My Fierce Sugar Baby

My Fierce Sugar Baby
BAB 61 - Tak Ada Kata Ampun


__ADS_3

Pintu ruang operasi terbuka, Dylan mendekat dan melihat siapa yang keluar dari dalam sana. Rupanya sosok bayi mungil dengan panjang lima puluh satu sentimeter dan berat tiga kilogram. Terbalut dalam selimut kuning, terbaring di atas ranjang bayi dengan dinding kaca di sisi kiri dan kanan, serta penutup atas yang bening.


“Anakku. Syukurlah, anakku.” Lirih Dylan menitikkan air mata melihat keturunannya berhasil diselamatkan.


“Cucuku.” Ujar Papa Adam dan Mama Samantha, terharu melihat bayi merah itu menggeliat, bibir merahnya bergerak, sedikit cemberut, mirip sekali Stephanie.


“Selamat Tuan Manassero, Tuan Adam. Nona Stephanie melahirkan bayi perempuan, secara fisik tidak kurang apapun, hanya masih memerlukan pengawasan sebab lahir prematur.” Tutur Dokter Spesialis Anak.


Bayi itu pun di bawa ke ruangan khusus perawatan bayi, Dylan dan anggota keluarga lain masih harap cemas. Sebab belum mengetahui kondisi Stephanie.


“Istriku Stephanie, aku harap kamu baik-baik saja.” Doa Dylan, mengatupkan kedua tangannya.


Tidak sampai lima menit brankar keluar, Stephanie tergeletak lemah di atasnya. Dylan menatap sedih, melihat satu kantung darah terpasang di penyangga infus.


“Permisi Tuan, Nona harus masuk ruang pemulihan.” Perawat mengingatkan agar Dylan tidak menghalangi jalan.


“Dok. Dokter bagaimana kondisi Stephanie?” tanya Mama Samantha dan Dylan secara bersamaan.


“Pasien kehilangan cukup darah, operasi berhasil tidak ada kendala apapun. Beruntung lagi Tuan, Nyonya. Nona Stephanie tidak mengalami cidera serius atau keretakan pada tulang, diperkirakan sebelum pukul enam pagi nanti, pasien siuman.” Terang Dokter kandungan panjang lebar.


Semua mengucap syukur, setidaknya mengetahui putri keluarga Bradley tidak cidera pun sudah sangat baik, mengingat tabrakan cukup kuat.


Sekarang waktunya Dylan membuat perhitungan dengan Kaylin, wanita itu harus merasakan bagaimana sakitnya Stephanie.


“Pah, Mah. Ku titip Stephanie dan putriku.” Wajah Dylan berubah serius, penuh amarah yang terpancar dari dua bola mata.


“Mau ke mana kamu?” Papa Adam yakin kalau menantunya akan membuat perhitungan dengan Kaylin, tentu saja pria ini tidak mau ketinggalan, harus ikut dan melihat seperti apa wanita yang berani mencelakai putri sulungnya.


“Menyelesaikan masalah Pah. Aku mohon jangan menghalangi untuk kali ini.” Tegas Dylan, tampak berbeda dari biasanya. Pria yang selalu terlihat tertawa tapi sekarang bara kebencian memenuhi Dylan Manassero.


“Hey, menantu.” Cegah Papah Adam, satu tangannya menahan bahu Dylan.

__ADS_1


“Papa dan Mama jaga Stephanie di sini.” Dylan melepaskan tangan mertuanya dan melangkah mantap menuju suatu tempat.


“Hey, menantu berhenti kau itu kebiasaan ya. Tidak mendengarkan orangtua bicara sampai tuntas. Aku ikut, aku juga ingin memberi hukuman untuknya, berani sekali melukai Stephanie ku.” Papa Adam mendapat sorotan tajam dari istri, adik ipar sepupu dan keponakannya.


“Siapa yang mau ikut denganku?” tanya pria berusia lima puluh delapan tahun itu.


“Aku ikut.” Sahut Dwyne, ia tidak sabar melepaskan pukulan keras ke Kaylin, karena lancang menyentuh saudara sepupunya.


Tapi tidak semudah itu, Dwyne di tahan oleh suaminya. Sebab Dewa tidak menyukai kekerasan, apalagi istrinya ini seorang ibu.


“Aku tidak jadi Uncle.” Jawab Dwyne lemah.


Akhirnya hanya Papa Adam dan Dylan menuju kantor detektif swasta. Di sana Kaylin diamankan sebelum diserahkan ke pihak polisi.


“Ini kunci mobil." Papa Adam melempar kunci mobil sportnya kepada Dylan, tentu Dylan tercengang sebab untuk apa pria paruh baya itu memberikunci.


“Kenapa malah melihat papa mertua mu seperti itu? Tidak sopan. Kau mau membiarkan aku yang menjadi sopir?” nada sinis Papa Adam yang sanga Dylan hapal.


.


.


Dylan dan Papa Adam tiba di salah satu bangunan kuno namun tampak indah di pandang.


Keduanya masuk, disambut baik oleh beberapa penjaga. Detektif pun keluar, betapa terhormatnya dia bisa bertemu dengan Tuannya.


“Maafkan kami Tuan, pekerjaan kami tidak memuaskan sampai hal buruk terjadi.” Menundukkan kepala, pasrah akan nasibnya.


“Ck, detektif terkenal sepertimu kesulitan menangkap satu wanita. Benar-benar mencoreng reputasi." Sengit Adam, menerobos masuk, dia melihat Kaylin tengah meringkuk dalam ruangan.


“Mati kau Stephanie, mati. Kita harus mati berdua.” Ucap Kaylin kemudian tertawa sendirian.

__ADS_1


“Sayangnya usahamu sia-sia, kau akan dihukum seberat-beratnya. Istriku masih hidup, anak kami selamat. Aku tidak akan memaafkanmu, Kaylin.” Teriak Dylan, kedua kepalan di tangan menunjukkan seberapa marah Dylan. Namun Papa Adam menahan, setelah melihat keadaan Kaylin tidak sampai hati melukai wanita itu.


“Menantu jangan. Dia itu gila, jika kita membalasnya dengan otot itu artinya kita juga gila. Gunakan akal sehatmu!” Papa Adam sebisa mungkin menjaga Dylan agar tidak lepas kendali.


“TIDAK MUNGKIN” teriak Kaylin sorot kedua matanya tajam lurus, tidak memandang empat orang dalam ruangan.


Tapi beberapa detik kemudian tatapan Kaylin tertuju kepada Dylan, bibirnya menyunggingkan senyum menggoda.


“Dylan kamu datang untuk membebaskan aku, benarkan? Terima kasih. Aku tahu kamu dan dia tidak tulus, jangan sedih Dylan.” Racau Kaylin, tubuhnya bergerak gelisah tapi apa daya kedua tangan tidak bisa bergerak sebab masih dikuasai oleh borgol.


“Dylan … Dylan, bantu aku melepaskan ini. Aku mohon, aku tidak salah. Aku hanya ingin dia menderita sama sepertiku.” Kaylin meraung, meronta berusaha melepaskan diri.


“Tidak akan aku lepaskan, Kay. Kau melukai wanita yang aku cintai.” Berang Dylan, ingin sekali melepaskan amarah, tapi kata-kata Papa Adam terus terngiang di telinganya.


“Dasar perempuan licik dan murahan. Kau tidak tahu kalau perempuan yang ingin kau lukai itu putriku? Artinya kau juga berurusan denganku, anak kecil. Dasar tidak tahu malu, ku pastikan kau menderita di balik sel. Ingat itu.” Sengit Papa Adam, ayah mana yang tega menyaksikan putrinya terluka, bersimbah darah.


“Ck ... kau dengar kan Dylan, Stephanie sudah memiliki pria yang menyayanginya. Ku mohon lepaskan aku, cintai aku. Kamu pasti bisa melupakan dia.” Tegas Kaylin, tanpa memedulikan saat ini dirinya tengah berada dengan siapa dan di mana.


“Kau ingin bebas? Tapi aku tidak. Kaylin, istri dan anak adalah nyawaku. Aku rela melakukan apapun demi wanitaku, termasuk menghancurkanmu. “ Dylan mendorong tubuh wanita yang menempel padanya. Menatap sengit, seperti ingin membunuh seseorang.


Awalnya dia akan membantu Kaylin, memberinya maaf atas sikapnya selama ini , tapi semua gagal sudah akibat ulah Kaylin yang melukai Stephanie. Padahal Dylan merasa hutang budi, sebab ia bisa menikah dengan sang istri berkat campur tangan wanita gila ini.


“Detektif?” teriak Dylan, suaranya menggema dalam ruangan.


“Ya Tuan?”


“Seret dia ke sel tahanan, pastikan di dalam sana hidupnya tidak tenang, buat dia menderita.” Desis Dylan tak ada kata ampun.


“Minggir kau.” Dylan menyingkirkan Kaylin dari depan tubuh yang menghalangi jalannya.


“Tidak … tidak jangan Dylan.” Kaylin histeris di atas dinginnya lantai.

__ADS_1


TBC


__ADS_2