My Fierce Sugar Baby

My Fierce Sugar Baby
Bab 12 - Di Luar Dugaan


__ADS_3

BAB 12


Beberapa hari berlalu Dylan menghilang tanpa kabar apapun, seperti ditelan bumi. Pria itu tidak pernah memberi satu pesan singkat.


Tidak ambil pusing, lagipula Stephanie senang menjalani kegiatannya, bekerja paruh waktu di rumah mode mendapat tambahan uang jajan.  Ia tidak boleh ketergantungan bersama Dylan, sebab masa hukumannya masih enam bulan lagi.


Fasilitas tempat tinggal memang sangat menguntungkan, Stephanie melihat apartemen yang diberikan oleh ayahnya sangat kecil, tidak nyaman dan berada di tempat bising. Mungkin suatu hari nanti ia tebal muka, meminta Dylan untuk memberikan penthouse ini atau satu apartemen layak huni.


“Stop berpikir seperti itu Stephanie, hutangmu semakin bertambah banyak. Dia itu milik wanita lain, jangan mengemis.” Stephanie berdiri di selter menunggu bus yang akan membawanya kembali ke penthouse.


Lucu kan? Tinggal di apartemen mewah, fasilitas lengkap, tetapi masih memilih kerja paruh waktu. Jika ingin, bisa meminta Han untuk menghubungi Dylan. Minta uang padanya, tapi tunggu, black card milik pria itu masih terselip dalam tas.


Bisa jadi Dylan tenang meninggalkan gadisnya karena bersama Han, tinggal di hunian mewah dan berbekal kartu sakti maka tidak kekurangan apapun.


“Terima kasih Daddy. Ah kau lebih cocok ku panggil kakak, karena seperti kakak laki-laki bagiku.”


Bus datang, Stephanie berhimpitan bersama para penumpang lain hendak naik, namun ponselnya bergetar satu pesan diterima. Akhirnya melihat pesan itu tidak sampai satu detik Dylan menelepon.


'Apa kabar Baby? Kamu di mana? Aku sudah sampai New York City.'


Suara lembut, dominan milik Dylan entah kenapa Stephanie menjadi candu mendengarnya.


“Ah ya, aku baik ... aku di selter xx, selesai bekerja.”


'On my way, Baby' Dylan mengakhiri panggilan suaranya.


Stephanie mengurungkan niat untuk naik bus yang hampir penuh itu, ia duduk di kursi menunggu Dylan datang menjemput. Tunggu, kenapa tiba-tiba merasa senang mendengar suara yang telah lama menghilang?  Dia itu bukan pria baik-baik, bisa-bisanya baru menghubungi setelah beberapa hari.


“Ish, hubungan kami hanya saling menguntungkan. Aku dapat uang dan Om itu mempunyai lawan bicara. Itu saja tidak lebih, jangan berpikir macam-macam Stevi.” Batin Stephanie menambah dinding terus tinggi, membatasi diri dengan Dylan.

__ADS_1


Menunggu tidak lebih dari lima belas menit, tampak mobil hitam berhenti di hadapannya, pintu terbuka. Dylan turun sembari tersenyum, aura ketampanan semakin bertambah dilengkapi jas dan mantel yang menutupi tubuh atletis.


“Ayo, masuk. Tidak baik gadis secantik kamu terlalu lama di pinggir jalan.” Dylan menatapi wajah Stephanie yang tampak tegas.


Seketika jantung wanita ini memompa darah lebih cepat, tidak karuan dan keringat dingin menjalar ke tangannya, mendengar pujian seorang Dylan. Bukan pria pertama yang mengatakan itu tetapi memilki kesan lain bagi Stephanie.


“Baby, hari ini kita ke California. Aku sudah memesan hotel di sana, kamu suka pegunungan?” Dylan tak henti mengukir senyum, setelah beberapa hari dibuat naik darah oleh Chloe, sekarang menguap sudah rasa jenuh dan sakit di kepala.


“Oh ya tentu aku suka. Udaranya sejuk dan pemandangan sangat bagus.” Stephanie membalas dengan senyum memaksa, iris birunya pun menghindari menatap Dylan.


Dylan merogoh saku mantel, menunjukan kotak kecil, Stephanie tahu apa isinya. Pasti benda berkilau yang sangat disukai wanita terkecuali dirinya. Ia tidak senang memakai perhiasan apapun.


“Baby, kamu tahu aku membeli ini khusus untukmu, bukalah!"


Stephanie melihat gelang tangan, indah dan cantik tapi sayang tidak menarik perhatiannya sedikit pun. Tanggapan gadis ini di luar dugaan Dylan, dan berakhir kecewa.


“Oh indah, terima kasih Om ... maksudku Daddy.” Menerima kotak itu lalu menyimpan dalam tas, pandangan Stephanie tertuju ke depan, baginya hal biasa menerima barang mewah berkilau. Ia hanya membutuhkan tempat tinggal dan uang untuk membeli makanan, agar tidak mati sia-sia di negara orang.


Dylan melakukan kegiatan tidak perlu, merapikan mantel dan berdeham beberapa kali.


Stephanie menoleh, merasa risih apa yang dilakukan sugar daddy-nya ini, kenapa tidak bisa tenang dalam perjalanan.


“Daddy, kamu sakit? sepertinya mau flu, kita ke rumah sakit tidak perlu ke California.” Gadis ini kecewa karena acara liburannya batal, tidak mungkin memaksa Dylan melanjutkan rencana mereka.


Sementara Dylan ingin diperhatikan dan mendapat sentuhan dari gadisnya, berujung dari pembatalan Stephanie. Kendati lelah dan kehabisan cara menghadapi wanita ini, Dylan tetap mendekat tidak peduli mendapat penolakan.


“Bukan Baby, aku sehat. Lihat kan sangat sehat? kita tidak perlu ke rumah sakit. Aku hanya membutuhkan ...” Dylan menengadahkan sebelah tangan berharap gadisnya mengerti.


Lagi-lagi di luar nalar seorang Dylan, dengan tatapan aneh Stephanie memberinya permen mint sebagai penghangat tenggorokan.

__ADS_1


“Aku tidak memiliki obat, hanya punya ini.”


Dylan lesu, di atas telapak tangan hanya ada dua buah permen mint. Entah harus melakukan apa agar gadisnya hangat dan memuja seorang Dylan. Padahal ia sangat ingin sentuhan bukan permen.


Terlalu lama menunggu akhirnya Dylan putuskan inisiatif lebih dulu, meraih tangan lembut berjari lentik di atas paha Stephanie. Menggenggamnya erat penuh kasih sayang, kedua telapak tangan bersatu, Dylan bisa merasakan kehangatan gadisnya.


“Diam dan menurutlah, kamu ini milikku jadi jangan membantah apapun.” Tegas Dylan.


Tangan gadisnya tidak bisa diam terus memberontak melepaskan diri.


“Baby diam, menurutlah. Jangan melepaskan ini. Aku merindukanmu.” Ucap Dylan, tulus dari dalam hati tapi wanitanya sama sekali tidak menganggap nyata, karena Dylan tetap bersama Chloe padahal merindukannya.


“Pembohong, pria memang pandai berbohong. Aku tidak percaya.” Balas Stephanie mendadak kesal. Bukan tanpa alasan, ia melihat sesuatu di leher sugar daddy-nya.


Bisa-bisanya pria ini mengatakan dengan tegas merindukan wanita lain setelah bercinta dengan kekasihnya.


“Hah tidak masuk akal.” Stephanie menghentak tangan, tautan terlepas. Dylan hanya memandang bingung, kenapa gadisnya berubah seperti singa betina.


“Apa yang tidak masuk akal? Apa salah aku merindukan gadisku? Dan kamu sebaiknya bersikap baik, aku sudah sangat berbaik hati.” Berang Dylan, ia serba salah diantara dua wanita.


Mereka sama sekali tidak mengerti keinginan seorang pria. Entah kesalahan apa yang ia perbuat di masa lalu, sampai memiliki tunangan seperti Chloe dan sekarang rasa cintanya pada Stephanie mengambang tidak tentu arah.


“Tidak masuk akal pria yang memiliki kekasih dan menghabiskan waktu bersama, tapi masih sempat mengatakan sangat merindukan wanita lain, keterlaluan.” Balas Stephanie hatinya kesal melihat tanda itu di leher Dylan.


“Aku berkata jujur merindukanmu, kamu hanya memerlukan bukti benar kan?” tanya Dylan.


“Tidak”


“Benar, kamu ingin aku membuktikannya, aku akan melakukannya baby.”

__ADS_1


“Jangan macam-ma....” Stephanie berhenti bersuara, kedua bola matanya melebar mendapat sesuatu  yang tidak terduga.


...TBC...


__ADS_2