
BAB 19
Jacob membawa Stephanie ke bangunan kuno dan tua, tampak dari luar kumuh serta tidak ada lampu penerangan. Namun siapa sangka di bagian dalam, bangunan mewah dan megah, dengan model Neo Klasik, interior didominasi warna cerah, dan hiasan barang-barang antik sangat banyak, disertai aksen hitam dan merah . Sesuai dengan kepribadian Jacob Graham, tidak ada yang spesial dari luar, bahkan terkesan liar dan pria nakal tapi memiliki kepribadian tertutup.
Stephanie di bopong menuju kamar tamu, dimana telah tersedia semua perlengkapan wanita. Beberapa maid membantu gadis Tuannya membersihkan diri, dan memberi pelayanan terbaik, sebab Jacob tidak segan memecat mereka semua jika melakukan kesalahan.
“Hey, lepas kalian mau apa?” Stephanie meronta, dua orang maid sampai terjatuh dan kesakitan tapi meminta bantuan beberapa rekan lainnya, kini ada tujuh orang yang memegangi Stephanie hanya untuk mandi.
“Maaf Nona, kami hanya menjalankan perintah. Tuan Muda Graham tidak segan memecat kami semua, kami mohon Nona bisa bekerja sama.” Para maid melirik satu lain. Stephanie adalah wanita kedua yang dibawa pulang oleh Jacob, sebelumnya Kaylin diperlakukan selayaknya ratu tapi sayang ia mendua karena Jacob pria arogan dan ringan tangan.
“Malam ini Nona dan Tuan Muda akan menggelar pernikahan, jadi kami akan mencuci rambut nona.” Seorang Maid memerhatikan rambut panjang Stephanie, mulai mengisi bak dengan air dan menyiapkan segala perawatan rambut.
“Apa? Ini gila, aku tidak kenal siapa tuan kalian, aku ini diculik. Kalian semua pasti masuk penjara, berani sekali membantu Jacob menyembunyikan seorang wanita.” Stephanie menggerutu, sembari terus berpikir bagaimana caranya melarikan diri rumah menyeramkan ini.
Ia mengingat-ingat jalan yang dilalui tetapi ingatannya buruk, bahkan Stephanie baru terbangun setelah sampai di depan bangunan tua.
“Apa yang harus aku lakukan? Argh sial dia mengambil ponselku.” Stephanie memeriksa isi tasnya, sama sekali tidak menemukan apapun kecuali dompet, kalau sudah begini menyesal tidak menuruti semua perintah Dylan.
"Maafkan aku Daddy, aku harus bagaimana? Daddy tolong aku.” Menangis dalam hati, berharap Dylan datang menyelamatkan karena nasibnya hanya bertahan kurang dari tiga jam lagi, ia tidak mau menikah dengan Jacob.
Stephanie digiring masuk ke ruang spa, tubuhnya harus mendapat relaksasi lebih dulu, tapi lagi-lagi ia melawan bahkan tidak segan memukul beberapa maid menjadikan salah satu dari mereka sanderanya, meskipun dalam hati ketakutan. Stephanie tidak boleh terlihat lemah, semua demi keselamatan dirinya.
“Jangan mendekat, atau teman kalian aku pastikan hanya tinggal nama.” Stephanie mengambil gunting di atas meja, ia berjalan terus sampai ke pintu ruangan. “Sekarang tunjukan dimana jalan keluarnya, aku tidak main-main, tunjukan sekarang juga.” Gunting di leher maid semakin menempel, bahkan sedikit menggores.
__ADS_1
Terpaksa mereka memberitahu jalan keluar melalui paviliun belakang, sementara maid lain melaporkan kejadian ini kepada Tuannya.
Stephanie melirik ke kanan dan kiri, jalan asing tidak pernah melihatnya dan gelap tidak ada lampu jalan. “Aku mau pulang ke New York, ke mana kiri atau kanan?” tunjuk Stephanie, suaranya sedikit bergetar sebab mendengar teriakan Jacob dari dalam.
Setelah mendapat jawaban, gadis ini berlari menuju jalan yang bahkan ujungnya pun tidak tahu di mana, belum lagi Stephanie berulang kali terjatuh karena panik, Jacob semakin mendekat bersama beberapa pria bertubuh besar.
“Hey, kau tidak akan bisa lari kemana pun, di sini hanya ada satu rumah, dan lihat saja sekelilingmu hutan, lebih baik menikah denganku daripada mati disantap seekor singa.” Teriak Jacob.
Stephanie terus berlari, ia menangis karena sudah terlalu lelah bahkan kakinya sakit tidak memakai alas kaki, kerikil tajam menancap di telapak kakinya. Di saat seperti ini tiba-tiba teringat akan nasehat Dylan, pria itu mengekang karena sayang.
“Daddy, tolong aku.” Dalam hati Stephanie berharap keajaiban datang menyelamatkan nyawanya.
BRUK
“Akh” Mobil SUV menabraknya dan gadis itu tersungkur di atas aspal, dengan kening terluka.
“Stephanie bangun, baby apa yang terjadi?” Dylan menggendong tubuh mungil gadisnya, membawa masuk ke mobil. Tapi Jacob tidak menyerah, ia bahkan mencekal langkah Dylan, menatap tajam pada rivalnya ini.
“Lepaskan gadis itu, dia milikku. Kami akan menikah malam ini, kau tidak berhak menggagalkan rencanaku.” Berang Jacob, ia tergila-gila sejak pandangan pertama. Stephanie sangat istimewa di mata Jacob.
Tidak menyangka perjanjian yang dimaksudkan untuk mengikatnya bisa diselesaikan dalam waktu dua hari. Semua karena Dylan Manassero, Stephanie berlindung di balik punggung Dylan hingga bisa melepaskan diri dari perjanjian yang dibuatnya.
“Dia wanitaku, seharusnya kau yang pergi.” Tantang Dylan, pria ini membaringkan Stephanie dalam mobil.
__ADS_1
Tanpa basa basi memberi tinju panas tepat di rahang Jacob.
BUGH
“Berani sekali kau Dylan, kau harus ingat ini wilayah kekuasaanku. Kau tidak lebih seorang tamu yang tidak diundang.” Jacob membalas pukulan Dylan. Dua pria itu terlibat adu kekuatan, sampai darah menetes membasahi baju.
“Jangan mengganggu wanitaku, kau harus tahu itu Jacob, aku tidak segan membawamu ke penjara.” Dylan terus menyerang Jacob, sampai bibir pria itu sobek dan hidungnya pun mengeluarkan cairan merah.
Pertengkaran baru terhenti setelah polisi datang, mengamankan Jacob, langsung membawanya di mobil khusus. Sementara Dylan bergegas menuju rumah sakit, gadisnya tidak sadarkan diri.
**
Rumah Sakit
Dylan memandangi Stephanie yang sedang mendapat perawatan, kakinya diperban mulai dari lutut hingga ujung jari. Tidak hanya itu, bagian kepala mendapat tiga jahitan lalu diperban cukup tebal akibat luka benturan.
“Baby, cepat bangun. Maaf karena aku kamu jadi seperti ini.” Dylan ingin sekali memeluk gadisnya tapi sayang belum bisa, karena ia pun mendapat penanganan dari dokter. Beruntung lukanya tidak separah Jacob, hanya memar pada wajah tampannya.
“Terima kasih.” Dylan memandang sesuatu yang melingkar di pergelangan tangan Stephanie, benda berkilau itu menyelematkan mereka. Tidak sia-sia Dylan memasang chip pelacak di gelang, ia hanya ingin tahu keberadaan Stephanie setelah kontrak ini selesai, tapi ternyata lebih cepat befungsi dari dugaan.
Usai semua luka diobati, Dylan menggenggam tangan Stephanie mengecup punggung tangan dan membelai puncak kepala gadisnya, sudah dua jam belum siuman. Menurut dokter, Stephanie mengalami trauma, tetapi masih bisa diatasi selama lingkungan sekitar memberi dukungan.
“Baby, aku akan selalu di sisimu. Aku tidak akan lagi mengurung-mu di penthouse, ok. Kita akan berunding tentang semua hal, sampai menemukan jalan keluarnya. Baby bangunlah” Dylan meneteskan air mata, ia takut Stephanie tidak sadarkan diri, atau amnesia, lebih baik gadisnya marah dan membencinya daripada harus ditinggal atau dilupakan, itu lebih menyakitkan.
__ADS_1
Dylan mengabaikan dering ponsel, hanya semakin menambah suasana buruk disaat perasaannya sedang cemas. Fokusnya hanya tertuju kepada Stephanie.
TBC