
“Kaylin”
Stephanie ingat satu-satu orang yang kini bebas berkeliaran adalah Kaylin, rival Stephanie sesungguhnya. Sementara Chloe dan Jacob telah mendekam di balik jeruji besi, tidak mungkin kalau dua orang itu mengganggunya.
Dylan juga telah membuat kesepakatan dengan Tuan Martinez, semua masalah akan diselesaikan di meja hijau, tidak ada cabang dari semua kejadian.
Sementara Kaylin masih menjadi incaran polisi, gadis itu cukup sulit ditangkap. Keberadaannya sampai saat ini tidak diketahui.
“Kaylin, teman kuliahmu di NYC, benar kan? Tapi kenapa dia tahu nomor telepon kamu Stevi?” penasaran Fredella. Karena tidak mungkin buronan itu memiliki nomor Stephanie begitu saja.
“Tentu tahu, dia dulu salah satu pelanggan rumah mode tempat aku kerja. Dia selalu mengeluh dengan mengirim pesan. Kau tahu Fredella? Aku benar-benar ingin membalas dendam, karena dia, aku … aku jadi …” Stephanie tidak bisa melanjutkan kata-kata, dia juga bingung antara mengeluh atau tidak, karena ulah Kaylin semua dimulai.
Awal pertemuan Stephanie dengan Dylan dimulai, saat itu baginya benar-benar menyebalkan terjerat bersama pria dewasa yang sangat menuntut dan terpaku pada peraturan.
Tapi lambat laun cinta tumbuh dan Stephanie sadar kebahagiaan yang ada saat ini hadir setidaknya atas campur tangan Kaylin. Kalau tidak ada Dylan pasti sekarang dia terpaksa menikah dengan Calvin, demi bisnis keluarga.
“Jadi apa? Karena Kaylin, musuhmu itu. Kamu dan Dylan menikah? Kalian juga bersatu dengan cinta bukan paksaan. Apalagi suamimu sangat mencintai kamu Stephanie, dia berjuang sampai akhir, kamu lihat kan?” Tukas Fredella mengingatkan Stephanie.
Tidak hanya itu, Stephanie juga bercerita panjang lebar tentang apa yang dirasakannya selama ini, sosok yang mengawasi tanpa terlihat.
Tidak hanya sekali tapi beberapa kali, Stephanie acuh saja sebab keamanannya terjaga dengan sangat baik dengan banyaknya pengawal yang setia mengikuti kemanapun dia pergi.
__ADS_1
“Ok, menurutku itu Kaylin. Dan kamu harus waspada. Apa Dylan tahu masalah ini?” Fredella sangat menyayangi Stephanie karena mereka berteman sejak lama.
Stephanie menggeleng kepala dengan cepat, sebagai jawaban dari pertanyaan sepupunya. Ia tidak ingin membuat siapapun khawatir dengan keadaan yang belum pasti ini.
“oh ya ampun Stephanie. Kamu ini bagaimana? Dylan itu kan suamimu, seharusnya kamu sampaikan semua padanya, jangan ada yang kamu tutupi, kalian sudah menikah selama hampir satu tahun. Kamu harus bilang, ini menyangkut keselamatan kamu Stephanie.” Geram Fredella, entah karena hormon hamil atau apapun itu, yang jelas sebagai sepupu yang tulus menyayangi, ia tidak mau terjadi hal buruk walau dampaknya kecil.
“Hem ya, kamu benar. Nanti aku bilang Dylan. Sekarang mau makan rujak dulu.” Jawab ibu hamil menyimpan ponsel di meja, lalu mengambil irisan manga putih itu.
**
Sementara di sisi lain Kota Madrid, seorang pria tampan lengkap dengan kacamata hitam baru saja turun dari mobil. Pagi ini jadwalnya sibuk, ada beberapa kunjungan yang harus dilakukan sampai sore hari.
“Tuan Dylan, sebentar lagi Tuan Leon tiba. Mari kita masuk lebih dulu.” Han mendengar sesuatu dari dalam earphone. Asisten menyampaikan jika rekan bosnya kurang dari lima menit tiba di restoran hotel.
“Pagi Tuan Muda Marquez. Maaf menunggu lama.” Imbuh Dylan berjabat tangan dengan rekan bisnisnya.
“Tidak perlu sungkan, lagipula meeting kita dimulai sepuluh menit lagi. Aku dengar anda sudah menikah? Benar-benar keterlaluan tidak mengundang rekan bisnis.” Ujar Tuan Muda Marquez.
“Ah itu karena rekan bisnismu ini hanya mengandalkan mertua. Aku menikah mendadak dan yah kau bisa bayangkan bagaimana bisa aku mengudang kalian dari Spanyol ke Jakarta?” jawab Dylan sedikit tersenyum mengingat momen mendebarkan sekaligus menyenangkan dalam waktu yang sama.
“Kau memang tidak modal Dylan.” Sahut suara bariton, pria itu baru saja tiba di restoran bersama asisten pribadinya.
__ADS_1
“Akhirnya kau datang juga Leonard. Cepat duduk dan mulai meeting.” Jawab Dylan dengan dingin.
Setelah selesai membahas bisnis selama hampir dua jam, Tuan Muda Marquez pulang lebih dulu sedangkan Dylan dan Leon masih tetap dalam restoran. Dua pria mantan rival cinta itu sedang beradu argument, Leon marah karena tidak hadir di acara pernikahan temannya. Lebih tepatnya merasa tidak di hargai.
“Ck kau itu berlebihan Leonard, Tuan Muda Marquez biasa saja. Nanti aku bawa istriku menemui kalian. Tapi setelah anak kami lahir.” Tegas Dylan sembari menyesap kopi.
“Istrimu benar hamil? Luar biasa, aku tidak menyangka kau akan memiliki anak.” Tukas Leonard, menatap Dylan tidak percaya, sebab pria itu tidak terlalu menyukai anak kecil.
“Ya tapi …untuk itu kita selesaikan projects ini, aku ingin segera ke Jakarta dan menemani istriku melahirkan. Leonard bukankah kau memiliki rekan departemen keamanan? Aku mau minta bantuan.” Ucap Dylan, wajahnya tampak serius.
“Apa? Katakan. Selama bisa aku bantu.” Leonard serius akan ucapannya, dia merasa rekannya ini sedang ada masalah.
“Temukan Kaylin, dia sudah menjadi buronan selama ini dan keberadaannya tidak ada yang tahu. Stephanie dan wanita itu tidak memiliki hubungan yang baik. Kau tahu, aku khawatir akan keselamatan istri dan anakku.” Pungkas Dylan. Memberi informasi Kaylin pada Leonard, dia ingin rival istrinya segera ditemukan.
“Mudah bagiku, lalu apa imbalannya? Ingat tidak ada yang gratis.” Tawar Leon, menyeringai tipis.
“Ah baiklah, tambahan 2% saham untukmu di perusahaanku, bagaimana?” ujar Dylan karena rekannya ini tidak akan menerima bayaran berupa uang.
“Pelit sekali, 10% bisa.” Balas Leon tertawa. Padahal dia tahu mana mungkin Dylan memberi tambahan lagi, sedangkan saat ini 45% saham dimiliki oleh keluarga Bradley.
TBC
__ADS_1