
Tak pelu banyak tanya, Dylan tahu alasan Stephanie menghindar dari kejarannya. Ini semua karena banyaknya pria berpakaian khusus yang mengawasi gerak gerik kekasihnya. Mereka semua terlihat berkomunikasi satu sama lain. Dan menghilang bersamaan dengan keluarnya Stephanie dari hotel.
“Waw, merebut hati Nona Muda memang berbeda harus menghadapi pengawal dan keluarga yang sama kuatnya.” Gumam Dylan, tidak jera tapi malah semangat untuk mempersunting gadisnya.
Tatapan Dylan terganggu dengan hadirnya ibu muda mendorong Stroller bayi, wanita yang masih muda dan cantik, sikap keibuannya menambah nilai lebih.
“Stephanie ada-ada saja, dia janji mau menemaniku seharian ini.” Gerutu ibu muda itu.
“Permisi Nyonya, apa anda saudari kekasihku, maksudnya Stephanie?” tanya Dylan memberanikan diri sebab dia melihat ibu muda ini bersama gadisnya masuk hotel.
“Ya kami saudara sepupu, ada apa Tuan?” tanya Fredella mengamati penampilan Dylan dari atas ke bawah, ia tidak menyangka sepupunya tertarik pada pria dewasa.
“Bisa bantu aku masuk ke mansion, apa anda bisa Nyonya?” Dylan membutuhkan bantuan orang dalam untuk memuluskan rencananya, paling tidak ia berhasil masuk ke pelataran mansion.
“Tentu saja, ah tapi suamiku pasti bisa membantu anda tuan.” Fredella menekan ibu jari di atas layar datar dan menghubungi suaminya.
Tidak perlu menunggu waktu lama sampai seseorang yang bisa membantu Dylan datang ke lobby utama. Pria asal Madrid ini terkejut melihat siapa suami ibu muda di depannya, senyum di wajah semakin mengembang, tentu saja Dylan tahu siapa saudara sepupu calon istrinya.
“Pagi Mr Bradley?” sapa Dylan hangat kepada pemilik hotel sekaligus calon sepupu ipar.
“Ya Pagi Mr Manassero, aku dengar ada hal penting dan anda memerlukan bantuan, benar?” tanya Dariel sembari menggendong dua buah hatinya. Mereka pun pergi ke ruang tamu di lantai satu, di sini semua maksud dan tujuan Dylan disampaikan sangat lugas.
“Tentu aku bisa membawa anda masuk dengan mudah, tapi tidak bisa membantu apapun yang berkaitan dengan Uncle Adam. Itu urusan anda.” Tutur Dariel, menghubungi asisten pribadi untuk mengatur jadwalnya siang ini.
.
.
Di sinilah Dylan, bersama Tuan Besar Manassero dan Dariel Bradley yang akan memuluskannya sangat mudah masuk ke mansion .
__ADS_1
Benar saja, tidak sampai satu menit pintu pagar hitam, kokoh yang menjulang tinggi terbuka lebar karena salah satu Tuan Muda mereka mengunjungi mansion.
“Ok Tuan Muda Dylan, siapkan dirimu, karena Uncle ada di rumah dan … tampaknya bukan hanya anda yang bertamu hari ini.” Tawa Dariel merasa puas. Sepupu Stephanie yang satu ini memang gemar menjahili orang apalagi terlihat sekali wajah tegang seorang Dylan.
“Maksud anda ada apa, Tuan?” Geram Dylan, ini baru bertemu salah satu keluarganya bagaimana dengan anggota keluarga yang lain?
Dylan tahu gadisnya memiliki dua adik, satu iblis berwujud pria, terkenal sebagai wakil presiden direktur yang ditakuti industry consumer goods lain. Sementara satu lagi adik nakal yang membuat kepala kedua orangtuanya sakit setiap hari. Selain itu dia juga memiliki sepupu wanita super arogan, terkenal sebagai pembuat patah hati pria.
Dylan juga tidak mengerti kenapa bisa menyukai wanita dengan keluarga yang solid dan akan menyerangnya jika menyakiti hati Stephanie.
Mantan casanova ini turun bersama Tuan Besar, terkejut melihat jajaran mobil mewah yang diyakini bukan milik tuan rumah. Lalu siapa?
“Mari masuk Tuan Dylan dan Tuan Besar Manassero, aku harap tidak gentar dengan tujuan semula, dan seperti inilah suasananya.” Tunjuk Dariel setelah pintu utama terbuat dari kayu dengan ukiran indah itu terbuka lebar.
Kedua mata Dylan terbelalak, melihat beberapa pria di samping kedua orangtua mereka. Sudah jelas ada tujuan, pasti berniat meminang gadisnya.
Dylan duduk di sofa kosong, kepalanya menggeleng pelan, mungkinkah saingannya sebanyak ini? Luar biasa memang. Apa mereka juga mencintai Stephanie dengan tulus? Hati Dylan selalu bertanya-tanya.
“Aku pasti datang Tuan, karena aku mencintai Stephanie.” Jawab Dylan tegas dan tidak ada keraguan sama sekali.
“Bagus kalau seperti itu, aku suka semangatmu. Dan terima kasih, sudah menambah asetku semakin banyak.” Tawa Papa Adam kembali duduk di kursinya. Membiarkan Dylan dalam kebingungan seorang diri.
Tiba saatnya tantangan dilakukan, Papa Adam memerintahkan seluruh pemuda yang datang untuk lomba lari mengelilingi luasnya taman mansion.
“Apa? Ini gila Dylan, calon mertua mu tidak waras.” Pekik Tuan Besar Manassero, benar-benar syarat tidak masuk akal.
Tentu saja Dylan menuruti, lagi pula hanya berlari bukan hal besar baginya. Akhirnya dua puluh pria itu berlari mengelilingi pekarangan.
Stephanie yang melihat dari lantai tiga tidak menyangka seorang Dylan Manassero, bersedia melakukan hal menggelikan seperti ini.
__ADS_1
Lomba lari pun dimenangkan oleh lima belas pria tercepat, kemudian mereka masih harus bersaing.
Tantangan selanjutnya yaitu berenang, iya alasan Papa Adam sangat lucu dan terdengar aneh. Dia tidak ingin ketika putrinya kesulitan berenang tidak ada yang membantu. Selain itu memerlukan menantu yang kuat akan menghadapi tantangan hidup.
Lomba berenang dimulai, kembali menyisakan sepuluh orang. Tenaga mereka hampir habis karena terlalu fokus ingin mengalahkan satu sama lain.
Dylan mengeringkan tubuhnya, seketika ia melihat ke lantai tiga, pandangan matanya terkunci pada Stephanie. Yang sangat jelas bisa di tangkap yaitu senyum manis menghiasi bibir menggoda gadisnya.
Semangat baru pun membara dalam diri Dylan, harus memenangkan syarat murahan dari calon mertua.
Setelah berenang, mereka kembali adu kekuatan serta ketangkasan. Kali ini Papa Adam meminta satu sama lain untuk saling menjatuhkan dengan ilmu bela diri yang dimiliki. Dengan catatan tidak melukai organ vital, bahkan ring tinju kecil di siapkan di belakang mansion.
Dylan menghela napas, ia yang serius kenapa harus tetap melakukan ini semua. Tapi lagi-lagi senyum Stephanie merekah, menyuntikkan tenaga baru bagi Dylan.
“Semangat”
Satu kata tanpa suara itu mampu membuat Dylan yakin bahwa dia adalah pemenangnya.
“For you, baby.” Balas Dylan sama tanpa suara.
Namun perjuangan pria mantan casanova ini tidak mudah, sebab mendapat lawan yang kokoh, kuat dan juga cukup tangguh, dia adalah Calvin Williams, mantan kekasih Stephanie. Usianya lebih muda dari Dylan, memiliki stamina yang bagus dan kemampuan bela diri sangat baik.
“Aku yang akan menikahinya.” Ucap Calvin sangat angkuh, menatap intimidasi Dylan.
“Kau anak kecil sebaiknya pulang dan tidur siang.” Jawab Dylan, tidak mau mengalah sedikit pun.
Keduanya adu pukulan dan beberapa jab diberikan, Dylan terpojok sampai ke sudut karena Calvin terus menyerangnya tanpa henti.
TBC
__ADS_1