka.


" Halo, Kak ini Nani," kata Nani agak berteriak.


"Ada apa, Nan ? Sudah sampai rumah?i ?" kata Rangga dengan nada khawatir.


"Sudah sampai rumah,Kak. Nani mau memberitahukan bahwa rumah Mes di masuki pencuri. Semua dalam keadaan berantakan.," kata Nani melaporkan pencurian pada Rangga.


"Kamu kehilangan apa, Nan?" tanya Rangga.


"Tidak tahu ,Kak. Kata Pak Budi tidak boleh memegang apapun," kata Nani.


" Baiklah, tunggu sebentar Kakak ganti baju dan pamit ke Mama Martha. Tetap waspada di rumah!" kata Rangga selanjutnya.


"Baik, Kak. Hati-hati di jalan," kata Nani.


Nani memasukan ponsel ke dalam tas kembali. Mencari Delima yang ternyata duduk di teras bersama Pak Budi. Nani mengambil kursi dan mendekat ke sisi Delima. Kami bertiga hanya diam dengan pikiran masing-masing. Pak Budi sedang sibuk dengan ponselnya. Delima kelihatan sangat lelah, tubuhnya bersandar pada sandaran kursi dan matanya terpejam. Nani sendiri masih bingung dengan semua ini


Suara mobil memasuki halaman. Ternyata di belakang mobil Kak Rangga ada 2 mobil lagi. Suara mesin dimatikan. Pintu mobil dibuka. Kak Rangga turun. Kak Rangga masih menunggu temannya keluar dari mobil-mobilnya. Ada empat orang. Mereka saling menyapa dan bersalaman. Pak Budi, Nani, dan Delima berdiri menyambut kedatangan tamu-tamu.

__ADS_1


"Selamat malam," kata tamu paling depan. Pak Budi, Nani, dan Delima hanya mengangguk.


Mereka masuk di tunjukkan jalan oleh Pak Rangga. Kira-kira satu jam mereka ke luar.


Dua orang mendekat ke arah mereka.


"Perkenalkan saya Aipda Syamsudin, anggota INAFIS Metro Jaya," kata Pak Syamsudin memperkenalkan diri," Boleh saya bertanya-tanya ?"


Kami bertiga hanya mengangguk. Bersiap menjawab jika ditanya-tanya. Teman Aipda Syamsudin mulai mengeluarkan bolpont dan buku agenda siap mencatat.


"Siapa yang pertama kali membuka pintu rumah?" anya Aipda Syamsudin.


"Saya, Pak," jawab Delima.


"Apakah pintu dalam keadaan terkunci dengan baik." tanya Aipda Syamsudin kembali.


"Iya, Pak," jawab Delima.


"Siapa yang membuka pintu kamar ?" tanya Aipda Syamsudin.


"Pak Rangga, apakah kunci Mes ini di duplikat ?" tanya Aipda Syamsudin berpindah ke Kak Rangga.


"Iya, saya duplikat dan disimpan di laci meja kerja saya," jawab Kak Rangga.


"Siapa yang sering masuk ke ruangan tersebut?" tanya Aipda Syamsudin serius.


" OB, teman bisnis, dan Adik ipar saya Monica, " jawab Kak Rangga.


"Selain handel pintu apa yang saudari pegang ?" tanya Aipda Syamsudin kembali.


"Saya menyalakan lampu ruang tamu dan kamar ," jawab Delima.


"Baiklah, tolong besok pagi sekitar pukul 09.00 WIB pertemukan saya dengan OB dan Monica !" kata Aipda Syamsudin," Barang-barang di rumah ini semetara jangan dipegang dulu. Anak buah saya akan memasang garis polis line dan menjaga tempat ini!"


"Terima kasih atas kedatangan dan bantuan yang berikan," kata Kak Rangga.

__ADS_1


Mereka keluar rumah semua. Anak buah Aipda Syamsudin telah memasang garis polis line. Setelah mobil Aipda Syamsudin dan anak buahnya pergi, Kak Rangga mendekati Nani.


"Dik, kamu semobil dengan Pak Budi ya ? Kakak mau berdua saja dengan Delima," kata Kak Rangga mengedipkan sebelah matanya.


"Baik, Kak. Ayo Pak Budi kita jalan duluan! Jangan mengganggu pengantin baru," jawab Nani menggoda Kakaknya.


"Permisi, Pak Rangga," kata Pak Budi pamit dengan hormat.


Setelah Nani masuk mobil, Kak Rangga meraih pinggang Delima mendekatkan pada tubuhnya. Membawa ke pintu mobil depan dan membuka pintu.


"Sayang, silahkan masuk kita pulang ke Mama Martha," kata Rangga berbisik di telinga Delima.


Delima duduk dan diam menurut perintah Kak Rangga. Rangga berlari memutari mobil dan membuka pintu kemudi. Menyala mesin meninggalkan rumah Mes yang ditinggali Delima dan Nani. Delima masih tidak rela meninggalkan rumahnya dengan menengok ke belakang sampai tidak kelihatan.


Delima tetap diam, pandangannya lurus ke depan.


"Sayang, jangan melamun terus. Kamu tidak kasihan suamimu yang ganteng ini dikeroyok nyamuk-nyamuk nakal ?" kata Kak Rangga meraih tangan kanan Delima dan mendekatkan ke bibirnya untuk dicium.


Delima tersenyum kemudian menyandarkan kepalanya di pundak Rangga.


"Apa yang sedang kamu pikirkan ?" kata Kak Rangga mencium kepala Delima.


"Kak, apakah kejadian di rumah Mes itu murni pencurian ?" kata Delima sambil mendongakkan kepala.


Rangga tidak menjawab, sekilas mencium bibir Delima. Hanya sebentar konsentrasinya kembali ke jalan raya.


"Sayangnya Kakak Rangga yang gemesin, biarkan petugas menyelidiki, kita tinggal duduk dan tidur dengan tenang menunggu hasilnya," kata Rangga menghibur istrinya.


"Kak, Delima ngantuk apa boleh tidur?" tanya Delima meminta persetujuan.


"Tidurlah, Sayang. Kakak bangunkan setelah sampai," jawab Rangga memberi persetujuan.


Tanpa menunggu lama, Delima sudah terlelap dalam alam mimpi. Rangga memandang dengan kagum kecantikan yang dimiliki istri kecilnya. Tanpa bedak dan polesan lipstik. Seperti bayi yang tidur dengan damai.


Mobil Rangga memasuki gerbang yang bisa membuka sendiri. Mobil berhenti tepat di depan pintu rumah. Scurity berlari mendekati ketika Rangga membuka pintu mobil. Rangga menyerahkan kunci dan membuka pintu penumpang depan. Menggendong Delima yang masih tertidur dengan nyenyak. Memasuki rumah, memberi isyarat kepada asisten rumah tangga untuk membuka kamar Rangga di lantai dua. Meletakkan tubuh istrinya di tempat tidur berukuran king size. Rangga melihat jam dinding, sudah pukul lima pagi. Rangga segera mandi dan mengambil air wudhu untuk sholat subuh. Segera berpakaian rapi. Hari ini ada jadwal mengunjungi pembukaan resto temanya yang baru buka cabang. Nanti juga ada janji dengan Aipda Syamsudin.

__ADS_1


Rangga menulis memo dan menempelkan di kaca meja rias. Kemudian sarapan dan pergi dengan Pak Agus, karena leleh semalam belum tidur.


__ADS_2