My Fierce Sugar Baby

My Fierce Sugar Baby
Bab 9 - Patuh


__ADS_3

BAB 9


“Stephanie, jangan takut. Katakan semua kebutuhanmu, aku langsung penuhi selama kamu menjadi sugar baby penurut.” Dylan meraih cup es krim dari meja, ia memperhatikan perubahan raut wajah gadisnya, benar-benar membutuhkan tempat berlindung.


“Oh God, terima kasih telah mengirimnya. Dia gadis yang sempurna.” Hati Dylan bersorak riang, dan misinya kali ini membuat Stephanie bertekuk lutut padanya, selalu membutuhkan.


“Baby, habiskan es krimnya setelah itu kita pergi makan malam di luar.” Tutur Dylan, menghubungi seseorang, reservasi tempat dan menghiasnya dengan baik.


“Tidak ... tidak, terima kasih. Aku mau makan di kamar, tidak lihat pipiku ini memar dan leherku lecet? Orang pasti menduga aku diterkam oleh singa.” Stephanie menggeleng cepat dan menghabiskan es krim miliknya.


Selain alasan yang disebutkan, ia tidak mau makan malam bersama seorang pria seperti Dylan, bukankah itu namanya kencan?


Akhirnya Dylan urungkan niat dan memerintahkan seseorang melakukan sesuatu. Namun sebelum mereka kembali ke hotel. Dylan mengajak gadisnya mengunjungi salah satu pusat perbelanjaan di Kota New York.


“Mau kemana lagi kita? Aku lelah mau tidur.” Selalu seperti ini, apa yang Dylan katakan tidak pernah langsung mendapat persetujuan, namun bukan Dylan Manassero jika langsung menyerah. Ia menarik paksa tangan gadisnya, masuk pada salah satu butik mewah. Mencari gaun untuk gadisnya.


“Pilihlah mana yang kamu sukai, jangan sungkan.” Perintah Dylan, duduk di sofa sembari menatap puja pada wanita di depannya.


“Ah sebaiknya pulang. Aku bisa belanja kapanpun tapi tidak sekarang. Masalah dengan Taun Graham belum selesai, aku tidak mau dikejar oleh pria gila itu. “ tolak Stephanie melangkahkan kaki keluar, ia berjalan meninggalkan Dylan dalam kebingungan.


Stephanie tidak mau uang pemberian Dylan habis percuma karena membeli barang branded, karena besok dia harus melunasi semua hutang Kaylin, terpaksa.


Wanita ini diam menunggu sugar daddy-nya mendekat, tapi Dylan sengaja mengulur waktu ingin tahu apakah gadisnya berubah pikiran.


Dylan salah menduga, kali ini semua ilmu yang dimilikinya tidak berarti apapun. Menggunakan trik biasa pun tidak merubah apapun, selama ini selalu berhasil menggoda dan memancing wanta untuk mendekat bahkan memohon kepadanya.

__ADS_1


Stephanie yang mulai kesal, memutar tubuh dan berjalan cepat, tidak peduli lagi pada pria yang mengikat hidupnya. Menunggu bukan gaya seorang Stephanie Bradley, daksa terlalu leah dan ingn segera berbaring di atas ranjang.


“Arrgh Sh**”Dylan langsung menyusul gadisnya yang semakin cepat bergerak dan menghilang. Di sela-sela melangkahkan kaki, ia menghubungi Han untuk membeli seluruh pakaian mode terbaru, lengkap dengan alas kaki, tas bahkan pakaian dalam.Sebab gadisnya itu akan menghabiskan banyak malam dengannya.


Sempat terlintas merancang liburan singkat, ingin terukir kenangan manis selama di New York. Memberi kesan indah pada sugar baby-nya. Otak casanova mulai bekerja, tempat liburan apa yang cocok untuk pasangan. Tentu semua dilakukan setelah Stephanie pulih, mungkin satu atau dua minggu lagi.


“Hantarkan semua ke hotel, ukuran sama seperti pagi ini, aku tidak mau gadisku kedinginan. Cepat!” perintah Dylan pada Asisten Han dan beberapa anak buah lainnya.


Tidak buang waktu lagi Dylan melangkahkan kaki, ia tidak ingi gadisnya terluka atau kabur. Perhatian pengunjung tertuju kepada Dylan, berati, CV seolah ada yang mengejarnya. Memanggil nama Stephanie berulang kali, hingga kehabisan napas.Padahal ia sering fitness dan berenang tetapi masih belum memperbaiki napasnya.


“Kamu ... kamu kenapa pergi dan cepat sekali. Terbuat dari apa kakimu itu Stephanie?” Dylan kesulitan bicara, semua oksigen terhirup ke dalam rongga dada.


“Aku menunggu Daddy tapi cukup lama tidak mendekat ya untuk apa aku masih menanti seseorang yang tidak mau bergerak ke arahku benar kan?” Stephanie tidak pernah ragu menjawab semua perintah dan pertanyaan seorang Dylan.


Baru satu hari hubungannya terjalin tetapi Stephanie sukses membuat dunia Dylan jungkir balik, Ia tidak pernah berlari sangat kencang kecuali olahraga. Lalu penolakan yang diberikan Stephanie melunturkan kesan casanova sejuta pesona.


“Wanita macam apa dirinya? Kenapa tidak patuh sama sekali? Dia tidak terlihat kelelahan sama sekali.” Batin Dylan memandangi gadisnya dari atas ke bawa.


Dylan menuruti semua keinginan gadisnya ,kali ini ia tidak mau berdebat, apalagi setelah melihat wajah manis itu terluka. Memang lebih baik membawa istirahat, dan memandangi sampai puas di atas ranjang.


Pria ini siap memasang badan di sisi pujaan hatinya, berharap Stephanie merangkul lengan, dan bergelayut manja. Namun semua gagal. Wanitanya mengerutkan alis, memandang aneh sikap Dylan.


“Halo Daddy? Kenapa diam?” melihat Dylan yang kehabisan napas sedikit membuatnya tidak tega.


“Tidak jadi pulang? Aku pinjam mobil.” Stephanie menengadahkan telapak tangan, meminta kunci mobil.

__ADS_1


“No Baby. Kamu tidak boleh menyetir dalam keadaan terluka seperti ini. Ayo kita pulang.” Pada akhirnya Dylan berinisiatif lebih dulu, menggandeng tangan gadisnya, sangat erat seolah akan pergi jauh dan tidak kembali.


Hatinya pun mendadak gelisah, merasa ada sesuatu yang menanti dan memaksanya menjauh dari Stephanie.


“Baby, mulai besok aku antar kamu ke Universitas. Jangan menolak.”


“Tapi aku boleh mengikuti perkuliahan setelah selesai masa hukuman dua minggu. Menyebalkan sekali harus menunda sampai semester depan. Semua ini karena Kaylin.” Mencebikan bibir, hendak melayangkan tinju pada dashboard.


“Wow, calm down baby. Kamu harus bisa menguasai emosimu. Apa yang kamu inginkan? Membuatnya menderita?” Dylan akan melakukan apapun untuk membuat Stephanie terkesan.


“Iya, tapi aku ingin melakukannya dengan kedua tanganku, argh rasanya tidak sabar menunggu beberapa bulan lagi. Lihat saja mereka yang berani mencari masalah denganku, hah.” Dylan baru melihat sosok wanita apa adanya tanpa menutupi sesuatu.


Dylan memastikan rencananya malam ini tidak gagal, konfirmasi pihak hotel telah selesai. Stephanie membuat hari-harinya berwana dan turun naik seperti roller coaster.


Keduanya tiba di hotel. Dylan masih menggenggam erat tangan Stephanie sesekali menciuminya. Harum dan lembut ia rasakan.


Mendadak Asisten Han mencegahnya masuk lift apalagi ke kamar. Ada sesuatu di luar dugaan dan tidak sesuai rencana.


“Tuan, tuan anda tidak boleh masuk. Sebaiknya keluar dari hotel ini dan pergi tempat aman, Nona Stephanie juga harus ikut dnegan Tuan Muda.” Han menarik napas dalam, lalu bicara empat mata dengan Tuannya di sudut lain yang jarang dilalui orang.


 “Ada apa katakan?” Dylan penasaran, hal penting apa sampai asisten pribadinya berubah tegang.


Asisten Han memelankan suaranya, sangat pelan seperti hembusan angin, seketika Dylan melebarkan kedua mata. Mendadak sesak napas mendengarnya, sesuatu di luar dugaan.


...TBC...

__ADS_1


__ADS_2