
BAB 13
Lembut dan hangat menyentuh bibirnya, Dylan memagut dan merampas salah satu hal yang ia jaga. Stephanie masih syok dan membuka lebar kedua mata, sekitar dua menit pria ini masih bertahan dan bermain dengan bibirnya.
“Ciuman pertamaku, bagaimana bisa? Kenapa diambil oleh lelaki tua seperti dia? Argh kasihan suamiku nanti. Maafkan aku suamiku, aku tidak bisa menjaga bibir ini.” Batin Stephanie menangis, susah ia menjaga dari sentuhan para pria, tanpa permisi seorang pria dewasa mengambil paksa.
Stephanie berharap masih bisa menjaga miliknya paling berharga, sekalipun nyawa menjadi taruhan.
Dylan melepas pagutannya, hidung mereka menempel satu sama lain, aroma harum tubuh masing-masing menyeruak masuk ke rongga indra pernapasan. Gadis ini pun bingung kenapa ia tidak melawan dan berontak ketika Dylan melakukannya, hanya membeku begitu saja.
“Kamu manis baby. Kenapa diam, hem?” Dylan menghapus sisa ulah di bibir menggoda gadisnya.
Stephanie masih diam memandang lurus, kosong dan penuh arti, ia bingung harus mengatakan apa.
Marah? Tapi sentuhan itu sangat lembut dan merasakan sensasi luar biasa, mungkin karena pertama kali. Apa senang? Tentu tidak, mengambil apa yang bukan haknya, meskipun hanya bibir.
Beberapa tahun tinggal di New York tidak merubah doktrin kuat dalam otak, anggaplah Papa Adam dan Mama Samantha berhasil mencuci otak putri sulung mereka, dan ya sukses sampai sejauh ini. Meskipun ia pernah menjalin hubungan asmara, tapi tidak melakukan apapun kecuali berpegangan tangan atau pergi mengunjungi tempat wisata.
Stephanie tidak segan putus dari kekasihnya, sebab pria itu menginginkan hal lebih yang tidak akan mungkin bisa ia berikan pada sembarang orang, apalagi belum menikah.
“Hey, Baby. Kamu melamun, ada apa? Jangan katakan kalau tadi pertama kali kamu melakukannya?” Dylan tercengang mengeluarkan kata-kata dari mulut.
Jawaban gadisnya membuat Dylan bangga, Stephanie mengangguk pelan membenarkan pertanyaan Dylan.
Mantan casanova ini merasa bangga pada gadisnya, setelah tahu fakta masih perawan, ia juga tidak pernah berciuman dengan pria lain. Itu artinya Dylan orang pertama, dan bahagia. Rasa kagumnya semakin kuat, karena Stephanie bisa menjaga diri.
“Aku yang pertama?” tanya Dylan guna memvalidasi semuanya.
“Ya”
Seandainya bukan di dalam mobil, berada dalam kamar seorang diri pasti akan melompat dan koprol, mengutarakan semua kebahagiaannya.
__ADS_1
Dylan memeluk erat Stephanie dan mencium bahu yang tertutup mantel, “Terima kasih, aku pun akan menjadi pria pertama untukmu.” Tukas Dylan penuh maksud, semula ragu untuk memperjuangkan cintanya tetapi kini ia yakin, akan mengusahan Stephanie walaupun tidak tahu rintangan apa di depan.
“Ma-maksud Daddy pertama apa? Menciumku? Tentu yang pertama tapi aku mohon jangan melakukannya lagi.” Pinta Stephanie, suaranya lesu tak bertenaga.
Dylan tersenyum, gadis ini antara polos, namun sikapnya berbanding terbalik. Satu hal, ia ketahui setelah menjalin hubungan dengan Stephanie. Segala bentuk penolakan dan ketegasan gadis ini hanya untuk melindungi diri, sebenarnya dia baik dan menggemaskan.
“Menikahlah denganku, jadi istriku dan ibu dari anak-anak kita.” Dylan menggenggam kedua tangan Stephanie, menunggu jawaban apa yang akan ia terima.
“Apa-apaan ini? Melamar? Tidak ada bagus-bagusnya sama sekali.” Gerutu Stephanie dalam hati.
“Gila, Daddy gila. Aku bukan Chloe, aku Stephanie. Kau salah orang.” Menarik kuat tangannya dan mendorong Dylan sampai membentur pintu mobil.
“Aku tidak salah orang, aku ingin menjadi bagian dari hidupmu sebagai suami ... tunggu dari mana kamu tahu Chloe? Han mengatakan sesuatu?” selidik Dylan.
Kalau benar Han menceritakan hubungannya dengan Chloe, maka asisten pribadi itu harus siap dipangkas gaji beberapa bulan ini.
“Bukan. Aku tahu dari sini, Daddy sangat terkenal.” Stephanie menunjukkan sesuatu dalam ponsel dan menyerahkan benda itu ke tangan Dylan.
Media sangat gencar memberitakan dirinya bersama Chloe, terkait penyatuan dua perusahaan besar dan menikahnya pewaris tunggal sebagai kekuatan yang baru.
“Stephanie dengar, berita ini memang benar. Aku dan Chloe bertunangan beberapa tahun yan lalu, tapi kamu harus tahu kalau aku....”
Sugar baby galak ini memotong pembicaraan Dylan.
“Aku tahu, aku ingin minta maaf kepada tunanganmu, dan aku tidak mendengar penjelasan apapun. Karena hubungan kita tidak lebih saling menguntungkan satu sama lain, maaf kejadian tempo hari aku tidak tahu kalau kalian sedang ... umm sedang, maaf.” Menundukkan wajah, malu mengingat semua itu.
“Sh**” gumam Dylan, perbuatan Chloe benar-benar tidak bisa dimaafkan, nama baik tercoreng di hadapan wanita impiannya.
Sekarang Stephanie beranggapan bahwa benar mereka berdua melakukannya, Dylan bingung harus memberi alasan apa. Sungguh ia bukanlah pria nakal, semua hanya masa kelam dan dalam beberapa tahun tidak pernah tidur atau menebar benih. Terakhir bersama mantan tunangannya, itu pun sangat lama.
“Stephanie? Aku bisa memberimu bukti lain, aku dan Chloe .....”
__ADS_1
“Daddy, bukankah kita ke California? Ini pesawatmu? Bisa kita turun sekarang?” Stephanie langsung membuka pintu mobil, meninggalkan Dylan dalam belenggu masalah yang mengelilinginya.
“Kelak ini menjadi milikmu juga Stephanie Adaline. Hatiku mengatakan bahwa kamu wanita yang sangat layak untuk diperjuangkan. Chloe semoga kamu mengerti.” Gumam Dylan, menyusul keluar dari mobil dan naik pesawat.
Perjalanan menuju California memakan waktu yang tidak sebentar.
Dylan memperhatikan Stephanie yang duduk tenang, wanita selain Chloe yang bepergian dengannya. Di saat bersamaan tunangannya itu menghubungi, dan naas melakukan panggilan video.
“Kenapa dia seperti hantu? Bukankah aku seperti suami yang sedang selingkuh? Chloe kau lama-lama sangat mengganggu.” Geram Dylan dalam hati, raganya berubah tegang, serta kedua tangan yang mengepal kuat, rahang berkedut mengeras.
“Kenapa tidak diterima? Daddy tenang saja, aku akan diam tidak bersuara. Kasihan tunanganmu.” Tatap Stephanie berubah, mencemooh kepada Dylan.
“Dasar pria, apa aku harus kabur sekarang juga? Ah tidak sama saja mengingkari kontrak, dan aku benci ini.” Stephanie duduk menjauh dari sugar daddy-nya.
Mulai mendengar Dylan bicara sesuatu, suara-suara merdu tapi sayang penuh dusta dan beracun.
“Kasihan sekali kamu Chloe.” Stephanie menggelengkan kepala.
Tak mau kepalanya tercemar, gadis ini menggunakan earphone, setidaknya musik masih lebih baik.
Volume cukup keras, sampai ia tidak mendengar Dylan telah selesai bertukar kata dengan Chloe. Asyik memandangi pemandangan bandar udara, bahkan Dylan berdiri di sisinya pun tidak mendapat respon.
“Stephanie, aku serius. Aku ingin kamu menjadi istriku. Bila perlu kita menikah sekarang juga. Aku tidak tenang meninggalkanmu sendirian.” Butuh keberanian besar bagi Dylan mengutarakan isi hatinya.
"Kamu ingat pertama kali kita bertemu, itu terjadi beberapa tahun lalu. Aku sudah jatuh cinta padamu, aku terlalu pengecut dan takut menyatakan perasaan." Dylan memohon dengan tatapan penuh cinta.
"Aku akan berusaha menyampaikan pada Chloe. Hubungan kami hanya bisnis dan kau tau dia mengidap penyakit tertentu." Lama ia menunggu sama sekali tidak mendapat jawaban apapun.
“Baby? Kenapa kamu diam? Jawab Aku Stephanie.” Dylan duduk tepat di depan gadisnya dan saat itu juga ia tahu bahwa semua kata-kata yang keluar dari mulutnya tidak masuk sama sekali ke telinga gadis galak ini.
“Kamu menggunakan earphone? Sejak kapan?” Dylan syok, percuma saja dia memohon.
__ADS_1
TBC