
Sepertinya Mama tahu apa yang menyebabkan Stevi marah.” Sahut Samantha tersenyum penuh arti.
Semua mata mengalihkan perhatiannya kepada Nyonya Besar di Mansion ini, apalagi Dylan semakin tak menentu debaran jantungnya. Dia merasa akan menerima sesuatu tapi masih belum tahu apa itu.
Samantha meraih tangan putri sulungnya dan menggandeng ke ruangan khusus di lantai satu. Tempat pemeriksaan, di mana alat-alat spesialis obgyn lengkap di dalamnya.
Stephanie menolak karena ia tidak sakit dan baik-baik saja, hanya mual mungkin masuk angin akibat terlalu lama begadang menyelesaikan tugas akhir.
“Mah, aku baik-baik saja. Tidak terluka atau keluhan apapun.” Tolak Stephanie, sebenarnya ia takut menghadapi semua alat kedokteran, membuatnya merinding seperti benda mistis.
“Ayo ikut mama.” Samantha menarik tangan putrinya dan meminta Dylan untuk bergabung bersama mereka berdua. “Dylan kamu juga ikut, karena kalian harus bertanggung jawab.” Ucap Samantha penuh penekanan.
“Tanggung jawab apa mah?” tanya Dylan sembari melihat Stephanie didorong paksa agar masuk ke dalam ruangan, karena istrinya ini mahir menghindar melepaskan diri.
“Nanti kalian juga tahu, mama yakin firasat mama tidak salah, kalau dari ciri-ciri yang di sebutkan pasti benar. Ok , sayang terakhir kali kamu menstruasi kapan? Beritahu mama , jangan ada yang disembunyikan.” Pinta Samantha.
Sejenak Dylan kagum, ibu mertuanya ini memang layak dijuluki sebagai dokter obgyn sekaligus fetomaternal terbaik.
Kening istri Dylan berkerut bertanya sesuatu, karena ia ingat terakhir datang bulan satu bulan yang lalu. Sontak Stephanie melebarkan kedua mata, ia tidak berani mengatakan bahwa apa yang ada di pikirannya benar.
__ADS_1
Sedangkan Dylan menatap ibu mertua dan istrinya secara bergantian, dia tidak paham apa maksud dari bahasa yang digunakan oleh Mama Samantha.
“Mama buka baju kamu ya. Tarik napas sayang jangan tegang!” perintah Samantha, mulai menuang gel bening ke atas perut putrinya.
Dylan ikut cemas saat layar di depannya menunjukkan sesuatu, iya benda kecil yang dia sendiri pernah melihatnya dulu hanya sekali. Sadar apa artinya titik di dalam sana, senyum merekah tergambar jelas di bibir Dylan.
Tapi berbeda dengan Stephanie yang tidak bisa melihatnya, ia terus mengamati perubahan di wajah Dylan, dan luar biasanya senyum itu menular.
“Apa benar mah?” tanya Stephanie begitu menggebu ingin tahu.
“Iya sayang selamat ya, mama senang akhirnya bisa punya cucu. Dan kamu Dylan, aku memiliki misi khusus.” Tegas Samantha terus menatap Dylan dan menunjuknya untuk duduk di kursi. Samantha menuliskan resep yang harus ditebus, ia ingin cucunya tumbuh sehat, sempurna dan baik-baik saja.
“Terima kasih Mama. Maaf aku banyak merepotkan.” Ucap Dylan mungkin ke depannya selama beberapa bulan tidak bisa menemani Stephanie, sebab dua hari lagi harus kembali ke Madrid.
“Kamu tenang Stephanie kan anak mama.” Samantha sangat ramah berbeda sekali dengan ayah mertua Dylan.
Usia kandungan Stephanie menginjak empat minggu, dan selama Dylan di mansion, dia harus menjaga istrinya. Menyayangi calon anak serta ibu, mengurangi canda tawa berujung perdebatan diantara mereka karena tidak baik baik janin.
“Sayang tunggu aku ya. Hi Baby … Daddy pergi membeli vitamin dulu." Dylan mengelus perut rata istrinya lalu mencium manis di atas kulit.
__ADS_1
“Oke Dylan hati-hati, cepat kembali. Jangan mampir ke tempat lain. Ingat ada anakmu di dalam sini.” Seru Stephanie sembari menunjuk tangan suaminya.
.
.
Masa-masa yang dijalani Stephanie pun berbeda, ia sering mual malam hari, dan peredanya hanya satu yaitu kemeja biru sang suami. Dia juga bingung kenapa rasa mual masih singgah padahal usia kandungan lebih dari empat bulan.
Di sinilah Stephanie, duduk di taman bersama mamanya. Sebenarnya ia ingin sekali keluar mencari udara segar di luar pagar, tapi apa daya semua demi kandungannya. Beberapa minggu yang lalu mengalami pendarahan, untuk itu Dylan meminta dengan sangat bahwa istrinya harus patuh dan istirahat.
“Kamu bosan?” tanya Samantha, melihat putrinya gelisah dan mondar mandir.
“Ya begitulah ma. Apa aku bisa keluar sebentar? Untuk menghirup oksigen dari luar dunia mansion.“ Stephanie melempar senyum pada Mama Samantha, selama berbulan-bulan ini menghabiskan waktu di kamar, atau taman belakang tidak ada hal selain itu.
“Mama bisa mengizinkan dan tidak, karena memang kamu lemah, perlu perhatian lebih dari kamu sendiri.” Tegas Samantha pada Stephanie.
“Setelah dapat kabar dari Dylan, ayo kita keluar mansion, tapi dengan sepengetahuan suami kamu.” Ucap Samantha. Karena terlalu jenuh dalam rumah pun tidak baik, sesekali ibu hamil memerlukan suasana tenang dan menyegarkan.
TBC
__ADS_1