My Fierce Sugar Baby

My Fierce Sugar Baby
BAB 55 - Kenapa Harus Ada Rahasia?


__ADS_3

“Stephanie bisakah kita bertemu sebentar?”


Pesan dari seseorang tanpa nama, entah kenapa dan bagaimana dia bisa mendapatkan nomor telepon putri sulung Adam Bradley. Yang jelas orang itu sangat mengenal Stephanie, ibu hamil ini enggan membalas karena merasa tidak kenal dan untuk apa mereka bertemu?


Daripada berpikir negatif, Stephanie memilih ke dapur menyusul iparnya yang sedang membuat sambal rujak.


“Siapa dia? Tiba-tiba mengirim pesan.” Gumam Stephanie terus berjalan ke dapur.


“Fredella sudah selesai kah? Kita makan di taman belakang rumah. Aku bantu bawa buahnya.” Ucap wanita berperut buncit itu.


“Iya, aku sebentar lagi menyusul.” Balas Fredella menuangkan sambal ke dalam mangkuk keramik.


Stephanie lebih dulu sampai, menyimpan buah mangga itu di atas meja. Ponselnya kembali berdering, dia yakin pengirim pesan tadi nekat menghubunginya, dengan cepat diterima tanpa melihat nama yang tertera pada layar.


“Kamu siapa? Mau apa?” suara galak seperti ingin menerkam sesuatu pun langsung mengalun setelah ponsel menempel di telinga.


“Baby … baby kamu kenapa? Apa ada orang yang mengganggu mu? Katakan sayang!”


Rupanya Dylan, pria itu cemas kenapa lebih dari tiga puluh menit istrinya tak kunjung memberi kabar, padahal jarak dari mansion ke rumah Tante Nayla hanya lima belas menit.


“Oh. Bukan … bukan apa-apa. Lupakan Dylan, sekarang aku sudah sampai, aku dan Fredella mau makan rujak. Maaf lupa mengabari.” Ucap Stephanie dengan nada menyesal, ia lebih memilih menutupi pesan misterius itu.

__ADS_1


“Baby, jangan bohong! Katakan ada apa? Aku tidak mau ada sesuatu yang mengganggumu dan anak kita.”


Tegas Dylan, apalagi dirinya tengah berada di Madrid, hanya mendapat laporan dari bodyguard dan keluarga. Selebihnya tidak tahu apa yang istrinya rasakan.


Pria dengan five o’clok shadow beard ini juga tidak menerima kabar bahwa istrinya mengalami masalah. Pengawal hanya menyampaikan jika Stephanie akan pergi ke rumah keluarga Bradley bersama Mama Samantha.


“Aku mau lihat kamu dimana sekarang, rubah jadi panggilan video.”


Dylan perlu tahu dimana belahan jiwanya berada dan apa yang dilakukannya, sikap posesifnya kembali muncul.


Terpaksa Stephanie menurut, wanita ini tidak ingin Dylan khawatir berlebihan dan terbang detik ini juga ke Jakarta. Membuat pekerjaannya terbengkalai, padahal perusahaan baru saja bangkit. Stephanie tidak mau seperti itu.


“Iya aku tahu, Baby. Tidak salah bukan kalau mengkhawatirkan kondisi istri? Katakan padaku apapun itu, kalau ada yang mengganggumu, Ok Baby.”


Dylan mengakhiri sambungan video, tidak menemukan kecemasan di wajah istrinya. Stephanie tampak tenang, tidak memikirkan sesuatu.


“Wah Dylan memang suami idaman yah? Cocok banget sama kamu Stevi.” Goda Fredella, duduk di depan sepupunya.


“Bukankah Dariel sama saja, dia malah lebih keterlaluan, sampai membeli perusahaan tempat kamu kerja. Ah tapi aku pikir keluarga kami memang memiiki ciri khas seperti itu, Della.” Stephanie menghela napas, mengambil potongan manga yang masih sangat muda dan mengolesnya dengan sambal gula.


“Ya pada awalnya memang menyebalkan dan aku merasa suamiku itu terlalu ikut campur, tapi setelah dijalani dan aku pikir berkali-kali, itu sebagai salah satu bentuk kalau dia menyayangi istrinya, dan sebagai ungkapan kasih sayang.” Tutur Fredella kepada sepupu suaminya.

__ADS_1


Seketika itu Stephanie sadar dan ingat, bukankah dia sudah berjanji akan melibatkan Dylan dalam segala kehidupan. Jadi kenapa harus ada rahasia?


Stephanie menyesal menutupi pesan yang dia terima, namun lagi-lagi segenggam hati berkata lain. Membenarkan apa yang telah dia lakukan, merahasiakan sesuatu dari Dylan. Lagipula belum pasti pesan itu ada lagi besok, mungkin salah satu teman Universitasnya sedang iseng atau membutuhkan teman bicara.


“Stevi … Stephanie, hey kamu kenapa?” Fredella mengibaskan telapak tangan depan wajah sepupunya, sebab Stephanie tampak melamun.


“Stephanie, apa yang kamu pikirkan?” Fredella duduk di samping sepupunya, memegang kedua bahu dan sedikit menggerakkannya. “Stephanie?”


“Ah ya, maaf Della. Mungkin aku kangen Dylan.” Jawab Stephanie asal, selalu menggunakan Dylan sebagai tameng.


“Aku tidak yakin, bilang dengan jujur Stephanie! Aku mungkin bisa bantu.”Bujuk Fredella, dia juga seorang wanita. Pasti pernah mengalami apa yang sepupunya rasakan.


“Ok, tapi kamu jaga rahasia ini ya, Della. Jangan sampai siapapun tahu, aku juga belum yakin.” Tutur Stephanie, dia membuka aplikasi pesan singkat dan menunjukkannya pada Fredella.


“Apa mungkin Calvin? Tapi rasanya untuk apa? Kalau dia mau bertemu bisa datang langsung, iya kan?” Fredella berusaha berpikir siapa sosok pengirim pesan itu.


“Atau kamu punya musuh, mungkin … umm maksudnya seseorang yang memiliki masa lalu denganmu.” Pungkas Fredella sembari mengetuk meja kayu.


Stephanie terlihat berpikir dan seketika itu ia ingat bahwa ada satu orang yang membuatnya kesal dan ingin balas dendam.


TBC

__ADS_1


__ADS_2