My Fierce Sugar Baby

My Fierce Sugar Baby
Bab 42 - Pertaruhan Segalanya


__ADS_3

BAB 42


Pagi ini Dylan menata rambut sangat rapi, menipiskan five o’clock shadow beard, menggunakan pakaian kasual dan memerintahkan Asisten Han mencari coklat karena kekasihnya itu sangat menyukai coklat, permen dan eskrim.


Dylan berharap hari ini Stephanie berubah, tidak galak seperti kemarin malam. Jujur saja ia tidak bisa menjalani satu hari tanpa cinta dari kekasihnya.


“I’m coming baby.” Dylan mengulas senyum, menatap diri sendiri pada cermin.


Hari ini juga ia akan melamar gadisnya di depan kedua orangtua, Dylan ingin mengikat kuat Stephanie dengan cinta tulusnya. Ditambah restu dari Tuan Besar Manassero semakin menambah semangat dan kekuatan Dylan.


Dylan Gervaso Manassero akan membuktikan bahwa ia serius menjalin hubungan dengan gadisnya, tidak mau membuang kesempatan kedua. Kalau bukan hari ini kapan lagi bisa bertemu keluarga gadisnya? Bahkan sampai tidak bisa tidur semalaman, karena terlalu tegang menyambut pagi.


“Tuan semoga sukses, kami sangat berharap Nona Stephanie kembali pulang ke penthouse.” Ujar kedua maid, mereka turut bahagia menyambut calon Nyonya Muda Manassero.


“Terima kasih.” Balas Dylan ramah, biasanya dia tidak pernah sebaik ini tetapi karena mendapat dukungan dari berbagai pihak, tidak salah bukan berbagi sebuah senyuman.


Super car dikendarai oleh Dylan, melaju cepat menuju salah satu rumah sakit dipinggiran Kota New York. Pria ini bersenandung selama perjalanan, sesekali menoleh pada coklat berbentuk hati di sisinya. Tidak sabar bersanding dengan Stephanie, gadis yang selalu membuat hari-hari Dylan berwarna.


“Aku mencintaimu Stephanie, lebih dari apapun. Hidupku, hatiku hanya untukmu.” Ucap Dylan masih tetap mengukir senyum di balik kemudi.


Setelah tiga puluh menit berkendara akhirnya Dylan tiba di pelataran rumah sakit. Segera memarkirkan kendaraan dan melangkah lebar memasuki rumah sakit. Debar dalam rongga dada semakin tidak menentu.


Dylan berusaha mengatur napas, menenangkan diri sendiri. Terus menyemangati tanpa henti, dadanya semakin kembang kempis ketika beberapa orang yang ditugaskan untuk menjaga Stephanie datang mendekat.


Wajah mereka berubah tegang melihat tuannya datang, karena tidak sampai hati menyampaikan kabar buruk yang akan membuat rusak suasana hati.

__ADS_1


“Ada apa kalian ini?” tanya Dylan tetap melangkah lebar menuju pintu ruang VVIP.


“Tuan, kami … kami mohon maaf. Nona Stephanie menghilang dari kamar rawat.” Tutur seorang pengawal wanita yang paling dekat dengan kekasih tuannya.


DEG


Dylan seakan terkena serangan jantung, detik ini juga kakinya berubah menjadi lemas. Tidak banyak tanya, ia segera berlari dan membuka ruangan yang semalam menjadi saksi, diusirnya sang mantan casanova pertama kalinya oleh wanita.


BRAK


Pintu terbanting cukup kuat, Dylan mengabaikan protokol rumah sakit yang melarang kegaduhan. Baginya sekarang paling penting mencari tahu kebenaran tentang laporan anak buahnya.


Kedua mata pria ini melebar, kepala menggeleng lemah, dalam ruangan hanya ada ranjang kosong tanpa pujaan hatinya.


“Di mana Stephanie? Katakan sekarang juga!” Dylan kalap, memutar tubuh dan mencengkram kuat kerah kemeja salah satu pengawal, kemudian menghempas kasar samai membentur dinding.


“Maaf Tuan, kami kehilangan Nona. Sepertinya Nona di pindah ke tempat lain tepat tengah malam. Kami selalu menjaga di depan pintu, hanya ada keluarga Nona yang selalu keluar masuk, tidak ada orang lain. Tapi … pagi ini kami merasa sesuatu yang janggal, memeriksa ruangan dan kosong, bahkan pihak informasi tidak memberitahu kemana Nona pergi.” Panjang kali lebar pengawal menjelaskan.


“Kalian semua aku bayar mahal, percuma. Di mana Stephanie? Cari sekarang juga di setiap rumah sakit kota, jangan sampai ada yang terlewat. Kau periksa penerbangan dengan menggunakan pesawat pribadi, aku curiga Tuan Besar Bradley membawa Stephanie pulang.” Perintah Dylan.


Hatinya kembali patah dan remuk untuk kesekian kali, rasanya berat sekali hanya ingin mendapatkan cintanya.


Coklat berbentuk hati yang sedari tadi ia pegang, terjatuh ke lantai. Sama seperti perasaannya yang terhempas dari langit ke dasar bumi.


Apalah artinya semua persiapan lamaran ini kalau kekasihnya menghilang?

__ADS_1


Dylan berjalan menuju ruang informasi, berapapun akan dia bayar asalkan mendapat kabar kemana dan kapan gadisnya menghilang.


Namun sayang, pihak informasi tidak mudah disuap sekalipun ia menyerahkan kunci mobil. Dylan yakin ini semua karena campur tangan Tuan Adam, bagaimana kekuasaan mulai bicara dan bertindak. Pria paruh baya itu tidak main-main menjauhkan Stephanie darinya.


“Arghhh Stephanie, seperti ini kah akhir dari hubungan kita?” teriak Dylan di lorong rumah sakit mengundang perhatian pasien lain.


“Kau ikut aku sekarang juga.” Tunjuk Dylan pada seorang pengawalnya. Ia akan mencari gadisnya dari satu hotel ke hotel lain. Mungkin saja Stephanie masih di kota ini dan menginap.


“Tunggu aku sayang, ku mohon jangan pergi lagi. Cukup sekali aku kehilanganmu.” Lirih Dylan dalam mobil, bahkan ia tidak sanggup mengendarai roda empat itu sendirian. Pikirannya melayang entah kemana.


Detik berganti menjadi menit, satu jam berlalu dan hari kini telah berubah gelap. Keberadaan Stephanie masih belum diketahui, bahkan penyelidikan anak buah Dylan tidak menghasilkan apapun, semua nihil.


“Semua informasi penerbangan tidak bisa kami dapatkan tuan. CCTV di luar rumah sakit pun tiba-tiba menghilang dari pukul 12 malam sampai satu dini hari. Bisa dipastikan kalau keluarga Nona membawanya pergi.” Seorang kepercayaan Dylan hilir mudik sejak pagi dan tidak membawa laporan apapun untuk tuannya.


“Jadi kalian dari pagi tidak mendapatkan apapun? Kalian ini hanya mencari seorang gadis, Stephanie tidak mungkin pergi jauh.” Bentak Dylan. Penthouse yang semula penuh kebahagiaan dan kehangatan kini berubah mencekam, sebab Tuan Muda mereka tidak henti memaki bahkan membanting sesuatu. Tidak peduli semahal apapun pajangan yang tersimpan di atas meja hias.


“Kau cari tahu tentang keluarga Bradley, lengkap dengan data anggota keluarga mereka. Tempat tinggal bahkan kegiatan terakhir apa yang mereka lakukan. Temukan dalam satu jam!” perintah Dylan tidak mau tahu, apalagi mendengar penolakan dari anak buahnya.


Dylan tidak habis pikir kenapa Tuan Adam sampai memisahkan dia dengan putrinya. Apa seserius ini masalahnya?


Calon mertua itu hanya bilang kalau tidak ingin putrinya dalam bahaya. Bukankah Chloe sudah ditangani oleh pihak kepolisian, jadi tidak perlu ada yang ditakutkan lagi?


Sekarang takdir cintanya harus berakhir sampai di sini. Apa Dylan sanggup menjalani hari tanpa hadirnya seorang Stephanie? Bahkan mendengar suaranya pun tidak.


“Baby ku mohon kembali lah. Aku sudah berubah demi kamu, aku mempertaruhkan segalanya hanya untukmu Baby.” Teriak Dylan dalam penthouse.

__ADS_1


Dylan menatap nanar cincin pemberian Tuan Besar Manassero, benda berkilau itu milik mendiang ibu kandung Dylan, kini hanya tersimpan di atas meja tanpa berhasil di sematkan pada jari gadis yang ia cintai sepenuh hati.


TBC


__ADS_2