My Fierce Sugar Baby

My Fierce Sugar Baby
Bab 10 - Penolakan


__ADS_3

BAB 10


Dylan memerintahkan Han mencari apartemen mewah, setidaknya untuk tempat tinggal selama satu bulan ini. Pria dengan five o’clock shadow beard ini melirik gadisnya yang sedang kesal karena menunggu. Terpaksa Dylan menyembunyikan Stephanie, ia tidak mau terjadi sesuatu yang tidak diinginkan.


Setelah memberi perintah panjang kali lebar, mantan casanova berjalan menghampiri gadisnya, merengkuh pinggul dan membisikan kata-kata .


“Baby, mulai sekarang kamu ikuti Han, jangan pergi tanpa sepengetahuannya. Karena kalau kamu melarikan diri, pekerjaan Han jadi taruhan. Mengerti baby?”


Han mendengar semuanya langsung menelan saliva sangat kuat, menjaga wanita bosnya sampai harus pekerjaan dan masa depan menjadi jaminan, benar-benar tidak masuk akal.


Han menggelengkan kepala ketika melihat Stephanie menyeringai kepadanya, nasib sial selalu menyertai Han sejak bertemu dengan gadis Tuannya, tetapi ia pun mendapat bonus tak terduga.


“Aku harap Nona jangan melakukan apapun.” Lirih Asisten Han dalam hati.


“Daddy, kenapa aku harus pergi dari sini? Semua barangku ada di kamar, aku tidak mau.” Tolak Stephanie, membuang waktu Dylan secara percuma.


Khawatir Chloe turun mencari sampai ke lobi. Tidak mungkin pria ini jujur bahwa tunangannya berkunjung, meskipun hanya terikat kontrak, Dylan enggan menyakiti perasaan Stephanie.


“Baby, ayolah. Untuk kali ini menurut tanpa harus berdebat, bagaimana? Aku janji nanti malam mengunjungimu, ok baby?” Dylan mengecup tangan sugar baby-nya lalu bergegas masuk lift.


“Eh dasar, main cium-cium saja, semua lelaki seperti dia, hih semoga kelak suamiku bukan orang seperti itu.” Gerutu Stephanie.


“Mari Nona, kasihanilah aku, masa depanku masih panjang, aku belum menikah dan menghidupi beberapa adik.” Han memelas pada Stephanie, nasibnya berada di ujung tanduk, setidaknya Dylan pernah memberikan hukuman padanya, Han trauma akan itu.


“Ish ... kau itu berisik, bawel seperti perempuan. Kemana kita? Aku tidak mau terlunta-lunta di jalanan.” Stephanie keluar lebih dulu.

__ADS_1


Sementara dalam kamar, Dylan berusaha menetralkan keterkejutannya. Chloe sangat sulit ditebak, padahal jelas sekali Dylan melarangnya datang.


“Hi ... aku merindukanmu, kamu semakin susah dihubungi, huh.” Alih-alih kesal Chloe mendekat, memeluk tubuh tunangannya lalu memagut bibir Dylan dengan liar dan kasar.


Dylan berusaha mendorong, melepaskan pagutan. Namun Chloe urung melakukannya, malah semakin erat menahan tengkuk calon suaminya.


“Dylan, please ... sentuh aku, aku merindukanmu, aku menginginkanmu. Kita akan menikah sebentar lagi, sama saja kan?” Chloe Martinez nekat meloloskan dress dan melemparnya secara asal. Menubrukan diri pada pria yang selalu berusaha menghindar dari sentuhannya.


“Chloe, jangan. Kamu tahu ini semua tidak benar. Gunakan kembali pakaianmu, kita bisa melakukan apa saja, jalan-jalan mungkin, ku antar kamu pulang dan kita pergi kemanapun kamu mau.” Dylan pria normal yang mudah tergoda, namun ia berusaha menahan, bukan hal mudah disajikan suatu keindahan.


“Katakan Dylan, kenapa kamu selalu menolak? Katakan!! Bukankah kamu selalu melakukannya dengan mantan tunangan mu? Oh aku tahu ... kamu masih menginginkan Megan? Lintah darat itu bahkan mencampakkan kamu dan memilih kembali pada mantan kekasihnya.” Berang Chloe.


Pasalnya selama bertahun-tahun menjalin hubungan, tidak pernah disentuh sedikit pun, bahkan Chloe lebih sering mencumbu tunangannya lebih dulu.


Wanita cantik berusia 29 tahun dengan tubuh bak model papan atas ini, membuka seluruh kain tersisa di kulitnya, berderai air mata. Untuk apa memiliki harga diri? Toh harga dirinya telah hilang dengan semua penolakan Dylan.


Jemari indah berhias nail art membuka satu per satu kancing kemeja, dan melemparnya jauh, lalu ikat pinggang dan kancing di bawahnya. Chloe bahkan melepas selimut yang menutupi keindahan dirinya, mengungkung Dylan.


Bisa saja Dylan kasar pada wanita ini, memukul atau mendorong kuat tapi dia bukan pria seperti itu lagi, semua masa lalu. Dylan tidak mau berhubungan dan terikat lebih dengan wanita lain.


Gerakan Chloe sangat gesit sampai celana panjang itu terjatuh ke atas lantai, kembali memenjarakan tunangannya, menyusuri jenggot tipis sepanjang rahang tegas, mengecup telinga lalu bibir seorang Dylan.


Chloe tertawa puas melihat reaksi raga pria yang selalu jual mahal ini, ia pun hendak melepas pertahan terkahir, namun terhenti mendengar teriakan seorang wanita sangat nyaring dan menyakiti telinga.


“TIDAK ... aku tidak lihat apa-apa. Ok, maaf menggangu kalian.” Stephanie kembali naik, sebab mantelnya tertinggal di kamar, ia tidak mau kehilangan benda kesayangannya, dibeli susah payah, memesan secara khusus pada rumah mode ternama di dunia.

__ADS_1


Gadis bermata biru laut ini tidak menyangka, Dylan mengusirnya ke tempat lain karena ingin melakukan sesuatu bersama tunangannya. Ya Stephanie menghapal jelas wajah Chloe Martinez, tetapi wanita itu tidak selugu dalam foto.


Setelah menemukan mantel dalam kamar mandi, putri sulung Adam Bradley bergegas keluar kamar hotel, ia menutupi mata dengan kedua tangannya. Ternoda sudah indra penglihatannya, jujur baru pertama kali melihat adegan seperti itu, membuat perutnya mual.


“Terima kasih Om Tante, silahkan dilanjutkan.” Menutup pintu kemudian berlari secepat mungkin, menemui Han yang ketakutan karena gadis Tuan Mudanya menghilang.


“Nona dari mana saja? Mari kita ke apartemen, saya sudah membayar sewanya untuk satu bulan.” Han bernapas lega Stephanie ditemukan. Keduanya menuju salah satu penthouse, jaraknya cukup jauh dari hotel.


Di sisi lain


Chloe meradang mengetahui gadis lain sempat mengambil pakaian di dalam kamar mandi. Dalam kepalanya bertanya-tanya, siapa wanita itu? Apa yang mereka lakukan?


“Apa kamu selingkuh? Ah pantas saja aku tidak boleh datang ke sini. Rupanya menyimpan wanita murahan dalam kamar. Keterlaluan kamu Dylan.” Chloe menangis histeris, berteriak dan menjatuhkan benda, sampai beberapa pecah dan melukai tangannya.


“Apa salahku Dylan?” Chloe menjerit, sembari melempar vas bunga untung saja Dylan berhasil menghindar. Kalau tidak pasti kepalanya telah berdarah.


“Chloe ayo pakai dressmu, kita ke rumah sakit, tanganmu terluka.” Bujuk Dylan, dengan cepat kembali memakai celana dan kemejanya.


“Aku tidak peduli. Aku hanya ingin dirimu Dylan. Aku mohon jangan tinggalkan aku.” Chloe memohon dan bersimpuh memegangi kaki Dylan. Dia hanya ingin menjadi satu-satunya wanita bagi Dylan.  


Chloe tidak mau lagi gagal menjalin hubungan dengan seorang pria, cukup satu kali dan sekarang jangan sampai terulang kembali.


“Tenangkan dirimu, sekarang kita ke rumah sakit.” Dylan membantu tunangannya melekatkan pakaian dalam, lalu dress dan membebat tangan terluka wanita cantik ini.


Tatapan tajam terarah pada pintu kamar mandi, pikirannya menjalar kemana-mana , seorang pria dan wanita dalam kamar hotel yang sama pasti terjadi sesuatu. Chloe bersumpah akan menemukan siapa gadis itu dan membalas perbuatannya karena telah merebut Dylan.

__ADS_1


TBC


 


__ADS_2