
BAB 6
Bagaimana Stephanie tidak terkejut, kalau penampakkan Dylan hanya menggunakan handuk putih yang terlilit di pinggang, panjangnya tidak melebihi lutut.
Dylan memanfaatkan keadaan, memenjarakan tubuh Stephanie, dengan tangan menahan pada pinggir pintu. Menyeringai licik, semakin menunduk mendekati telinga dan mengecup pelipis wanita itu.
“Aku mau lewat, minggir. Sebaiknya Daddy berpakaian, suhunya dingin.” Gugup Stephanie lagi-lagi menelan saliva, menghindari kontak mata dengan Dylan. Khawatir dirinya akan terbuai dengan mulut beracun pria di depannya ini.
“Jangan terburu-buru, baby. Mau apa di kamar mandi? Aku ada di sini.” Dylan tak henti menggoda gadisnya yang tampak berani, tetapi lugu, juga menginginkan sentuhannya, benar-benar perpaduan yang pas.
“Cuci muka, menggosok gigi, cuci tangan dan kaki. Aku tidak terbiasa tidur dalam keadaan kotor, apalagi bersama sisa-sisa makanan, ih menjijikan.” Wajah cantik dengan bicara tanpa titik dan koma, benar-benar menghibur seorang Dylan.
“Lakukan dengan cepat! Jangan buatku menunggu lama, Baby.” Dylan sengaja menabrak tubuh gadisnya berharap ia limbung atau terjatuh seperti di film romansa, tapi tubuh Stephanie terlalu kuat untuk kehilangan keseimbangan. Buktinya dia hanya menatap aneh kepada Dylan.
“Aku pikir akan ada adegan romantis.” Keluh Dylan menatap pintu kamar mandi yang tertutup.
Dylan hanya menggunakan celana pendek sebagai pelindung organ vital, menanti gadisnya keluar cukup lama.
Duduk menyandar sembari memeriksa beberapa laporan penting hari ini. Sesekali melirik pada pintu, masih tertutup rapat. Hingga ia mulai mengantuk, Stephanie keluar mengendap-endap.
“Mau kemana kamu , Baby? Jangan kabur. Temani aku tidur malam ini. Cepat!” perintah Dylan, turun dari ranjang memanggul paksa dan merebahkan sangat perlahan.
“Kamu ini sugar baby macam apa? Selalu menolak perintahku. Menurutlah malam ini.” Memeluk dengan kulit saling menempel satu sama lain.
“Eh. Tapi apa ini? Aku tidak mau.” Mendorong Dylan sampai nyaris terjungkal dari atas kasur empuk.
“Dia ini benar-benar wanita aneh, tenaganya seperti lelaki.” Keluh Dylan.
__ADS_1
“Aku bilang menurut padaku atau aku akan ....” tatapan tajam serta otak licik Dylan bekerja.
“Apa? Akan apa? Katakan saja aku tidak takut.” Stephanie kehilangan kesabaran, balas menantang Dylan.
“Mungkin Jacob Graham bisa membantumu, bagaimana kalau malam ini aku antar kamu bertemu dengannya, bagaimana baby?”
Dylan telah mengetahui masalah yang menimpa gadisnya dari Asisten Han, ia sengaja menggunakan ancaman untuk membuatnya menurut.
“Ish, Kamu menyebalkan. Aku tidak suka ini. Hah kalian semua sama, menjebakku.” Geram Stephanie, kedua tangannya mengepal, bergetar, gigi saling beradu menimbulkan suara, serta jangan lupakan sorot mata tajamnya.
Daripada kembali pada Jacob lebih baik menemani Dylan tidur, hanya tidur tidak lebih. Stephanie merebahkan tubuhnya lalu tidur membelakangi Dylan, enggan menatap wajah pria yang tidak setia seperti ini.
Telapak tangan Dylan pun lancang mengusap sepanjang tulang punggung gadisnya, perlahan mendekat sampai tidak berjarak sama sekali. Bisa dirasakan otot perut dan dada menempel pada punggung Stephanie.
“Kamu wangi Baby, aku suka. Tidurlah. Besok ada jadwal kuliah, benarkan? Sopir akan mengantarmu.” Dylan terlelap sembari memeluk gadisnya, harum aroma tubuh Stephanie seperti pil tidur yang biasa ia minum.
Mengambil ponsel yang tersimpan di atas nakas, mengetik pesan untuk seseorang. Kemudian mencari tahu informasi tentang Dylan di dunia maya. Ia penasaran siapa sebenarnya pria yang kini terlelap di balik punggung.
Iris biru Stephanie melebar, melihat banyaknya berita tentang Dylan, pantas saja berani memberikan bayaran fantastis, ternyata bukan pria sembarangan.
Semakin menggulir layar, ia menemukan foto seorang wanita cantik, usianya cukup matang, rambutnya pirang dan kontur wajah menggoda.
“Mungkin ini kekasihnya, eh tapi ... oh mereka sudah bertunangan. Tega sekali masih mencari perempuan muda padahal tunangannya juga tidak kalah cantik. Benar-benar tidak tahu diri, semakin tua, tingkahnya banyak.” Geram Stephanie ingin melempar Dylan dari balkon, tapi ia urungkan, karena ini tindak kriminal.
Stephanie kasihan pada Chloe, kenapa bisa memiliki tunangan seperti Dylan. Harusnya wanita itu bisa mendapatkan pria yang lebih baik.
“Aku berharap kalian tidak pernah menikah, maaf Chloe bukan aku ingin merebut Dylan tetapi kasihan. Kamu tidak akan bahagia bersama pria seperti ini. Semoga ada lelaki yang lebih daik dari tunanganmu ini.” Stephanie memanjatkan harapan setinggi langit.
__ADS_1
Sebagai sesama wanita ia kasihan, hatinya tersentuh. Bahkan Stephanie rela memukul Dylan, tapi tidak mungkin dilakukan sekarang. Karena masih membutuhkan uangnya.
Sampai pukul empat pagi, ia hanya bisa menahan kantuk, waspada takut terjadi sesuatu yang tidak diinginkan. Namun lewat pukul lima, matanya benar-benar bisa menutup sempurna, dan istirahat melepas lelah kegiatan panjangnya.
Dylan bangun lebih dulu, aktifitas bersama para pengusaha muda akan menyita waktunya. Dipandangi wajah cantik yang damai, di atas ranjang. Hembusan napas halus dan kelopak menutup, menandakan wanita ini sangat nyenyak. Dylan enggan mengganggu, bahkan melakukan kegiatannya secara pelan.
“Baik-baik hari ini Stephanie, jalani kegiatamu. Sampai ketemu nanti malam. Aku berharap ini bukan sementara tapi selamanya, aku menginginkanmu seutuhnya sayang.” Dylan mengecup kening gadisnya dan pergi keluar kamar bersama Han.
“Bagaimana Tuan, apa anda menyukainya? Terima kasih bonusnya Tuan.” Asisten Han merasa bangga bisa menemukan gadis yang tepat.
“Han, rahasiakan keberadaan Stephanie, dan hubunganku. Jangan sampai Chloe mengetahuinya. Aku tidak mau gadisku terluka, dia adalah wanita itu, aku mencarinya beberapa tahun lalu. Kau ingat, namanya tidak kita temui di data penerbangan manapun. Dia bukan gadis sembarangan, bantu aku selidiki keluarganya.”
“Selamat Tuan, semoga bisa bersama sampai tua dengan calon Nyonya Muda Manassero. Tapi siapa nama keluarganya, karena di kontrak hanya tertulis Stephanie Adaline.”
“Kau itu bodoh atau bagaimana? Dia kuliah di salah satu Universitas ternama. Selidiki secepatnya, aku ingin semua informasi itu siang ini.”
“Baik Tuan, siap. Apa Nyonya Muda, m-maksud ku Nona Stephanie masih di kamar?” tanya Han, ia merasa Tuan Dylan mendapat energi baru menjalani hidup.
Lihat saja selalu tersenyum setelah keluar kamar. Entah apa yang mereka lakukan, yang pasti memberi efek positif pada pertemuan pagi bersama para calon investor dan pengusaha lainnya.
“Ya dia masih tidur. Pesankan sarapan, dan jangan lupa perintahkan seseorang untuk membeli pakaian wanita. Aku tidak mau gadisku memakai pakaian kemarin. Lakukan tugasmu dengan baik.” Tegas Dylan, masuk mobil dan menuju gedung pertemuan, lokasinya cukup jauh.
Sementara dalam kamar, Stephanie baru saja membuka mata, melihat jam pada ponsel. Sedikit beruntung karena tidak ada mata kuliah pagi.
Mulai meregangkan otot tubuh, pandangan mengitari kamar dan menajamkan telinga. Tidak ada suara pria, artinya sugar daddy-nya telah pergi.
Stephanie turun dari ranjang, tanpa sengaja lengannya menyenggol sesuatu di kotak kayu. Kedua manik birunya menajamkan penglihatan untuk memastikan benda apa itu.
__ADS_1
...TBC...