
BAB 20
Dylan setia menemani gadisnya, lebih memilih tidur duduk dan menunduk menopang kepala di atas ranjang. Terus memegang tangan Stephanie, tidak dilepas sedetikpun. Sangat takut terjadi sesuatu, menurut dokter, Stephanie akan siuman dua jam yang lalu, tapi sampai sekarang masih terlelap.
“Akh ... sakit. Daddy?” Lirihnya, melihat Dylan tidur. Stephanie sempat mengerjapkan mata tidak percaya sosok pria yang dilihat. Seingatnya ia kabur dari kejaran Jacob dan anak buahnya, lalu tidak sengaja menabrak mobil, bayang-bayang kejadian menyeramkan itu terhenti saat jatuh menyentuh kerasnya aspal.
“Apa ini benar Dylan? Aku berhutang banyak sekali. Terima kasih Dylan.” Stephanie menangis sesenggukan, ia membayangkan kalau Dylan tidak datang, mungkin hidupnya berakhir di tangan seorang Jacob, pria itu sangat kejam.
Stephanie menyentuh puncak kepala Dylan, mengusap dengan lembut. Dylan cukup peka akan sentuhan, dia terbangun karena mendapat sentuhan nyaman dan menenangkan hati, dalam mimpinya Stephanie membelai sembari tersenyum, rupanya kali ini mimpi dan kenyataan sesuai, tapi gadisnya tidak tersenyum melainkan menatap sedih.
“Baby, kamu sudah bangun? Kamu ingat aku kan?” Dylan khawatir calon istrinya ini hilang ingatan, akan lebih menyeramkan hidupnya jika dilupakan oleh Stephanie, semakin sulit perjuangan Dylan.
“Ya, badanku sakit sekali Daddy. Tentu saja aku ingat, Daddy yang membantuku benar kan?” Stephanie menarik tangannya dari hadapan Dylan tetapi ditahan, ditarik pelan. Dylan mengecup kedua punggung tangan gadisnya.
“Jangan lakukan seperti ini lagi, tidak baik membuatku takut. Kamu tahu, aku langsung mengikutimu, mencari kemanapun. Maaf Baby, aku tidak lagi mengekang, kita bisa diskusi sampai menemukan solusinya.” Bujuk Dylan, berharap Stephanie masih mau kembali tinggal bersamanya.
“Daddy, maafkan aku. Mulai sekarang aku pasti patuh, aku takut ... Jacob dia.” Tak kuasa terus berkata-kata, Stephanie terus menangis, kejadian itu pertama kali baginya. Sekarang hanya Dylan yang bisa melindungi, suka atau tidak Stephanie akan mematuhi apa yang sugar daddy-nya larang.
“Tenang Baby, Jacob sudah ditahan, pengacaraku akan mengumpulkan bukti dan menyeretnya untuk mendapat hukuman setimpal.” Dylan berdiri kemudian ikut berbaring di sisi gadisnya, memeluk erat, memberi ketenangan serta kasih sayang.
__ADS_1
Jacob Graham dituntut atas kasus penculikan, malam itu juga pihak kepolisian menyambangi kediaman Jacob. Mencari bukti lain dan saksi, tapi ada satu masalah para pelayan di rumahnya tidak satupun buka suara, mereka mengatakan tidak terjadi sesuatu di rumah, alhasil polisi membawa rekam CCTV untuk diulik secara detil. Mereka juga masih mencari satu orang buronan diduga turut membantu Jacob dalam penculikan ini.
**
Beberapa hari berlalu, Stephanie diizinkan pulang, ia masih menggunakan kursi roda sampai kakinya benar-benar sembuh dan luka mengering. Dylan siaga menjaga gadisnya, ia menempatkan beberapa pengawal di dalam dan luar penthouse, karena rekan Jacob belum tertangkap, ada kemungkinan mengincar dirinya dan Stephanie.
Tidak hanya pengawal tetapi seorang perawat yang membantu Stephanie membersihkan diri serta mengganti pakaian. Semua Dylan persiapkan supaya gadisnya nyaman dan hanya fokus pada kesehatan.
Apalagi Dylan kembali sibuk dengan aktifitasnya. Hanya memiliki sedikit waktu untuk bertemu dan bertukar kata dengan Stephanie ketika sarapan dan sebelum tidur. Dylan merindukan satu hari penuh bersama gadisnya, tapi sayang akhir pekan ini harus kembali ke Spanyol, semua karena Chloe, merajuk tidak mau terapi ditemani orang lain.
“Baby, maaf aku harus pulang, kamu jaga diri, sebelum sembuh jangan keluar penthouse. Senin pagi aku kembali, jangan hubungi aku Baby. Hubungi Han kalau kamu memerlukan sesuatu, dia menginap di hotel dekat apartemen.” Sejujurnya Dylan tidak kuasa meninggalkan gadisnya sendirian, meskipun lebih dari sepuluh orang pengawal pribadi, dua maid dan satu perawat ada di penthouse ini.
Stephanie sangat keras kepala dan gesit, takut ketika pulang, gadisnya pergi walaupun hanya menikmati udara segar di luar penthouse atau sky garden. Dylan menegaskan kepada semua pengawal bahwa tidak ada yang boleh keluar sedetikpun dari penthouse, semua demi keamanan wanita yang ia cintai.
“Jangan salah paham, aku hanya bertanya, kalau keberatan tidak perlu menjawab.” Stephanie tersenyum tanpa beban. Lagipula apa haknya ikut campur dalam masalah percintaan Dylan dan Chloe, dalam hati serta kepala selalu menegaskan bahwa hubungan ini hanya terikat kontrak tidak lebih, dan akan habis dalam waktu kurang dari dua minggu.
“Ya, ini aku pulang karena Chloe memintanya. Bagaimana pun dia adalah tunanganku Baby, aku bertanggung jawab sejak kami bertunangan tiga tahun yang lalu, kau tahu? Semua ini ku lakukan terpaksa. Mungkin hari ini belum saatnya kamu tahu, tapi aku janji akan mengatakan semuanya, percaya padaku Baby.” Dylan mensejajarkan tubuhnya dengan Stephanie, merangkum wajah cantik dan manis pujaan hati, mengecup kening penuh kasih sayang. Cukup lama keduanya terdiam tidak ada suara apapun kecuali hembusan napas.
“Aku akan merindukanmu Baby.” Batin Dylan, tubuh dan hatinya tidak lagi bisa pergi menjauh, hanya ingin bersama Stephanie.
__ADS_1
Stephanie mendorong tubuh Dylan, mengulas senyum semanis mungkin, kemudian melepas tangannya dari genggaman Dylan. “Daddy harus pulang, karena dia adalah calon istrimu, hubungan yang kalian jalani selama ini jangan sampai terputus, aku yakin Chloe gadis yang baik, akan membuat hidup Daddy jauh lebih berwarna.” Tutur Stephanie, jelas sekali bahwa ia menolak Dylan secara halus.
Sementara Dylan hanya menggeleng lemah, tidak ada satu orang pun termasuk gadisnya, mengerti apa yang ia inginkan.
Usianya semakin matang dan setiap hari bertambah tua, Dylan bukanlah seorang pengasuh melainkan pria normal, ingin menikah dan memiliki istri yang dicintai, bersama-sama menjalani kehidupan bahagia.
“Aku pergi Baby, tunggu aku kembali. Senin pagi aku datang, jangan keluar selama dua hari ini. Setiap hari Han ke sini, dia memeriksa keadaanmu, katakan semua keluhan kepada Han.” Dylan mengacak rambut coklat gadisnya dan mencium puncak kepala Stephanie.
Dylan mulai melangkah pelan-pelan sampai akhirnya menghilang di balik pintu apartemen.
Stephanie bergerak menuju kaca besar, dimana pemandangan Kota New York tampak jelas, dan melihat aktifitas semua orang.
Untuk kali ini Stephanie tidak berharap banyak, ia merasa Dylan tidak akan menepati janjinya, ya pria itu pasti mengingkari semua.
“Aku tidak boleh terlalu berharap, Dylan milik wanita lain, dan mereka menikah tahun depan, seharusnya yang pergi itu aku bukan Chloe.” Menoleh ke kanan dan kiri, memperhatikan isi penthouse, semua tampak indah, rapi dan mewah tidak heran hidupnya nyaman, tapi sekali lagi ini bukan miliknya.
Terpikir dalam benak Stephanie bahwa ia harus menjalani hidup seperti sebelumnya, terus bekerja sembari melanjutkan studi sampai hukuman selesai.
“Maafkan Aku Dylan.” Batin Stephanie.
__ADS_1
TBC