My Fierce Sugar Baby

My Fierce Sugar Baby
BAB 49 - Serba Mendadak


__ADS_3

Papa Adam benar-benar memenuhi janjinya untuk langsung menikahkan Dylan dengan putri sulungnya. Detik itu juga seluruh keluarga membuat pesta dadakan, beruntung tidak perlu repot mencari gedung sebab salah satu keluarga menyediakan ballroom hotel untuk keduanya. Masalah dekorasi pun harus selesai dalam waktu kurang dari tiga jam.


Beberapa orang dari mereka sibuk mengurus syarat-syarat pernikahan dan mendaftarkan ke catatan sipil.


Saat ini Stephanie dan Dylan tengah mengunjungi salah satu butik terkenal di ibu kota, milik sahabat Papa Adam. Mereka mencari pakaian pengantin yang sesuai dan cocok di tubuh masing-masing, sebab Adam Bradley dan Tuan Besar Manassero tidak ingin acara pernikahan sederhana untuk putra putri mereka.


Sekalipun mendadak acara tetap berlangsung mewah. Karena mereka menikah hanya satu kali seumur hidup.


“Wah kakak cantik.” Ujar seorang pemilik butik yang membantu Stephanie menggunakan gaun pengantin tradisional.


Sama halnya dengan Dylan, beberapa detik tidak berkedip memandang keindahan di depan matanya. Hanya senyum terukir di bibir mantan casanova ini. Debar jantung semakin tak henti berdetak melihat kecantikan Stephanie, sungguh bidadari yang ditakdirkan tercipta untuk Dylan.


“Baby, kamu sangat sempurna. Cantik.” Dylan mendekat, merangkum wajah kekasihnya, mendekatkan diri, jarak bibir mereka kurang dari lima sentimeter tapi suara bariton mengejutkan Dylan.


“Hey kau. Kalian kemari bukan untuk berciuman tapi mencari pakaian pengantin. Menyingkir!" seru Adam Bradley, mendorong sedikit tubuh Dylan ke belakang, menjaga jarak dari Stephanie.


“Apa putriku sudah selesai?” tanya Papa Adam pada pramuniaga.


“Sudah Tuan, mari kami bantu mengganti pakaiannya.” Dua orang petugas membantu Stephanie masuk ruang ganti di sudut belakang.


Sementara Dylan menghela napas, memiliki mertua seperti Adam Bradley memang menguras emosi, harus memiliki kesabaran yang lebih luas dari samudra.


Dia berharap malam pertama sebagai pengantin tidak diganggu oleh pria tua yang berdiri angkuh di sampingnya. Bila perlu Dylan membawa kabur Stephanie ke Madrid setelah mereka sah menjadi pasangan suami istri.


“Kau dilarang berpikir macam-macam tentang aku atau pernikahan ini batal.” Ancam calon mertua Dylan dengan tatapan tajam.


“Maaf Tuan, sebaiknya anda singkirkan semua prasangka.” Jawab Dylan tegas, tapi hatinya berdebar tidak karuan, takut pernikahan yang sudah di depan mata harus kandas.

__ADS_1


“Ck berani melawan.” Cibir Papa Adam.


Pria ini langung membawa Stephanie keluar butik setelah selesai mengganti pakaian, bahkan tidak mengizinkan putrinya bicara satu patah kata pun dengan Dylan.


.


.


Tepat sebelum matahari terbenam, Dylan mengucap ikrar sucinya, meminang gadis pujaan yang selama ini hanya ada dalam ingatan. Kini keduanya resmi menjadi sepasang suami istri sah tercatat di negara. Dylan pastikan tidak ada lagi yang memisahkan mereka, ia akan menjaga Stephani dengan seluruh nyawanya.


“Baby … akhirnya mimpiku menjadi kenyataan, kamu tahu? Aku selalu menunggu hari ini datang, diluar dugaan kamu menjadi milikku lebih cepat.” Senyum Dylan, membelai lembut pipi istrinya, melabuhkan kecupan singkat di bibir merah menggoda Stephanie.


Stephanie juga tersenyum menanggapi Dylan, sungguh dia bingung harus bilang apa. Semua terlalu cepat dan mendadak, dirinya pun tidak memiliki persiapan apapun untuk merubah status menjadi seorang istri.


Namun rasa senang dalam dada tidak bisa dibohongi, Stephanie bahagia bisa menikah dengan Dylan Gervaso Manassero. Pria dewasa yang ia kenal karena sebuah tragedi, dan harus melewati beberapa kesulitan sebelum keduanya mengikat janji suci.


“Ok pengantin, waktunya menyambut para tamu, dan kau jangan terlalu dekat dengan putriku.” Papa Adam tepat berdiri di tengah-tengah menantu dan anaknya.


Tidak lama beberapa tamu mulai berdatangan, benar-benar luar biasa mertuanya. Dalam waktu dua jam bisa mengundang seluruh kolega bisnis hanya dengan satu panggilan telepon.


Dylan patut bangga karena Papa Adam memperkenalkan dirinya kepada semua tamu sebagai menantu pilihan, ada yang menyambut bahagia, memberi banyak doa.


Selain itu ada juga beberapa dari mereka yang mengumpat dan menatap tidak suka kepada Dylan, sudah tentu mereka adalah saingan Dylan dalam memperebutkan Stephanie. Termasuk Calvin yang berdiri angkuh, mencengkram kuat gelas di tangan kanannya.


Tuan Besar Manassero pun berbaur dengan tamu yang sangat banyak ini, ia kagum ternyata besannya bukan orang sembarangan. Secara tidak langsung Manassero Corp menjadi kuat dengan adanya pernikahan antara putra dan putri pengusaha sukses ini.


Bahagia melihat senyum selalu terpancar di bibir Dylan, akhirnya setelah beberapa kali patah hati. Putranya bisa memiliki istri yang tidak kalah dari para mantan tunangan Dylan.

__ADS_1


Ehem


“Tuan Manassero? Sekarang kita menjadi keluarga, jadi bagaimana kalau aku menambah investasi di perusahaan anda?” tanya Papa Adam senyum penuh arti.


Sontak Dylan yang mendengarnya langsung menghampiri kedua orangtua, ia ingin memastikan sesuatu maksud dari kalimat yang keluar dari bibir mertuanya.


Dylan menggandeng Stephanie mendekati Daddy dan Papa Adam. Ia penasaran investasi apa, jangan bilang ada kesepakatan bisnis lagi diantara orangtua.


Mempelai pria ini pun memandang penuh arti pada mertuanya, tanpa mengucapkan sesuatu, Papa Adam menjawab keingintahuan Dylan.


“Ok Dylan. Akulah yang berinvestasi di perusahaan kalian. Seharusnya kau itu tahu saat aku bilang asetku bertambah.” Gerutu Papa Adam, melirik pada putrinya.


“Aku sangat berterima kasih atas bantuan anda, perusahaan kami bisa bangkit dengan mudah. Aku janji sebagai pimpinan utama Manassero Corp, kinerja kami tidak akan mengecewakan.” Lugas Dylan tersenyum pada mertuanya. Ia sungguh tidak menyangka selama ini pria kejam itu membantunya dari belakang layar.


“Sebenarnya aku melakukan ini kerena putriku yang meminta, dan yang mengeksekusi investasi itu, jadi saham 35% atas nama Stephanie, anggap saja sebagai hadiah pernikahan dariku.” Ucap Papa Adam menepuk pelan punggung Dylan.


“Selamat datang di keluarga besarku.” Papa Adam menarik menantunya untuk bergabung dengan para pria dari keluarga Bradley, sementara Stephanie bersama sepupu merayakan statusnya barunya.


Dylan terpaksa duduk diapit oleh dua pria paruh baya, satu mertuanya di sisi kanan, satu lagi sepupu mertuanya tepat di samping kiri.


“Hey Dylan dengar ya di keluarga besar kami tidak ada yang boleh mendua, baik itu kau sebagai suami atau Stephanie. Tidak boleh memiliki istri lebih dari satu, dan jika terjadi kesalahan maka kami tidak segan memisahkanmu dari Stephanie, ingat itu.” Ancam Rayden Bradley, adik sepupu mertuanya.


Sontak Dylan menelan saliva, ancaman ini tidak main-main, ia mengingat betapa berkuasanya keluarga Stephanie karena masing-masing dari mereka memiliki kedudukan penting.


Dan malam ini pengantin baru itu harus rela waktunya tersita bersama para keluarga, Dylan harus sabar menemani dan bergabung bersama para pria hingga dini hari. Sedangkan Stephanie telah menghilang dari ballroom.


“Kenapa malam pertamaku berakhir mengenaskan seperti ini.” Lirih Dylan dalam hati.

__ADS_1


TBC


__ADS_2