My Fierce Sugar Baby

My Fierce Sugar Baby
Bab 31 - Akhir dan Awal


__ADS_3

BAB 31


Stephanie tidak menjawab pertanyaan Dylan. Memilih acuh, lebih baik tidak peduli. Lagipula bukannya sudah tahu alasan Dylan ada di sisinya sekarang? Karena laporan dari bodyguard kan?


“Kenapa kamu diam, Baby?” bisik Dylan tepat di telinga Stephanie yang membuatnya langsung meremang.


“Ck, tidak penting. Aku melihat kalian pergi bersama, di mana Chloe?” tanya Stephanie, kepalanya meliuk-liuk mencari keberadaan Chloe. Jangan sampai kepalanya pusing lagi, mendengar wanita itu terus mengiba mengatakan bahwa dirinya hamil dan menginginkan Dylan tetap di sampingnya.


Dylan berjalan menjauh dari brankar, Stephanie sempat berpikir kalau pria itu akan pergi tapi Dylan mengambil sesuatu dari tangan pengawal. Amplop putih, bertuliskan nama rumah sakit dan logo, seketika jantung gadis ini berdegup cepat, ia takut itu hasil pemeriksaannya. Sungguh Stephanie belum siap menerima kenyataan, kalau dia menderita suatu penyakit.


Stephanie nampak risau dan harap-harap cemas dalam dada. Memegang selimut dan meremasnya, menelan saliva yang begitu kelat.


“Apa itu hasil tes laboratorium?” lirih Stephanie.


“Ya. Dan USG.” Dylan mengangguk membenarkan pertanyaan pujaan hatinya.


Lelaki ini tersenyum jahil melihat perubahan riak wajah gadisnya, Stephanie mendadak takut dan beringsut di atas ranjang. Semoga tidak seperti apa yang dipikirkan.


“Cepat bilang, jangan lama.” Sentak gadis bermanik biru ini.


Bukannya menjawab, Dylan malah memberikan amplop itu ke tangan gadisnya, memberi perintah agar Stephanie membuka sendiri.


Perlahan tapi pasti, kertas serta hasil USG dari dalam amplop mulai terlihat bagian atasnya, Stephanie menutup kedua mata, sembari satu tangannya tetap menarik hasil pemeriksaan dalam amplop.


TAK

__ADS_1


“Aw, sakit. Apa yang kamu lakukan?” pasalnya Dylan menyentil kening Stephanie cukup keras, sampai rasa panas akibat ulah jarinya masih tersisa.


“Buka mata kamu, lihat dengan jelas. Jangan terkejut, baby.” Dylan mengecup pipi gadisnya, kembali duduk bersandar di atas kursi kecil.


Stephanie membelalakkan kedua mata, ternyata bukan hasil tes tentang dirinya melainkan Chloe. Wanita itu dinyatakan tidak hamil, dan USG ini sangat berbeda dari yang ia lihat sebelumnya. Mungkinkah Dylan berbohong atau Chloe yang merekayasa hasilnya?


“Ini? Milik Chloe? Harusnya di sini ada gambar bayi kalian tapi kenapa kosong?”


“Karena dia tidak hamil. Dia berbohong. Hanya ingin membuatmu pergi jauh, kalaupun hamil aku yakin bahwa ayah dari bayi dalam kandungannya pria lain. Kamu percaya kan?” Dylan tersenyum menunggu tanggapan sugar baby-nya. Ah bukan tetapi kekasihnya, mulai hari ini ia akan memastikan jika Stephanie adalah calon istri.


Hubungan Dylan dan Chloe telah berakhir tiga puluh menit yang lalu, Tuan Besar Manassero sendiri yang membatalkan pernikahan mereka. Pria tua itu merasa ditipu dan dibohongi oleh Chloe, tidak menyangka berani berbohong, menyatakan dirinya hamil.


Pria itu senang bukan main, bahkan memberi kabar kepada Tuan Martinez untuk mempercepat pernikahan keduanya. Tetapi setelah hasil keluar, betapa kecewanya beliau hingga tidak bisa lagi menutupi kesalahan Chloe. Kalau memang ingin mendapatkan Dylan, tidak perlu melakukan kebohongan.


Detik itu juga Tuan Manassero langsung memutuskan pertunangan dan membatalkan acara  pernikahan, padahal beberapa persiapan telah dilakukan. Ia tidak bisa menerima kebohongan min apapun.


“Jadi kalian putus?” tanya Stephanie tidak percaya begitu saja. Baru beberapa jam lalu ia melihat kemesraan Dylan dan Chloe di dalam taksi, sekarang mendengar kabar bahwa sugar daddy-nya tidak lagi bertunangan dengan Chloe.


“Ya, karena ulahnya sendiri. Dia tidak bisa lagi memisahkan kita Baby. Lalu bagaimana dengan hubungan kita?” Dylan mengedipkan sebelah mata menggoda gadisnya. Sungguh pria ini tidak sabar menghabiskan waktu bersama kekasih barunya.


“Kita? Aku bukan lagi sugar baby-mu. Hubungan kita berakhir, aku akan tetap menepati janji membayar uang yang kamu berikan, tapi setelah akses keuanganku kembali.” Jelas Stephanie sama sekali tidak mengerti maksud Dylan. Dia bahkan tidak berniat mengambil kesempatan dengan mengganti posisi Chloe. Stephanie sangat bertolak belakangan dengan Dylan.


“Aku tidak akan menagih apapun, semua itu milik kekasihku. Kembalilah ke penthouse, jangan pergi kemana pun Stephanie.” Wajah Dylan mendekat, kedua tangan merangkum pipi kekasih hati yang telah lama ia nantikan. Dylan menyesap bibir merah muda manis milik gadisnya. Penuh penghayatan, menyalurkan kasih sayang, pria ini hanya ingin mengungkapkan perasaan.


Stephanie, diam, menerima pergerakan bibir dan gelinya bergesekan dengan janggut pria yang mengaku kekasihnya. Ia sendiri bingung, otaknya ingin sekali pergi menjauh tapi lubuk hati terdalam sangat bergantung kepada Dylan. Apa yang sebenarnya Stephanie rasakan? Dia juga tidak tahu.

__ADS_1


Cukup lama Dylan menikmati manis dan menggodanya bibir itu, sampai dokter datang menyampaikan bahwa Stephanie boleh pulang.


Perawat membantu melepaskan infus yang telah habis, membawa kursi roda untuk Stephanie. Namun Dylan menolak, tidak memerlukan benda itu, dan tanpa aba-aba menggendong gadisnya keluar dari IGD.


“Aku ini punya kaki bisa berjalan, kenapa harus digendong? Semua orang memperhatikan kita, tahu tidak?” geram Stephanie yang mendapat tatapan iri dari beberapa orang. Karena malu akhirnya menyusupkan kepala ke bahu Dylan, menempel erat menutupi wajah.


Tentu saja Dylan senang, gadisnya ini resmi menjadi miliknya. Mungkin dalam waktu dekat Dylan akan mengunjungi keluarga Stephanie. Melamar secara resmi calon istrinya, dia tidak mau menunda pernikahan, sebab usia semakin bertambah.


Sampai di area parkir, Dylan mendudukkan kekasihnya perlahan, membantu memasang sabuk pengaman. Sebenarnya mengambil kesempatan yang ada, senang menggoda dan mengganggu gadisnya.


“Hey, aku bisa pakai sen ...” belum selesai Stephanie bicara, bibir Dylan kembali mengecup mesra bahkan sedikit liar memberi gigitan kecil.


Sontak Stephanie melotot, mendorong tubuh Dylan, tapi apa boleh buat tidak ada pergerakan sama sekali. Pria itu menahan tengkuk dan semakin memperdalam kegiatan mereka.


Dirasa cukup, Dylan melepas dan menghapus jejak basah di bibir merah mudah Stephanie.


“Jangan membantah sayang, mari kita pulang.” Dylan tersenyum, mengacak rambut coklat tua Stephanie. Kemudian berlari kecil memutari mobil, duduk tepat di samping kekasihnya.


“Aku mau pulang ke apartemenku. Bisa antar ke sana?” ujarnya tanpa menoleh sedikitpun. Bukan tanpa sebab, melainkan debaran dalam dada semakin tidak menentu, sikap Dylan sangat manis dan memabukkan. Tapi dia tidak ingin bergantung sepenuhnya kepada pria dewasa ini.


“Aku bilang apa? Jangan membantah. Penthouse itu milikmu, tinggal di sana dengan baik.” Tutur Dylan, satu tangannya fokus memegang setir mobil, sementara satunya lagi menggenggam erat jemari Stephanie.


“Aku belum membayarnya, jadi itu masih milikmu. Aku tidak mau berhutang apapun, cukup uang.” Tolak Stephanie mentah-mentah, baginya tidak masalah, dalam waktu lima bulan ini tinggal di tempat sempit dan bising asalkan bisa mandiri dan tidak terkurung, dalam banyaknya peraturan mengikat.


“Itu semua hadiah untuk calon istriku.” Dylan tersenyum manis.

__ADS_1


“Istri? aku tidak mau menikah denganmu.” Sahut gadis muda di sisi Dylan, tanpa perasaan menolak keinginan kekasihnya.


TBC


__ADS_2